Sang Musafir

Sang Musafir
Lawan yang Tangguh


__ADS_3

MANTINGAN MENAHAN napasnya saat melihat datangnya dua musuh sekaligus yang terbang kepadanya. Dirinya diincar seperti itu memang bukan tanpa sebab. Mantingan adalah orang aneh bagi musuh, berbeda dengan Paman Bala yang sudah mereka sudah dapat tebak sampai mana kemampuannya. Sedangkan Mantingan yang sedari tadi menyamar sekaligus tak bersuara membuat musuh tidak menaruh curiga dan mengamatinya lebih jelas.


Dengan gerakan yang hampir dua kali melebihi kecepatan kilat, Mantingan melemparkan lima Lontar Sihir sekaligus ke arah belakangnya. Namun sayang sekali saran dari Rara tidak bisa diterapkan untuk saat ini. Racun yang disebutkan tadi masih berada dalam genggaman Paman Bala.


Dua di antara lontar yang Mantingan lempar adalah Lontar Sihir Cahaya yang telah dialiri sejumlah besar tenaga dalam. Akibat tenaga dalam besar yang tak dapat ditampung lagi, dua Lontar Sihir Cahaya meledak di udara bersamaan.


Ledakan itu juga menimbulkan kilat cahaya yang sangat-sangat terang. Benar-benar menyilaukan bagi mata yang melihatnya. Kilatan cahaya itu hanya berlangsung dalam waktu singkat, tak kurang dari satu kejapan mata. Namun, kilat yang dihasilkan mampu melumpuhkan penglihatan musuh dalam waktu yang singkat saja.


Dua orang bertopeng itu tidak sempat menutup mata. Mereka bahkan membuka mata lebar-lebar, menatap Mantingan sambil menjilat bibir. Tidak disangka hal itu mampu membutakan penglihatan mereka untuk sementara.


Sementara itu tiga Lontar Sihir lainnya terus meluncur. Tiga lontar itu merupakan lontar sihir penjebak yang sama seperti yang pernah Mantingan pasang di tembok Kota Angin Nyiur. Lontar itu akan membuat berat tubuh seorang pendekar bertambah pesat, dengan membuat tenaga dalam di dalam tubuh pendekar itu jadi memiliki bobot.


Akibat mata yang masih terbutakan oleh Lontar Sihir Cahaya, kedua pendekar itu sama sekali tidak bisa menghindar ke arah yang benar. Masing-masing dari mereka mendapat satu Lontar Sihir Penjebak, sedangkan satu Lontar Sihir Penjebak yang tersisa hanya meluncur ke udara kosong.


Setelah menabrak benda yang keras, Lontar Sihir Penjebak akan selalu menempel dan segera mengaktifkan mantra sihir. Jika mantra sudah bekerja, maka percuma saja jikapun seseorang berusaha melepas diri dari tempelan lontar. Sekalipun lontarnya lepas, namun tidak dengan mantranya.


Jatuhlah dua lawan yang telah ditempeli Lontar Sihir Penjebak itu. Cahaya aksara-aksara muncul di tubuh mereka yang kemudian lalu menjadi cahaya pudar saja.

__ADS_1


Mantingan terus bergerak mundur ke belakang sambil melihat Paman Bala yang sama-sama telah menjatuhkan satu lawannya. Entah cara apa yang dipakai Paman Bala untuk menjatuhkan satu lawannya itu.


Mantingan dan Paman Bala sama-sama terus bergerak ke belakang, kini keduanya akan membentur tembok jika saja tidak bergerak ke depan. Begitulah hal yang paling tidak disukai dari pertarungan di ruangan sempit, seperti yang terjadi saat itu.


Kedua-duanya menyentuh tembok dengan kakinya, lalu sekali lagi mendorong tubuhnya ke depan. Tak ayal Paman Bala dan Mantingan saling bertemu di udara.


Tanpa berkata lagi, keduanya sama-sama tahu apa yang harus diperbuat. Mantingan merapalkan ilmu meringankan tubuh sebelum menarik selembar lontar dari kotak lontar, lalu menuliskan aksara-aksara Pallawa dan beberapa coretan yang semuanya itu membentuk mantra. Hal yang sama juga dilakukan oleh Paman Bala.


