Sang Musafir

Sang Musafir
Jati Diri Jakawarman


__ADS_3

SEMAKIN BERKERENYIT dahi gadis itu. “Lalu, bagaimanakah engkau bisa menganggapnya sebagai teman jika tidak mengetahui namanya?”


Mantingan tersenyum sebelum menjelaskan, “Kurasa dalam pertemanan, sebenarnya nama sama sekali tidak diperlukan. Betapapun, manusia tetap dapat hidup dan bergaul meskipun tiada memiliki nama. Bukankah nama hanyalah sebatas kata yang diucapkan?”


Bidadari Sungai Utara mengangguk sambil mengunyah makanannya. Sesaat kemudian, ia kembali berkata, “Lalu, siapakah kiranya gadis bernama Dara yang engkau sebutkan di dalam suratmu itu?”


“Ah, dia hanya teman lama ....”


“Berdusta. Kakanda jelas berdusta.” Kana tiba-tiba memotong dengan begitu tajamnya. “Dapatkah disebut ‘hanya teman lama’ sedang Kakanda dengan dirinya berpelukan begitu mesranya?”


“Kana, dia yang memelukku.”


“Dan Kakanda membiarkannya.”


“Tidak dapatkah itu disebut sebagai pelukan persahabatan?”


“Baiklah jika memang dianggap sebagai pelukan persahabatan. Lalu bagaimanakah dengan segala perhatian, benda, bahkan uang yang diberikannya kepada Kakanda? Lalu apakah kiranya yang membuat wanita cantik itu menangis ketika ditinggal Kakanda?”


“Tidak bolehkah seseorang menangisi kepergian sahabatnya padahal baru sebentar berjumpa?”


“Kakanda terus membuat alasan. Biarkan Kaka Sasmita yang menilainya sendiri!”


Kana menatap tajam ke arah Bidadari Sungai Utara yang masih tampak termenung. Sedangkan Mantingan menelan ludahnya serta telah kehilangan nafsu makannya. Kana bisa saja merusak saat-saat terakhir mereka.


“Itu bukan masalah besar. Mantingan tidak mungkin tertarik pada wanita secantik apa pun. Bahkan diriku, yang dipuji-puji sebagai bidadari paling cantik di kahyangan hingga dilamar lebih dari seribu pria sekalipun, tidak mampu menarik perhatian Mantingan.”


Mantingan tersedak ludahnya sendiri. Kana menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Kina menutup mulut dengan tangannya, tidak percaya.


“Seribu pria?” Mantingan bertanya sedang batuknya masih belum reda pula. “Dan engkau menolak semuanya?”


Bidadari Sungai Utara mengangguk dengan senyum bangga mengembang di bibirnya. “Bahkan seringkali diriku mendapat serangan dari pria yang sakit hati karena kutolak. Begitulah kuakui bahwa diriku memang cukup tersohor di negeri Champa, bahkan di Javadvipa sekalipun. Ketidakwajarannya terletak pada dirimu, Saudara.”

__ADS_1


Mendapat jawaban serta sindiran itu, kembali Mantingan tersenyum canggung.


***


MANTINGAN BERSANDAR pada dinding kayu sambil menatap danau yang terhampar di sebelahnya.


Burung-burung camar terbang di atas permukaan air, sesekali meluncur turun untuk mencicipi kesegaran air danau. Tak jelas apakah mereka ingin membersihkan badan atau sekadar minum air.


Air danau bersemburat jingga. Langit bersemburat jingga. Mega-mega bersemburat jingga. Ikan-ikan di dalam air bersemburat jingga. Pepohonan bersemburat jingga. Meja dan cangkir teh di depan Mantingan bersemburat jingga. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang tak ayal bersemburat jingga pula.


“Agaknya malam akan datang sebentar lagi ....” Mantingan bergumam pelan. “Apakah lebih baik diriku kembali ke kediaman?”


“Anak Man, maafkanlah pak tua ini yang datang terlambat!”


Mantingan menoleh ke arah suara tersebut. Dilihatnya pak tua Rama yang baru saja masuk ke dalam kedai di pinggir danau itu. Pria lanjut usia itu duduk bersila berhadap-hadapan dengan Mantingan.


Memanglah di kedai itu tidak terdapat bangku sama sekali. Meja yang tersedia pun hanyalah meja pendek. Orang yang datang harus duduk lasehan di atas tikar buluh.


