Sang Musafir

Sang Musafir
Orang yang Seolah Tidak Ada Duanya


__ADS_3

SETELAH selesai sarapan, keduanya memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum melanjutkan perjalanan. Bidadari Sungai Utara berniat memasang kembali jubah dan cadarnya, tetapi Mantingan memanggilnya untuk menghampirinya saat itu.


“Jubah itu pasti membuatmu tidak nyaman. Pakai saja jubahku. Dan untuk cadar, kau bisa memasangnya ketika ada orang lain saja.” Mantingan mengulurkan jubahnya sendiri kepada Bidadari Sungai Utara.


Gadis itu mengernyitkan dahi. “Apakah Mantingan tidak memerlukannya? Lagi pula ... jubah ini terlihat sama tebalnya.” Tidak enak hati Bidadari Sungai Utara bermaksud menolak.


Mantingan tersenyum. “Memang ketebalannya sama, tetapi jubah ini memiliki keistimewaan. Aku tidak terlalu memerlukannya, udara segar bagiku jauh lebih berharga.”


“Bolehkah aku mencobanya sekarang?”


Mantingan mengangguk; Bidadari Sungai Utara menerima dan memasang jubah itu pada tubuhnya. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan.


“Ini ... bagaimana bisa?”


Mantingan hanya memberi senyuman hangat sebagai tanggapan sebelum mengajak gadis itu melanjutkan perjalanan. Mereka butuh dua kali waktu peminuman teh sampai mereka keluar dari hutan dan kembali menapak di jalanan.


Berbeda dengan kemarin pagi, Bidadari Sungai Utara lebih menikmati perjalanan pagi ini. Jubah Mantingan benar-benar ajaib, ia merasa seolah-olah bersentuhan dengan embun pagi. Udara segar juga bisa dengan bebas dihirupnya, tiada cadar yang menghalangi—meskipun itu sedikit berisiko, perompak-perompak biasanya lebih ganas setelah melihat wanita cantik.


Mantingan selalu menyiagakan Pedang Kiai Kedai yang tersoren di pinggul kirinya, sehingga sewaktu-waktu dapat langsung ditarik oleh tangan kanannya. Mantingan sudah berjanji pada Bidadari Sungai Utara bahwa ia akan melindunginya, jadi tidak ada kewaspadaan yang berlebihan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dilalui dengan lika-likunya yang menuruni sebuah bukit atau menaiki sebuah bukti, terkadang harus memutar jalan di sekitar bukti yang terlalu terjal. Sampailah suatu ketika Mantingan dan Bidadari Sungai Utara melihat gunung yang cukup besar di depannya.


Gunung yang muncul di balik celah perbukitan itu tampak sangat indah bahkan saat dilihat dari kejauhan sekalipun, entah keindahan apa yang tersaji setelah melihatnya dari dekat. Mantingan baru teringat bahwa perjalanannya di Jalur Utara ini memang melewati setidaknya dua gunung besar. Hebatnya lagi, dua gunung besar itu saling bersisian.


Ini adalah hal yang cukup menarik bagi Mantingan, karena ia jarang melihat pegunungan selama perjalanannya. Terlebih dua gunung ini bisa dianggap gunung kembar karena jarak dan tingginya tidak terlalu jauh.


Untuk mengisi suasana perjalanan yang terbilang sepi, Bidadari Sungai Utara memutuskan untuk membuka percakapan dengan menceritakan kisah perjalanannya di tanah Champa sampai ke tanah Jawadwipa.


Dari tanah Champa ia bertolak. Satu kapal disewa olehnya yang mengangkut pengawal-pengawal beserta barang dagangan. Nakhodanya bisa dibilang cukup berpengalaman, sehingga beberapa kelompok bajak laut yang mencoba menghalangi mereka tidak bisa berkutik di depannya. Terlebih para pengawalnya yang tangkas, maka perjalanan itu hampir tanpa hambatan.


Bidadari Sungai Utara memiliki kemampuan berbahasa Melayu dan Sanskerta. Ia memang sering berkunjung ke negeri-negeri di luar Champa, sehingga mempelajari bahasa asing merupakan sebuah kewajiban. Ia dapat berbicara dengan mudah dengan masyarakat di Taruma.


Akan tetapi, walau dengan kemampuannya berkomunikasi itu, Bidadari Sungai Utara benar-benar tidak mengetahui telah terjadi suatu pergolakan di tanah Taruma. Sungguh ia tidak menyangka kapal mereka diserang di dekat pantai menuju Tanjung Kalapa.


