Sang Musafir

Sang Musafir
Kisah Tak Bernama dari Perempuan Tak Bernama


__ADS_3

“Tetapi tekadnya begitu kuat, teramat sangat kuat. Meski telah dikhianati begitu rupa sekaligus semua sumber dayanya telah dirampas tanpa sisa, Gema tetap berjuang untuk menuntaskan janjinya. Kembali dirinya mengumpulkan uang, tetapi tidak dengan mengumpulkan orang-orang.


“Gema bergerak sendiri. Membunuh setiap penyamun yang dapat ditemuinya. Sayangnya, sepak terjangnya itu justru membuatnya tampak lebih buruk daripada penyamun-penyamun. Dia menebar ketakutan di mana-mana, sebab tidak pernah minta penjelasan sebelum menyerang, sehingga terkadanglah orang yang dibunuhinya sama sekali tidak bersalah. Bagaikan hantu, dia menyerang selalu dengan caping lebarnya, sehingga wajahnya tiada pernah tidak tertutup bayang-bayang hitam, dengan pedang besar di punggung yang selalu di bawanya ke mana-mana, dia benar-benar tampak seperti dewa pencabut nyawa. Untuk itulah dia mendapatkan nama Si Caping Jerami Berpedang.”


***


MANTINGAN memandangi api unggun sebelum menghela napas panjang. Kiranyalah ia telah membunuh Gema Samudradvipa, dan mungkin saja tindakan itu akan membuat penyamun di Pasemah dan Tulang Bawang semakin merajalela.


“Tindakan Anak dengan menamatkan riwayatnya bukanlah suatu kesalahan. Dia yang terlebih dahulu menyerang Anak, maka Anak amatlah sangat berhak untuk mempertahankan diri. Lagi pula, bukankah begitu cara pendekar mendapatkan kesempurnaannya?” ujar Tapa Balian seolah mengetahui arti dari sinar mata Mantingan.


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Tetapi bagaimanakah dengan penyamun-penyamun yang mungkin saja menjadi tidak terkendali setelah kematian Gema, Bapak Balian?”


Untuk pertanyaan itu, Tapa Balian tersenyum sedih tanpa tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa menyuapi Si Putih di punggungnya dengan kacang-kacangan.


***


PAGI itu. Angin masih bersemilir. Bahkan telah menjadi cukup kuat ketimbang hari-hari sebelumnya. Tanda peralihan musim semakin tampak jelas dengan adanya angin kencang. Yang pula menjadi tanda bahwa angin timur akan segera berganti menjadi angin barat.


Mantingan memandangi langit yang tampak suram. Dengan mega-mega kelabu di langit, pagi tidak dapat dikatakan cerah. Agaknya hujan akan segera turun, setelah sekian lamanya. Pemuda itu menarik napas panjang, sebab mengetahui betapa telah terlambat baginya untuk pergi ke Champa dan membatalkan pernikahan Bidadari Sungai Utara.


Memanglah terdapat pemikiran seperti itu yang muncul suatu ketika di dalam samadhinya. Gagasan yang kiranya dapat dikatakan cukup nakal. Mantingan bisa saja melakukannya, tetapi dirinya tahu betapa sebaiknya ia tidak melakukan hal itu.

__ADS_1


Sekali lagi Mantingan menarik napas panjang, dan lalu bergumam kecil, “Dia justru tidak akan pernah bahagia jika bersamaku.”


Entah untuk siapa perkataan itu ditunjukkan. Untuk dirinya sendiri, ataukah untuk Si Putih yang hinggap di bahunya?


Satu-dua tetes air mulai meluncur dari langit. Jatuh, menghantam tanah, mencipta aroma semerbak yang khas. Semakin banyaklah tetes-tetes air yang turun, menandai betapa hujan telah dimulai.


Mantingan tetap diam di tempat meski tubuhnya mulai basah oleh air hujan yang semakin menderas. Masih saja dirinya memandangi langit kelabu, yang kini mulai dihiasi oleh kilatan-kilatan petir. Perlahan pemuda itu mengangkat senyum. Mula-mulanya hanya senyum tipis, hingga lambat laun terbentuklah seulas senyum lebar.


“Perasaan ini ....” Kembali Mantingan bergumam, tetapi kini dengan amat sangat haru. “Sungguh telah lama tidak kurasakan.”


***


Tentu saja Mantingan menjadi lebih bersemangat melatih kemampuan berpedangnya setelah diketahuinya bahwa Pedang Savrinadeya adalah suatu senjata pusaka. Hal itu diketahuinya dari Tapa Balian ketika Mantingan menceritakan perkara pedang anehnya itu tadi malam.


“Ini ... sulit dipercaya. Pedangmu adalah senjata mestika,” kata kakek sepuh itu terperangah setelah menggenggam Pedang Savrinadeya. “Bilah pedang ini tidak terbuat dari bahan logam, melainkan dari mestika. Gagangnya pun tidak terbuat dari sembarang kayu, meskipun yang tampak sama sekali bertentangan dengan kenyataannya. Seolah saja pedang ini tidak ditempa dengan baik, tetapi sesungguhnyalah pedang ini ditempa dengan segenap jiwa di tangan penempa yang jauh lebih ahli ketimbang diriku. Siapakah kiranya yang telah memberikanmu pedang ajaib ini, Anak Mantingan?”


