Sang Musafir

Sang Musafir
Mayat-Mayat di Jalanan


__ADS_3

PEMANDANGAN yang kian memedihkan mata terlihat setelah Mantingan dan Chitra Anggini menyusuri Pemukiman Kumuh Kotaraja semakin dalam.


Andaikata Mantingan tidak menyingkirkan rasa kemanusiaannya, maka sudah pasti dirinya akan mengamuk sekaligus menangis sedari tadi. Apa-apa yang dilihatnya sungguh terlalu menyesakkan.


Mayat-mayat kurus bertebaran di sisi jalan. Ada yang masih segar, meski tampangnya sungguh jauh lebih kusam ketimbang mayat manusia yang mati di medan perang sekalipun. Ada pula yang telah membusuk, dilalati, dibelatungi, serta dimakan burung gagak dan anjing liar.


Orang-orang yang masih bertahan hidup tampaknya tidak lagi menaruh peduli pada mereka yang sudah mati. Merasa terlalu sia-sia membuang tenaga hanya untuk menggali tanah atau sekadar mendirikan pancaka.


“Mayat-mayat yang bergeletakan itu hanya mereka yang berpenyakitan,” kata Chitra Anggini dengan suara pelan. “Yang masih sehat, harus dimasak dan dimakan.”


Dirinya menjelaskan bahwa memakan daging manusia telah menjadi suatu kebudayaan di Pemukiman Kumuh Kotaraja. Jikalau salah satu anggota keluarga atau kerabat mati, maka sanak keluarga atau kerabatnya itu harus memakan dagingnya. Alasannya adalah untuk penghormatan terhadap mereka yang telah mati.


“Tetapi semua orang di sini mengetahui bahwa hal itu sungguh jauh dari alasan yang sebenarnya.” Chitra Anggini menggelengkan kepalanya pelan. “Hampir tidak ada makanan di tempat ini. Anjing liar terlalu sulit dan berbahaya untuk diburu. Hanya daging manusia mati saja yang dapat mereka andalkan untuk bertahan hidup.


“Namun biar bagaimana juga, mereka masih sungkan memakan daging manusia hanya karena kelaparan. Maka dari itulah diciptakan sebuah tradisi memakan daging sesama untuk menunjukkan penghormatan, meski sebenarnyalah hanya sebuah alasan untuk menambal rasa kemanusiaan.”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Berdasarkan apa yang dikatakan Chitra Anggini, dirinya mengetahui bahwa keadaan di Pemukiman Kumuh Kotaraja jauh lebih buruk dari apa yang terlihat.


Jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang penghuni pemukiman ini, masa lalu Mantingan yang memedihkan itu seolah tidak ada apa-apanya.


“Kurasa, di sini masih ada penginapan layak yang masih buka. Aku hapal jalannya di luar kepala. Ayo!”


Mereka berjalan lebih cepat, terutama Munding Caraka setelah menyadari ada banyak orang kelaparan sedang menatapnya dengan penuh nafsu. Meski mereka sama sekali tidak menjadi ancaman di hadapan segala kemampuan yang dimiliknya, tetapi tetap saja kerbau itu merasa sangat terancam.


Tak seberapa lama kemudian, mereka tiba di hadapan sebuah bangunan bertingkat dua yang telah reot dan lapuk. Namun, meskipun terlihat sangat tidak layak, bangunan itu akan terlihat sangat sempurna bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya yang sudah tidak membentuk suatu bangunan lagi.


“Bangunan ini masih terlihat cukup terawat sejak terakhir kulihat,” celetuk Chitra Anggini sambil mengangkat sedikit senyuman. “Semoga saja masih ada kamar yang disewakan di dalamnya. Marilah kita coba masuk ke dalam.”


Mantingan melihat ke sekelilingnya, tetapi ia tidak dapat menemukan tambatan untuk menambat Munding. Maka diputuskanlah untuk meninggalkan Munding tanpa menambatkannya. Bukankah kerbau itu telah cukup cerdas untuk tidak melarikan diri? Untuk apa pula dirinya melarikan diri dari Mantingan yang amat sangat disayanginya?

__ADS_1


Begitu Mantingan dan Chitra Anggini melangkah masuk setelah menyibak tirai yang menjelma menjadi pintu, tampaklah seorang pemuda yang dengan tertatih-tatih menyambut hangat keduanya.


“Selamat datang di Penginapan Permata Malam! Tuan-Tuan terlihat sangat kelelahan setelah berjuang keras di perjalanan, pastilah membutuhkan tempat untuk sekadar bermalam!”


Mantingan melirik Chitra Anggini. Memang secara sekilas, dia tampak seperti laki-laki.


“Masih ada kamar? Berapa harganya?” Chitra Anggini berkata tanpa basa-basi.