Tangan dua pria itu sudah sangat terlatih untuk membentuk aksara tanpa kesalahan sedikitpun. Masing-masing dari mereka menyelesaikan mantra secara bersamaan. Setelah itu, Mantingan dan Paman Bala saling menempelkan dua lontar itu.


Semburat cahaya berisi ribuan aksara berukuran kecil menyembur dari dalam dua lontar yang bersatu tersebut. Itulah Jurus Naga Membelah Badai yang digadang-gadang mampu menumpas ratusan prajurit dengan sekali serangan saja.


Setelah terbang ke atas hingga hampir menyentuh atap ruangan, ribuan aksara itu kemudian berkumpul, menyatu menjadi satu bentuk aksara saja. Sedangkan untuk membuat Jurus Naga Membelah Badai dapat bekerja, diperlukan tiga aksara. Yang sama saja, Mantingan dan Paman Bala perlu melakukan hal yang sama dua kali lagi.


“Sekali lagi, Pahlawan Man!” Paman Bala berteriak cemas saat melihat tiga lawannya mulai bangkit berdiri.


Mantingan mengangguk, mengambil selembar lontar lagi dari kotak penyimpanan lontar. Segeralah dirinya dan Paman Bala menuliskan mantra dengan aksara dan coretan berbeda, kali ini aksara-aksara yang harus mereka tulis lebih rumit daripada sebelumnya.

__ADS_1


Mantra selesai dibuat dalam waktu yang berdekatan. Mantingan dan Paman Bala bergerak cepat ingin menyatukan mantranya, namun sayang seribu sayang, tubuh mereka terempas keras. Sungguh keras hingga Mantingan sendiri tidak tahu apa yang telah mengempasnya.


Tubuhnya membentur batu bata atap ruangan. Di taraf ini, Mantingan masih belum merasa kesakitan. Padahal, tubuhnya terbentur begitu kuatnya. Mantingan hanya bisa mendengar suara retak berbarengan dengan suara debam. Di tangannya, Lontar Sihir Jurus Naga Membelah Badai masih tercengkeram kuat.


Mantingan merasakan tubuhnya melayang jatuh. Ia tak dapat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya akibat rasa sakit dan rasa pening baru mulai menggerayangi tubuh dan kepalanya. Mantingan hanya bisa menerima saja saat tubuhnya kembali berdebam. Di atas lantai ruangan yang penuh bercak darah manusia, seorang Mantingan tersungkur.


“Mantra anak-anak seperti ini tidak akan bisa menghentikan kami.” Sayup-sayup, telinga Mantingan dapat mendengar suara itu, disusul gelak tawa dingin yang sayup-sayup pula.


Mantingan ingin bangkit. Sangat ingin malahan. Namun ia malah merasa kesadarannya mulai berkurang. Saat ia mencoba membuka matanya, yang ia lihat hanyalah keburaman yang pecah. Saat ia mencoba memanfaatkan pendengarannya, yang ia dengar hanya suara desir darahnya.


Tidak bisa Mantingan bangkit. Itulah kenyataannya. Mantingan mulai menuju ketidaksadaran. Itulah kenyataannya. Dalam benak Mantingan meringis, Mantingan berteriak, yang ia sendiri tidak bisa dengar suaranya.


“Aku tahu kau bisa.” Tidak sayup. Begitu jelasnya. Hanya suara Rara saja yang tidak terdengar sayup, hanya suara Rara saja yang benar-benar didengar oleh jiwanya. “Ingat apa yang tadi kamu katakan, lakukan yang terbaik. Untukku.”


Mantingan kembali membuka matanya. Kembali mempertajam pendengarannya. Meskipun hanya terlihat bayangan kabur, meskipun hanya terdengar suara desir darah, Mantingan tetap menggerakkan tubuhnya. Perlahan ia tempelkan dua telapak tangannya ke lantai. Segenap tenaga luar dan tenaga dalam ia kerahkan.


Ibarat pepatah perlahan namun pasti, begitulah Mantingan. Perlahan-lahan ia mulai bangkit. Seluruh tubuhnya seakan mendengar suara panggilan, saling bekerja sama. Bahkan alam semesta pun seperti memberi bantuan pada anak muda itu. Mantingan pun bangkit berdiri!

__ADS_1


____


Follow IG: @westreversed


__ADS_2