
KETIKA MEREKA melintasi sebuah kedai besar yang berdiri di tepi jalan, Kana tidak dapat menahan diri untuk tidak meminta Mantingan—selaku pemimpin tertinggi di rombongan tersebut—mampir ke kedai besar tersebut.
Namun, Mantingan berhasil membuatnya kecewa dengan menolak permintaan itu. Dikatakannya bahwa makan di dalam kedai memang akan terasa lebih nyaman, tetapi membahayakan pengunjung kedai yang lain. Kana tentu mengerti situasinya, tetapi tetap saja ia merasa kecewa.
“Saudara,” kata Mantingan pada kusir kuda di sebelahnya, “apakah di sekitar sini ada tempat lapang yang cukup luas untuk membangun tenda?”
“Seingatku ada, Pahlawan. Lebih kurang, jaraknya sepeminuman teh dari sini. Apakah Saudara berniat beristirahat di sana?”
Mantingan mengangguk. “Malam akan datang sebentar lagi, kita harus bermalam di dalam tenda.”
Kusir itu terlihat menganggukkan kepalanya. “Semoga saja tempat itu masih ada, Saudara.”
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa banyak berkata-kata lagi. Kana pun tidak mau membantah Mantingan, sebab ia yakin bahwa pemuda itu bukannya pelit mengeluarkan uang sehingga memilih untuk tidak makan di kedai.
Mereka terus berjalan di bawah langit senjakala. Ketika itu kawanan burung membentuk barisan indah nan megah di angkasa. Niscaya mereka akan pulang ke sarangnya setelah seharian penuh melakukan tugasnya untuk semesta. Tiada terasa lelah jika disuguhkan pemandangan indah seperti ini.
Waktu sepeminuman teh telah mereka lewati dengan terus berjalan tanpa berhenti. Maka sebagai hasilnya, mereka berhasil menjumpai tanah lapang yang dimaksud sebelum matahari benar-benar tenggelam. Tanah lapang itu—beruntungnya—tidak ada yang menempati. Mungkin, gejolak masih terlalu berbahaya bagi para pelancong.
Sesuai dengan rencana, Mantingan dan kusir membangun tenda di atas tanah lapang tersebut. Mereka pula membersihkan rerumputan dan bebatuan besar di tengah lapangan untuk menyediakan ruang lebih. Di sanalah dua tenda berdiri kokoh.
Tenda itu hanya dibangun untuk Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Sedangkan Mantingan dan kusir, merasa tidak perlu tidur malam itu. Jikapun pada akhirnya mereka membutuhkan tidur, maka mereka memilih tidur di alam terbuka.
__ADS_1
Mantingan memasang beberapa Lontar Sihir Penjebak dan Lontar Sihir Pelindung di sekeliling tenda. Sekalipun lontar yang ia pasang bukanlah yang terkuat, tetapi cukup untuk melindungi mereka semua dari serangan kejut atau semacamnya.
Beberapa Lontar Sihir, tak peduli apakah itu merupakan Lontar Sihir Penyerang, Lontar Sihir Pelindung, Lontar Sihir Penjebak, Lontar Sihir Pengendali, atau bahkan Lontar Sihir Pemusnah, membutuhkan bidang permukaan datar sebagai perantara mantranya. Lontar-lontar seperti ini rerata adalah lontar tingkat tinggi.
Mantingan meminta setetes darah sang kusir kuda agar dia tidak mendapat imbas buruk dari lontar-lontar tersebut. Kusir itu dengan bangga menyerahkan darahnya lebih dari yang dibutuhkan. Dipercayai oleh orang seperti Mantingan membuatnya bangga setengah mati.
Mantingan kemudian melihat ke sekelilingnya. Ia sadar bahwa pertahanan yang ia pasang sebenarnya dapat menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan. Jika saja ada seseorang yang tidak berniat buruk, tak menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam daerah pertahanan, sedangkan Lontar Sihir bukanlah benda yang pandang bulu, maka dapat terbayangkan hal buruk apa yang terjadi pada orang itu.
Pertahanan itu pun memiliki celah. Celah tersebut terletak pada batas ketinggian yang bisa dicapainya. Mantingan memperkirakan, bahwa mantra dari lontar-lontar tersebut hanya bisa menjangkau musuh sampai di ketinggian empat depa saja. Itu artinya, pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi dapat dengan sangat mudah melewati wilayah pertahanan dan memasuki wilayah perkemahan.
Bahkan mantra pertahanan di kediamannya pun memiliki batas ketinggian tertentu, namun tidak dapat dijangkau semua pendekar.
