
MANTINGAN TERSENYUM lebar melihat semangat Kana yang begitu tinggi. Dengan begitu, ia pun akan bersemangat mengajarinya.
“Kita tidak akan berlatih dengan membaca kitab ilmu persilatan untuk malam ini. Kita akan mempraktikkannya langsung.” Mantingan menarik Pedang Kiai Kedai dari sabuk di pinggangnya tanpa melepas sarungnya. “Aku akan menyetarakan kekuatanku dengan kekuatanmu, Kana. Sekarang engkau bebas menempuriku dengan segala macam ilmu pedang yang telah engkau pelajari.”
“Baiklah!” Tanpa takut, Kana mengangkat pedang kayunya setinggi dada. “Asalkan Kakanda tidak melukaiku terlalu parah, daku akan menempur Kakanda dengan sepenuh hati. Bersiaplah! Daku akan menyerang sekarang!”
Di bawah sinar keperakan purnama, Kana menyerang Mantingan dengan beringas. Pemuda yang telah menyetarakan kekuatan dengan lawannya itu hanya menangkis sambil bergerak mundur.
Merasakan bahwa Mantingan tidak berbohong dengan mengatakan akan menyetarakan kekuatannya, Kana tambah bersemangat. Semakin deras serangannya terhadap Mantingan.
Mantingan terus menangkis dan bergerak mundur. Meskipun kekuatannya seimbang dengan kekuatan Kana, ia tampak tidak mengalami kesulitan sedikitpun.
Sekalipun yang menyerangnya adalah seratus orang berkekuatan seperti Kana, Mantingan tidak akan mengalami kesulitan yang berarti dan bahkan masih bisa menyetarakan kekuatannya. Karena itulah, ia dengan leluasa dapat berujar meski sedang menghadapi pertarungan.
“Ketika memegang pedang, tanganmu harus sedikit dilebarkan.” Mantingan memberi arahan pada Kana ketika anak itu melakukan kekeliruan. “Ayunan pedangmu masih terlalu lemah, kau harus melatih otot tubuhmu mulai besok.”
Sembari mendengarkan arahan dari Mantingan, Kana terus melancarkan serangan-serangan pamungkasnya tanpa henti. Sedang Mantingan masih belum memberikan satupun serangan balasan.
Ketika pemuda itu terus didesak Kana untuk mundur, permukaan tanah yang semulanya landai mulai curam ke bawah. Itu berarti, mereka sedang bergerak menuruni bukit.
Mantingan mulai merubah gaya bertarungnya. Dari bertahan, ia kini bergerak menyerang. Kana tidak terkejut, ia telah menyiapkan diri sedari tadi, sebab ia mengetahui bahwa Mantingan akan memulai serangannya cepat atau lambat.
Maka ditangkis seluruh serangan Mantingan dengan tepat dan sempurna, bahkan anak itu sempat pula untuk mengirim beberapa serangan balasan.
__ADS_1
Setelah lama mereka terus bertarung tanpa mengenal lelah, tanah yang dipijak pun kembali melandai; tanda bahwa mereka telah menuruni bukit. Itu adalah saat di mana Mantingan menghentikan pertarungan.
Napas Kana menderu-deru. Rambut panjangnya acak-acakan. Pakaiannya basah oleh sebab keringat. Namun dari tatapannya yang begitu tajam, nampak bahwa dirinya masih bisa bertarung untuk beberapa saat lagi.
“Cukup,” kata Mantingan. “Kemampuanmu ternyata berada di atas yang kusangka selama ini, Kana. Dirimu meningkat sangat pesat sejak pertama kali aku melatihmu. Kekuatanmu dalam mengayunkan pedang masih terbilang cukup baik meski harus ditingkatkan lagi. Gerakanmu dalam berkelit maupun menyerang tergolong sangat bagus. Jika yang kaupegang adalah senjata tajam, maka kaupunya kemampuan untuk mengalahkan seorang dewasa bersenjata kelewang. Tetapi kuharap, engkau tidak mudah berpuas diri.” Mantingan tidak berpelit hati dalam memberi pujian.
Kana menganggukkan kepalanya dengan semangat yang membara di dalam dadanya. “Daku mengerti, Kakanda!”
