Sang Musafir

Sang Musafir
Kediamannya Dirobohkan


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


DARI percakapan para warga, Mantingan mengetahui bahwa kerajaan berniat menghapus seluruh jejak tentang Pahlawan Man. Baik namanya, maupun kisah kepahlawanannya, mestilah dihapus hingga tanpa sisa.


Sedangkan itu, secara mengejutkan, penduduk Desa Lonceng Angin telah membuatkan sebuah perpustakaan yang khusus memuat kisah-kisah Pahlawan Man yang dikumpulkan dari banyak saksi.


Kediamannya pun dijadikan bagai tempat sakral. Banyak sekali sesajen yang diletakkan di tempat itu, berikut dengan segala macam aroma dupa yang amat menyengat. Entah mereka sedang mendoakan orang mati atau memuja dewa.


Beberapa pendekar aliran merdeka menjaga kediaman itu secara diam-diam dari tangan pendekar-pendekar berwatak buruk.


Kabarnya, pasukan kerajaan akan datang hari ini pula untuk merobohkan kediamannya dan memusnahkan kitab-kitab di dalam perpustakaan desa yang memuat tentang Pahlawan Man, maka kini dengan wajah tegang para penduduk desa bersiap untuk mengangkat senjata.


Mantingan segera berbicara pada salah satu penduduk desa yang dilihatnya cukup memiliki kuasa. Awalnya, ia hanya menawarkan rumput, sampai pada dirinya berhasil mengorek banyak keterangan tentang rencana penduduk desa dalam menghalau kedatangan pasukan kerajaan.


Masih dengan penyamarannya, Mantingan mengingatkan bahwa Pahlawan Man pernah bertaruh nyawa untuk menyelamatkan nyawa penduduk Desa Lonceng Angin dari kebinasaan, jadi dirinya pasti akan sangat kecewa jika kini mereka justru mati sia-sia hanya untuk melindungi kediamannya.


Pada saat ia ingin pergi, orang yang diajaknya berbicara itu kembali memanggil, “Anak muda, bagaimana dikau bisa tahu tentang kejadian yang menimpa desa kami waktu itu? Kami semua sudah berusaha merahasiakannya.”


Pemuda itu hanya tersenyum dan menjawab, “Kupercayakan ini kepadamu, Bapak, jangan sampai terjadi keributan yang tidak perlu.”


****


TIDAK satupun penduduk desa bergeser dari kedudukan mereka meski hanya untuk sejengkal saja. Semuanya terdiam dan mematung, bagaikan perintah lantang yang dikeluarkan oleh juru bicara pasukan itu sama sekali tidak terdengar.


Terlihat kepala pasukan berbisik pelan pada sang juru bicara yang lantas menganggukkan kepalanya.


“Jadi, kalian ingin menentang perintah Sri Maharaja Punawarman? Inginkah kalian dianggap sebagaimana kumpulan pemberontak? Jika memang begitu rupanya, tugas kami adalah memusnahkan kalian semua hingga habis tak tersisa, ibarat sebuah pohon tak berdaun tak berbatang tak berakar. Setiap kepala pemberontak wajib terlepas dari tempatnya!”

__ADS_1


Kepala pasukan mengangkat sebelah tangan, maka seketika itu pula seluruh prajurit di belakangnya menarik kelewang dari sangkar di pinggang mereka. Menatap nyalang.


Namun, ancaman itu hanya berpengaruh pada beberapa orang saja yang lekas bergerak menjauh. Sedangkan sisanya tetap kukuh di tempat mereka.


“Kalian yang memilih untuk tetap tinggal, bersiaplah menanggung akibatnya!” Kini kepala pasukan yang  berteriak, tangannya telah terangkat untuk memberi perintah, dan Mantingan pula telah hendak berkelebat untuk menghentikan keributan, sampai tiba-tiba saja seorang pria tua datang ke tempat itu dengan berlari.


“Hentikan, Tuan! Hentikan!”


Seketika itu pula sang pemimpin pasukan menahan gerakan tangannya yang baru saja hendak diayunkan ke bawah, sama saja dengan membatalkan perintah menyerang.


