Sang Musafir

Sang Musafir
Nafsu Pembunuh


__ADS_3

KENDATI mereka telah mengetahui alasannya, tidak satupun dari mereka yang berani mengucapkannya secara langsung. Sebab betapa pun mereka mengetahui, bahwa barang siapa yang membuat suara, maka dia yang akan mati terlebih dahulu.


Meskipun ketakutan sepuluh pendekar yang baru saja Mantingan babat batang lehernya masing-masing itu seolah merupakan kejadian halus yang tiada dapat dijelaskan penalaran manusia, tetap saja bukan tanpa sebab dan musabab. Baik lawan-lawannya maupun Mantingan sendiri, telah mengetahui hal itu.


Apa yang baru saja Mantingan lakukan, atau lebih tepatnya apa yang baru saja Mantingan keluarkan, adalah nafsu pembunuh.


Nafsu pembunuh merupakan sebuah hawa yang selalu dimiliki oleh seseorang yang telah membunuh. Percampuran antara rasa benci, dendam, yurisdiksi, kejahatan, hasrat, rasa bersalah, dan segala rasa buruk lainnya yang membuat orang lain yang merasakannya akan mengalami ketakutan luar biasa untuk alasan yang tidak jelas adanya.


Nafsu pembunuh seringkali tidak perlu dikeluarkan untuk menunjukkan hakekat seorang pembunuh. Semisalnya, seorang pembunuh barang tentu terasa berbeda dan menakutkan meskipun dia menyamar sebagai orang awam. Bahkan tatapan mata seorang pembunuh pun dapat dengan jelas dibedakan dengan mata orang awam.


Biasanya, nafsu pembunuh hanya dimiliki seseorang yang telah membunuh amat sangat banyak makhluk hidup, atau banyak manusia.


Tidak semua pendekar memiliki nafsu pembunuh yang begitu besarnya hingga mampu menakut-nakuti pendekar lain, sebab memang tidak terlalu banyak manusia yang dapat dibunuh hanya oleh seorang pendekar.


Tetapi bagaimanakah kiranya dengan Mantingan yang telah membunuh lebih dari ribuan pendekar tanpa ampun hanya seorang diri saja?


Itulah sebabnya, Mantingan mampu mengeluarkan nafsu pembunuh yang membuat lawannya bertekuk lutut tanpa dapat memberi perlawanan sama sekali.


Entah mengapa, nafsu pembunuhnya baru dapat keluar malam ini. Namun Mantingan mengira hal itu disebabkan oleh karena ia membunuh empat belas pendekar di tempat ini. Barangkali nafsu pembunuhnya meningkat hingga menyentuh sebuah terobosan besar.


Mantingan menarik kembali nafsu pembunuh yang dikeluarkannya, sebab itu tidak hanya menakut-nakuti lawan-lawannya saja, melainkan pula kawan-kawannya. Nafsu pembunuh bukanlah sesuatu yang pandang bulu, dapat menerkam siapa saja sekalipun itu tumbuhan!


Jari jemari tangan Mantingan terus menggenggam gagang pedangnya erat-erat. Matanya masih pula dipejamkan rapat-rapat agar dapat dipergunakannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun dengan amat baik. Kakinya memasang kuda-kuda kokoh.


Dalam kesadaran dan kewaspadaan yang sedemikian tingginya, tidak luput sehelai daun pun yang melayang jatuh dari perhatiannya selama itu masih berjarak sebelas tombak.


Mungkinkah musuh akan bertindak mundur yang sama saja berarti membatalkan tugas bayaran mereka untuk membunuh Mantingan? Ataukah justru sebaliknya, mereka akan maju tiada gentar meski tahu bahwa itu adalah langkah terakhir yang dapat mereka lakukan sebelum Pedang Kiai Kedai di tangan Mantingan mengantar kematian kepada mereka?

__ADS_1


Namun, Mantingan sungguh memahami bahwa kecil kemungkinannya bahwa mereka memutuskan untuk mundur. Sebab dengan melakukan hal itu, kelompok pembunuh bayaran mereka akan terkenal di telaga persilatan sebagai kelompok pengecut dan khianat yang tidak mampu mati-matian memperjuangkan tugas yang telah diberikan kepada mereka.


Banyak sekali pendekar di dalam sebuah kelompok pembunuh bayaran yang memilih mati jika sudah tahu bahwa tugas yang sedang diembankan kepadanya akan menemui kegagalan, sedari pada kembali hidup-hidup dengan kegagalan.


Maka bukan tidak mungkin jika kelompok pembunuh bayaran yang pendekar-pendekarnya sama sekali tiada berbusana akan melakukan hal sedemikian pula.


Pendengaran Mantingan kembali menangkap suara desiran dan kelebatan yang benar-benar halus dan lembut, hingga hampir tidak dapat didengar olehnya.


Mantingan menarik gagang pedangnya sedikit ke atas sebelum mengentakkannya kembali ke dalam. Gelombang suara berpendar ke segala macam arah. Berpantulan pada permukaan segala macam benda. Yang kemudian ditangkap dan diterjemahkannya menjadi segala macam bentuk benda dan musuh.


