
WALAU MANTINGAN melihat banyak hal mengerikan, Mantingan tetap harus bersikap tenang dan tidak memperlihatkan kemarahan yang ada di dalam dirinya sedikitpun. Perubahan sikap akan mencurigakan bagi pendekar-pendekar di dalam jaringan rahasia. Mereka sangat cermat, teliti, dan tidak kenal ampun.
Tentang jaringan rahasia sendiri, Mantingan tidak mengetahui banyak tentang kelompok-kelompok di dalamnya. Satu yang ia tahu dari kelompok jaringan rahasia adalah Penginapan Tanah.
Sedangkan terlihat begitu banyak jaringan rahasia yang ada di dalam sini, secara tidak langsung mengartikan Penginapan Tanah bukanlah satu-satunya jaringan rahasia yang menyeramkan. Ataukah mungkin Penginapan Tanah adalah kelompok jaringan rahasia yang sama sekali tidak disegani? Jika kelompok-kelompok rahasia yang ada di sini terlihat menjual tubuh manusia secara tidak manusiawi, maka apalah hebatnya Penginapan Tanah yang hanya merupakan tempat pelacuran?
Selayaknya tempat bunga raya lainnya, Penginapan Tanah tidaklah lebih dari itu, hanya saja kelompok itu memiliki kekuatan yang setara dengan sebuah perguruan silat tingkat menengah. Banyak pendekar ahli yang bernaung di bawahnya. Namun tetap saja, dibandingkan dengan perkumpulan-perkumpulan rahasia di sini, Penginapan Tanah seakan tidak ada artinya sama sekali dari sekadar tempat pelacuran biasa.
Mantingan harus mengendalikan diri agar tidak muntah atau marah. Ia ingat tujuannya pergi ke tempat gila ini, yaitu menemukan anak dari Paman Bala. Untuk dapat menemukannya dalam keadaan hidup-hidup dan dirinya sendiri juga dapat keluar hidup-hidup, maka Mantingan harus bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Namun, apalah daya. Mantingan merasa gila di sini. Melihat tubuh-tubuh manusia yang diperlakukan seperti hewan sudah membuatnya gila. Lalu dirinya juga harus bersinggungan dengan pendekar-pendekar gila yang berbuat hal seperti itu. Terlebih dirinya harus berpura-pura menjadi wanita, memakai pakaian wanita, bersikap selayaknya wanita, di tempat yang mana wanita sama sekali tidak dihormati.
Satu saja dari tiga hal itu sebenarnya sudah dapat membuat Mantingan merasa lain dari dirnya. Terlebih ketika ia harus mengalami tiga hal tersebut sekaligus. Sungguh kacau pikirannya saat ini.
Namun di saat-saat Mantingan hampir menyerah, saat itulah yang lupa diharapkan hadir juga. Kehadirannya bukan tidak diharapkan, tetapi memang lupa diharapkan. Untuk apa diharapkan jika setiap memikirkannya, perasaan Mantingan jadi sakit?
Dialah Rara, yang muncul di waktu Mantingan sangat membutuhkan kehadirannya.
“Pakaian yang indah, Mantingan.”
__ADS_1
Duhai. Suara yang indah itu berasal dari belakangnya. Jantung Mantingan berdegup kuat. Bukan sebab gugup, bukan sebab takut. Dirinya bahagia. Dirinya merasa tenang. Dalam waktu dua kejap mata saja. Bagai dipindah dari kerasnya badai di samudra luas tak bertepi, ke sebuah telaga yang mengharum biru.
Bukan hanya itu saja nyatanya. Selayaknya yang pernah Mantingan alami di kediaman Nenek Genih, pertemuannya dengan Rara sangat luar biasa waktu itu. Kini hal itu terjadi lagi, tubuh Rara tampak nyata sebagai sebuah bayangan semu. Yang betapapun tetap membuat Mantingan meloncat girang walau hanya bisa melakukannya di dalam hati. Tubuh Rara itu berjalan dari belakang hingga kini ada di samping Mantingan, menatap muda itu dengan senyum manis.
