
Setelah memastikan tidak ada lagi yang diperlukannya, Mantingan keluar dari Pasar Ayam Jago. Ia berjalan menuju gerbang kota.
Di kota telah ramai oleh orang-orang.
Pada pagi hari yang dingin ini tidak menyurutkan semangat orang-orang untuk bekerja giat. Mereka justru lebih senang bekerja di pagi buta, agar sejuknya kota memudarkan lelah. Termasuk Mantingan, yang masih belum berkeringat setelah berjalan sejauh ini.
Mantingan berpikir untuk tidak langsung pulang ke perkemahannya. Akan baik jika dirinya pergi ke Perguruan Angin Putih dan mengunjungi Rama—ketua Perguruan Angin Putih yang telah sangat membantunya itu.
Sebenarnya Mantingan tidak mengetahui letak pasti Perguruan Angin Putih, namun Kiai Guru Kedai menjelaskan bahwa perguruan itu memiliki caranya sendiri untuk menuntun anggotanya yang tersesat saat mencoba masuk ke dalam.
Seperti apa cara itu tidak ikut dijelaskan oleh Kiai Guru Kedai, Mantingan bertanya saat itu pun hanya dibalas dengan gelengan pelan.
Mantingan akan mencoba mengingat jalan-jalan yang telah dilaluinya. Itu bukanlah perkara mudah, sebab untuk mengingat sebuah peristiwa tiga tahun yang lalu secara rinci akan sengat menyulitkan.
Setelah melewati gerbang kota, Mantingan mulai berjalan di jalan yang ada di ingatannya. Mantingan sungguh tidak yakin apakah jalan yang dipilihnya adalah jalan yang benar. Tetapi ia sungguh-sungguh ingin berjalan di jalan yang benar, dan berharap Perguruan Angin Putih akan menuntunnya dengan cara yang tidak terduga.
Mantingan semakin masuk ke dalam hutan, jalan yang dilaluinya mulai menyempit. Mantingan berhenti dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini bukanlah jalan yang ada di ingatannya. Ataukah jalan yang pernah dilaluinya telah mengalami perubahan besar hingga tidak dapat dikenali lagi hari ini?
Baru beberapa saat Mantingan berhenti, pemuda itu merasakan angin bersemilir lembut membelai lehernya dari depan. Sebagian angin itu masuk ke telinganya, tiba-tiba saja Mantingan mendengar suara manusia.
“Ikuti arah angin ini, Saudara.” Lembut tutur kata suara itu.
Mantingan tersenyum berbinar-binar. Ia pernah mengalami hal serupa tiga tahun lalu, hari di mana ia dijemput Pasukan Topeng Putih dari Perguruan Angin Putih. Ini adalah ilmu bisikan yang meminjam tenaga angin.
__ADS_1
Angin itu bergerak dari depannya, itu berarti Mantingan harus berbalik berjalan ke arah sebaliknya. Benar dugaannya, jalan yang dipilih saat ini adalah jalan yang salah.
Mantingan terus mengikuti ke mana gerak angin yang menuntunnya itu. Saat angin bersemilir ke kanan, ia akan mengikutinya, begitu pula jika angin bergerak ke arah sebaliknya atau ke arah yang lain. Rasa yang ia rasakan dari angin itu cukup kentara dari angin biasa, angin dari Perguruan Angin Putih ini terasa lebih sejuk di kulitnya.
Langkah Mantingan terhenti saat ia ragu memandang ke depannya. Bagaimana ia bisa berjalan jika yang ada di depannya adalah tebing kabur tinggi yang sulit dipanjat? Sedangkan angin terus menuntun dirinya dirinya ke atas. Mantingan berkeliling ke sekitar tebing dan memastikan bahwa angin itu tidak salah menuntunnya.
Namun, angin sejuk itu terus mengarahkan padanya untuk kembali kepada tempat semula, juga terus mengalir ke arah atas. Mantingan berpikir beberapa saat sebelum menghela napas panjang, ia berpikir untuk menuruti saja apa yang diarahkan angin tersebut, mungkin saja setelah sampai di atas tebing Mantingan bisa melihat di mana tempat Perguruan Angin Putih berada.
Mantingan mengentak kakinya kuat-kuat, melesat cepat ke atas laksana rajawali. Setengah dari tinggi tebing kapur itu telah Mantingan lalui, saat itu tubuhnya mulai kehilangan daya lontarnya dan akan bergerak jatuh ke bawah. Mantingan mencodongkan tubuh ke depan, mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangannya, lalu mencengkeram dan menempel pada dinding tebing.
