
MANTINGAN MEMBETULKAN kedudukan caping di kepalanya manakala matahari bertengger tepat di ufuk tengah. Teriknya bukan main rasanya. Membakar kulit para prajurit Laskar Kerbau Taruma yang bertelanjang dada.
Beruntunglah Mantingan mengenakan jubah pemberian Kenanga yang selalu bisa diandalkannya dalam berbagai keadaan cuaca. Di tengah teriknya kemarau, ia justru merasakan tubuhnya tengah dikelilingi air terjun pegunungan yang kesegarannya tak perlu diragukan lagi. Begitu segarnya.
Mantingan mengeluarkan sebuah kitab persilatan yang belum sempat dibacanya. Ia masih belum memutuskan untuk melanjutkan bacaan Kitab Teratai, sebab dibutuhkan ketenangan sukma dan raga untuk dapat memahami isi yang terkandung di dalam kitab tersebut; bukan hanya sekadar membacanya tanpa mengerti apa pun.
Ketika ini, meskipun kesegaran menyelimuti badannya, tetapi batinnya masih belum diliputi kesegaran penuh. Matahari bersinar terlalu terik tanpa dihalangi mega-mega. Langit mahaluas menyilaukan mata. Wajahnya terasa terbakar. Dalam keadaan seperti itu, sangat sulit untuk meraih ketenangan batin.
***
MANTINGAN MENYELESAIKAN kitab yang dibacanya itu setelah siang telah berganti menjadi petang. Senyumnya mengembang lebar-lebar. Ia merasa seperti baru saja mendapat guyuran ilmu langsung dari langit. Bagaikan langit sedang deras-derasnya menurunkan hujan, tetapi bukan hujan air, melainkan hujan ilmu. Dan betapa senangnya ketika mengetahui bahwa kitab yang telah dibacanya itu berisikan jurus silat yang teramat sangat penting dan dibutuhkan bagi Mantingan.
Kitab yang memiliki nama “Tetesan Embun” itu berisikan paduan untuk menggunakan ilmu pendengaran tajam yang memiliki nama hampir serupa; Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Di dalam Kitab Tetesan Embun, tercantum nama Kiai Kedai sebagai penulis kitab tersebut. Ini berarti, besar kemungkinan bahwa Ilmu Mendengar Tetesan Embun berasal dari Kiai Guru Kedai.
Dari goresan aksara dan bentuk lontarnya, Mantingan mengetahui bahwa kitab ini tidaklah sama seperti kitab-kitab lain yang juga pemberian Kiai Guru Kedai yang pada umumnya berusia lebih dari sepuluh tahun. Kitab ini tampak muda, setidak-tidaknya berusia enam purnama.
Mantingan menduga bahwa sebelum pergi dari Desa Lonceng Angin, gurunya itu diam-diam menyelipkan Kitab Tetesan Embun di antara kitab-kitabnya hingga terbawa sampai di tempat ini.
Mantingan menyunggingkan senyum lebar, berterimakasih pada gurunya secara diam-diam pula.
Ia menyimpan kitab itu baik-baik di dalam bundelannya sebelum membetulkan letak duduknya. Setelah memejamkan matanya, Mantingan mengedarkan tenaga dalam menuju gendang telinganya. Ia akan mempraktikkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Sebentar kemudian, Mantingan membuka matanya lebar-lebar dengan tatapan penuh ketakjuban. Tangan dan bibirnya bergetar. Jantungnya seakan sedang berusaha meloncat dari tempatnya.
“Bagaimana bisa ... setajam ini, dalam sekali percobaan?” Mantingan bergumam tak percaya pada dirinya sendiri.
Kehebatan Ilmu Mendengar Tetesan Embun begitu dahsyatnya. Mantingan dapat mendengar hampir segala-galanya dalam jarak setidaknya lima belas tombak dari tempatnya sekarang berada.
Perbincangan-perbincangan antarprajurit, titah sang permaisuri kepada dayangnya, cicit anak burung ketika induknya pulang, tetesan embun di atas tanah, bahkan hingga kutu menghisap darah di kulit kera dapat didengarnya begitu jelas.
__ADS_1
Jurus ini tidak memungkinkan Mantingan mendengar semua itu dalam waktu yang bersamaan. Mantingan dapat mengatur apa saja yang ingin didengarnya dan apa saja yang tidak ingin didengarnya.
Bukankah dengan kemampuan hebat seperti itu, Mantingan seperti memiliki mata ketiga yang dapat melihat apa pun dalam jarak lima belas tombak?
Mantingan mencoba menciptakan gelombang suara dengan mengetuk sebidang kayu dengan sarung pedangnya. Dapat dirasakannya bahwa gelombang suara itu beredar sebelum akhirnya kembali memantul menuju telinganya ketika mengenai bidang permukaan. Dengan mendengarkan pantulan suara itu, Mantingan seolah mendapatkan penglihatan yang nyata!
Mendapatkan kemampuan seperti ini, Mantingan sungguh tidak dapat menahan luapan kegembiraannya. Tiba-tiba saja tawanya pecah. Bagai orang gila yang kerasukan, ia tertawa selepas-lepasnya.