Sungguh Mantingan merasa seperti kembali ke rumahnya. Kembali ke tempat di mana dirinya bisa nyaman. Rumah bukan saja berarti suatu bangunan saja, rumah adalah tempat di mana seseorang bisa merasakan nyaman dan aman. Itulah rumah bagi Mantingan, Rara-nya adalah rumahnya.
Melihat senyum manis Rara, seakan membersihkan mata Mantingan dari segala kegilaan yang ia lihat tadi. Melihat wajah Rara yang cerah, seakan melupakan gelapnya kegiatan di pasar bawah tanah ini. Mendengar suara Rara, seakan melupakan suara bacokan daging yang ia dengar sedari tadi.
Meskipun Mantingan tahu betul, yang ia tatap dan ia lihat hanyalah udara kosong belaka. Namun dengan khayalan, ia bisa berkehendak semaunya.
“Aku hampir tidak mengenalmu, jika bukan batinku yang mengatakan bahwa ini adalah kau.”
Mantingan turut tersenyum, berkata dalam hatinya, “Senang kau bisa kembali seperti ini, Rara.”
“Tentu saja itu bohong, kau dapat dari mana kabar itu?”
Rara malah tertawa. Suara tawa yang meluruhkan Mantingan. “Tidak usah terlalu dipikirkan, pusatkan perhatianmu untuk menemukan anak Paman Bala. Aku akan terus berada di dekatmu agar kamu tenang.”
Mantingan tersenyum hangat. “Jangan ke mana-mana, janji?”
__ADS_1
Rara tersenyum. “Sampai tugasku selesai. Janji.”
Paman Bala tiba-tiba menarik jubah Mantingan dengan pelan. Lantas saja pemuda itu menoleh ke arahnya dengan tatapan serius. Paman Bala menarik sesuatu dengan perlahan dari saku celananya, tidak ia tarik semua benda itu dan hanya diperlihatkan ujungnya saja. Lontar pengatur. Mantingan paham apa yang dimaksud Paman Bala. Hanya dengan sekali lirikan cepat, keduanya paham apa yang harus dilakukan.
Mantingan menoleh ke samping kirinya untuk memastikan Rara tetap ada di tempat. Rara masih ada di sana, sesuai janjinya. Gadis itu terlihat menganggukkan kepala, meyakinkan Mantingan.
Paman Bala berjalan dengan cepat. Hanya dialah yang mengetahui di mana letak lontar yang berhasil memantau putrinya. Mantingan berjalan mengikutinya tepat di belakang.
Langkah mereka yang buru-buru itu nyatanya mengundang banyak perhatian dari pendekar ahli. Terlambat bagi keduanya untuk menyadari kesalahan, mereka berdua sudah terlanjur diikuti.
Mantingan dan Paman Bala saling melirik sekali lagi. Lirikan yang berisi sebuah kesepakatan yang tak perlu terucap.
Paman Bala semakin mempercepat langkah kakinya, begitu juga dengan Mantingan. Tentu saja Mantingan melangkah seperti cara wanita melangkah demi menutup lebih banyak kecurigaan.
Paman Bala berhenti di sebuah toko yang menjual beragam racun dalam tabung buluh. Banyak pendekar ahli lain yang juga menunggu giliran untuk membeli racun mematikan yang dijual toko itu. Paman Bala dan Mantingan turut berdiri menunggu giliran.
“Semoga tidak kehabisan,” bisik Paman Bala yang bagaimanapun walau pelan tetap saja dapat didengar oleh pendekar ahli yang mengikutinya.
Paman Bala memang sengaja memilih toko yang sedang kedatangan banyak pengunjung. Beruntung toko yang memiliki banyak pengunjung adalah toko racun dan bukan toko penjual tubuh manusia!
__ADS_1
Mantingan mengatur napasnya sambil melirik Rara di sebelahnya. Melihat Rara, Mantingan dapat kembali menenangkan pikirannya. Paman Bala sebagai pria yang sudah berkepala empat sungguh mengetahui cara menenangkan diri.
Mereka menunggu dan terus menunggu sampai kerumunan mulai menyusut dan mereka mendapat giliran. Memang inilah rencana yang mereka sepakati lewat tatapan mata. Pergi ke toko yang ramai pengunjung dan berpura-pura takut kehabisan barang yang ingin dibeli.