
MANTINGAN berkelebat menghindari terjangan air yang membentuk tapak tangan yang mengarah kepadanya. Ia lantas mengirim serangan balasan berupa Tapak Angin Darah kepada Cagak Keenam. Sayangnya pendekar sepuh itu juga berhasil menghindar.
Mantingan terus berkelebat di atas permukaan air, dari gelombang ke gelombang, sambil bertukar serangan dengan Cagak Keenam. Pertarungan mereka sama sekali tidak menggunakan senjata, melainkan sihir!
Mantingan mengetahui letak keunggulan lawan ada pada ilmu sihir pengendali air; sedang keunggulannya dirinya sendiri terletak pada seni berpedang.
Namun setelah Pedang Kiai Kedai patah, Mantingan tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi Cagak Keenam dengan menggunakan ilmu sihir. Sebab amat sangat tidak mungkin jika dirinya menyerang dengan tangan kosong, itu hanya akan mengantarkan nyawanya dengan cara yang teramat konyol.
Boleh diakui bahwa selama ini dirinya tidak terlalu giat mempelajari dan berlatih sihir. Meskipun pada awalnya ia sangat tertarik untuk mempelajari ilmu sihir sampai meminta kitab-kitab sihir kepada Ketua Rama.
Kitab-kitab tersebut berisi tentang ilmu sihir yang bersangkutan dengan angin, yakni Jurus Tapak Angin Darah, Jurus Membelah Angin, Ilmu Bisikan Angin, dan Ilmu Mengendalikan Angin.
Meskipun tidak mempelajarinya dengan giat, Mantingan dapat menguasai jurus-jurus serta ilmu-ilmu tersebut dengan baik dan benar.
Dalam menghadapi Cagak Keenam seperti ini, dirinya tidak terlalu kesulitan tetapi kedudukannya terus ditekan. Cagak Keenam hanya seorang diri menghadapinya setelah pendekar-pendekar ahli yang tadi membantunya telah pergi bersama armadanya untuk menyerang. Hal itu tentu saja menguntungkan bagi Mantingan, tetapi merugikan bagi pasukan Perguruan Angin Putih dan Tarumanagara.
Mantingan mulai berpikir bahwa dirinya harus menyelesaikan pertarungan ini secepat-cepatnya untuk dapat membantu pasukan kawan setelahnya.
Ombak setinggi sepuluh depa melaju cepat ke arahnya. Mantingan tidak sempat menghindar, sebab betapa pun ombak besar tersebut telah benar-benar mengepungnya. Maka lekas digunakan Ilmu Membelah Angin untuk merepih ombak tersebut!
Mantingan mengulurkan kedua tangan ke depan. Sekumpulan angin berpusar mengelilingi tubuhnya ketika ombak tersebut datang menerjang, tidak membiarkan barang setetes air pun menyentuh jubah Mantingan.
Ombak besar itu tidak berlangsung lama setelah Cagak Keenam mengetahui bahwa serangan ombak besar seperti itu tidak akan terlalu berguna bagi Mantingan.
Mantingan menarik kembali uluran tangannya, secara serta merta menghentikan pusaran angin yang itu melindunginya. Ia kembali berlentingan di atas permukaan air laut yang kini telah benar-benar bergejolak.
Tubuh Cagak Keenam terlihat di mana-mana, jelas saja bahwa pendekar itu telah memperbanyak tubuhnya menggunakan Jurus Seribu Dewa Membayang-Bayang Manusia. Semua bayangan itu berkelebat dengan tujuan menyerang, tetapi adalah mudah bagi Mantingan untuk menyingkirkan mereka semua, bahkan tanpa mengeluarkan terlalu banyak terlalu banyak tenaga dalam.
“Daku kagumi kelihaianmu yang memang jarang ada pada pendekar-pendekar muda, tetapi sayangnya itu sama sekali tidak cukup untuk mengalahkanku. Dan cukuplah kita bermain-main kali ini, kami akan segera menuntaskanmu.”
__ADS_1
Mantingan mengerutkan dahi. Telinganya sungguh tidak salah mendengar bahwa Cagak Keenam menggunakan kata “kami” dalam perkataannya. Dalam seketika, Mantingan menjadi berwaspada penuh.
Dirinya berkelebat jauh ke belakang. Memasang jarak yang cukup jauh dari Cagak Keenam.
Cagak Keenam tersenyum lebar sebelum berteriak keras, “Datanglah, wahai Cagak Kelima!”
***
“Mereka telah terlihat!”
