Sang Musafir

Sang Musafir
Rashid dari Jazirah


__ADS_3

Temukan tanda :


..." **************** "...


Maka dari sana Anda bisa membacanya. Maafkan saya, sungguh.


____


Pemuda itu memang tidak berkelebat atau melenting dari satu atap bangunan ke atap bangunan lain sekalipun hal itu memang diinginkannya untuk menghindari kerumunan yang semakin membuat kepalanya pening dengan kecarut-marutannya.


Diakuinya bahwa Kotaraja Koying merupakan kota besar yang sangat maju. Namun karena kemajuannya itulah, orang-orang dari penjuru negeri atau dari negeri seberang berdatangan. Mereka bagaikan sekerumunan besar laron, dan kotaraja adalah lentera yang terang-benderang.


Benarlah pula apa yang dikatakan Chitra Anggini ketika perempuan itu menceritakan berbagai hal yang ada di kotaraja ini: tingkat kebahagiaan penduduknya teramat rendah.


Siapakah kiranya yang akan berbahagia jika setiap harinya mesti berhadapan dengan kerumunan menyesakkan dan kebisingan memekakkan dengan ditambah pula ancaman perampokan yang meresahkan?


Mantingan semakin masuk ke dalam kota. Langkahnya semakin cepat, sebab keramaian pula telah banyak berkurang tanpa disadari. Kebisingan mereda. Begitu pula dengan debar jantung Mantingan yang berangsur tenang.


Ketika menemukan kedai terbuka di pinggir jalan, Mantingan segera memasukinya tanpa berpikir panjang lagi. Sebelum memulai segalanya dengan kehati-hatian, ia harus menenangkan diri terlebih dahulu!


Kedai yang Mantingan kunjungi kali ini tiadalah berada di dalam bangunan, melainkan berada di atas sepetak lahan kecil di pinggir jalan. Terpal kain terbentang lebar, mengatapi kedai tersebut, angin sepoi-sepoi membuatnya bergelombang.


Tersedia beberapa meja dan kursi di kedai itu. Beberapa telah terisi. Kebanyakan pengunjungnya memiliki tampang orang Suvarnabhumi, tetapi ada satu pengunjung yang bertampang asing. Berperawakan tinggi dan jankung. Berhidung mancung. Dengan berewok lebat di bagian rahang dan dagunya, hampir membentuk cambang. Bagian atas kepalanya dililit dengan kain panjang, yang Mantingan ketahui bernama sorban. Pria yang sekiranya berusia tiga puluhan itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau, begitu panjangnya jubah itu hingga menyentuh mata kaki. Di bibirnya, terselip sebuah pipa cangklong berasap-asap, mungkinkah dia mengisap cangklong sebab hidangan yang dipesannya belum datang atau memang cangklong itu sendiri merupakan pesanannya?


Pria itu sempat melirik Mantingan, tetapi hanya barang selintas. Kembali memandang jalanan sambil terus mengisap batang cangklong.


Melihat cangklong itu, sedikit banyak Mantingan kembali mengingat Pendekar Sanca Merah. Perempuan itu juga menghisap cangklong, entah dengan suka atau terpaksa, sebab Ilmu Sanca Merah yang dikuasainya memerlukan asap sebagai perantara Benang Sihir untuk mengendalikan Golek Jiwa.


Betapa bagi Mantingan, perempuan tangguh itu adalah pendekar sejati. Ketika kematian menjemputnya, tiadalah Pendekar Sanca Merah menyimpan dendam terhadapnya. Dia justru berterimakasih karena Mantingan telah mengalahkannya, yang sama saja dengan membunuhnya, yang sama saja menyempurnakan jalan persilatannya. Bahkan, pendekar perempuan itu mewariskan Kitab Sanca Merah yang berisi Ilmu Sanca Merah kepadanya sesaat sebelum napasnya berhenti.


Ilmu Sanca Merah banyak berguna bagi Mantingan untuk mengendalikan lengan tiruannya. Dengan ilmu itu, ia bisa merasakan sentuhan dengan lengan tiruannya, yang dengan kata lain indera perabaannya dapat bekerja di lengan kayu itu.


Melupakan Pendekar Sanca Merah, Mantingan segera berjalan menuju meja di sudut kedai. Seperti biasanya. Hanya di sanalah ia dapat memantau seluruh kedai tanpa menarik banyak perhatian.


...****************...

