
Di SUATU sore yang cerah, tepat setelah Mantingan dibantu Bidadari Sungai Utara menutup toko bunga. Keduanya berjalan santai mengitari kebun sambil melihat Kana berlatih. Saat-saat seperti inilah Mantingan manfaatkan untuk membicarakan persoalan penting.
“Sasmita, dirimu harus kembali ke Champa ... Perguruan Angin Putih telah selesai menyiapkan searmada kapal perang untuk mengantar dirimu.”
Bidadari Sungai Utara menatapnya dengan kernyit di dahi. “Apakah Saudara merasa terganggu dengan kehadiranku di sini?”
Mantingan tersenyum dan menggeleng. Masih dengan suara yang menenangkan, ia berkata sangat lembut, “Saudari memberikanku sebuah rasa yang berbeda. Tahukah Saudari bahwa selama bertahun-tahun pengembaraan, daku tidak pernah betah tinggal terlalu lama di satu tempat. Tetapi bersama Saudari, Kana, dan Kina, diriku merasa bisa tinggal di sini selama-lamanya.”
Bibir manis Bidadari Sungai Utara tidak tertutupi cadar, menyunggingkan senyum yang sama manisnya. “Lalu, mengapakah Saudara terkesan ingin mengusirku?”
“Kiai Guru Kedai berkata padaku, bahwa kenyamanan tidak selalu berarti baik. Diriku memang merasa sangat nyaman jika kalian berada di sisiku. Tetapi hal itu justru tidak baik untuk kalian. Ingatlah, Saudari, bahwa masih banyak pendekar yang menginginkanmu. Andaikata keberadaan Perguruan Angin Putih tidak diperhitungkan mereka, niscaya kita berada dalam kesulitan besar sekarang. Semakin lama Saudari membuang waktu, maka semakin berbahaya keadaannya.”
Bidadari Sungai Utara terdiam. Betapapun dirinya juga menyadari kebenaran dari apa yang Mantingan ucapkan. Semakin lama dirinya membuang waktu, maka akan semakin berbahaya keadaannya. Bahkan, dirinya bisa saja menimbulkan perselisihan antara Perguruan Angin Putih dengan kelompok-kelompok golongan hitam yang mengincarnya.
Jika itu terjadi, maka tak dapat dibayangkan penyesalan apa yang akan didapatkannya.
Tetapi biar bagaimanapun, Bidadari Sungai Utara enggan berpisah dengan Mantingan.
Dirinya merasa bahwa Mantingan adalah cinta sejati yang telah dicari-carinya sejak lama.
Bersama Mantingan, dia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah itu masih tidak dapat dikatakan rasa cinta, setelah semua yang telah ia lewati bersama Mantingan?
Pepatah mengatakan bahwa cinta sejati biasanya ditemukan di tempat yang tiada terduga; orang yang tiada terduga; dan di waktu yang tiada terduga pula.
Selayaknya ia menemukan Mantingan di tanah asing, di waktu yang benar-benar berbahaya, dan dengan pertemuan yang seakan-akan kebetulan semata.
Kiai Guru Kedai pernah berkata, "Tetapi segalanya telah digariskan. Tiada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Bahkan setitik embun yang jatuh ke tanah pun bukanlah suatu kebetulan."
Semuanya terjadi berdasarkan rumus semesta, yang kemudian berhasil dipecahkan oleh keinginan kuat Bidadari Sungai Utara dalam menemukan cinta sejatinya.
Namun, tiadalah pertemuan tanpa perpisahan. Cepat ataupun lambat, perpisahan akan tetap terjadi setelah terciptanya pertemuan. Dan kali ini, Bidadari Sungai Utara harus lebih cepat berpisah dengan Mantingan. Sungguh itu merupakan sesuatu yang sangat menyayat hatinya.
Begitu menyayat, sampai menangis pun dia tidak bisa. Di tengah kecamuk di dalam lubuk benak terdalam, Bidadari Sungai Utara menemukan suatu harapan. Bagaikan dirinya melihat setitik mata air ladang yang gersang. Berharap air itu akan menghidupi setunas tanamannya.
“Apakah dirimu mau ikut bersama kami ke Champa?”
Berdebar-debar hati gadis itu menanti jawaban. Sungguh ia membayangkan bahwa Mantingan menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa dirinya akan ikut bersama mereka. Tetapi yang terjadi, sungguh di luar bayangan. Membuat hati Bidadari Sungai Utara menyusut tak terkira. Setunas tanaman itu mati tak tersiram air.