“Tuan Perwira, mohon tahanlah sejenak kermukaan Tuan, biarkanlah hamba sahaya berbicara pada mereka terlebih dahulu. Hamba adalah salah satu tetua di desa ini, sudah pasti segala ucapan hamba akan dipertimbangkan mereka. Janganlah Patih terburu-buru!”


“Kuberi engkau waktu untuk berbicara. Ketika mega-mega yang menutupi matahari itu telah tersapu dari tempatnya, waktu engkau habis!”


“Terima kasih, Tuan Perwira! Hamba berjanji tidak akan mengecewakan Tuan.”


Tetua desa itu kemudian berbalik menghadap kerumunan penduduk yang kini menatapnya dengan marah. Telah pasti mereka menganggapnya sebagai pengkhianat, penjilat kerajaan, dan macam-macam sebagainya.


“Kita bukanlah orang yang tak memiliki adab!” seru pria tua itu tanpa berbasa-basi lagi, dia tahu bahwa waktunya tidak tersisa banyak. “Apakah kita benar-benar ingin mengorbankan nyawa demi sekadar melindungi kediaman Pahlawan Man, sedang pahlawan itu justru telah bertaruh nyawa untuk melindungi kita semua? Tidakkah jika Pahlawan Man mengetahui hal ini, dia akan kecewa besar pada kita semua, penduduk Desa Lonceng Angin yang disayanginya?”


Seketika itu pula, seluruh tatapan yang mengarah pada si pria tua lekas berubah. Tidak lagi menanggung kemarahan. Jika dipikirkan dalam-dalam, apa yang sang tetua katakan adalah kebenaran. Pahlawan Man telah berani mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi segenap penduduk Desa Lonceng Angin, mengapakah pula mereka harus mengorbankan nyawa hanya untuk melindungi kediamannya saja?


“Andaikan Pahlawan Man ada di tempat ini, bersama kita semua, berdiri di antara kita semua; pastilah dirinya akan rela sekadar kediamannya diratakan dengan tanah, kisah-kisahnya dimusnahkan, dan namanya dihilangkan jika hal itu dapat menyelamatkan nyawa seluruh penduduk Desa Lonceng Angin,” lanjut si pria tua dengan tampang wajah menahan kesedihan. “Pahlawan Man akan mengorbankan apa pun yang ada padanya demi kebajikan, kebaikan, dan demi kedamaian. Janganlah kita lantas mengkhianatinya seperti ini.”


Mendengar perkataan itu, Mantingan merasakan sesuatu yang jarang dirasakannya merayap ke dadanya. Ia tidak pernah menduga akan dianggap sedemikian berarti oleh penduduk Desa Lonceng Angin.


“Sekarang, kita menyingkirlah. Jangan satupun melawan. Tunjukkan betapa kita semua masih memiliki sikap seorang Pahlawan Man, hal itulah yang membuat sang pahlawan tetap hidup meski namanya dihapuskan dan sejarahnya ditenggelamkan.”

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, tiba-tiba saja embusan angin menguat, serta-merta membuat awan tersibak. Cahaya matahari kembali menyirami Desa Lonceng Angin dengan segala macam kehangatannya. Waktu bicara si pria tua sudah habis, tetapi pidato singkat itu nyatanya sangat berpengaruh. Seluruh penduduk yang tadinya bergeming tak bergeser meski hanya sejengkal, kini lambat laun bergerak memberi jalan bagi pasukan kerajaan menuju kediaman Pahlawan Man.


Pasukan kerajaan itu segera mengelilingi kediaman tersebut dengan alat penghancur di masing-masing tangan mereka—menggantikan kelewang. Jumlah mereka lebih dari seratus orang, cukup untuk membuat bangunan itu roboh merata dengan tanah hanya dalam waktu seperempat peminuman teh.


