Sang Musafir

Sang Musafir
Desa yang Hancur


__ADS_3

Mantingan terperangah melihat pemandangan di depannya. Sebuah desa kecil, yang telah hancur gapuranya beserta isi-isinya. Hanya ada beberapa rumah saja yang masih berdiri di dalam desa kecil ini, sisanya hangus terbakar atau dirobohkan.


Desa tidak terlihat berpenghuni lagi, kecuali mayat-mayat bergelimpangan yang mulai membusuk, berserakan asal di tengah jalan.


Tatapan Mantingan yang awalnya cerah itu bagai tertutup awan mendung. Sedih.


Bagi Mantingan, peperangan memperebutkan kekuasaan adalah suatu hal yang konyol dan sia-sia belaka. Dua pihak yang berperang saling mengaku bahwa dirinyalah yang paling baik dalam memimpin suatu kursi kekuasaan, tetapi mereka menindas orang-orang demi kepentingan perang. Lihat saja apa yang di depan Mantingan itu, telah menjadi bukti bahwa keserakahan manusia dapat menyebabkan kehancuran.


Bagaimanakah jika rakyat pada sebuah kerajaan atau kekuasaan berbondong-bondong pergi meninggalkan rajanya? Tanpa rakyat, raja bukanlah raja. Dan tanpa raja, kekuasaan bukanlah kekuasaan. Dapat dikatakan bahwa raja adalah wajah bagi kekuasaan. Raja hanya perlu berbicara dan menampilkan diri, sedang yang mengatur sebenarnya berada di belakang dirinya. Raja-raja silih berganti akibat usia, tetapi suatu kekuasaan tidak pernah benar-benar mati.


Mantingan melangkah masuk ke dalam desa hancur itu. Ia menatap iba pada mayat-mayat yang ditemuinya. Tidak adakah rasa bertanggungjawab pada mayat-mayat ini? Selain bisa menimbulkan penyakit, mayat-mayat ini membutuhkan penghormatan.


Mantingan mengembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk membakar mayat-mayat ini, demi kebaikan dan demi kehormatan mereka. Mantingan mulai bekerja, mengangkut mayat-mayat itu pada satu lapangan kecil tempat jasad mereka akan dibakar. Beruntungnya Mantingan telah terbiasa dengan Bunga Aroma Kematian yang aromanya sama seperti seribu mayat, sehingga dirinya kali ini tidak mengalami kesulitan berarti.


Setelah mayat-mayat itu dikumpulkan dan pancaka didirikan dari puing kayu bangunan, Mantingan menghampiri satu per satu pancaka dengan obor di tangan kanan. Terbakarlah puluhan pancaka sederhana itu bersamaan dengan jasad-jasad di dalamnya. Asap membubung tinggi bagai sebuah tanda kesedihan.


Mantingan duduk dan menatap pancaka-pancaka itu dari jarak jauh. Sesekali ia menunduk penuh penyesalan. Entah apa yang ia sesalkan, tapi Mantingan tetap menyesal.


***

__ADS_1


Malam itu, di salah satu rumah desa yang tidak hancur. Mantingan menyeduh teh panas untuk dirinya sendiri dan beberapa makanan yang tersedia di dapur. Ia menyalakan lentera-lentera kecil di sekitar meja makan berkursi tunggal. Ia pandangi luar rumah dari jendela kecil yang terdapat di dapur, malam akan sangat sepi jika saja jangkrik tidak bersiar.


Mantingan membawa teh yang telah ia seduh itu ke meja makan. Ia duduk di kursi dan menatap hidangan di depannya. Sepiring kecil nasi, beberapa jenis sayuran rebus, dan sepotong makanan enak dari Negeri Atap Langit yang biasa disebut tauhu atau dadih kacang.


Mantingan ingin menyantap hidangan dengan tenang, tapi bagaimanakah ia bisa tenang saat membayangkan malapetaka apa yang terjadi di desa ini? Ia teringat jasad-jasad yang tadi ia kumpulkan, tubuh mereka penuh dengan luka. Yang paling tidak mengenakan adalah saat mengingat tubuh bayi yang kepalanya dihancurkan secara keji. Lebih buruk pula kondisi mayat-mayat perempuan.


