
MANTINGAN pun bergegas menarik Pedang Savrinadeya dari sabuk di pinggangnya. Pedang yang tidak bersarung itu, pula tiada memiliki ketajaman sama sekali, sehingga sekiranya aman-aman saja jika digunakan untuk berlatih tanding tanpa ada niatan untuk membunuh lawan, tetapi tentu saja keadaannya akan berbalik jika yang dihadapinya adalah pertarungan sungguhan yang mana hidup dan mati dipertaruhkan.
Latih tanding seperti ini juga dapat Mantingan manfaatkan untuk menguji Ilmu Pendirian Manusia yang telah dilatihnya salama satu bulan terakhir. Tanpa lawan tanding, dirinya hanya dapat memperkirakan saja sampai sejauh mana kemampuannya saat ini.
Mantingan menarik mundur kaki kirinya untuk membentuk kuda-kuda. Sedang tangan kirinya mengangkat pedang hingga setinggi kepala, dengan ujung bilah menghadap ke depan. Itulah pembukaan dari salah satu gaya bertarung dalam Pendirian Manusia, yakni Sikap Menebas. Tapa Balian pun tampak mempersiapkan kuda-kudanya.
Namun sebelum pertarungan benar-benar dimulai, terlebih dahulu Mantingan bertanya pada sosok sepuh di depannya itu, “Dalam rangka apakah latih tanding ini, Bapak Balian?”
Tapa Balian tersenyum lebar sebelum menjawab, “Untuk membuktikan bahwa diriku tidak salah mengira.”
Sungguh tidak dapat Mantingan mengerti perkataan Tapa Balian itu, tetapi dirinya pula tidak lagi dapat mengajukan pertanyaan sebab Tapa Balian telah berkelebat menyerangnya!
Mantingan memilih untuk mengambil langkah mundur ketimbang harus menyerang balik, sebab betapa pun dirinya melihat bahwa Tapa Balian bukanlah pendekar lemah yang dapat dikalahkannya dengan serangan cepat. Dan dirinya tidak pula diam di tempat untuk menahan serangan tersebut, sebab Sikap Menebas sama sekali tidak cocok digunakan untuk bertahan.
Mantingan berkelebat mundur ke arah hutan. Beberapa jengkal dari ujung kakinya adalah pedang Tapa Balian yang terus mengejar. Sesaat kemudian, dua pendekar itu ditelan kerimbunan pepohonan. Kali ini, Mantingan mulai menyerang.
Kakinya menapak pada batang pohon, sehingga laju tubuhnya berbalik, dari yang semulanya ke belakang menjadi ke depan. Dalam waktu yang bahkan tidak cukup untuk berkedip, Mantingan menebaskan pedangnya ke arah Tapa Balian yang masih melaju kencang tanpa ada sesuatupun menghambatnya!
__ADS_1
Adu senjata tak terelakkan lagi. Lelatu api terpercik. Denting logam sebegitu keras dan nyaringnya, menggetarkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya dari dekat, membangunkan hewan-hewan hutan yang masih terkantuk-kantuk.
Mantingan dan Tapa Balian berkelebat ke arah yang berbeda. Setelah pertukaran serangan yang boleh dikata cukup dahsyat itu, pedang mereka menjadi bergetar hebat dan tangan menjadi kebas rasanya, sehingga sekiranya memang perlu sedikit jeda sebelum kembali saling memberi serangan.
Mantingan hinggap pada salah satu batang pohon yang terlampau rimbun. Pedang Savrinadeya masih terus bergetar dan lengan kirinya pula masih terasa kebas bukan main.
Latihan kerasnya selama empat purnama di Gaung Seribu Tetes Air membuahkan hasil. Lengan kirinya menjadi cukup kuat, sehingga Pedang Savrinadeya tidak lepas dari genggamannya begitu terjadi pertukaran serangan.
Namun tidak cukup waktu bagi Mantingan untuk melemaskan lengan tangannya yang kebas atau sekadar menunggu pedangnya sampai berhenti bergetar, sebab serangan telah kembali datang.
Mantingan cepat-cepat melenting dari dahan pohon yang dihinggapinya, yang sesaat kemudian telah ditancapi belasan racun beracun. Tapa Balian sungguh tidak bermain-main dengan pertarungannya.
Sekelebat bayangan melesat keluar dari semak belukar tersebut, tepat sesaat sebelum Tapak Angin Darah menghamburkan tempat itu hingga tidak berbentuk lagi. Mantingan yang melihatnya hanya bisa tersenyum canggung sebab nyatanya kadar serangannya terlalu besar dan dapat saja membahayakan Tapa Balian.
