Sang Musafir

Sang Musafir
Jejak Kembangmas


__ADS_3

MANTINGAN berdiri tanpa bergerak sedikitpun di tempatnya. Membisu. Benar-benar bagaikan sebuah patung. Matanya menatap perempuan di hadapannya itu dengan tatap tak percaya.


Sebaliknya, perempuan berpakaian teramat sedikit itu justru melempar tatapan menantang kepadanya. Menggoda. Jari telunjuknya memberi untuk Mantingan agar mendekat.


Godaan itu berhasil! Mantingan yang semulanya diam mematung itu mulai melangkahkan kaki mendekati perempuan itu. Tubuhnya mengucurkan keringat deras setelah hasrat badaniah membakar darah mudanya. Namun barang sesaat kemudian, langkah Mantingan kembali berhenti ketika terlintas wajah Bidadari Sungai Utara dalam pikirannya.


Betapa kecantikan gadis itu yang bagai tiada dua memang telah mampu menyadarkan diri Mantingan untuk tetap sadar. Dan selain kecantikannya itu, Bidadari Sungai Utara pula memiliki sikap lemah-lembut serta kebaikan yang teramat matang. Dengan kedua gabungan itu, bagaimanakah kiranya Mantingan dapat memilih wanita lain?


Pandangan matanya yang semula memancarkan hasrat dan gairah, kini berganti dengan ketajaman yang terasa amat menusuk. Bagaikan ketajamannya itu melebihi tajamnya Pedang Savrinadeya yang mampu membelah rambut menjadi berbelas-belas bagian!


“Kau siluman!”


Memang begitulah jalan pikir Mantingan. Ia menganggap bahwa gadis yang ada di depannya itu adalah siluman yang betapa pun telah berada pada tingkatan tertinggi sehingga mampu mengubah wujudnya serupa dengan manusia!


Mantingan memang pernah membaca kitab-kitab tentang siluman di perpustakaan yang ada di Javadvipa sewaktu dirinya masih belum menapaki jalan persilatan. Salah satu kitab itu menyebutkan bahwa pada tingkatan tertentu, hewan siluman dapat mengubah wujudnya menyerupai manusia. Rerata wujud yang dipilih mereka adalah wanita yang cantik-jelita bagai tiada dua, sebab hanya dengan wujud itulah mereka dapat menaklukkan sesosok raja besar ke dalam pelukannya.


Namun bagi Mantingan yang tidak selalu mengukur nilai seseorang berdasarkan apa yang tampak dari luarnya, dapatkah hal itu masih berlaku? Tentu saja tidak!


Mantingan ingin keluar dari gua itu barang secepat mungkin, sebab siluman di hadapannya itu benar-benar dapat membunuhnya dalam keadaan seperti ini. Namun, bagaimanakah kiranya ia dapat keluar bila tubuh ular siluman itu masih menutupi jalan keluarnya?


Maka satu-satunya hal yang dapat ia lakukan saat ini jika masih ingin selamat adalah berunding dengan siluman berwujud wanita itu.


“Apa yang kauinginkan dariku?”


Wajarlah bila Mantingan bertanya begitu, sebab dirinya seolah saja sengaja dipancing hingga ke tempat ini. Sungguh menyedihkan bila mengetahui kenyataan bahwa dirinya masih berada dalam jebakan lawan setelah sebelumnya ia mengira telah berhasil menjebak lawan.


“Berhentilah mencari Kembangmas.” Siluman itu berkata dengan nada datar, meski ucapannya terdengar cukup fasih untuk seukuran siluman yang wujud aslinya bukanlah manusia. Sudah seberapa lama dia hidup di dunia ini?

__ADS_1


Namun betapa pun, bukanlah kefasihan ucapannya yang menjadi perhatian utama Mantingan. Betapa ia terkejut bukan main dengan siluman yang mengetahui tujuan dari perjalanannya itu! Bagaimana bisa?


Lantas kemudian, setelah terlebih dahulu mengesampingkan pertanyaan tentang bagaimana siluman itu mengetahui bahwa Mantingan memang sedang mencari Kembangmas, mengapakah kiranya Sang Siluman meminta Mantingan untuk berhenti mencari Kembangmas?


“Kau memengaruhi pikirannya. Kau sangat kejam.” Siluman dalam wujud perempuan itu kembali berkata dengan suara datar. “Kau merusak rencana kami.”


“Rencana apa?” Mantingan memotong ucapannya.


“Rencana kami, kau merusaknya. Kau merusak rencana kami.” Nada bicara siluman itu semakin aneh.


