Sang Musafir

Sang Musafir
Tuan Dermawan


__ADS_3

[UNEDITED]


“Dua kamar?”


CHITRA Anggini mengernyitkan dahinya. Tampak sekali perempuan itu keheranan. Mantingan yang berdiri di hadapannya hanya balas mengangguk.


“Mengapa tidak satu saja?” Kembali Chitra Anggini bertanya, kini dengan alis yang sedikit melemas ke bawah, tanda bahwa dirinya cukup kecewa dengan keputusan Mantingan ini.


“Selagi bisa dua, mengapakah harus satu?” Kini tampaklah Mantingan yang keheranan. “Jangan bilang kau takut tidur sendirian?”


“Seorang wanita perkasa seperti Chitra Anggini tidak pernah merasa takut.” Perempuan itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Membantah. “Hanya saja, bukankah akan lebih mudah dan aman menyusun rencana bila kita tinggal di satu kamar saja? Kau yang mengatakan ini kepadaku dahulu.”


“Kauberkata bahwa pendekar-pendekar kerajaan tidak pernah lagi dikirim ke pemukiman ini?” Mantingan balik melempar pertanyaan, sebelum kemudian menjawab, “dengan begitu, kusimpulkan bahwa kita dapat tidur di kamar terpisah dengan aman.”


“Tetapi ....” Chitra Anggini hendak melanjutkan perkataannya, tetapi sungguh dirinya tidak menemukan apa pun yang sekiranya dapat diucapkan.


Maka begitulah kemudian Mantingan segera mengambil alih. “Akan sangat tidak nyaman bagiku jika harus tidur serajang denganmu, Chitra. Itu menyalahi adat yang diajarkan oleh guru dan orangtuaku.”


Setelah beberapa saat bergeming, Chitra Anggini mengembuskan napas panjang dan pada akhirnya menganggukkan kepala. Sebaliknya, dia bertanya untuk hal yang lebih penting, “Kapankah kita dapat mulai menyusun rencana?”


“Kurasa tidak sekarang.” Mantingan menggelengkan kepalanya perlahan sebelum menolehkan kepala ke arah jendela kamarnya. “Aku merasa harus mengetahui pemukiman ini lebih dalam lagi.”


“Kau akan keluar?”


“Ya. Aku akan berkeliling sebentar,” balas Mantingan. “Kau ingin ikut bersamaku?”

__ADS_1


“Tidak perlu. Aku sudah cukup mengenal lingkungan mengerikan ini. Lagi pula, akan lebih aman jika diriku tidak ikut bersamamu bukan?”


“Tidak selalu seperti itu. Dalam beberapa kesempatan, kau menjadi sangat membantu.” Mantingan tersenyum dan menggeleng pelan, membantah perkataan Chitra Anggini dengan halus.


“Aku akan tetap tidak ikut bersamamu. Lebih baik bagiku untuk melatih diri di tempat ini, supaya di masa mendatang diriku tidak akan terlalu merepotkanmu.”


“Kau bisa membaca semua kitab ilmu yang ada di bundelanku. Aku tinggalkan segalanya,” ujar Mantingan mempersilakan. “Namun terkhusus Kitab Teratai, kau harus menjaganya baik-baik. Jangan sampai rusak, jangan sampai hilang.”


“Kitab Teratai? Sungguhan kau memiliki kitab itu?” Chitra Anggini tampak tidak percaya.


“Untuk apakah kiranya aku berbohong kepadamu, Chitra?”


Seketika itu pula mata Chitra Anggini berbinar-binar penuh harapan dan semangat “Bolehkah aku membacanya? Boleh, ya?”


“Aku tidak akan berkata begitu jika tak berniat meminjamkannya padamu.” Mantingan berkata sambil mengalungkan tali yang mengikat gulungan kain yang membungkus Pedang Savrinadeya. Sama seperti sebelumnya, ia berniat hanya membawa sebilah pedang.


“Aku akan menjaga diri.” Mantingan tersenyum hangat. “Kau juga harus menjaga diri baik-baik di sini.”


“Jika aku mati, maka itu bukan jadi masalah untukmu. Tetapi jika kamu mati, tentu itu akan menjadi masalah besar bagiku. Tidak mungkin kau meninggalkanku setelah sejauh ini, bukan?”


“Aku tidak bisa menjamin, tetapi aku akan berusaha sebisa mungkin. Sekarang, lepaskanlah tanganmu dan biarkan aku pergi.”


