
“Kau tahu siapa mereka, Chitra?” Mantingan berbisik pelan.
“Sama sekali tidak tahu.” Chitra Anggini membalas, juga dengan berbisik pelan.
“Lantas mengapa kaukejar mereka?”
“Mereka datang ke desa dengan menyusup. Apalagi jika bukan berniat buruk?”
Mantingan berdecak pelan. “Tidak semua niat buruk mesti kau ladeni.”
“Bagaimana jika mereka membahayakan orang-orang desa yang tiada bersalah?”
“Apakah mereka terlihat akan membahayakan? Jika sampai sudah begitu, maka kita wajib bergerak untuk melawan, tetapi penyusup-penyusup ini datang hanya untuk menyerang rumah kepala desa. Urusan pendekar biarlah menjadi urusan pendekar. Kita jangan terlalu mudah ikut campur.” Mantingan memberi jawaban telak.
***
NAMUN, sebagaimana dengan sikap perempuan pada umumnya, Chitra Anggini tidak rela pendapatnya dibantah dengan sedemikian mudahnya seperti ini. Namun jika sudah terlanjur dibantah dengan telak, maka jalan satu-satunya jalan adalah dengan menyalahkan.
“Oi! Bukankah kau adalah Pahlawan Man yang gagah perkasa selalu membela keadilan yang dipuja-puja banyak orang itu? Mengapakah sekarang justru terlihat amat takut bagai seekor tikus yang diintai burung hantu?”
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan malas sebelum memberi jawaban yang tegas, “Kau tidak boleh bergerak kecuali dengan tanda-tanda dariku.”
Chitra Anggini kembali berdecak kesal. Matanya masih memantau pertarungan di kediaman kepala desa. Telah terlihat beberapa tubuh yang terbujur kaku, bersimbah darah.
“Lihatlah! Seluruh mayat yang terkapar itu berpakaian prajurit desa. Tidak terlihat ada satupun yang berasal dari penyusup. Mereka kalah telak!”
“Jangan bergerak sebelum ada tanda-tanda dariku.” Mantingan membalas dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Chitra Anggini mengepalkan telapak tangannya. Menahan amarah yang semakin meluap-luap. Bagaikan air mendidih yang menggedor-gedor penutup periuk.
Ingin sekali rasanya Chitra Anggini berkelebat ke rumah kepala desa, lantas membunuh semua penyusup di sana dengan racun dan senjata dedaunan yang menjadi andalannya selama ini. Namun betapa pun, dia tidak akan melalukan itu, sebab perintah dari Mantingan telah jelas adanya. Jangan bergerak sebelum diberi tanda. Chitra Anggini telah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menuruti Mantingan, betapa pun keputusan pemuda itu terkesan salah ataupun tidak masuk akal. Dia akan tetap mengikutinya.
__ADS_1
Sedangkan Mantingan tetap bersikukuh. Ia telah menebak bahwa penyusup-penyusup itu berasal dari dunia persilatan bawah tanah, yang selalu menyerang atas suatu kepentingan yang telah benar-benar penting. Teramat jarang pendekar-pendekar dari dunia persilatan bawah tanah membawa tugas yang utamanya adalah mencelakakan warga tak bersalah.
Pendekar-pendekar yang menyusup dan mengharu-biru kediaman kepala desa itu berkemungkinan hanya memiliki kepentingan dengan orang-orang yang ada di sana saja, tidak akan membahayakan warga desa yang telah sepantasnya Mantingan dilindungi.
Hal itulah yang membuat Mantingan memutuskan untuk tetap menunggu dan mengamati keadaan.
Kilatan lelatu api yang semulanya menggila di kediaman kepala desa kini berangsur menghilang, berbarengan dengan puluhan tubuh prajurit desa yang tergeletak tanpa nyawa dengan darah menggenang. Agaknya telah selesai pertarungan di sana dengan para penyusup itu sebagai pemenangnya.
Mantingan mengembuskan napas panjang. Di hadapan dunia persilatan, nyawa manusia setara dengan nyawa semut. Tiada artinya. Dalam sekali pertarungan, puluhan hingga ratusan nyawa pendekar dapat terbang begitu saja entah ke mana gerangan.
Mantingan dengan segala keterpaksaannya, kali ini tidak bergerak dan membela mereka yang lemah. Segala urusan jaringan bawah tanah teramatlah rumit, mereka tidak peduli kuat atau lemah lawan yang dihadapi, hanya ada kepentingan belaka. Dirinya pun harus bersikap seperti itu pula, mengingat betapa Tapa Balian mesti cepat-cepat dibebaskan dan Kembangmas mesti cepat-cepat didapatkan! Itulah kepentingannya.
Nyawanya tidak boleh melayang di tempat ini.