Tangan Mantingan yang telah dialiri tenaga dalam itu seharusnya sanggup melubangi batu tebing, hingga seharusnya pula ia tidak membutuhkan pijakan untuk memanjat bukit, cukup menempelkan tangannya saja pada dinding tebing. Namun kali ini, tangan Mantingan tidak sanggup melubangi batu tebing di depannya itu.
Jantung Mantingan seketika berdebar kuat saat tubuhnya merosot ke bawah. Lekas-lekas ia mencari pijakan atau paling tidak cekungan pada batu sebagai pegangan. Beruntungnya, tidak jauh dari tempatnya merosot terdapat cekungan-cekungan batu yang dapat diraih oleh tangannya.
Mantingan memandang tebing di depannya itu dengan tatapan heran. Tangannya tadi serasa menghantamkan besi. Seharusnya, tangan Mantingan yang sudah dialiri tenaga dalam itu dapat menghancurkan batu cadas sekalipun, tetapi batu kapur ini tidak bisa ia lubangi.
Setelah beberapa saat berpikir, Mantingan menyelesaikan keheranannya. Justru ia senang. Tebing yang sukar dilubangi ini pastinya bukan tebing biasa. Mantingan juga dapat merasakan aliran tenaga dalam di dalam batu kapur tebing tersebut. Itu mengartikan, Mantingan tidak berada di jalan yang salah.
Mantingan mengentak kaki sekali lagi, membawa tubuhnya melesat hingga ke puncak bukit tertinggi. Puncak tebing yang sangat curam itu hanya memiliki seperempat depa saja sebagai pijakan, tetapi Mantingan dapat berdiri dengan seimbang walau diterpa angin besar sekalipun.
Dari puncak tebing ini, Mantingan dapat melihat hamparan hutan yang tertutup kabut tebal hingga tidak dapat dilihat dengan jelas, walau dari ketinggian seperti ini sekalipun. Mantingan tidak ragu lagi, hutan di Perguruan Angin Putih selalu diselimuti oleh kabut tebal yang dingin.
Mantingan bersyukur telah mempercayai angin ajaib tadi. Kini angin itu menuntun dirinya ke arah bawah. Mantingan menuruni bukit pelan-pelan hingga selamat sampai di bawah.
__ADS_1
Dengan jubah yang dapat mengatur suhu tubuhnya, Mantingan tidak lagi bergidik ngeri jika harus melewati kabut tebal di depannya itu. Dengan kecepatan tinggi, Mantingan melesat ke dalam hutan berkabut tersebut.
***
Tuntunan dari angin membuat Mantingan dengan cepat sampai di depan gerbang Perguruan Angin Putih. Seperti yang terlihat tiga tahun yang lalu, Perguruan Angin Putih sangat berbeda dengan hutan dan kabut menyeramkan yang mengelilinginya. Mantingan seolah menemukan surga tersembunyi di sini.
Beberapa pendekar berpakaian serba putih berbaris di depan gerbang dengan senyum lebar, seolah sedang menunggu kehadiran Mantingan.
“Saudara Mantingan, kami telah lama menunggumu.” Salah satu dari mereka menyambut Mantingan dengan hangat.
Mantingan tersenyum kaku, tapi melihat sikap kekeluargaan seperti ini membuat hatinya luluh juga.
“Silakan masuk, Saudara. Ketua Rama telah menunggumu.”
“Terima kasih, mohon bimbingan Saudara-Saudara.”
Mereka sama-sama tersenyum dan mengantar Mantingan masuk ke dalam perguruan. Di dalam, murid-murid menghaturkan hormat pada Mantingan. Salah satu dari pendekar yang menyambutnya menjelaskan bahwa Mantingan adalah murid lama yang baru datang ke sini, sehingga wajib bagi mereka untuk menyambutnya.
Mantingan terus dibawa menuju bangunan tertinggi dari perguruan itu, yang telah diketahui merupakan gedung pusat. Hanya sampai di sana saja Mantingan oleh diantar banyak orang, mulai dari saat itu hanya ada satu orang yang mendampinginya.
____
Bonus chapter 11.000 like: 3/3
__ADS_1
Terima kasih untuk tetap mendukung :b