“Diriku tidak bisa ....” Mantingan menggeleng. Jelas-jelas ia menggeleng.
Sungguh kecewa Bidadari Sungai Utara ketika itu. Seolah tiada yang lebih mengecewakan ketimbang rasa kekecewaannya. Maka berkatalah dia beriringan dengan pecahnya air mata, “Mengapakah engkau tidak bisa, Mantingan? Katakan padaku, MENGAPA?!”
Kana sampai menghentikan latihannya untuk sesaat mengetahui apa yang telah membuat Bidadari Sungai Utara berteriak keras.
“Mengapakah dirimu selalu menolakku, Mantingan? Kurang apakah diriku sehingga tidak pantas untukmu?! Apakah engkau mempunyai kelainan jiwa sehingga engkau tidak dapat melihat betapa tulusnya cintaku, Mantingan?”
“Bukannya diriku tidak mencintaimu!” Mantingan berkata dengan nada keras. “Tetapi diriku tidak ingin kehilangan gadis yang kucintai untuk kedua kalinya. Dan jika memang aku benar-benar mencintaimu, Sasmita, maka aku akan memulangkanmu ke Champa, dan bukannya mengorbankanmu di sini!” Napas Mantingan benar-benar tidak teratur. “Mengertikah itu, wahai Sasmita? Mengertikah bahwa dirimu harus kembali ke Champa demi cintamu padaku?”
Bidadari Sungai Utara masih menatap Mantingan dengan mata berlinangan. Mantingan menatapnya balik dengan tajam. Sekali lagi angin berembus pelan, menggerakkan buaian lonceng angin di seluruh desa. Menandakan betapa angin timur telah datang untuk menjemput Bidadari Sungai Utara.
Lamat-lamat mereka saling bertatapan. Seolah sedang berbicara melalui tatapan. Memanglah terkadang, kata-kata tidak perlu diungkapkan melalui tulisan maupun ucapan, cukuplah dengan tatapan. Tetapi, sukar bagi orang untuk mengerti.
__ADS_1
Boleh dikata, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara kelewat dekat, sehingga bukan hal yang sulit bagi mereka untuk bercakap lewat tatap. Dan itulah pula yang membuat mereka sakit hati jika dipaksa berpisah.
Sesaat kemudian, Bidadari Sungai Utara menundukkan pandang. Mengembuskan napas panjang. Bibir cantiknya tersenyum, tetapi justru air matanya yang turun. Ketika itu, dirinya berkata, “Demi Kana dan Kina. Demi dirimu. Dan demi diriku ....”
“Demi kita.” Mantingan menimpali—agaknya mata pemuda itu telah berlinangan pula.
“Demi kita,” ulang gadis itu. “Aku akan kembali ke Champa.” Lalu ia mengulang sekali lagi. “Demi kita.”
***
BETAPAPUN, Mantingan masih tidak siap menerima kepergian Bidadari Sungai Utara yang juga akan mengikutsertakan Kana dan Kina. Malam ini, dua anak itu telah dikabari. Mereka menangis sejadi-jadinya, seolah Mantingan mati saat kabar itu tersiarkan. Tiada satupun dari mereka ingin lepas dari Bidadari Sungai Utara maupun Mantingan. Mereka tidak bisa memilih, apakah harus Mantingan atau Bidadari Sungai Utara. Sungguh, mereka tidak bisa.
Tetapi memanglah, Mantingan tidak memberi mereka pilihan. Mereka berdua harus ikut Bidadari Sungai Utara, demi masa depan yang lebih cerah.
Kini Mantingan mengunci diri di kamarnya. Menjauhkan diri dari pandangan Kana dan Kina. Dan pula untuk menenangkan diri. Betapa kehilangan sesuatu yang bisa digapai, tetapi tidak sanggup digapai, sangatlah menyakitkan benak. Ketika mereka berpisah, sudah barang tentu sulit bertemu kembali.
Sayup-sayup, Mantingan mendengar suara Bidadari Sungai Utara. Tetapi kali ini, suaranya bernada. Bahasa yang dikeluarkan tidak Mantingan mengerti.
Suara denting dawai yang dipetik seirama mengiringi nyanyiannya. Entah dari mana dia mendapatkan dawai itu.
Memanglah Mantingan tidak mengerti bahasa Champa yang dinyanyikan Bidadari Sungai Utara, tetapi kemampuannya dalam membaca pertanda telah lebih dari cukup membuatnya mengerti pesan yang tersirat di dalam nyanyian tersebut.
