Sang Musafir

Sang Musafir
Berjumpa Kembali dengan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

LEBAR JALANAN setelah gerbang masuk Perguruan Angin Putih sekiranya dapat dilewati lima belas kuda yang berjejeran. Alas jalan bukanlah tanah, melainkan bata putih yang hampir terbebas dari kekusaman.


Beberapa murid perguruan yang melihat Mantingan lantas menjura. Siapakah kiranya di sana yang tidak mengenal nama dan rupa Mantingan? Selain mengenalnya, mereka juga telah dikabarkan bahwa Mantingan akan datang dalam waktu dekat.


Mantingan dan Kana beberapa kali tersendat karena mesti berpuluh-puluh kali balas menjura. Tetapi biarlah seperti itu, sebab keindahan sebentuk apa pun itu jika tanpa keramahan tetap percuma saja.


Murid-murid Perguruan Sungai Utara telah membuktikan diri bahwa mereka berhasil mempertahankan keindahan dan keramahan dengan baik.


Butuh berapa lama sampai Mantingan dan Kana tiba pula di bangunan tata laksana yang menjulang setinggi puluhan depa itu.


Seorang pendekar yang menjaga di sana segera meminta Mantingan mengikutinya ke dalam bangunan. Dengan pendekar itulah mereka akan diarahkan menuju ruangan tertinggi di bangunan ini; ruangan Ketua Rama.


Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Mantingan dan Kana untuk sampai di ruangan tertinggi itu. Segeralah pintu dibukakan tanpa menaruh kecurigaan barang sedikitpun.


***


“Anak Man, selamat datang kembali.”


RAMA BANGKIT dari kursinya dan menghampiri Mantingan dengan senyum lebarnya. Sungguh betapapun pria tua itu menjawat sebagai ketua perguruan besar, tiada luntur keramahannya.


“Ketua Rama, daku sudah merindukanmu.”


Rama tertawa sambil menepuk pundak Mantingan. “Baru sebentar daku meninggalkanmu, engkau seolah semakin bertumbuh besar saja. Oh, inikah yang bernama Kana kakak dari Kina?”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Benar, ketua. Dirinyalah yang bernama Kana. Dan Kana, pak tua ini biasa dipanggil Ketua Rama, dialah ketua perguruan ini.”


Kana bersoja dalam-dalam dengan penuh kehormatan. “Kana memberi hormat pada Ketua Rama!”


“Selamat datang di Perguruan Angin Putih, Kana. Tahukah dirimu bahwa Kina, adikmu, telah menunggumu semenjak hari pertamanya? Dia sangat merisaukanmu, lebih baik engkau cepat-cepat menemuinya.”

__ADS_1


“Kalau begitu, Ketua,” kata Mantingan, “sepertinya diriku harus segera menemui Bidadari Sungai Utara dan Kina.”


“Sebaiknya begitu, mereka begitu mencemaskan kalian.” Ketua Rama menganggukkan kepalanya sekali. “Maafkanlah karena daku tidak bisa mengantar kalian, daku harus membuat senarai kebutuhan untuk pelayaran ke Champa.”


“Diriku ini bukanlah orang yang begitu berharga, Ketua. Tidak perlu seperti itu.” Mantingan menyunggingkan senyum yang kini menjadi senyuman canggung.


“Sore nanti saja. Temuilah diriku di kedai teh pinggiran danau itu. Kita akan meminum satu-dua cangkir di sana sambil daku menyampaikan hal yang butuh kusampaikan pada dikau.”


***


MASIH DI pagi itu. Di halaman sebuah kediaman besar. Kana berjalan cepat, menghampiri Kina yang berlari ke arahnya. Mereka berpelukan erat-erat. Kina menumpahkan air mata setelah menahan kecemasan besar selama empat hari terakhir. Menangis sesenggukan.


Mantingan tertawa melihat mereka. Sungguh membahagiakan mereka. Dan ketika itulah, kelengahan terbuka lebar. Mantingan hanya mendengar suara kelebatan, yang hampir tanpa suara! Mantingan meraih gagang pedangnya, tetapi ia merasa tidak akan bisa cukup cepat untuk menghindari serangan yang datang kali ini. Terlambat!


Sungguh terlambat Mantingan, ketika merasakan tubuhnya didekap hangat dan erat. Barulah dilihatnya sosok yang mendekapnya itu berpakaian serba putih, dengan kulit yang pula seputih pakaiannya. Rambut hitam tergerai sepanjang pinggang.