“Dikau hendak bermain sihir denganku, wahai Mantingan?” Terdengarlah suara Tapa Balian, yang meskipun sayup-sayup tetapi tetap mampu membuat Mantingan bergidik ngeri.
Kendatipun hubungan Mantingan dengan Tapa Balian telah berlangsung cukup lama dan penuh dengan keharmonisan, tetapi Mantingan sama sekali tidak mengetahui bahwa Tapa Balian memiliki ilmu sihir. Bahkan dirinya pun tidak betul-betul mengetahui tingkat kependekaran si penempa tua itu, sebab ia memang belum pernah menyaksikan Tapa Balian bertarung dengan segenap kemampuannya. Tentu pertarungan Tapa Balian melawan enam penyamun di tepi pantai kala itu hanyalah permainan untuk menguji dirinya. Maka yang dirasakan oleh Mantingan saat ini adalah menghadapi lawan yang sama sekali baru, dan bukan lawan yang telah dikenalinya begitu lama.
__ADS_1
Dengan kata lain, Mantingan tidak mengetahui unsur sihir manakah yang dikuasai dan yang akan dipakai Tapa Balian untuk memyerangnya. Namun, Mantingan tetap berwaspada terhadap segala kemungkinan. Di dalam kepalanya, ia mengandaikan bahwa Tapa Balian menguasai empat unsur sihir sekaligus; yakni api, air, air, dan angin. Sehingga persiapannya ialah untuk menghadapi keempat unsur sihir tersebut, dan bukan salah satunya saja. Dengan pengandaian itu pula, kewaspadaannya menjadi lebih matang lagi.
Kelebatan bayang-bayang Tapa Balian yang semulanya melesat tak jauh dari Mantingan itu kemudian menghilang tanpa jejak. Mantingan sungguh tidak mengetahui ke manakah pria tua itu pergi, sehingga memilih untuk menambah lajunya secepat mungkin agar tidak dapat dijebak secara tiba-tiba!
Mantingan bergerak begitu cepat, menembus berkali-kali lipat kecepatan suara, sehingga bagaikan tiada yang dapat lebih cepat daripadanya. Tubuh Mantingan bagaikan lenyap dari muka bumi, yang mana mata terlatih seorang pendekar akan menangkapnya sebagai suatu kelebatan belaka, sedangkan mata orang awam telah benar-benar tidak dapat menangkapnya dalam wujud apa pun.
Namun, meskipun Mantingan bergerak dengan teramat sangat cepat, bagai telah mengalahkan kecepatan itu sendiri, tetapi bukan berarti bahwa dirinya menjauh dari mulut goa yang merupakan jalan masuk menuju Gaung Seribu Tetes Air, sebab betapa pun cucu Tapa Balian yang bernama Delima itu masih menunggu di sana, dan ancaman tangan-tangan kotor dari para pendekar rimba persilatan tetaplah masih ada. Mantingan tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan Delima jauh dari pengawasan, meskipun pertarungannya dengan Tapa Balian telah berubah menjadi jauh lebih sengit serta menuntut pemusatan pikiran yang luar biasa.
Dan agaknya, Tapa Balian pun menyadari apa yang telah Mantingan sadari, bahwasanya pertarungan mereka tidak boleh berlangsung terlalu jauh dari mulut goa, tak peduli sesengit apa pertarungan mereka nantinya.
Maka begitulah pergerakan Mantingan yang sedemikian cepat itu hanya memutari mulut goa, yang jaraknya di antaranya tidak pernah melebihi seratus langkah.
Sedangkan itu, Tapa Balian masih belum tampak pula batang hidungnya. Ekor mata Mantingan berkeliling. Menebar ke segala penjuru. Tetapi tidak pula kakek tua itu terlihat.
Hinggalah Mantingan memutuskan untuk berhenti dengan hinggap pada salah satu dahan pohon yang ditemuinya. Namun, bukan karena dirinya telah kelelahan sebab telah begitu lama bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat ketimbang cepat itu sendiri, melainkan memang sengaja untuk memancing Tapa Balian keluar dari persembunyiaannya yang betapa pun amat sangat sulit untuk diketahui itu. Mantingan masih jauh dari kata lelah.
___
__ADS_1
catatan:
Crazy up ada di akhir bulan. Maaf akhir-akhir ini saya hanya update satu episode per hari, saya mesti mengurus naskah-naskah lainnya.