Berpikir seperti itu, Mantingan terkesan tidak lekas percaya bahkan pada pertahanannya sendiri. Seolah pula selalu mencari-cari kesalahannya. Akan tetapi, tindakannya itu bukanlah tanpa alasan yang kuat. Dalam perjalanannya kali ini, Mantingan tidak hanya membawa jiwa raga sendiri. Masih ada Bidadari Sungai Utara, Kana, Kina, dan mungkin kusir kuda dari Perguruan Angin Putih yang harus ia lindungi. Maka ia harus pastikan tidak ada celah keamanan yang dapat membahayakan orang-orang penting dalam hidupnya itu.
Tetapi kali ini, Mantingan tidak dapat hanya mengandalkan kepercayaan diri. Itu tidak terlalu dibutuhkan sekarang. Yang lebih ia butuhkan adalah pemikiran yang tajam lagi matang.
“Senjakala masih berlangsung, Saudara ....” Bidadari Sungai Utara menghampiri Mantingan. Seolah mengetahui apa yang sedang Mantingan pikirkan, ia berkata, “seluruh pendekar mengetahui bahwa senjakala bukanlah waktu yang tepat untuk memulai pertarungan, dan pertarungan di malam hari tak akan berpihak pada mereka yang tidak menguasai ilmu pendengaran tajam. Sekarang, Saudara tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Mereka cukup pintar untuk tidak menyerang kita, dan mereka tidak cukup kuat untuk menyerang kita.”
Mantingan menoleh padanya dan tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya. “Saudari, bisakah engkau memastikan keamanan tempat ini selama diriku pergi?”
Gadis itu mengerutkan kening. “Saudara ingin pergi ke mana?”
__ADS_1
“Diriku berniat membeli makanan untuk nanti malam di kedai yang tadi kita lewati. Daku merasa bersalah setelah menolak permintaan Kana. Selama ini, anak itu tidak banyak meminta padaku.”
“Saudara, tidak perlu terlalu dipikirkan permintaannya. Kana adalah anak yang cerdas, ia akan melupakan soal keinginannya itu. Dan ingatlah, Saudara, dunia persilatan adalah dunia yang luas. Nama Mantingan cukup tersohor di dunia persilatan Javadvipa. Banyak pula yang telah mengenali ciri khas Saudara sebagai pendekar bercaping lebar dan berjubah kelabu. Tentu saja dengan begitu, banyak yang berniat buruk pada Saudara.”
Mantingan memang tak bisa memastikan tidak akan ada pendekar yang menantangnya di kedai itu. Tetapi ia bisa memastikan keselamatannya sekalipun ditantang. Setidaknya ia memiliki dua pilihan. Pilihan pertama adalah melarikan diri dari tantangan. Sedang pilihan kedua adalah mengalahkan si penantang. Setiap pilihan memiliki sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Mantingan akan mempertimbangkan setiap keputusan matang-matang sebelum mengambilnya.
Tetapi Mantingan sudah bulat keputusannya. “Itu bukanlah masalah besar, Saudari. Dengan kemampuanku sekarang ini, daku dapat melindungi diriku sendiri dan dapat pula dengan cepat kembali ke perkemahan ini. Segala keamanan telah kupastikan, Saudari tidak perlu khawatir.”
Bidadari Sungai Utara hanya bisa tersenyum kecil.
***
MANTINGAN MEMASUKI kedai yang tadi telah mereka lewati. Kali ini, tiada seorangpun yang mengusir atau melemparinya dengan kain kotor. Bahkan kali ini, ia disambut oleh pelayan di dalamnya. Didampingi pula oleh perempuan muda. Tetapi siapalah Mantingan jika tidak menolak mengusir perempuan itu halus-halus.
Sebelum memesan makanan, terlebih dahulu Mantingan memeriksa kedai dengan melihat ke sekitar. Ia tidak menemukan satupun pengunjung selain dirinya sendiri. Maka senyumnya menjadi senyum canggung. Pantas saja kedai ini menyediakan perempuan muda untuk menyambut pengunjungnya.
“Tuan, hendak makan apakah malam ini?”
Mantingan sampai dibuat terkejut dengan ucapan itu. Segera dirinya menoleh ke asal suara. Menemukan gadis yang tadi ia usir secara halus masih berdiri di sebelahnya. Betapa lengahnya ia tidak menyadari keberadaan perempuan itu di sampingnya!
“Sahaya akan memesan sendiri, Saudari. Tidak perlu Saudari menemani Sahaya.” Mantingan berkata seramah mungkin, menutupi keterkejutannya.
__ADS_1
Setelah melihat perempuan itu mengangguk, Mantingan kembali melangkahkan kaki menuju meja penyaji makanan. Namun ketika dirinya sampai, Mantingan tidak menemukan siapa pun di sana. Ketika itu pula, ia menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan kedai ini.
“Tuan hendak mencari siapakah? Hanya ada diriku dan Tuan di sini.”