Diketahuinyalah bahwa yang mendekapnya itu adalah Bidadari Sungai Utara dan bukannya penyerang yang bermaksud buruk padanya. Tetapi betapa lengah dirinya hingga tidak mampu menyadari kehadiran gadis itu!


“Saudara, engkau pergi tanpa berpamitan padaku. Bagaimana bisa daku tidak khawatir?” Bidadari Sungai Utara tampaknya masih enggan melepas pelukannya.


“Bukankah diriku sudah menuliskan surat untukmu, Saudari? Apakah surat itu tidak engkau terima?”


“Tentu saja daku menerimanya, Saudara. Tetapi tak peduli berapa banyak kali daku membacanya, kekhawatiranku tidak menghilang meski hanya sedikit.”


Mantingan hanya bisa tersenyum canggung. Apakah yang perlu dikhawatirkan oleh Bidadari Sungai Utara, jikalau yang perlu dikhawatirkan adalah ketiadaan Mantingan di dalam rombongannya?


Barulah ketika itu Bidadari Sungai Utara melepas dekapannya. Memandangi Mantingan dengan tatapan yang amat sangat sulit untuk dijelaskan menggunakan kata-kata.


“Daku sangat senang engkau ada di sini, Saudara,” katanya kemudian. “Tetapi betapapun, dengan kehadiran engkau di sini, perpisahan kita semakin dekat.”

__ADS_1


Mantingan mulai memahami tatapan gadis itu kepadanya. Betapa sebenarnya mengandung kesedihan mendalam, rasa tidak rela, dan kecemasan. Pandangan yang sebenarnya masih pula sulit dijelaskan menggunakan kata-kata.


“Kita sudah tahu ini sejak awal, Saudari.” Mantingan berkata sedemikian. “Kita telah mengetahui, bahwa pertemuan adalah awal dari perpisahan.”


Bidadari Sungai Utara menundukkan pandang, lalu menggeleng sejenak kemudian. “Lebih baik kita lupakan ini. Marilah masuk ke dalam, daku telah memasak makanan kesukaanmu dan Kana.”


Mantingan mengangkat alisnya dan menampilkan senyum kernyih. “Apakah engkau menyiapkan ini untuk menyambut kedatangan kami?”


Keduanya berjalan ringan ke arah kediaman. Kana telah lebih dahulu masuk setelah Kina menarik tangannya.


“Tidak juga ...,” jawab Bidadari Sungai Utara. “Daku tidak mengetahui kapan kalian akan tiba. Tetapi daku selalu memasak ikan bakar beroleskan madu empat hari terakhir ini, agar tetap dapat menyambut kedatangan kalian yang mungkin tiada terduga.”


***


BIDADARI SUNGAI Utara menceritakan tentang perjalanannya ketika sedang makan bersama. Gadis itu merasa Mantingan perlu mengetahuinya.


“Kami menghadapi beberapa kelompok penyamun tingkat ringan, semua dari mereka dapat dituntaskan dengan sangat mudah. Kami berpikir bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang mudah meskipun tanpa kehadiranmu, tetapi kemudian kami mendapati beberapa penguntit yang ternyata telah memantau kami untuk kemudian menyerang setelah melihat kesempatan.


“Begitulah serangan pertama mendadak dilancarkan oleh lima penguntit. Saat kulihat serangan itu, kutaksir akan membunuh beberapa pendekar Laskar Kerbau Taruma karena mereka tidak dalam keadaan siap bertarung.


“Tetapi siapakah yang akan menyangka, bahwa sebelum lima penguntit itu tiba-tiba saja disambar sekelebat bayangan yang langsung membunuh kelima-limanya tanpa ampun. Kami tidak sempat mengubah raut wajah ketika melihat lima tubuh berlumuran darah tergeletak di tengah jalan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Daku sudah menduganya.”


Gadis Champa itu mengerutkan dahi. “Apakah sekelebat bayangan itu adalah dirimu, Saudara?”


Kini Mantingan menggeleng. “Bukan. Dia kawanku, setidak-tidaknya daku menganggapnya sebagai kawan.”


“Siapakah gerangan namanya, Saudara? Dia sangat berjasa pada rombongan kami, dirinya tidak hanya satu-dua mematahkan serangan para penguntit.”

__ADS_1


“Begitukah ....” Mantingan bergumam pelan, “dia tidak menyebutkan nama ataupun julukannya.”



__ADS_2