Chitra Anggini segera melepaskan genggamannya pada lengan Mantingan. Wajahnya bersemu merah seketika itu pula.


“Pergilah sana.”

__ADS_1


Mantingan tertawa singkat sebelum menyibak pintu tirai dan melangkah keluar. Barang tentu ia dapat mengerti mengapa wajah Chitra Anggini menjadi merah padam seperti itu. Dan pula dirinya jelas mengerti maksud dari segala kekhawatiran perempuan itu. Dirinya tiada lagi dapat berpura-pura tidak tahu.


“Semoga hal itu tidak terulang kembali.” Mantingan bergumam pelan sambil menggelengkan kepala.


Berjalan menyusuri tangga yang berlubang-lubang, ia dapat menjumpai beberapa serangga mengerikan seperti kecoak dan kelabang berseliweran di bawah kegelapan. Bahkan setelah menjadi pendekar terlatih sekalipun, Mantingan tidak dapat menanggalkan kengeriannya pada serangga-serangga itu. Bukankah mereka memang benar-benar mengerikan?


Maka begitulah kemudian Mantingan berkelebat cepat, hingga tidak sampai sekedip mata pun telah tiba di lantai bawah. Di sana, ia menemukan pemuda kurus pengurus penginapan yang kini sedang lahap makan. Itulah makanan dari bayaran atas dua kamar yang disewa Mantingan, meski sesungguhnyalah yang ia berikan jauh lebih banyak dari bayaran yang seharusnya.


Dengan lima keping emas, sekitar lima puluh kati makanan berhasil didapatkan. Chitra Anggini cukup cerdas dengan hanya membeli makanan murah yang mengenyangkan, sehingga dirinya bisa mendapatkan begitu banyak makanan dengan lima keping emas.


Teruntuk penginapan, Mantingan memberi sepuluh kati makanan, enam kati lebih banyak dari harga yang seharusnya hanya empat kati saja.


Sedangkan untuk pemuda ringkih pengurus penginapan yang telah bersikap ramah tanpa dibuat-buat itu, Mantingan menghadiahkannya lima kati makanan. Sebenarnya, Mantingan dapat memberikan lebih banyak makanan daripada itu. Dua puluh kati misalnya. Namun, makanan tersebut tidak akan dapat bertahan lebih dari dua hari. Tidak mungkin pemuda itu dapat menghabiskan dua puluh kati makanan seorang diri dalam waktu dua hari.


Tiga puluh kati yang tersisa tentulah dibagikan kepada orang-orang sekitar. Mantingan tidak akan bersikap bodoh dengan membagikannya secara langsung, ia meminta pihak penginapan yang membagikannya, meski sungguh tidak ada jaminan bahwa makanan-makanan itu tiada akan dibagikan kepada sanak keluarga dari pemilik penginapan.


Setidaknya, Mantingan telah membantu beberapa orang mengisi perut mereka. Menunda kematian. Ia memang telah memperkirakan bahwa tidak semua penghuni Pemukiman Kumuh Kotaraja dapat ditolong olehnya, setidaknya untuk sekarang.


“Tuan Dermawan! Tuan hendak pergi ke manakah?” Pemuda kurus itu sampai menghentikan kegiatan makannya hanya untuk menyapa Mantingan.


“Daku hendak berjalan-jalan sebentar di sekitar.” Mantingan tersenyum canggung. “Dan janganlah panggil diriku dengan sebutan itu lagi ....”


“Bagaimanakah kiranya diri sahaya tidak dapat menyebut Tuan sedemikian jikalau Tuan telah benar-benar dermawan kepada diriku?” Pemuda itu mengeraskan raut wajahnya, seolah rela menuruti segala permintaan Mantingan asalkan bukan permintaan yang satu itu. “Sahaya sungguh tidak menyarankan Tuan Dermawan pergi keluar ketika hari telah beranjak malam seperti ini. Akan sangat berbahaya, Tuan! Mereka sungguh tidak berperasaan, membunuh orang-orang seperti membunuh semut saja!”


“Daku dapat melindungi diri sendiri,” jawab Mantingan dengan teramat yakin sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju pintu luar.

__ADS_1


Melihat bahwa Mantingan akan tetap pergi biar betapa pun adanya, pemuda itu lekas mengucapkan salam selamat tinggal.


“Kalau begitu memang, maka berhati-hatilah di jalan, Tuan Dermawan!”


__ADS_2