“Bukan apa-apa, Ketua Rama, engkau pastilah harus menyelesaikan urusan yang banyak.” Mantingan tersenyum hangat.


“Sejak diriku duduk di sini, baru tiga cangkir teh yang kuhabiskan. Tidak terlalu lama.”


“Tiga cangkir teh? Aih, sepertinya diriku benar-benar datang terlambat.”


Seorang pengurus kedai datang membawakan nampan yang menataki sekendi teh serta secangkir porselen yang diputar balikkan hingga menghadap ke bawah.


Jelas saja, kendi dan cangkir yang disajikan kepada Rama berbeda dari yang lain. Mantingan mengira bahwa benda-benda itu diperkhususkan hanya untuk Rama seorang. Maka ketika Rama datang, pengurus kedai tidak perlu pusing harus menyajikan teh seperti apa.


“Engkau ingin secangkir lagi, Anak Man?”


Mantingan menggeleng dan menolak dengan halus. “Tiga cangkir tadi sudah dirasa berlebihan, Ketua. Maafkanlah karena diriku tidak bisa menerima cangkir keempat.”

__ADS_1


“Tidak mengapa.” Rama tersenyum hangat sebelum menyesap tehnya dengan amat khidmat. Kembali dirinya berkata, “bolehkah kuminta dikau menceritakan tentang apa saja yang terjadi selama perjalanan kalian ke perguruan? Diriku menerima laporan bahwa rombongan kalian mengalami banyak kendala.”


Mantingan mengembuskan napas panjang sebelum menceritakan hal yang benar-benar perlu diceritakan.


Selama Mantingan bercerita, Rama beberapa kali mengubah raut wajahnya. Namun rerata, tidak ada raut wajahnya yang sedap dipandang. Begitupun dengan cerita Mantingan, hampir tidak ada peristiwa yang menyenangkan.


Rama menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah Mantingan menutup ceritanya. Untuk sejenak, orang berusia lanjut itu menarik napas dalam-dalam.


“Anak Man, sejak kapankah dikau mengenal Jakawarman?”


“Belum terlalu lama, Ketua. Daku baru mengenalnya ketika Jakawarman sebagai kusir kuda mengantar kami ke perguruan.”


“Dan ketika itu, engkau telah mengetahui bahwa Jakawarman berasal dari Padepokan Angin Putih di Desa Lonceng Angin, bukan?”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan.


Rama menghela napas panjang sebelum memberi pernyataan yang teramat sangat mengejutkan.


“Ketahuilah, Mantingan, bahwasanya tidak satupun orang di padepokan mengenal Jakawarman.”


Napas Mantingan tertahan. Detak jantungnya seakan berhenti meski barang sejenak. Benarkah yang didengarnya? Kelirukah ucapan Rama?


“Jakawarman datang ke padepokan itu tepat sehari sebelum keberangkatanmu. Dirinya mengeluarkan sebuah lencana yang menunjukkan bahwa dirinya adalah Prajurit Topeng Putih dari perguruan pusat. Dia mengatakan bahwa dirinya ditugaskan untuk mengawal dirimu dan Bidadari Sungai Utara.


“Setelah diperiksa, lencana itu asli. Diperiksa sekali lagi, tetap saja masih tampak keasliannya. Maka dengan segenap kepercayaan, kusir kuda yang seharusnya mengantarmu digantikan dengannya.


“Setelah daku mendengar kabar kematian murid dari perguruan pusat yang bernama Jakawarman, maka sesuai dengan aturan yang ada, murid yang telah gugur itu mendapat lencana kehormatan.


“Akan tetapi ketika sedang dilakukan pencatatan guna mengetahui asal-usul dan anggota keluarganya, kami sama sekali tidak menemukan nama Jakawarman sebagai murid Perguruan Angin Putih.”


Sampai di sana, Rama berhenti bercakap. Mantingan pun diam termenung. Sehingga suasana menjadi hening, sebab hanya keduanyalah yang menjadi pelanggan di kedai itu dan kini diam bagaikan patung pula!

__ADS_1


“Kami telah melihat semua catatan yang memuat keterangan seluruh murid dan anggota Perguruan Angin Putih beserta padepokan-padepokan di bawahnya. Tetapi tidak pula kami temukan nama Jakawarman.”



__ADS_2