__ADS_1


MANTINGAN memanggil pelayan kedai. Memesan teh. Kemudian ditawari jenis macam apa yang diingini. Mantingan mengerutkan dahi. Melihat kebingungan Mantingan, pelayan itu pun menjelaskan.


“Kedai kami punya beragam jenis teh. Hampir semuanya kami miliki. Teh dari Negeri Atap Langit, Champa, bahkan hingga Jambhudvipa. Setiap jenis memiliki cita-rasanya tersendiri. Awak pilih yang manakah?”


Ketika Mantingan terdiam untuk mencerna apa yang dikatakan pelayan kedai sekaligus berpikir teh dari tempat mana yang harus ia beli, tetiba saja sebuah suara menyahut.


“Belikan dia teh dari Jambhudvipa. Rasa dan aromanya teramat cocok untuk seorang pengembara.”


Mantingan mencari orang yang berbicara, dan ditemukannyalah pria asing bersorban itu. Orang itu tersenyum ke arah Mantingan sambil menganggukkan kepalanya. Sedangkan Mantingan yang mengerti harus bersikap seperti apa langsung menjura.


Namun sebelum benar-benar pergi, terlebih dahulu pelayan kedai itu memastikan pesanan Mantingan. “Benarkah awak hendak membeli teh dari Jambhudvipa?”


“Daku tidak terlalu mengetahui apa yang semestinya kupesan, jadi tolong bawakan saja teh itu.” Mantingan tersenyum tipis.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya sebelum pergi menjauh.


“Wahai Saudara Pengembara, sudikah dikau jika daku duduk bersamamu di meja itu?” Pria asing itu kembali buka suara.


“Sangat sudi, Saudara, kemarilah.” Mantingan tersenyum ramah dan mempersilakan, meski ia sepenuhnya masih tidak mengerti mengapa pria asing itu dapat mengetahui bahwa dirinya adalah pengembara. Untuk itulah, ia mempersilakannya untuk duduk semeja dengannya.


“Teramat sangat ramai, Saudara.” Mantingan membalas sambil tersenyum tipis.


“Dan itulah yang membuat dikau berkunjung ke kedai ini, bukan?”


Jantung Mantingan berhenti berdegup barang sekedip mata, sebelum berpacu dengan begitu cepatnya. Bagaimana pria asing itu bisa mengetahui sesuatu yang seharusnyalah hanya tersimpan di dalam benak Mantingan? Apakah dia adalah mata-mata yang dikirim oleh pemerintahan Koying atau sebagainya?


Mantingan segera memasang kewaspadaan hingga tingkat tertinggi. Hingga tanpa sadar, tangannya meraba gagang Pedang Savrinadeya dan Kiai Kedai yang tersoren di pinggangnya.


“Tidak perlu terkejut. Daku adalah pengembara, sama seperti dirimu, dan daku pernah mengalami apa yang sedang dikau rasakan sekarang.” Pria asing itu tersenyum lebar. “Namaku Rashid, seorang pengembara yang datang dari Jazirah untuk mengumpulkan kisah-kisah pengembara di seluruh tempat yang kupijak. Daku dikenal sebagai Pengumpul Hikayat dari Jazirah, tetapi tidak sedikit yang memanggilku sebagai Pengumpul Hikayat dari Timur.”


Mantingan pernah mendengar tentang wilayah Jazirah dari gurunya. Sebuah daratan luas yang hampir semuanya diisi gurun pasir. Terletak di sebelah timur Jambhudvipa. Dengan ratusan suku yang mendiaminya.


Namun untuk pengumpul hikayat, Mantingan belum pernah mendengar sebelumnya.


“Dikau bisa memanggilku Mantingan, datang dari Javadvipa.” Mantingan balas memperkenalkan diri. “Jika daku boleh mengetahui, Saudara Rashid, bagaimanakah dikau bisa mengetahui diriku adalah pengembara?”

__ADS_1


Mantingan telah yakin betul bahwa bundelannya ada di dalam pedati. Ia lupa membawanya, tetapi itu bukan masalah sama sekali. Semenjak peristiwa yang terjadi di Desa Pesawahan, Mantingan sadar bahwa segala sesuatu di dalam bundelannya dapat membahayakan dunia persilatan di Dwipantara, maka selalulah ia memasang mantra pelindung untuk mengunci bundelannya. Selain dari dirinya, tidak ada orang lain yang bisa membuka bundelan itu, sekalipun Chitra Anggini yang telah menjadi teman seperjalanannya itu.


