
MANTINGAN masih mematung di tempatnya. Sama seperti Chitra Anggini, ia memandang kerbau itu dengan tatapan tidak percaya.
“Munding, bagaimana dikau bisa ....”
Kerbau itu maju satu-dua langkah. Menyodorkan sesuatu yang terapit di mulutnya. Mantingan melihat itu, menemukan lima tangkai Bunga Aroma Kematian yang secara sekilas terlihat berusia lebih dari dua ratus tahun.
Mantingan terdiam. Berpikir. Mencari kejelasan dalam diam. Hingga beberapa saat kemudian, ia menemukan titik terang. Ditatapnya Munding Caraka dengan penuh haru.
“Munding, terima kasih, tetapi sepertinya kau telah salah paham.” Mantingan menerima dan menyimpan lima tangkai Bunga Aroma Kematian itu. “Daku sungguh tidak tahu bahwa kau bisa terbang, Munding.”
Ya, benar. Beberapa saat yang lalu, Munding Caraka memang pergi meninggalkan Mantingan, Chitra Anggini, dan Kartika. Namun, ia tidak pergi karena merajuk ataupun marah. Ia pergi untuk mencari Bunga Aroma Kematian sebanyak-banyaknya, berharap dengan itulah Mantingan mau membawanya dalam pengembaraan.
Betapa Mantingan teringat bahwa dirinya senang sekali saat menerima setangkai Bunga Aroma Kematian yang dibawakan Munding Caraka kemarin malam.
Mantingan bergerak mengelus kepala kerbau itu sambil tertawa lepas.
“Tentu saja engkau bisa ikut serta dalam pengembaraan ini, asalkan kau bisa membawa kami terbang!”
“Ongng!”
***
TERAMAT sangat luar biasa! Itulah yang tergambarkan di benak Mantingan saat ini. Duduk di atas punggung lebar Munding Caraka, lalu terbang di antara mega-mega. Sungguh, bahkan dalam mimpi pun hal seperti ini tidak pernah terbayangkan olehnya!
Terbang di antara mega-mega, itu sudah luar biasa. Tetapi di atas punggung seekor kerbau dekil, itu teramat sangat luar biasa!
Mantingan sungguh tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang.
Amat sangat berbeda dengan Chitra Anggini yang duduk tepat di belakangnya. Bergemetaran. Mendongak ke atas, takut-takut melihat ke bawah. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat meski angin terus menerpa. Tidak dipungkiri, dia takut jatuh!
__ADS_1
Sedari awal, Chitra Anggini memang enggan terbang. Mengatakan bahwa itu gagasan buruk. Cari mati dengan cara konyol. Tetapi dia sempurna menurut ketika Mantingan berkata akan meninggalkannya jika tidak mau naik ke punggung Munding Caraka.
Ketika berada di atas ketinggian, berkali-kali Chitra Anggini mengumpat. Membuat Mantingan terheran-heran. Mengapa ada wanita yang dapat mengumpat sebanyak dan sekeji itu?
Ketika telah tepat berada di antara mega-mega, barulah Chitra Anggini sempurna menghentikan umpatannya. Mulai memanjatkan doa pada Gusti dan batara dewa. Berharap tidak ada angin kencang yang mengempas tubuhnya.
“Mantingan!” Chitra Anggini berteriak keras, jelas menyertakan tenaga dalam pada suaranya. Suara angin terlalu keras.
“Ada apa?” Mantingan menoleh, berkata pelan, tetapi dengan menyertakan tenaga dalam.
“Daku takut jatuh!”
“Sudah berapa kali dikau mengatakan itu?”
“Turunkan saja ketinggiannya.” Chitra Anggini meremas bulu Munding Caraka yang melebat hingga beberapa jengkal dalam wujud siluman.
“Jangan. Para pendekar di belantara persilatan akan melihat kita dengan mudah. Ketinggian seperti ini mesti dipertahankan.” Mantingan menggelengkan kepalanya. Itulah alasan mengapa dirinya meminta Munding Caraka untuk terbang di antara awan-awan.
Mantingan mengangkat alisnya. Heran. “Dikau hendak melihat pemandangan daratan dengan lebih jelas di sini, Chitra?”