“Duhai, betapa celakanya diriku setelah salah menilai Puan yang teramat cantik ini. Mataku memang tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas.” Menyadari kesalahannya dengan memanggil Chitra Anggini sebagai lelaki, pemuda kurus itu menunduk dalam-dalam dengan suara bergemetar.


Sedangkan itu, Chitra Anggini bergegas melirik Mantingan di sebelahnya. Memintanya untuk lanjut berbicara.


“Kami akan memesan untuk dua malam, tetapi bisa lebih lama daripada itu. Berapa harganya?”


Masih menunduk, pemuda itu menjawab dengan cepat, “Maafkan sahaya, Tuan! Tetapi penginapan ini tidak menerima uang. Hanya menerima makanan dan air bersih. Jika makanan harus satu kati [1]; jika air bersih harus satu nalih [2]. Itulah harga untuk satu malam menginap di sini, Tuan, tidak ada penginapan lain di pemukiman ini.”


“Tidak ada yang menjual makanan maupun minuman di tempat ini, Tuan.” Pemuda itu menggelengkan kepalanya lemas.


“Biar aku yang belikan di luar,” tukas Chitra Anggini tetiba. “Berikan saja sedikit uang kepadaku, Man, dan izinkanlah kuajak Munding sedikit berjalan-jalan.”


“Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” tanya Mantingan sambil menatap gadis itu sungguh-sungguh. Di dalam lingkungan yang penuh dengan pendekar-pendekar sakti berpikiran kotor, bukan hal yang aman bila Chitra Anggini pergi seorang diri.


“Aku memiliki kemampuan untuk melindungi diriku sendiri.” Chitra Anggini memberi senyum memastikan. “Lagi pula, aku masih menyimpan lontar-lontar yang pernah kauberikan padaku waktu itu. Masih ingat, bukan?”


Mantingan mengembuskan napas panjang-panjang sebelum mengeluarkan lima keping emas dari dalam kantung pundi-pundinya. “Belanjakan sebanyak mungkin. Aku tidak ingin melihat uang ini tersisa nantinya.”


Chitra Anggini menerima itu, menganggukkan kepala, lantas berjalan keluar meninggalkannya. Tersisalah Mantingan dan pemuda kurus itu di sana.


“Kami pesan dua kamar, setidaknya untuk dua malam.” Mantingan memecah keheningan, mengulang permintaannya. “Bisa kautunjukkan tempatnya?”

__ADS_1


“Tentu saja, Tuan. Mohon sedianya mengikuti langkah sahaya.”


Mantingan diajak menaiki tangga menuju lantai kedua di bangunan ini. Selagi menaiki tangga yang telah berlubang di mana-mana, Mantingan berpikir tentang bagaimana penginapan ini bisa ada di tengah Pemukiman Kumuh Kotaraja. Siapakah kiranya yang berani membangun penginapan berlantai dua di tempat yang hampir tidak memiliki calon pelanggan sama sekali?


Mantingan tidak sungkan bertanya, “Siapa yang membangun penginapan ini?”


Hampir tidak menduga akan menghadapi pertanyaan seperti ini, pemuda pengurus penginapan itu termenung sejenak sebelum akhirnya dapat menjawab, “Sahaya sendiri tidak mengetahuinya, Tuan. Bahkan semua pengurus yang ada di Penginapan Permata Malam ini juga tidak ada yang mengetahuinya. Sejarahnya bagai terhapuskan begitu saja, Tuan, dan petua penginapan ini mengatakan bahwa kami tidak perlu buang-buang tenaga dengan mencari tahu.”


Mantingan menganggukkan kepala. Mulai dapat menebak bahwa Pemukiman Kumuh Kotaraja memiliki masa lalu yang tertutup tabir kabut kelam. Entah pasal mengapa, Mantingan merasa perlu untuk mengetahuinya.


“Inilah kamar terbaik yang dimiliki Penginapan Permata Malam, Tuan.” Pemuda itu berhenti beberapa langkah setelah menyelesaikan anak tangga. Dengan kedua tangannya, dia menunjuk dua kamar yang hanya memakai kain tirai sebagai pintunya.


Mantingan mengerutkan dahi, tetapi kemudian ia dapat memahami bahwa daun pintu adalah barang yang masih cukup berharga untuk dijual di kotaraja. Ia tidak jadi mempermasalahkannya.


“Terima kasih, akan daku bayar dua kamar ini secepat mungkin.” Mantingan tersenyum tulus.


“Jangan sungkan, Tuan. Penginapan Permata Malam selalu mempercayai semua tamu yang berkunjung.” Pemuda itu menundukkan punggung dalam-dalam sekaligus pamit dari hadapan Mantingan.


___


catatan:


[1] Sekitar 600 gram.


[2] Sekitar 8 liter.


Episode bulan ini: 7/40


__ADS_1


__ADS_2