Jakawarman dan hampir seluruh prajurit yang ada di sana memandanginya dengan tatapan heran. Mereka bertanya-tanya dengan begitu penasaran di dalam benaknya, apakah seorang Mantingan juga dapat gila sewaktu-waktu karena terlalu banyak menghadapi pertempuran berdarah?
Meskipun sungguh penasaran, tidak satupun dari mereka yang berani bertanya ... kecuali Jakawarman yang memang betapapun akrab dengan Mantingan.
“Pahlawan Man ... ah, maksudku Saudara Man, mengapakah dirimu tertawa begitu keras? Apakah ada sesuatu yang mengganggu perasaanmu?”
Jakawarman jelas bertanya sungguh-sungguh karena dirinya khawatir, maka Mantingan pun menjawabnya dengan sungguh-sungguh pula.
“Jakawarman kawanku, daku dapat mendengar cacing di perutmu menggeliat minta makan!”
***
Mantingan melihat bahwa bangunan ini dirubuhkan, bukan rubuh dengan sendirinya. Jika memang rubuh sendiri, maka tiang-tiang bangunan itu tidak akan penuh dengan bekas potongan.
Kemungkinan besar, bangunan tersebut dahulunya merupakan sebuah kedai kecil. Sebab pembangunan sebuah kedai pun bukan tanpa perhitungan dalam memilih tempat. Sebuah kedai biasanya dibangun dalam jarak setengah hari perjalanan dari kedai yang telah ada sebelumnya.
Banyak dugaan tentang mengapa kedai tersebut dapat hancur, tetapi dugaan terbesar mengarah kepada perampokan. Dan jika dugaan itu benar adanya, maka daerah ini rawan akan keberadaan penyamun.
Gandhi memerintahkan rombongannya untuk tetap melanjutkan perjalanan karena tidak menemukan kedai untuk bermalam, dia tidak pula berniat untuk berkemah. Para prajurit yang kelelahan akan tidur di atap kereta kuda secara berganti-gantian.
Beberapa prajurit diam-diam mengadakan undian untuk mendapatkan tempat di atap kereta kuda Mantingan. Dengan begitu, mungkin saja mereka dapat mendengar satu-dua suara Bidadari Sungai Utara. Itu akan menjadi suara pengantar tidur terbaik!
Mantingan tertawa pelan setelah mendengar percakapan antara para prajurit yang dilakukan secara sangat tersembunyi itu. Sedangkan dirinya sendiri, sama sekali tidak berniat tidur untuk malam ini.
__ADS_1
***
DI BAWAH penerangan Lontar Sihir Cahaya, Mantingan memainkan sebuah pengutik di atas lembar lontar. Pemuda itu tengah meneruskan penulisan kitab perjalanannya.
Telah lama sejak dirinya terakhir menulis. Memegang pengutik seperti itu, rasanya seperti bertemu sahabat lama.
Sedangkan itu, rombongan masih terus berjalan. Jalanan tidak terlalu gelap untuk dilalui, sebab Lontar Sihir Cahaya buatan Mantingan telah menggantikan peran obor yang sinarnya hanya remang-remang saja. Beberapa puluh prajurit masih berjalan di pinggiran jalan; belasan lainnya terlelap di atas atap kereta kuda.
Prajurit yang berhasil memenangkan undian untuk mendapatkan atap kereta kuda Bidadari Sungai Utara harus menelan kekecewaannya. Mereka tidak mendengar Bidadari Sungai Utara atau suara apa pun itu dari dalam bilik kereta kuda. Bahkan ketika mereka nekad coba menempelkan telinga ke permukaan atap, mereka hanya mendengar suara deru napasnya sendiri.
Tiada dari mereka yang sungguh menyadari, bahwa semua itu disebabkan oleh karena Mantingan. Pemuda itu menempelkan sebuah Lontar Sihir Penyamar di dalam bilik itu yang akan menghadang segala suara dari dalam tembus keluar.
Itulah sebabnya, mereka tidak mampu mendengar suara di dalam bilik kereta kuda kecuali jika mereka memiliki ilmu pendengaran yang memumpuni.
Jakawarman duduk di samping Mantingan. Tertidur nyenyak setelah seharian berjalan kaki tanpa berkelebat. Tetapi baru saja Mantingan melihat Jakawarman membuka kelopak matanya. Pria muda itu kemudian menoleh ke sekitar dengan tatapan yang teramat sangat tajam.
Mantingan memasang kewaspadaan setelah melihat tatapan Jakawarman. “Ada apakah, Jaka?”
Jakawarman terdiam sejenak sebelum berkata setengah membisik, “Saudara Man, agaknya daku mendapat panggilan alam.”
“Panggilan alam?” Dahi Mantingan berkernyit. “Daku tidak mendengar alam memanggil namamu, Jaka.”
“Ah, Saudara Man, bukan itu maksudku.” Jakawarman kembali berkata setengah berbisik, “agaknya, daku harus buang air barang sebentar.”
___
catatan:
Hahaha. Saya sepertinya bukan kurang kopi, tapi kurang asupan nasi padang lauk kepala kakap ditambah sayur daun singkong rebus yang dimakan bersama sambal hijau.
Terima kasih sudah mengingatkan, kalian yang terbaik!
__ADS_1