Mantingan tanpa ragu lagi menceritakan bahwa pedang tersebut didapatkan dari Perempuan Tak Bernama sebelum gadis itu memutuskan untuk menamatkan hidupnya sendiri. Namun, Mantingan tidak sampai menceritakan bahwa Perempuan Tak Bernama itu telah meniru rupa sosok Rara demi keberhasilan rencana kelompoknya, yang kemudian memutuskan untuk berkhianat sebab tak tahan dengan segala kepura-puraan yang dilakoninya.


“Perempuan Tak Bernama ....” Tapa Balian mangut-mangut. “Siang tadi, diriku mendengar Gema Samudradvipa menyebutkan nama itu beberapa kali, tetapi tidak kutahu maksudnya.”


Tapa Balian kemudian menjelaskan, alasan mengapa Pedang Savrinadeya yang pada awalnya sama sekali tidak memiliki ketajaman itu kemungkinan besar disebabkan oleh karena belum terjadinya hubungan hidup dan mati antara Mantingan dengan pedang itu. Dan ketika Mantingan mempergunakannya untuk bertarung dengan Gema, yang betapa pertarungan itu telah menjadi pertarungan antara hidup dan mati, barulah Pedang Savrinadeya menunjukkan jati dirinya.

__ADS_1


“Ini cukup sering terjadi—jika tidak mau mengatakannya jarang terjadi—pada senjata-senjata pusaka, tetapi hingga kini masih belum ditemukan penyebab pastinya. Aneh, tetapi nyata!” Begitulah Tapa Balian menukas.


Dalam mempelajari Ilmu Savrinadeya, Mantingan tidak benar-benar harus membuka Kitab Savrinadeya, sebab betapa pun dirinya telah menghapal isi kitab itu di luar kepala. Tentu saja hal tersebut dapat dengan wajar terjadi setelah dirinya membaca ulang Kitab Savrinadeya hingga ratusan kali banyaknya. Sehingga dalam latihannya, Mantingan hanya perlu bergerak dan bergerak sesuai dengan panduan dalam pikirannya, tanpa perlu bolak-balik membaca kitab itu sebelum kembali meneruskan gerakan. Tentu saja hal itu memberikan keuntungan besar pada Mantingan berupa pemangkasan waktu berlatih.


Setelah selesai berlatih menggunakan pedang, Mantingan menghabiskan sisa waktunya untuk membaca kitab-kitab yang dicatat oleh Perempuan Tak Bernama. Kitab-kitab tersebut berisi tentang riwayat perjalanan perempuan muda yang terkenal sesat itu.


Tentunya dengan mempelajari kisah hidup pendekar lain yang jauh lebih kuat ketimbang dirinya, mampu memberikan pelajaran luar biasa pada Mantingan. Belum lagi, Perempuan Tak Bernama juga mempelajari Kitab Teratai untuk menerapkan seluruh ilmu di dalamnya menjadi ilmu persilatan. Jalan persilatannya hampir sama dengan Mantingan.


Dalam kitab yang dinamainya sebagai Kisah Tak Bernama itu dituliskan betapa Perempuan Tak Bernama memiliki masa muda yang sangat buruk, sehingga dirinya terdorong untuk menapaki jalur persilatan meski itu selalu penuh dengan darah dan pertarungan:


Aku telah dilecehkan, tetapi tidak satupun yang membela diriku. Haruskah kuceritakan pula tentang bagaimana diriku dilecehkan? Agaknya tidak perlu, sebab aku merasa bahwa ingatan buruk itu tidak sebaiknya kuungkapkan dalam tulisan; dan sekalipun aku menceritakannya, adakah bisa kehormatanku yang telah dirampas secara paksa itu dikembalikan lagi kepadaku?


Bagi keluargaku, aku adalah sebuah aib yang menjijikkan sekaligus memalukan. Aku tidak tahu mengapa mereka dapat menganggapku seperti itu, sebab aku merasakan bahwa dirikulah yang menjadi pihak tertindas. Tentu saja diriku telah berkata pada mereka betapa diriku yang lemah ini tiada mampu memberi perlawanan yang berarti.


Tetapi biar bagaimanapun, mereka yang lemah adalah mereka yang tersingkir. Aku dienyahkan dari rumahku, ibuku sendiri yang melakukan itu. Lebih buruk lagi, diriku diusir keluar dari desa karena dianggap dapat membawa keburukan di masa mendatang.


Berpekan-pekan lamanya diriku berjalan tak tentu arah. Aku lemah sekali, tidak mampu berbuat sesuatu apa pun, bahkan tiada mampu menentukan nasibku sendiri. Diriku kembali dilecehkan, meski kali ini memanglah atas kehendakku sendiri. Aku harus memiliki uang, aku butuh makan. Tetapi sampai kapankah aku terus menanggung nasib paling menyedihkan itu?


Yang kupikirkan saat itu adalah untuk menjadi kuat, dan tiada tujuan lain selain menjadi kuat. Maka begitulah kemudian diriku masuk ke dalam dunia persilatan, dengan tujuan semata-mata untuk menjadi kuat. Kuat, kuat, kuat, itulah yang kubutuhkan saat tiada satupun yang mau melindungiku.


__ADS_1


__ADS_2