Sang Musafir

Sang Musafir
Undangan Makan Malam; Permintaan Maaf Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

BARU saja Mantingan pergi ke kamar Bidadari Sungai Utara, ia mengetuk berkali-kali, Bidadari Sungai Utara mengatakan bahwa ia tidak mau ditemui untuk sekarang. Mantingan memaksa bertemu, mengetuk pintu berkali-kali lagi, dengan lembut tentunya, berkali-kali juga Bidadari Sungai Utara mengatakan hal yang sama.


Saat Mantingan menyampaikan undangan makan malam dari saudagar, Bidadari Sungai Utara tidak menganggapnya serius, mengatakan hal yang sama seperti pada awalnya, “Sekarang, aku tidak mau bertemu siapa-siapa.”


Mantingan kembali ke kamarnya untuk mempertimbangkan kembali apa yang harus ia lakukan nanti malam. Ada beberapa pilihan. Pertama; Mantingan melewatkan undangan makan malam. Kedua; Mantingan menemui saudagar dan minta izin untuk tidak menghadiri undangan karena Bidadari Sungai Utara masih merajuk di kamarnya. Ketiga; Mantingan menemui saudagar dengan maksud yang sama, tetapi berbohong dan mengatakan Bidadari Sungai Utara sakit perut.


Di antara semua pilihan itu, Mantingan merasa tidak ada yang baik. Semua pilihan memiliki kemungkinan akan menyinggung perasaan saudagar.


Sebenarnya hal itu sungguh menyebalkan bagi Mantingan. Mantingan harus mengakui bahwa Bidadari Sungai Utara sangat merepotkan. Dan tentu saja sangat menyebalkan. Sama seperti saat ia menghadapi Dara. Bidadari Sungai Utara dan Dara, keduanya memiliki kesamaan sikap. Menghadapinya membuat Mantingan serba salah.


Di depan mereka, Mantingan merasa seperti pengemis jalanan. Sungguh menyebalkan. Tetapi apa boleh buat? Menghadapi sikap wanita yang seperti ini membuatnya lebih dewasa. Ada untungnya juga. Kesabaran, amarah, dan tutur katanya akan diuji. Untuk terus lembut. Selamanya.


***


Malam itu. Saat Mantingan melihat saudagar bersama dua istrinya meninggalkan penginapan, Mantingan menarik napas gelisah. Bidadari Sungai Utara masih enggan keluar dari kamarnya, tidak akan peduli sudah berapa belas kali Mantingan mengetuk pintunya, akan selalu dijawab jawaban yang sama. "Sekarang, aku tidak mau bertemu siapa-siapa."


Mantingan menarik napas panjang. Ia menemukan pilihan lain, yaitu menghadiri undangan makan malam tanpa bersama Bidadari Sungai Utara. Nanti jika ditanya, Mantingan hanya akan memberi jawaban singkat: kawanku sakit. Tak perlu dijelaskan sakit apa, biarkan saudagar menebak-nebak dalam pikirannya, tanpa perlu tahu Bidadari Sungai Utara sebenarnya sakit hati.


Mantingan mengeluarkan pakaian yang hampir tidak pernah dipakai olehnya. Pakaian pemberian Kiai Guru Kedai, pakaian terbaik di antara pakaian kumal lainnya. Sengaja Mantingan tidak pernah pakai. Pakaian itu terlalu bagus, terlebih lagi itu adalah pemberian gurunya. Memang dikhususkan untuk menghadiri acara. Seperti malam ini.


Selesai Mantingan berpakaian rapi dan merapikan rambutnya, Mantingan bergerak membuka pintu. Tetapi ia terkejut setelah menemukan apa yang menunggunya di depan pintu. Memangnya siapa lagi?


“Saudari, apakah ada masalah?”


Tidak lain dan tidak bukan adalah Bidadari Sungai Utara.


Mantingan melihati Bidadari Sungai Utara dari atas sampai bawah. Gadis muda itu terlihat berpenampilan bagus dan anggun, walau pakaiannya tersembunyi di balik jubahnya. Malu-malu menunjukkan wujudnya, mengintip di balik kerah jubah. Ia mengenakan cadar merah, serasi dengan pakaiannya yang berwarna hitam.

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara diam beberapa saat. Matanya yang syahdu tak segan-segan memandangi wajah Mantingan. “Apakah aku menyakiti perasaanmu tadi?”


Mantingan tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Saudari, saat ini hal itu tidak penting, aku harus bergegas pergi.”


“Apakah kau akan meninggalkanku sendirian di sini?”


“Bukankah ada banyak pelayan penginapan di sini? Tentu saja Saudari tidak akan sendirian.”


“Maksudku, apakah kau akan mengajakku ke undangan makan malam?”