“Pertarungannya telah berakhir.” Chitra Anggini berkata kesal, seolah baru saja melewatkan suatu pertunjukan. “Dan mereka telah pergi melalui halaman belakang rumah kepala desa.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Ia dapat melihat itu dengan jelas. Penyusup-penyusup itu telah berkelebat pergi dengan secepat-cepatnya melalui bagian belakang kediaman kepala desa. Pakaian serba hitam yang mereka kenakan lekas membuat tubuh mereka bagai ditelan kegelapan malam yang sungguh teramat pekat.
***
Pagi masih ranum, tetapi ketegangan bukan main telah sempurna mengungkung Desa Pesawahan tempat Mantingan dan Chitra Anggini singgah menginap.
Kepala desa ditemukan tewas dengan kepala terpenggal. Seluruh prajurit pelindung desa tewas ketika berusaha melindunginya. Dayang-dayang yang tiada berdaya pun tidak luput dari kematian, tetapi beruntungnya dari tubuh mereka tidak terdapat tanda-tanda pelecehan.
Petua desa meminta seluruh warganya untuk tenang, tetapi juga memasang kesiagaan penuh. Sehingga pagi ini, para petani tidak mengangkat pacul dan bekerja di sawahnya, melainkan mengangkat parang panjang dan meronda desa dengan teramat waspada.
Wanita dan anak-anak dilarang keluar rumah. Keperluan berbelanja diurus oleh lelaki dewasa, itu saja harus bersenjata selengkap-lengkapnya. Dan bagi rumah tangga yang tidak memiliki lelaki dewasa, keperluan berbelanja mereka akan diurus oleh para petani yang kini merangkap menjadi prajurit dadakan.
Desa Pesawahan yang biasanya ramai dan permai ini telah menjadi sunyi dan mencekam bagaikan pusara.
Mantingan menyesap teh pahit yang masih hangat di cangkirnya. Melihat pemandangan yang terbentang luas dari balik jendela. Turut merasakan ketegangan yang ada. Teh hangat itu banyak membantu kepalanya tetap dingin.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka. Chitra Anggini masuk, membawa senampan makanan untuk sarapan berupa umbi-umbian.
“Penjaga penginapan meminta kita untuk tetap di sini selama beberapa hari.” Chitra Anggini berkata sembari menyodorkan nampan itu kepada Mantingan. “Kita telah ditandai sebagai orang yang patut diberi kewaspadaan penuh. Di desa ini, kita berdua adalah pendekar yang tersisa.”
Mantingan mengerutkan dahi sambil mengambil sepotong umbi-umbian dari nampan itu. “Hanya kita berdua?”
“Yang lain sudah melarikan diri begitu mengetahui kabar pembantaian ini.” Chitra Anggini menatapnya sungguh-sungguh. “Apa yang harus kita katakan nanti jika seandainya dituntut penjelasan?”
Mantingan menarik napas panjang. Kembali mengalihkan pandangan matanya menuju pemandangan perbukitan yang membentang luas dari balik jendelanya. Butuh waktu baginya untuk menjawab pertanyaan itu.
“Kita katakan yang sebenar-benarnya,” kata Mantingan pada akhirnya. “Mereka yang bijak pastinya akan memahami bahwa kita sama sekali tidak berkewajiban menolong desa ini, tetapi mereka yang bodoh pastilah tidak memahaminya. Berharap saja bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah sekumpulan orang pintar, sebab darah dapat kembali tumpah jikalau yang kita hadapi adalah sekumpulan orang bodoh.”
Mantingan kembali menyesap tehnya setelah mengatakan hal itu. Chitra Anggini mengangguk pelan tanda dirinya telah paham.
“Berapa lama lagi kita akan menginap di sini?” Chitra Anggini kembali mengajukan pertanyaan setelah meletakkan nampan berisi umbi-umbian itu di atas meja kamar. “Kamu tahu bahwa kita harus segera tiba di Koying, bukan?”
Mantingan mengangguk kecil sambil memberi tatapan hangat pada perempuan itu. “Dua-tiga hari lagi. Chitra, mari kita berbicara panjang lebar sepanjang hari. Kemarin, kita masih belum merundingkan sesuatu yang benar-benar penting.”
Ditatap dengan penuh kehangatan secara tiba-tiba seperti itu, Chitra Anggini lekas mengalihkan wajahnya yang kebas.
____
catatan:
Bagi yang merasa kurang puas dengan episode sebelum episode ini, bisa dibaca ulang sekarang, saya sudah revisi.
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [terpenuhi]
Favorit 1400\= 5 episode [+3 eps]
__ADS_1
Vote 950\= 2 episode [terpenuhi]
Vote 1000\= 5 episode