Bidadari Sungai Utara dan dua pengawalnya terus dan terus masuk, hingga mereka merasa telah aman dari jangkauan penyamun laut itu. Tetapi bak lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya, mereka kembali bertemu sekelompok perompak darat lainnya dan langsung menyerang mereka habis-habisan.


Bidadari Sungai Utara berhasil melarikan diri setelah dua pengawalnya mengorbankan diri untuk menahan para perompak. Hingga tibalah gadis muda itu di Kedai Purnama Teratai. Ia menyewa satu kamar dan menjanjikan pembayaran di akhir.


Sampai bertemulah ia dengan Mantingan, lalu sekarang dirinya berjalan di sini.

__ADS_1


Mantingan sebenarnya tidak terlalu terkejut mendengar kisah dari Bidadari Sungai Utara. Ketidaktahuan mereka tentang gejolak yang terjadi di Tarumanagara membuat mereka terus belayar dengan kepercayaan diri, padahal pada saat itu orang-orang Taruma sendiri tidak berani mengembangkan layar.


Bidadari Sungai Utara menambahkan bahwa setelah sampai di Tanjung Kalapa, ia akan mencari rumah yang bisa disewanya sampai angin muson timur datang. Ia berniat mencari pekerjaan untuk membayar biaya sewa dan biaya makan.


Mantingan menggeleng pelan. “Aku menebak dirimu tengah diincar banyak pendekar karena kecantikanmu. Tidak bijak jika kau bekerja di Tanjung Kalapa. Karena di tanah ini, pendekar-pendekar biasa menyamar menjadi pedagang atau bahkan warga biasa.”


Bidadari Sungai Utara mendesah pelan. “Jika memang sudah takdirku mati di sini, aku bisa buat apa?”


Kembali Mantingan menggeleng tidak setuju. “Itu sama saja menyerah pada keadaan. Melihat keadaanmu yang seperti ini, kau memang terjebak oleh keadaan. Masalah biaya, itu mudah. Tetapi masalah keselamatan dirimu di Tanjung Kalapa, aku harap kau bisa mencari jalan keluarnya.”


“Tidak perlu membantuku lebih jauh lagi, Mantingan. Kau terlalu banyak membantuku, aku takut tidak bisa membalasmu.”


“Bukankah sesama manusia sejatinya memang harus saling membantu?” Mantingan tersenyum hangat. “Tidak perlu membalasku. Karena kita adalah manusia, sejatinya saling membantu sesama. Engkau tidak ada salahnya membantuku saat aku sedang kesulitan, seperti tadi saat kau membantuku melipat tenda. Tetapi jangan anggap kau melakukan itu untuk membalas.”


Ucapan Mantingan itu berhasil membuat Bidadari Sungai Utara tidak bisa berkata-kata. Ia merasa tidak hampir tidak pernah menolong orang. Dirinya yang selalu minta pertolongan orang lain, entah itu dengan bayaran atau dengan ketulusan hati. Termasuk saat ia meminta bantuan pada Mantingan untuk menemaninya sampai di Tanjung Kalapa.


Ia juga merasa apa yang dikatakan Mantingan itu tidak salah. Bukankah manusia memiliki akal dan budi yang membedakannya dengan hewan lain? Jika hewan saja bisa sedikit-sedikit membantu kawannya, mengapa manusia tidak bisa? Jika akal budi manusia lebih tinggi, mengapa mereka tidak bisa lebih tinggi lagi memberi bantuan pada sesamanya?


Mengapa pula ada manusia yang malu membantu sesamanya? Kasta tinggi tidak mau membantu kasta rendah, orang berduit ogah turun tangan membantu petani menarik gerobaknya, dan segala macam alasan lainnya. Benar jika dikatakan bahwa rasa gengsi adalah salah satu perusak kedamaian yang terbesar.

__ADS_1


Sekali lagi Mantingan mampu membuka mata orang. Terbuka pandangannya tentang menghayati kehidupan fana. Bagai menyembuhkan orang buta. Memang itulah yang dimaksud menyembuhkan orang buta.


Termasuk pandangan Bidadari Sungai Utara dalam memandangnya. Bukan lagi sebagai seorang pelancong yang niatnya jalan-jalan saja. Bukan lagi sebagai pendekar yang mencari jalan kesempurnaan lewat hal yang konyol. Mantingan adalah Mantingan. Orang yang berbeda. Orang misterius yang seolah tidak ada duanya di dunia.


__ADS_2