Mantingan mengentak kakinya dan melesat ke atas. Seperti yang ia lakukan pada serangan kedua, Mantingan menepak pada beberapa dahan pepohonan dengan kecepatan yang tiada terkirakan lagi.


Saking cepatnya, Mantingan tidak perlu mengayunkan Pedang Kiai Kedai untuk memancung batang leher lawan-lawannya, cukuplah ia merentangkannya ke arah leher lawan.


Mantingan kembali lagi ke tempatnya semula. Pedang Kiai Kedai dikibaskan ke udara satu kali untuk membersihkan cairan darah pada bilahnya sebelum dimasukkan ke dalam sangkarnya kembali.


Dua puluh pendekar tumbang dengan kepala lepas dari badannya. Mantingan telah memperkirakan kematian seperti apakah yang sekiranya tidak terlalu menyakitkan bagi musuh-musuhnya. Betapa pun, pendekar-pendekar bayaran seperti mereka memang mesti dikurangi bahkan dilenyapkan keberadaannya, tetapi bukan berarti mereka tidak boleh mendapatkan kematian yang layak.


Mantingan menarik napas dan nafsu pembunuhnya.


“Kuperingatkan dikau-dikau semua,” kata Mantingan, “pergilah, pulanglah, selagi bisa. Lupakanlah kami, carilah hidup penuh kedamaian.”


Perkataan Mantingan itu sayangnya hanya disahuti oleh deru angin kemarau di malam itu. Tidak satupun musuh yang membalas. Dan memang, pertanyaan seperti itu agaknya tidak membutuhkan balasan.


Jika setuju, maka mereka akan pergi. Jika tidak setuju, mereka akan tinggal. Sebegitu mudahnya.


Mantingan terus menunggu. Ia mendengar kelebatan-kelebatan angin yang dengan cepat menjauh dari tempat itu, namun ia pula mendengar kelebatan serta desiran deras yang dengan amat sangat cepat mendekat kepadanya.

__ADS_1


Mantingan berkelebat pula dengan begitu cepatnya. Bilah Pedang Kiai Kedai kembali tercabut dari sangkarnya. Mantingan mulai membabat musuh yang berkelebatan meski matanya masih saja terpejam.


Musuh melihat Mantingan yang sekarang bagaikan kelelawar memangsa ngengat-ngengat kecil yang tidak berdaya di tengah kegulitaan malam. Tanpa dapat dihentikan, tanpa dapat dihindari, tanpa dapat ditangkis! Ia benar-benar telah menjelma menjadi hewan buas yang haus darah!


Pertarungan terus berlangsung di udara dengan kecepatan yang tidak dapat diperkirakan, tak mampu disaksikan oleh mata orang awam.


Kana dan Kina hanya melihat Mantingan menghilang dari tempatnya serta daun-daun pepohonan yang berguguran, lelatu api, dan debu jalanan yang berterbangan akibat embusan angin kencang, tidak lebih dan tidak kurang.


Akan tetapi Bidadari Sungai Utara dan sepuluh Pasukan Topeng Putih memasang raut wajah yang sangat tegang. Meski yang mereka lihat hanyalah kelebatan bayang-bayang saja, mereka masih dapat melihat jalannya pertarungan.


Mantingan meliuk-liuk di udara. Berlentingan dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain. Memainkan pedang begitu cepat dan begitu indahnya. Pemuda itu tidak terlihat sedang memainkan sebuah jurus, melainkan sedang menjajakan sebuah tarian mahaindah!


Pedang Kiai Kedai bergerak teramat cepat di tangan Mantingan, hingga wujudnya pecah menjadi ratusan bayangan pedang.


Memanglah tariannya itu tidak diragukan lagi keindahannya, alias tidak terbantahkan lagi. Bahkan saking indahnya, musuh tersenyum lebar dengan perasan kagum sebelum kematian menjemputnya di batang Pedang Kiai Kedai.


Begitulah Mantingan memainkan sebuah jurus kesenian berpedang yang didapatkannya setelah menerjemahkan isi Kitab Teratai menjadi sebuah jurus, Jurus Tarian Seribu Pedang!


___


catatan:


Saya tidak tahu apakah Jurus Tarian Seribu Pedang pernah dipakai namanya oleh penulis lain. Tapi sepertinya, nama ini terlalu awam. Biarlah saya memakainya, karena saya memang menyukainya.


Untuk yang mungkin saja bertanya mengapa saya jarang bahkan tidak pernah membalas komentar kalian, saya hanya meminta kalian untuk mengerti bahwa RAM ponsel saya sudah penuh. Setiap kali saya ingin membalas komentar, saya harus bersih-bersih penyimpanan terlebih dahulu atau membuka laptop.


Tetapi percayalah, komentar yang kalian berikan selalu saya baca, tak peduli seberapa sederhana komentar itu. Terima kasih banyak.

__ADS_1



__ADS_2