***
BIDADARI SUNGAI Utara bernyanyi dengan nada yang teramat sangat sendu. Denting dawainya pun bernada serupa, seolah ikut bersedih bersamanya. Jangkrik-jangkrik malam pun seakan rela berhenti untuknya.
Mantingan tidak ingin mengungkapkan apa yang telah ia pahami tentang nyanyian itu. Sungguh, hal tersebut hanya akan membuat air matanya jatuh. Ia menghirup napas panjang. Menyandarkan punggung ke sandaran bangku.
“Betapa dirinya tidak harus mengalami semua ini.” Mantingan bergumam pelan. Telinganya masih bisa menangkap nyanyian gadis itu. “Dan betapa diriku tidak menghargai rasa cintanya. Oh, Rara, perasaan apakah yang tengah bersemayam di dalam sukmaku ini?”
“Lalu, kepada siapakah lagi aku harus menyandarkan diri?” Mantingan mendesah pelan. “Mengapakah kisah kependekaranku tak selayaknya kisah pendekar lainnya? Mengapakah diriku harus terlibat dalam jerat tali percintaan?”
Mantingan kemudian mengingat kisah para pendekar di sungai telaga persilatan. Jarang dari mereka yang sampai mengenal cinta. Dan tidak ada dari mereka yang menggeluti cinta. Bagi mereka, masalah di dunia persilatan jauh lebih penting ketimbang urusan percintaan.
Pendekar pada umumnya memenuhi kebutuhan hasratnya dengan menyewa bunga raya. Hanya Mantingan yang tidak begitu, memilih terus menggeluti percintaan di dalam dunia persilatan yang sebenarnya terlarang.
Kemudian dirinya ingat, bahwa percintaan seorang pendekar selalu memiliki akhir cerita yang memedihkan. Betapa cintanya dengan Rara telah membuktikan pernyataan tersebut. Pendekar yang telah terlibat ke dalam percintaan, hanya bisa mengambil satu putusan dari dua pilihan. Apakah pendekar itu memilih menjauh dari cintanya, ataukah cinta itu yang akan lenyap sendiri karena beragam-ragam penyebab.
Lalu bagaimanakah dengan Mantingan yang seolah hendak menentang semua itu?
Sebagai pemuda yang tengah berjuang demi menggenapi tujuannya—mengantar Kembangmas kepada Kenanga—tidak seharusnya Mantingan terlibat terlalu jauh ke dalam urusan percintaan.
Nyanyian dan denting dawai yang dimainkan Bidadari Sungai Utara masih terus berlanjut. Sendu semakin berlarut-larut. Seolah nyanyian itu adalah isak tangis belaka yang bernada. Bidadari Sungai Utara begitu pandai mengungkapkan perasaannya di dalam sebuah nyanyian. Betapa Mantingan menjadi terbuai ke dalamnya.
***
DUA HARI setelahnya, Bidadari Sungai Utara mulai mengemas barang-barang yang perlu dibawanya. Barang tentu ia tidak mengemas barangnya sendiri, melainkan pula barang Kana dan Kina. Dua anak itu, betapapun, akhirnya menurut. Mereka dapat menerima kenyataan itu dengan damai. Maka sejak saat itu, mereka lebih sering mendekatkan diri pada Mantingan.
Kana dan Kina pula menunjukkan bahwa apa yang selama ini Mantingan ajarkan tidaklah sia-sia. Kana menunjukkan gerakan-gerakan maupun jurus meringankan diri yang mampu ia kuasai; Kina menunjukkan keahliannya dalam hitung-hitungan.
Membuat Mantingan merasakan hangat di dadanya. Sungguh, sangat bersyukur telah berjumpa dengan Kana dan Kina.
__ADS_1
Namun ketika hari keberangkatan hampir tiba, keduanya menjadi murung. Tidak lagi bersemangat atau bercahaya selayaknya hari-hari yang lalu. Tiada lagi mereka bercakap-cakap dengan Mantingan, meskipun Mantingan telah berusaha menciptakan percakapan—semua itu sia-sia.
Ketika Mantingan memikirkan tentang hal itu, Bidadari Sungai Utara datang kepadanya. Dengan senyum hangat di bibirnya, ia berkata, “Biarkan saja. Mereka bukannya benci padamu, justru sebaliknya, mereka sangat menyayangimu. Seseorang akan murung ketika harus berpisah dengan orang yang disayanginya.”