“Tidak begitu.” Kini justru Chitra Anggini yang menggeleng. “Jika daku berada di belakang, maka angin dapat saja memgempasku tubuhku. Tetapi jika daku berada di depan, sekalipun angin mengempas kuat, masih ada dikau yang akan menahanku.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Ia akui bahwa itu adalah sebuah pemikiran yang bagus!
Kemudian Mantingan menepuk punggung Munding Caraka. Memintanya untuk terbang sedikit lebih lambat lagi. Dan tanpa berlama-lama, Mantingan telah berkelebat cepat ke belakang Chitra Anggini.
Mengetahui bahwa Mantingan telah berada di belakangnya, perempuan muda itu menyeret tubuhnya maju satu-dua jengkel ke depan. Kini pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan benar-benar terhampar luas di depannya. Sontak saja Chitra Anggini menciut takut.
“Kurasa ini sangat buruk, sangat buruk!” Tangannya meremas bulu Munding Caraka kuat-kuat. “Ini terlalu tinggi!”
__ADS_1
“Tenanglah!” Mantingan menepuk punggungnya. “Daku ada tepat di belakangmu. Dikau tidak akan jatuh begitu saja, jadi tenanglah!”
Chitra Anggini menggigil ngeri sebelum akhirnya menutup mata. Memilih untuk tidak melihat apa-apa yang tersaji di depannya. Pemandangan indah yang terbentang seantero mata memandang? Peduli sangat.
***
HUJAN turun dengan sederas-derasnya, memaksa Mantingan, Chitra Anggini, dan Munding Caraka untuk turun pula dari langit. Angin di atas sana luar biasa gilanya!
Setelah mendarat, Chitra Anggini melompat dari punggung Munding. Bersujud dan mencium-cium tanah. Tidak pernah merasa betapa berharganya daratan yang selama ini dia pijak.
Munding Caraka kembali pada wujudnya yang semula. Menjadi kerbau kelabu yang dekil dan bau. Segera merebah di bawah sebuah pohon rindang, menghindari guyuran hujan. Tampak jelas bahwa dirinya cukup kelelahan.
Sedangkan Mantingan memandang ke sekitar, meski yang ditemukannya hanyalah pepohonan dengan sedikit semak belukar. Jalanan ada di sebelah barat hutan, jaraknya cukup jauh dari tempatnya berada saat ini.
Hujan semakin deras. Satu-dua kilatan petir menerangi langit kelabu. Tubuh Mantingan telah basah sepenuhnya. Begitu pula dengan Chitra Anggini.
“Apakah dikau membawa tenda?” Chitra Anggini bertanya sambil menatapnya.
“Tidak.” Mantingan menggeleng. “Memangnya itu diperlukan?”
“Dikau masih ingin tidur nyaman meski sedang hujan seperti ini, bukan?” Perempuan itu mulai melepas ikatan bundelannya. “Daku hanya membawa satu, dan ini untuk diriku sendiri.”
Mantingan hanya mengangkat bahu, membiarkan Chitra Anggini memasang tendanya di petak tanah datar. Dirinya merasa tidak perlu tidur dengan nyaman. Betapa pun, memang bukan waktunya untuk meraih kenyamanan. Tapa Balian mesti diselamatkan barang secepat mungkin.
“Kita akan beristirahat hingga tengah malam.” Mantingan berkata pelan. Semakin pelan lagi ketika suara hujan mengukungnya.
“Mengapa tidak sampai pagi saja?” Chitra Anggini tidak keberatan sama sekali dengan keputusan Mantingan. Dia telah banyak menjalani tugas-tugas yang bahkan menuntutnya untuk tidak tidur hingga satu pekan. Namun, bukankah tidak masalah jika dirinya bertanya?
Mantingan hanya menggelengkan kepalanya. Memilih untuk tidak menyampaikan alasannya, bahwa mereka beristirahat hanya untuk memulihkan tenaga Munding. Seandainya saja kerbau itu tidak kelelahan, maka ia akan meminta mereka untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.
__ADS_1
Keselamatan Tapa Balian masih tidak dapat terjamin sama sekali. Dan semakin lama, maka mungkin saja keterjaminan itu akan lenyap tiada bersisa. Tiada harapan. Maka dari itulah, Mantingan ingin secepatnya tiba di Koying.