***
MANTINGAN DAN rombongan permaisuri melanjutkan perjalanan setelah selesai menyantap sarapan di kedai. Gandhi telah membeli seluruh persediaan makanan di kedai tersebut untuk meneruskan perjalanan. Tetapi, yang didapatkannya itu tidak terlalu banyak untuk seukuran rombongan berisi puluhan orang dewasa. Lebih-lebih lagi, jatah makan permaisuri tidaklah pantas untuk dikurangi bagaimanapun keadaannya. Maka mereka masih perlu singgah di kota untuk membeli berbekalan.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara bertampang segar setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian baru. Terkhususnya Bidadari Sungai Utara, kecantikannya itu berhasil membuat Mantingan tertegun meskipun hanya sebentar.
Soal penampilan, Gandhi pula membuat sebuah perubahan tentang cara berpenampilan para prajuritnya. Seluruh tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka adalah rombongan langsung dari kerajaan, harus dilepaskan. Itu termasuk baju yang mereka kenakan. Sehingga kini, seluruh prajurit berjalan dengan dada telanjang.
Seperti hari sebelumnya, Mantingan duduk di tempat kusir kuda. Sedang Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina berada di dalam bilik kereta. Jakawarman berjalan di sisi kereta kuda dengan kuncian pedang yang tidak dipasang olehnya.
Tak lama setelah rombongan meninggalkan kedai, mereka berpapasan dengan serombongan pedagang yang mengangkut banyak kain di atas pedati-pedati kerbaunya. Pimpinan rombongan tersebut hanya menyapa ramah tanpa menghentikan laju rombongannya.
Mantingan tersenyum tipis. Rombongan ini bergerak dengan kereta kuda sederhana hasil rampasan perang, tidak akan nampak sebagai kereta kuda yang berasal dari kerajaan. Seluruh prajurit pun telah menanggalkan pakaiannya.
Maka sangat wajar jika rombongan pedagang itu tidak berhenti untuk kemudian menyembah-nyembah sebab mengetahui bahwa rombongan kerajaan berada di dalam salah satu kereta kuda itu.
__ADS_1
Jakawarman membuka percakapan setelah sekian lama dirinya melangkahkan kaki, “Pahlawan Man, kapankah engkau akan menetap di perguruan?”
Mantingan mengangkat kedua alisnya. Ia mengetahui bahwa murid Perguruan Angin Putih yang hidup di luar perguruan masih dapat dihitung dengan jari tangan. Itupun karena mereka memiliki tugas yang mengharuskan mereka tinggal di luar perguruan.
Mantingan adalah murid pertama dan satu-satunya yang tanpa mengemban tugas tetapi hidup di luar Perguruan Angin Putih. Bahkan jika diingat-ingat lagi, Mantingan tidak pernah menerima tugas apa pun dari perguruannya itu.
“Mohon jangan menyebutku dengan julukan itu, Jakawarman. Itu sama sekali tidak pantas disematkan kepadaku. Dan untuk pertanyaanmu, daku tidak dapat menjawabnya untuk sekarang ini.” Mantingan berkata sambil tersenyum pahit. “Daku memang murid yang tidak berbakti pada perguruan.”
Cepat-cepat Jakawarman membantah, “Tidak, bukan itu maksudku. Saudara adalah murid yang paling hebat dan membanggakan bagi perguruan.” Jakawarman berdeham beberapa kali dengan senyum yang sulit diartikan. “Di perguruan, banyak gadis yang menantikanmu untuk menetap di sana. Mereka harap, engkau dapat memilih satu-dua di antara mereka untuk dijadikan isteri.”
Mantingan tersedak napasnya setelah Jakawarman berkata begitu. Terdengar pula suara batuk-batuk dari dalam kereta kuda. Mantingan dan siapa pun yang terbatuk di dalam kereta kuda barusan, sungguhnya tidak pernah menduga-duga hal ini sebelumnya.
“Dikau tidak bercanda bukan, Jakawarman?” Mantingan masih tidak bisa menerima pernyataan itu.
“Sungguhan. Untuk apakah diriku membohongi Pahlawan Man?” Jakawarman berkata dengan senyumannya yang berseri-seri. “Apakah setelah mengetahui ini, engkau akan menetap di perguruan?”
“Jakawarman ... engkau telah memberikanku alasan yang tepat untuk tidak menetap di Perguruan Angin Putih.”
___
catatan:
Kemarin seharusnya update, tetapi episode masih dalam kondisi review oleh pihak NovelToon, jadi pagi ini baru bisa dirilis.
__ADS_1
Dukung juga Sang Musafir dengan cara share kepada teman-teman agar mendapat kawan seperjalanan!