Mengingat itu, Mantingan kehilangan selera makannya. Ia mendorong kursi ke belakang lalu pergi meninggalkan meja makan sambil menghela napas. Mantingan berjalan terus hingga dirinya sampai di teras rumah. Tidak lupa Mantingan menyalakan lentera kecil yang ada di teras agar lebih cepat membuat diri tenang.


Mantingan duduk di dipan panjang dengan dua tangannya mengusap-usap kepalanya. Pikirannya terbebani oleh pertanyaan, apakah dirinya harus membantu dengan memerangi pendekar-pendekar aliran hitam ataukah bertindak acuh tidak acuh dan hanya bertarung di saat terdesak.


Pemuda itu tidak suka membunuh bahkan pada pendekar aliran hitam sekalipun, tapi inilah yang terjadi jika mereka dibiarkan hidup. Orang-orang lemah tak bersalah akan jadi korbannya. Lagi-lagi tujuan Mantingan menemukan Kembangmas terusik, tapi Mantingan tidak bisa tidak senang, karena seharusnya ini adalah tugas kemanusiaan.


Ia mendengar suara langkah yang sangat lembut dan ringan. Siapa pun yang datang, ia bukan orang sembarangan. Mantingan menepuk dahinya ketika menyadari kesalahannya. Asap tebal dari pancaka-pancaka tadi pastinya telah memancing pendekar tingkat tinggi untuk datang ke tempat ini. Pastilah orang itu mengetahui bahwa desa ini telah jadi desa mati, dan merasa curiga saat melihat asap datang dari arah desa.


Mantingan mengendap-endap ke dalam rumah dengan hampir tidak menimbulkan suara. Di dapur ia mengambil Pedang Kiai Kedai yang tersandar di dinding. Lalu dengan gerakan cepat, Mantingan melompati jendela kecil yang terdapat di dapur, kakinya menjejak tanah di luar rumah.


Masih dengan kewaspadaan, Mantingan melenting ke atap rumah untuk dapat melihat segala sesuatu di sekitar dengan jelas. Di atap rumah matanya menangkap sesosok bayangan yang berkelebat ke bawah. Tidak mau kehilangan sosok pendekar itu, Mantingan kembali lompat ke bawah.


Sesampainya di bawah, dengan gerakan cepat Mantingan mengelilingi rumah itu, kembali ia bertemu dengan sosok bayangan itu yang langsung lompat lagi ke atap. Mantingan tetap tenang walau dirinya terkesan dipermainkan.

__ADS_1


Sesampainya di atap, sosok orang itu sepertinya tidak mau menghindar lagi. Di gelapnya malam dan sunyinya desa, ia berdiri tegap di atas atap rumah. Ia mengancungkan bilah pedangnya ke arah Mantingan yang baru saja datang. Meskipun situasi tengah gelap, bilah pedang tersebut tetap tampak mengkilat.


Mantingan menggenggam gagang pedangnya dan bersiap menyerang. Namun sebelum menyerang, Mantingan memasang Ilmu Mata Elang untuk melihat siapa lawannya. Begitu pula lawan Mantingan itu, ia memasang ilmu penglihatan tajamnya.


“Jah!”


Mantingan dan sosok itu sama-sama menghela napas lega dan menurunkan kewaspadaannya. Sosok pendekar itu menyarungkan pedangnya sebelum tertawa.


“Mantingan! Tidak aku sangka akan bertemu dikau di sini.”


Mantingan membalas tawa itu. “Satya, sudah lama tidak bertemu.”


Memang setelah memasang ilmu penglihatan tajam, keduanya saling mengenali satu sama lain sebagai teman lama.


“Satya, adakah keperluan dikau yang terlalu mendesak? Jika tidak, kau harus mampir sebentar ke bawah.”


Dalam kegelapan Satya, si pemburu sarang semut, mengerutkan dahi. “Mantingan, kau punya rumah dan tinggal di desa ini?”


Mantingan menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku hanya mampir ke sini sebentar dan mengurusi jasad-jasad di sini. Dikau pasti tahu apa yang terjadi pada desa seperti ini. Aku menumpang salah satu rumah yang masih berdiri untuk istirahat barang semalam. Kau bisa istirahat atau minum teh.”

__ADS_1


Satya kembali tertawa. “Terima kasih atas tawarannya, Mantingan.”


__ADS_2