PENDEKAR yang mengawasi di atas pasak layar bersorak sambil memberi tanda dengan obornya kepada Ikan Terbang di atas anjungan.
Ikan Terbang menganggukkan kepalanya sebelum mulai memberi perintah pada pasukannya di bawahnya, tetapi dirinya tetap mempertahankan sikapnya yang tenang.
Meskipun Bidadari Sungai Utara masih pula belum ditemukan dan menuntut untuk segera ditemukan, Ikan Terbang tetap harus mengutamakan pertempuran yang telah tiba di depan mata. Ikan Terbang beserta Kelewang Samodra merupakan ujung tombak bagi armada gabungan.
Meskipun Kina memberontak dan bersikeras untuk tetap menunggu Bidadari Sungai Utara di Kelewang Samodra, tetapi beruntunglah Kana tidak keras kepala kali ini, bahkan pula berhasil membujuk Kina untuk pindah ke kapal tabib.
“Tenang saja,” kata anak itu pada adiknya di tengah hiruk-pikuk persiapan perang. “Kakanda Maman bukanlah pendekar yang lemah, dia pasti akan berhasil menemukan Kakak Sasmita dalam waktu singkat. Kita berdua harus pindah ke kapal lain, ini adalah cara kita untuk membantu Kakanda.”
Kana meremas gagang pedang yang tersoren di sabuk pinggangnya. Dalam benaknya, bocah remaja itu bertekad untuk melindungi Kina meski itu berharga nyawanya. Setelah Bidadari Sungai Utara menghilang, satu-satunya orang yang harus dia lindungi adalah Kina.
Bersama seorang pendekar, mereka berdua naik sampan untuk pergi ke kapal tabib. Dari kejauhan di sebelah selatan sana, tampak banyak titik-titik kuning kecil yang bagaikan kunang-kunang terbang. Betapa Kana mengetahui bahwa titik-titik berwarna kuning itu adalah obor dari banyaknya kapal musuh.
***
“Kelewang Samodra telah memberi tanda.”
CAKRAWARMAN bergumam pelan seolah hanya kepada dirinya sendiri gumaman itu ditunjukkan, meski telah jelas bahwa Perwira Hanung berada tepat di sebelahnya.
__ADS_1
“Kita harus lebih cepat,” katanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. “Barisan Jaring Denawa masih belum rampung.”
“Benar, Paduka.”
Cakrawarman mengangkat tangannya. “Jangan panggil daku dengan sebutan seperti itu. Meskipun diriku adalah adik dari Sri Maharaja Punawarman, tetapi tetap saja diriku tidak terlalu membantu dalam jalannya pemerintahan.”
Perwira Hanung berdeham beberapa kali sebelum melanjutkan, “Apakah kiranya yang harus kita lakukan, Mahapatih?”
Cakrawarman tersenyum samar. “Beri tanda pada yang lainnya untuk bergerak lebih cepat, dan kuserahkan segala persiapan di geladak ini kepadamu Perwira Hanung.”
Setelah berkata seperti itu, Cakrawarman melangkah pergi. Perwira Hanung dengan buncah segera menghentikannya.
“Ada sesuatu hal lain yang engkau perlukan, Perwira?” Cakrawarman bertanya dengan kerutan di dahinya.
“Ah, tidak ada!” Pria tua itu mengibaskan tangan dengan senyum gugup di bibir keriputnya. “Daku hanya ingin bertanya. Hendak ke manakah Mahapatih pergi?”
“Daku akan memeriksa persenjataan di geladak dasar. Kudengar bahwa beberapa gerobak panah di kapal ini rusak.”
“Ah, memang benar itu, Mahapatih. Tetapi sebaiknya Mahapatih tidak perlu mengotori tangan untuk mengurusi hal yang tidak penting seperti itu. Biar kuminta prajurit-prajurit lainnya saja untuk menangani.”
“Hal tidak penting?”
Seketika itu pula Perwira Hanung berkeringat dingin. Menyadari betapa perkataannya salah besar. Namun masih aman nasibnya, sebab Cakrawarman memilih untuk tidak memusingkannya.
“Daku akan tetap ke geladak dasar, Perwira. Pasukan membutuhkan kehadiranku di sana.” Cakrawarman tersenyum tipis sebelum kembali melangkahkan kaki meninggalkan anjungan.
Perwira Hanung menelan ludahnya. Dia tidak berusaha untuk menghentikan Cakrawarman sekali lagi, sebab tentulah hal seperti itu akan menyebabkan kecurigaan besar!
__ADS_1