
Catatan:
Ini adalah chapter lalu yang terlewat. Mohon maaf atas keteledoran saya.
____
SEDANGKAN itu, Mantingan memasuki sebuah kamar di dalam Penginapan Permata Malam untuk menemui Chitra Anggini. Di sana, perempuan itu telah berdiri sambil memandang keluar dari jendela, tampak seperti telah menunggu kedatangannya.
“Kau menemukan sesuatu?” Mantingan langsung bertanya.
“Ya. Lihatlah ini.” Chitra Anggini berkata sambil menunjuk lembar-lembar lontar yang tergeletak di atas meja.
Mantingan mengernyitkan dahi. Dapat dikenalinya lontar-lontar itu sebagai surat rahasia yang diberikan oleh Puan Kekelaman, tetapi kini dalam keadaan yang tercerai-berai, tidak lagi terikat dalam susunan yang teratur. Terdapat pula sebilah belati di meja itu, yang sepertinya digunakan oleh Chitra Anggini untuk memotong tali yang menghubungkan lontar-lontar.
Namun dari susunan lontar-lontar yang tampak tak beraturan itu, bila dilihat dengan lebih lamat-lamat, maka akan tampaklah suatu gambaran! Mantingan terkejut, itu adalah gambaran dari sebuah peta!
“Ketika kubaca, tulisan-tulisan di dalamnya hanya berisi bait-bait puisi yang tidak berguna, jadi aku mulai memikirkan bahwa surat rahasia ini memiliki cara penyampaian isi yang berbeda.” Chitra Anggini menjelaskan tentang bagaimana dirinya sampai terpikirkan untuk memisahkan ikatan lontar-lontar itu hingga menemukan sebuah peta di dalamnya.
__ADS_1
“Kau sudah menghapal susunan ini?” Mantingan kembali bertanya, dibalas anggukan oleh Chitra Anggini. “Kalau begitu, simpan kembali di dalam keropak. Segera!”
Chitra Anggini tidak mengerti mengapa pemuda itu menjadi amat terburu-buru, tetapi dia tetap melakukan apa yang telah dimintainya.
Sedangkan itu, Mantingan memandang keluar jendela. Pembacaannya pada pertanda mengatakan hal-hal yang tidak bagus, sangat tidak bagus, begitu tiada bagusnya, sehingga ia meminta Chitra Anggini untuk segera menyimpan lontar-lontar itu. Baginya, sulit untuk menerima tanggungan besar atas segala kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi!
Chitra Anggini telah mengenal Mantingan dengan sebaik-baiknya, meski kebersamaan mereka tidaklah dapat dikatakan terlalu lama, sehingga ia jelas mengerti bahwa pemuda itu mendapat pembacaan pertanda yang teramat buruk. Maka tanpa bertanya lagi, dirinya lekas menyimpan lontar-lontar itu ke dalam kantung pundi-pundinya, sekaligus pula membuka ikatan pada kantung serut yang menyimpan dedaunan!
Sedangkan itu, Mantingan justru tampak memejamkan matanya. Seolah saja tidak berwaspada sama sekali. Namun, begitulah Ilmu Mendengar Tetesan Embun akan lebih berguna ketika mata dalam keadaan terpejam. Ia sama sekali berwaspada penuh. Tangannya bersiaga di dekat gagang Pedang Savrinadeya.
Dalam keadaan sedemikian, angin berembus perlahan melalui jendela kamar. Melambai-lambaikan sepasang tirai kusam yang ada di sana. Tampak menenangkan dan menyejukkan, tetapi Mantingan masih dapat merasakan hawa pembunuh yang bersemilir kuat ke arahnya!
Itulah pisau-pisau terbang beracun yang teramat mematikan! Dari ujung logam-logam runcing itu, meneteslah satu-dua titik air hitam, yang akan langsung menghanguskan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Betapa ganasnya!
“Beradu punggung!” Mantingan berseru, yang lekas ditanggapi Chitra Anggini dengan langsung bergerak membelakangi punggungnya. Begitulah mereka telah saling beradu punggung dengan kuda-kuda siap bertarung.
“Dari mana datangnya serangan?” Chitra Anggini bertanya langsung menggunakan mulut serta suaranya, sebab memang sungguh tidak mungkin mereka bercakap-cakap melalui pandangan mata dalam kedudukan saling membelakangi.
__ADS_1
“Dari halaman penginapan,” jawab Mantingan bersegera.
“Kau tahu siapa yang sedang kita hadapi?”
Pertanyaan Chitra Anggini yang satu itu sempurna membuat Mantingan tidak bisa menjawab apa pun. Ia tahu bahwa dirinya memiliki sangat banyak musuh di Suvarnabhumi maupun Javadvipa. Pertempuran di laut utara Tarumanagara telah membuatnya harus membunuh belasan ribu pendekar, tentulah dengan jumlah sebanyak itu maka tidak dapat diperkirakan lagi berapa banyak kelompok atau orang yang menaruh dendam kepadanya. Mantingan menjadi orang yang paling dicari di seantero Dwipantara, sebab sebagian besar pendekar telaga maupun rimba persilatan tidak setuju bila dirinya diangkat menjadi Pemangku Langit. Pendekar-pendekar di Pemukiman Kumuh Kotaraja pun telah memberinya peringatan untuk tidak berbuat sesuatu yang sekiranya dapat merugikan mereka. Lebih dari itu, Koying secara khusus memburu dirinya untuk tujuan-tujuan tertentu.
Tak terkira betapa banyaknya musuhnya saat ini. Begitulah kedudukan seorang pahlawan, yang meskipun dipuja-puja oleh banyak orang tetap saja ada pihak yang justru menganggapnya sebagai musuh dan ancaman besar!
Maka kini ketika Chitra Anggini bertanya begitu, Mantingan tidak dapat memberi jawaban pasti, dan ia pun tidak ingin memberi jawaban hasil penerkaan belaka.
“Tetap berwaspada,” katanya kemudian, “siapa pun bisa menjadi musuh kita.”
Tepat setelah Mantingan berucap sedemikian, tiba-tiba saja daun jendela terempas dari tempatnya, bersamaan dengan kelebatan-kelebatan bayangan yang berkelebat masuk. Dari pintu kamar, beberapa kelebatan bayangan pun menerobos masuk.
Dalam kedudukan seperti itu, Mantingan dan Chitra Anggini benar-benar terkepung! Tiada satupun jalan keluar yang tersisa untuk mereka; dan tiada satupun jua pilihan lain bagi mereka kecuali melawan!
Tanpa berkata-kata, bertukar pandang, bahkan sekadar memberi isyarat, Mantingan dan Chitra Anggini sudah mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Keduanya lantas berputar dengan masih beradu punggung. Mantingan menarik Pedang Savrinadeya dan menebaskannya ke arah para penyerang yang sekiranya dapat ia jangkau; sedang Chitra Anggini terus melesatkan dedaunan yang ketajamannya telah menyamai pedang itu ke penjuru ruangan.
__ADS_1
Dalam waktu yang sangat singkat, begitu singkat, terlalu singkat, hingga bahkan tidak memungkinkan mata untuk sekadar setengah berkedip, belasan mayat manusia telah bergelimpangan di kamar itu dengan darah bersimbah segar!