“Siapakah dirimu, dan apakah hubunganmu dengan Kembangmas?”


“Berhenti memburunya.”


“Mengapa?!”


“Tidak!”


“Kau harus!”


“Aku akan terus memburunya,” tukas Mantingan, “sampai aku berhasil mendapatkannya!”


“KAU HARUS DILENYAPKAN!”


Siluman berwujud perempuan itu tiba-tiba saja menjerit kencang. Merebak udara. Begitu kerasnya, hingga seolah saja tiada sesuatupun yang dapat lebih keras ketimbang itu!


Telinga Mantingan terasa tuli dalam seketika itu pula, sebab betapa dirinya tidak menyangka bahwa perempuan siluman yang semulanya hanya bicara dengan nada datar-datar saja itu tetiba saja berteriak dengan teramat sangat keras. Jadilah ia tidak sempat menebalkan pertahanan telinganya dengan tenaga dalam!

__ADS_1


Bila sudah begini jadinya, maka Mantingan tidak dapat lagi menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk sementara waktu. Benar-benar gawat!


Belum selesai keterkejutan Mantingan, kini dilihatnya perempuan siluman itu mengeluarkan kuku-kuku panjang dari jari-jemarinya. Tampak pula taring panjang yang timbul dari balik bibir merahnya. Siluman sejenis apakah dirinya?


Ketika Mantingan baru bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, yakni diserang dengan seganas-ganasnya oleh siluman itu, tetiba saja tubuh ular besar yang menutupi lorong gua itu tertarik keluar. Maka tanpa pikir panjang lagi, Mantingan segera berkelebat ke arah mulut gua untuk menghindari perempuan siluman itu barang secepat mungkin!


Dirinya memang tidak mengetahui hal semacam apakah kiranya yang membuat tubuh sebesar ular siluman itu dapat tertarik keluar. Apakah memang dengan sendirinya begitu, ataukah terdapat sesuatu yang menariknya dari luar? Mantingan masih belum mengetahuinya, tetapi ia tetap memilih untuk bergerak keluar ketimbang menghadapi perempuan siluman itu di dalam sarangnya.


Ia ingat dalam kitab bacaannya dahulu, sebagian besar siluman menjadi lebih kuat jika berada di dalam sarangnya, sedangkan sebagian kecil lainnya justru menjadi lebih kuat bila berada di lingkungan luar.


Ketika Mantingan berhasil keluar dari gua itu, ia menemukan bahwa hal yang menyebabkan mayat ular besar itu tertarik keluar adalah Munding Caraka!


Tampak kerbau itu sedang berada dalam wujud silumannya, yakni menyerupai banteng berwarna merah semua, tetapi kini dengan ukuran yang dua kali lipat lebih besar ketimbang sebelumnya. Mantingan segera dapat menebak bahwa Munding Caraka sedang menjelma menjadi sosok terkuat dalam dirinya, hingga mampu tanpa kesulitan berarti menarik tubuh siluman ular yang amat besar itu.


“Kita harus bergerak sekarang, Munding!” Mantingan melenting tinggi dan mendarat tepat di atas punggung Munding Caraka, yang segera langsung membawanya melesat terbang ke langit.


Namun seberapa pun mengerikannya keadaan, Mantingan meminta Munding Caraka untuk tidak bergerak terlalu jauh dari sarang siluman itu. Ia masih belum bisa melepaskannya!


“RAAARRRR!!!”


Terdengar raungan yang luar biasa ingar-bingar dari bawah, atau yang lebih tepatnya berasal dari gua tempat wanita itu bersarang. Cukup menggetarkan bagi Mantingan yang bahkan masih memiliki masalah dengan pendengarannya.


Namun, Munding Caraka teramat pengertian kepada Mantingan. Kerbau itu tahu betul bahwa keberanian Mantingan mungkin akan sedikit banyak terganggu akibat raungan siluman itu, maka dirinya pun meraung lebih keras pula untuk membalasinya!


Raungan yang dikeluarkan oleh Munding Caraka itu bagai hendak menyibak awan-awan hitam yang menyelimuti langit. Betapa teramat menggelegarnya. Dan begitulah raungan tersebut mampu membuat kejiwaan Mantingan bertambah semakin kuat. Keberaniannya meningkat pula. Merasa bahwa setidaknya ia masih memiliki satu siluman di pihaknya yang dapat diandalkan betul-betul.


Barang sesaat kemudian, terjadilah hal yang sungguh hampir tidak dapat dipercaya oleh Mantingan!

__ADS_1


__ADS_2