Mantingan tetap mempertahankan senyumnya dan terdiam sejenak, lalu ia berkata pelan, “Jika Saudari Sungai ingin ikut, marilah. Itu akan sangat baik, karena kita berdua yang diundang. Tetapi jika aku boleh bertanya, apakah yang membuat Saudari Sungai berubah pikiran?”


Tanpa ragu lagi Bidadari Sungai Utara menjawab, “Aku salah, Mantingan, aku salah. Aku berlaku tidak sopan padamu. Kau seperti memohon-mohon di depanku, sedang aku tidak sekalipun menanggapinya dengan baik. Padahal kau-lah yang menyelamatkanku, kau-lah yang membawaku sampai di sini, kau-lah yang membuatku tidak merasa takut di tanah asing ini. Sikapku padamu, Mantingan, tidaklah baik. Bisakah kau menerima permintaan maaf dariku, Mantingan?”


Walau jawaban itu sama sekali tidak memberi jawaban atas sebuah pertanyaan, Mantingan tetap menanggapinya. “Saudari Sungai, aku memang merasa sedikit kesal padamu. Tapi kini sudah tidak.” Mantingan tersenyum hangat. “Saudari, kau telah membuktikan, bahwa biar bagaimanapun juga kau tetaplah orang baik.”


“Tentu saja, mengapa tidak? Dan Saudari bisa melepas jubah setelah meninggalkan penginapan nanti. Dan ....” Mantingan tiba-tiba tersadar, bagaimanakah Bidadari Sungai Utara dapat makan jika ia memakai cadar?


“Dan apa, Mantingan?”


“Saudari mungkin bisa melepas cadar setelah sampai di kedai.”


Bidadari Sungai Utara lantas sadar pula. Bagaimana dirinya dapat makan jika cadar menutupi mulutnya? Karena seringnya ia memakai cadar, ia tidak menyadari ini sebelumnya.


“Tetapi, Mantingan, apakah nanti tidak akan berbahaya?”


Keduanya sama-sama mengingat bahwa saudagar buncit yang mengundang mereka adalah pria yang mengambil dua istri cantik. Bukan tidak mungkin saudagar mengambil tindakan di luar keinginan mereka setelah melihat sendiri kecantikan Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


Dua muda-mudi itu saling tersenyum canggung. Kini ragu untuk berangkat. Terlebih pada Bidadari Sungai Utara yang takut dijadikan istri ketiga.


“Jadi, bagaimana?” Bidadari Sungai Utara akhirnya bertanya.


Mantingan tetap diam beberapa lama sebelum memberi jawaban pasti, “Aku kira bukan masalah jika kita berangkat, Saudari. Aku yakin Saudagar adalah orang yang baik, ia tidak mungkin menyebarkan jati dirimu pada yang lainnya, dan tidak mungkin juga menjadikanmu istri ketiga.”


Bidadari Sungai Utara tertawa gugup. “Kalau begitu, marilah, Mantingan.”


***


“Ah, akhirnya kalian berdua datang juga. Sungguh kehormatan bagiku bisa menjamu kalian.” Saudagar berdiri dan memberi sambutan hangat pada Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. “Mari, silakan duduk.”


“Terima kasih, Bapak.” Mantingan tersenyum dan menarik dua kursi untuknya dan untuk Bidadari Sungai Utara.


Seperti yang terlihat di depan Mantingan, saudagar duduk bersebelahan dengan dua istrinya. Saudagar terus tersenyum ramah pada keduanya, begitu juga dengan dua istrinya yang tersenyum ramah.


“Aku tidak berani berharap kalian akan datang, sungguh kalian berdua adalah dua pendekar hebat yang sudah sewajarnya menolak undangan makan malam dari orang rendah sepertiku ini, tetapi kalian datang membuat aku dan istri-istriku merasa sangat terhormat.”


“Bapak Saudagar, kami jauh lebih merasa terhormat ketimbang Bapak dan istri-istri Bapak. Mendapat undangan makan malam dari orang seperti Bapak sungguh tidak bisa kami percayai. Sahaya mewakili Saudari Bidadari Sungai Utara menyampaikan rasa terima kasih mendalam.” Mantingan menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.


“Eh? Saudari Bidadari Sungai Utara, ya ....” Saudagar bergumam pelan sembari mengusap dagunya.


Mantingan menahan napasnya. Tahu ucapannya adalah kelalaian yang berbahaya.


____


catatan:

__ADS_1


Jika ingin mengenalkan Sang Musafir pada teman-teman, saya sudah menyiapkan bahannya. Klik profil WestReversed, pilih "trending", setelah itu pilih "pos". Terima kasih banyak untuk yang mendukung saya dan Mantingan 🙏😁.


__ADS_2