
SETELAH menyaksikan sendiri Munding Caraka yang melayang-layang di udara bagai tanpa beban itu, Dharma menjadi benar-benar terpukau. Sedangkan kerbau yang sedang ditatapnya itu hanya melenguh malas sebelum kembali turun dan merebah di bawah sebatang pohon rindang yang kini menjadi tempat kesukaannya.
Dharma kemudian berkata, “Saat daku masih kecil, orangtuaku sering bercerita tentang hewan-hewan siluman. Tetapi daku selalu menganggap mereka sebagai kisah bualan untuk mengantarkan anak-anak ke dalam mimpi indah, namun kini mataku benar-benar terbuka. Mungkinkah juga Kembangmas merupakan kenyataan?”
Mantingan tersenyum tipis. Benarlah bahwa selama berabad-abad lamanya Kembangmas hanya dikisahkan sebagai makhluk siluman berbentuk bunga yang harum mewangi. Meskipun pernah terjadi perburuan Kembangmas secara besar-besaran dalam sejarah dunia persilatan, tetapi lagi-lagi kisah itu juga dianggap tidak lebih dari kisah silat saja. Tiada yang menyangka bahwa Kembangmas merupakan bagian dari kenyataan sekaligus keajaiban.
“Keajaiban memanglah sesuatu yang sangat memungkinkan bagi langit. Ah, ada banyak sekali kekuasaan di jagad ini yang masih belum kuketahui.” Dharma menggeleng pelan.
Meski terdengar tidak masuk akal, bukankah Kembangmas pernah berkata bahwasanya ia berasal dari kahyangan, dan turun ke bumi sekadar untuk menguasainya?
Apakah kahyangan, alam svarga yang bagai hanya alam khayalan itu, benar-benar nyata?
Sekalipun Mantingan tidak mau mempercayainya, ia akan lebih sulit percaya pada keberadaan siluman ular sebesar naga yang melayang-layang di langit menempurinya di malam bersabung badai halilintar di Koying sewaktu itu. Jika bukan datang dari alam yang berbeda, lantas dari manakah makhluk tersebut berasal?
Benarlah yang dikatakan oleh Dharma, banyak sekali kekuasaan di jagad semesta yang tidak diketahui manusia, dan masih terlalu dini untuk menyimpulkannya sedemikian rupa.
Mantingan ingat betapa Kiai Guru Kedai pernah berkata bahwa kisah-kisah keigamaan yang ada saat ini sebenarnya hanyalah buatan para ahli kitab. Semacam keberadaan svarga dan naraka di alam setelah mati, memangnya siapakah yang pernah pergi ke sana lantas kembali lagi untuk menceritakan segala sesuatu yang dilihatnya?
Kendatipun terkesan bukan tindakan yang benar, tetapi begitulah kebenaran seringkali disangka kesalahan, dan kesalahan pun seringkali disangka kebenaran.
Beginilah percakapan antara Mantingan dengan Kiai Guru Kedai sewaktu itu:
__ADS_1
“Pada naskah-naskah kitab yang sejati, tiadalah mereka menyebutkan bahwa seorang yang mati akan menjumpai alam svarga dan naraka itu.”
“Lantas mengapa daku menemukan banyak sekali kalimat tentang svarga dan naraka sesudah akhiran di kitab-kitab itu, Kiai Guru?” Mantingan bertanya saat itu.
“Bukanlah kalimat-kalimat itu memiliki makna langsung, Mantingan,” kata Kiai Guru Kedai, kali ini suaranya menjadi sedikit lebih lembut dari sebelumnya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang cukup menyinggung. “Seperti bila dikatakan betapa di dalam svarga terdapat bidadari-bidadari bermata jeli, bukanlah benar-benar berarti sekumpulan gadis yang memiliki mata jelita.”
“Lantas apakah makna sebenarnya dari bidadari-bidadari itu?” Bertanyalah kembali Mantingan.
“Makna sebenarnya?” Gurunya itu menampilkan senyum lebar. “Perjalananmu masih panjang, wahai murid! Akan dikau ketahui sendiri suatu saat nanti.”
Bahkan sampai saat ini, Mantingan masih tidak mengerti dengan gerangan apakah yang dimaksud sebagai bidadari-bidadari bermata jeli. Namun, Kiai Guru Kedai meneruskan:
“Kitab suci adalah panduan bagi manusia untuk hidup di dunia, bukan alam setelah mati.”