Namun sebelum memberi perintah penghancuran, tiba-tiba saja sang kepala pasukan melompat turun dari kudanya. Dengan tiada terduga, dirinya bersimpuh di hadapan gerbang masuk kediaman Mantingan. Kedua tangannya ditangkupkan dan didekatkannya ke ujung hidung. Sama persis sebagaimana dia memberi hormat pada para petinggi kerajaan.


Setelah beberapa saat terhening, barulah pemimpin pasukan itu bangkit hanya untuk mendapati tatapan-tatapan heran dari kerumunan penduduk desa.


“Gerangan apa yang membuat kalian menatapku sedemikian? Kiranyakah kalian berpikir daku telah menjadi buta, sehingga seluruh kebaikan Pahlawan Man tidak dapat kulihat sendiri?” katanya kemudian. “Perintah Sri Maharaja tetaplah suatu ketetapan, tetapi kebenaran jauh lebih mutlak dari segala-galanya.”


Tepat setelah mengatakan itu, dia memerintahkan seluruh pasukannya untuk memulai penghancuran. Namun, nyatanya seluruh prajurit yang datang dari kerajaan itu pula menghormati Pahlawan Man, sehingga tidak sedikitpun mereka menyertakan kemarahan ketika mulai membongkar papan kayu demi papan kayu, tanaman demi tanaman, pagar demi pagar, dan sebagainya. Segalanya dilakukan dengan hikmat, sehikmat ketika mereka membangun sebuah bangunan, dan bukan membongkarnya.


Mantingan memilih untuk segera pergi meninggalkan tempat itu bersama sebagian besar warga desa lainnya yang juga tidak mampu melihat bangunan tersebut diruntuhkan hingga habis. Dirinya melanjutkan perjalanan ke arah selatan, menelusuri jejak perjalanannya bersama Bidadari Sungai Utara semasa dahulu, sebab tidak mungkin lagi gadis itu berada di Desa Lonceng Angin.


Maka begitulah Mantingan kembali meninggalkan jejak-jejak kebahagiaannya akibat suatu kemestian. Sekalipun sangat menginginkannya, amat tidak mungkin bagi pemuda itu untuk tetap tinggal di Desa Lonceng Angin mengingat pusaka terkuat seantero jagat persilatan masih berada di tangannya.


Pula Bidadari Sungai Utara harus segera ditemukan. Bila tidak, gadis itu dapat saja membuat hubungan Javadvipa dengan Champa menjadi sangat buruk.  Sri Punawarman mestilah memiliki tugas yang amat besar, yakni meyakinkan penguasa Negeri Champa bahwa menghilangnya Putri Pham Lien tidak memiliki hubungan dengan urusan kenegaraannya.


Jika angin timur usai dan angin barat datang, barang tentu utusan dari Champa akan tiba pula di Javadvipa untuk mempertanyakan gerangan gadis itu. Bukan tidak mungkin jika kali ini mereka tiba dengan pengawalan ribuan pasukan yang selalu siap tempur.


Mengingat betapa buruknya jika hal tersebut sampai terjadi, sangat tidak mengherankan bila sampai saat ini Mantingan selalu diluputi rasa keterdesakan yang benar-benar genting.


Selain untuk menemukan Bidadari Sungai Utara dan kembali memastikan kepulangan gadis itu ke Champa, ia juga harus menemukan Kembangmas agar secepat mungkin dapat mengundurkan diri dari dunia persilatan. Perkara Sepasang Pedang Rembulan, dapat ia titipkan pada seluruh Pemangku Langit yang ada untuk menjaganya bersama-sama. Tentulah para Pemangku Langit yang sebenar-benarnya hanya menginginkan kesempurnaan dalam ilmu persilatan, bukannya kekuasaan. Bagi mereka, Sepasang Pedang Rembulan tidak akan pernah terlihat begitu menggiurkan.


___


catatan:

__ADS_1


Pembaca yang Budiman, kalian mestinya mengetahui mengapa saya menggunakan "EPISODE SEBELUMNYA". Selain untuk mengingat kembali alur yang telah berlalu, ada suatu hal lain pula, berkaitan dengan insiden kemarin. Semoga para pembaca dapat berpengertian. Terima kasih.


__ADS_2