“Cukup dengan melihat langkah kakimu.” Rashid menjawab dengan tetap mempertahankan senyum lebarnya. “Namun, kasar rambutmu, warna kulitmu, hingga tatapan matamu semakin meyakinkan daku. Dikau memanglah pengembara.”


Mantingan mengembuskan napas lega. Tiada tanda-tanda kebohongan yang tampak dari mimik wajah maupun gerak-gerik Rashid. Dan sekalipun ada, seluruh jawabannya itu sangat masuk akal.


“Dikau pastinya telah melihat banyak hal di luar kotaraja megah ini.” Rashid kembali berkata sambil melempar pandang ke langit, seolah sedang menerawang apa-apa yang ada di luar kotaraja. “Dan jika kisah perjalananmu dituliskan di atas lembar lontar maupun lembar kertas, pastilah akan jadi sangat panjang dan melelahkan sekali.”


Memanglah Mantingan akui bahwa untuk menuliskan kisah perjalanannya, dibutuhkan usaha yang tidak sedikit. Lelahnya bukan main. Namun, bukanlah lelah badan, melainkan lelah pikiran, sebab Mantingan mesti menyusun kata-kata seindah mungkin agar pembacanya nanti merasa nyaman. Terkadang jika terdapat kesalahan menulis, Mantingan harus menuliskannya dari awal lagi, atau dengan terpaksa membiarkannya saja sebab betapa pun memperbaiki kesalahan tulisan di lontar tidaklah semudah menghapus aksara yang tergurat di pasir.


Namun seberapa pun melelahkannya itu, Mantingan tetap merasa senang. Tidak menderit barang sedikitpun. Ia memiliki keyakinan yang kuat, teramat kuat malahan, bahwa kisahnya akan bermanfaat untuk orang banyak. Bukan kisah yang sekadar kisah tak bermakna. Jika tidak sekarang, maka mungkin saja suatu saat nanti.


“Bukankah akan amat sangat disayangkan jikalau perjalanan yang telah dikau lewati dengan segala kepayahan di dalamnya menjadi terlupakan begitu saja?” Rashid kembali berkata. Sungguh, senyum lebar di wajahnya tidak memudar.


Mantingan mulai mengetahui arah pembicaraan ini. Maka ia pun memilih untuk diam dan menunggu Rashid untuk mengutarakan seluruh niatnya.


“Sepertinya dikau telah mengetahui maksudku, Mantingan.” Kini Rashid tertawa lebar. “Daku berniat membeli kisah perjalananmu, untuk kemudian kukenalkan ke seluruh dunia. Kisahmu tidak akan terlupakan. Dikau tidak akan tenggelam oleh sejarah. Bertahan beradab-abad lamanya, bahkan hingga ribuan tahun.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. “Kisahku belum selesai, Rashid. Dan sekalipun telah selesai, daku tidak akan mempercayakannya pada orang sembarangan.”


“Daku bukanlah orang sembarangan yang dikau maksudkan, Pahlawan.” Rashid tertawa sembari mengeluarkan selembar lontar dari dalam jubahnya. “Apakah dikau mengetahui siapa yang menulis hikayat kepahlawanan untuk Perguruan Angin Putih? Jika tidak, maka dikau harus melihat ini.”


Rashid menyodorkan lontar tersebut ke arah Mantingan, yang lekas saja dilihat dengan begitu cermatnya oleh pemuda itu.


Lontar itu tentulah tidak kosong. Berisi aksara-aksara Pallawa. Menyusun sebuah kalimat:


Dengan tetanda ini


Rama menyetujui


Rashid menuliskan hikayat


Mantingan melirik Rashid dengan alis berkedut. Di atas lembar lontar itu, terdapat bercak sewarna tanah, yang manakah lagi jika bukan bercak darah yang telah lama mengering?


“Lima bulan yang lalu, Pahlawan, daku menuliskan sebuah kisah yang sangat luar biasa. Pengorbanan puluhan Pasukan Topeng Putih yang tetap bertarung sepenuh jiwa dan raga meski tahu betul bahwa nyawa mereka akan habis begitu pertarungan usai. Dan telah menjadi sebuah kehormatan besar bagi Pengumpul Hikayat dari Jazirah untuk menuliskan satu-dua kali namamu di kisah itu.”

__ADS_1


__ADS_2