“Tetapi, baiknya bila pemahaman ini tidak dikau ucapkan di hadapan orang banyak. Belumlah tiba waktunya,” lanjut gurunya.
“Kiai Guru selalu berkata bahwa kebenaran tidak baik bila disimpan seorang diri saja. Bukankah ini bertentangan?”
“Benar. Adakah daku menyalahi perkataanku yang satu itu?”
Mantingan segera tersadar. Bukankah Kiai Guru Kedai telah berkata bahwa memang belum tiba waktunya? Lantas ia kembali bertanya, “Kapankah waktu itu tiba, Kiai Guru?”
__ADS_1
“Saat ini, tidak perlu dikau pusingkan perkara waktu. Tetapi yang pertama-tama, dikau harus berusaha sekuat mungkin mendapatkan tempat di mata khalayak agar segala perkataan yang keluar dari mulutmu dapat didengarkan dan dipertimbangkan,” jelas pria tua itu. “Sebab bila tidak begitu, kebenaran yang akan dikau katakan justru akan dicaci-maki, begitu pula dengan dirimu yang tentulah akan dianggap orang gila.”
“Bagaimanakah caranya agar daku dapat mencapai tingkatan itu? Sebab Kiai Guru mestinya mengetahui, tidak semua ucapan yang keluar dari mulutku dapat langsung dipertimbangkan orang lain sebagai suatu kebenaran.”
Kiai Guru Kedai tersenyum sebelum menjawab, “Dikau mesti menjadi orang yang memiliki kedudukan berpengaruh. Dapatkah kiranya suatu saat kelak dikau menjabat sebagai raja atau bahkan pendekar yang memuncaki dunia persilatan?”
Mantingan berpikir beberapa saat, tetapi ia menggelengkan kepalanya. “Hal seperti itu ... rasa-rasanya sulit daku capai, Guru.”
“Jika tidak dapat, maka haruslah dikau menjadi seorang penulis yang dapat menyihir orang-orang dengan apa yang engkau tulis!”
Itulah jawaban pamungkas dari Kiai Guru Kedai, yang sampai saat ini pun selalu Mantingan ingat, tak pernah ia lupakan. Pikirannya berkeliaran hingga akhirnya singgah sejenak pada Rashid, pria berjanggut panjang yang memiliki nama samaran Raksabhuni itu. Tidakkah dia memiliki niatan menyihir pikiran orang banyak dengan tulisannya?
Mantingan tersadar kembali ketika sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
“Adik Man, jangan sampai lengah.”
Itulah Dharma yang sadar betapa Mantingan telah tenggelam dengan pikirannya.
Mantingan lekas mengangguk sebagai balasan. Memang benar bila pikirannya telah terbenam begitu jauh ke dalam perenungan yang bagai tidak memiliki ujung, sehingga kelengahan datang begitu saja pada dirinya, yang dalam pada itu dapat pula membunuhnya!
“Inilah saatnya daku berangkat, Tetua.” Mantingan memberi tanda pada Bidadari Sungai Utara yang berada tak sebegitu jauh di belakangnya untuk mendekat. “Terima kasih untuk tempat dan perlindungan yang Tetua berikan. Daku tahu benar betapa nyawamu bisa saja terancam akibat menerima kunjungan dari kami berdua, tetapi Tetua tetap melakukannya untuk kami. Tetua, daku tidak tahu harus membayar semua ini dengan apa.”
__ADS_1
Mantingan tidak sedang berbasa-basi. Segala perkataannya memang jernih sedari lubuk benaknya. Seandainya saat ini ia masih memiliki ‘Batu-Batu’, maka pastilah ia akan memberikannya beberapa kepada tetua Padepokan Angin Putih itu. Namun, saat ini dirinya hanya memiliki kurang dari 200 keping emas, dan jumlah seperti itu tidak akan berarti banyak bagi Dharma.
“Adik Man telah membawa kejayaan bagi Perguruan Angin Putih, jadi dapatkah kiranya daku masih berani meminta imbalan darimu?” Dharma membalas dengan senyum haru, tidak menyangka akan mendapat pujian dari satu orang besar yang dijunjungnya itu. “Berangkatlah Adik Man. Restuku ada bersamamu!”