“Saudari, bagaimanakah jika pendapat itu sama sekali tidak benar? Bagaimana jika sebenarnya mereka mengharapkan suatu hadiah perpisahan, tetapi daku tidak memberikannya?”
Masih dengan senyumnya, Bidadari Sungai Utara berkata, “Pendapatku kemungkinan besar adalah benar, Saudara. Kekasihku di Champa selalu bersikap murung setiap kali berpisah denganku.”
Mantingan mengerutkan dahinya. Entah mengapa Bidadari Sungai Utara menyinggung kekasihnya. Sedang gadis itu justru tertawa. Seolah menikmati kerutan di dahi Mantingan.
“Saudara jangan merajuk atau cemburu ....”
“Sama sekali diriku tidak merajuk maupun cemburu, Saudari, sedikitpun tidak. Daku tidak peduli dengan segala hal menyangkut kekasih hatimu di Champa.”
Bidadari Sungai Utara berusaha mengendalikan tawanya sambil berkata, “Mengapakah engkau tidak peduli dengan kekasihku? Pasti ada alasan di balik itu.”
Mantingan menjawab singkat, “Karena dia tidak ada pentingnya bagiku.” Merasa tidak baik membahas hal yang tidak perlu, maka ia mengalihkan arah pembicaraan menjadi lebih penting, “Saudari, diriku baru saja mengunjungi Padepokan Angin Putih di desa ini. Mereka berkata bahwa armada telah dipersiapkan sejak awal, tetapi awaknya masih belum ditentukan. Kita diminta tiba di Perguruan Angin Putih paling lambat empat belas hari dari sekarang. Kita membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari perjalanan berkuda.”
Senyum Bidadari Sungai Utara memudar perlahan. “Baiklah. Kupastikan diriku selesai berkemas besok sehingga kita bisa berangkat lusa hari.”
Mantingan menganggukkan kepala. “Lebih baik kita menunggu di Perguruan Angin Utara sampai hari keberangkatan ketimbang menunggu di sini. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di perjalanan.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk tanda setuju bahwa hal itu adalah yang terbaik, meskipun ia tidak menyukainya sekalipun. Saat ini, perasaan tidak lagi menjadi bahan perhatian, maka dirinya juga tidak bisa memaksa Mantingan ataupun yang lain untuk mengerti perasaannya.
Gadis itu beranjak pergi, digantikan dengan Kana yang baru saja menuruni tangga sambil bersenandung. Mantingan segera memanggilnya.
“Kana, kemarilah.”
Kana menatapnya sekilas. Lalu raut wajahnya menunjukkan kebimbangan. Mantingan lalu tersenyum. “Adakah suatu hal yang mengganjal dalam benakmu, Kana? Kemari dan ungkapkanlah kepadaku.”
Kana berjalan ke arah Mantingan yang sedang duduk santai di belakang meja ruang tengah. Sedikit ragu ia melangkah.
“Gerangan apakah yang perlu Kaka sampaikan padaku?”
Bukannya menjawab, Mantingan justru bertanya, “Mengapakah kalian terkesan menjauhi diriku?”
“Kalian siapa yang Kaka maksud?” katanya datar.
“Engkau dan Kina.”
“Kami berusaha membenci Kaka.” Kana tidak berbasa-basi.
“Mengapakah kalian berusaha membenciku?” Hingga saat ia mengatakan itu, Mantingan masih tersenyum.
“Karena kami tidak ingin bersedih ketika hari perpisahan tiba.”
“Jika kalian tetap melakukan hal ini, maka ketika hari perpisahan telah tiba, kalian telah benar-benar mempunyai alasan untuk membenciku di lain hari. Apakah engkau mengerti, Kana?”
“Daku sangat mengerti, Kaka Man.” Awalnya, Kana membuat Mantingan tersenyum puas, tetapi apa yang dia katakan setelahnya langsung memudarkan senyum Mantingan. “Akan tetapi, daku tidak mau. Daku akan tetap membenci Kaka, dan kurasa Kina juga begitu. Maafkanlah jika kami terkesan kami seperti anak yang tiada tahu diuntung.”
___
__ADS_1
catatan:
Iseng bertanya. Bagaimanakah jalannya pertandingan Timnas Indonesia vs Afganistan? Saya melewatkannya untuk menyelesaikan chapter ini. Penulis artikel terlalu baku untuk menceritakan keseruan pertandingan.