Sang Musafir

Sang Musafir
Pagi Hari di Pelabuhan Angin Putih


__ADS_3

Namun, suatu perkataan Chitra Anggini telah berhasil menyisakan sedikit rasa penasaran di dalam benaknya. Perempuan muda itu berkata bahwa telah ada sebuah kerajaan yang baru berdiri di pulau Borneo. Apakah kiranya kerajaan itu?


Mantingan berniat mencari tahunya esok hari, jika keadaan masih memungkinkan. Dalam waktu dua malam lagi, Bidadari Sungai Utara akan meninggalkan Javadvipa, pastilah akan ada banyak hal yang harus diurusnya.


“Daku pernah membaca tentang Chitra Anggini di dalam kitab perjalananmu.” Bidadari Sungai Utara membuka suara. “Engkau menceritakan seolah hubunganmu dengan Chitra Anggini hanya sebatas tidak sengaja bertemu di jalanan. Namun sepertinya, hubungan kalian lebih dalam daripada itu ....”


***


MANTINGAN menggelengkan kepala. “Bagiku, hubungan kami berdua tidak lebih dari apa yang kutulis di dalam kitab itu. Tetapi entah Chitra Anggini menganggapnya sebagai apa.”


Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya pelan. Kalimat maupun nada yang diucapkan Mantingan itu telah mampu membuatnya menjadi yakin.


“Agaknya engkau memang tidak memiliki kekasih hati lain selain Rara, ya.”


Mantingan tidak menjawab melainkan hanya sebatas tersenyum canggung. Ucapan Bidadari Sungai Utara kembali membuka pertanyaan lama di dalam benaknya. Benarkah bahwa dirinya masih mencintai Rara hingga sekarang?


Namun, Mantingan tidak mau menjawab pertanyaan itu untuk saat ini. Atau lebih tepatnya, ia merasa bahwa lebih baik segala urusan percintaan dihindari terlebih dahulu.


Peristiwa penyerangan Pelabuhan Angin Putih tujuh hari yang lalu telah banyak mengubah cara berpikirnya. Mantingan merasa dirinya masih terlalu lemah untuk dapat menyandang julukan Pahlawan Man.


Mantingan mengakui bahwa ilmu persilatannya cukup tinggi, tetapi Mantingan merasa dirinya masih bisa menggapai jauh lebih tinggi daripada itu jika saja ia berhenti mengurusi hal yang tidak perlu dan bermalas-malasan.


***


PELABUHAN Angin Putih tengah bersiap menyambut kedatangan ketua perguruan mereka, Rama, ketika hari masih terlalu dini untuk dikatakan pagi.


Mantingan mengamati jalannya persiapan dari balik jendela kamarnya sambil minum teh panas—kedai penginapan buka sehari penuh semenjak pelelangan membuat tamu yang menyewa kamar bertambah banyak, dengan begitu Mantingan bisa memesan teh hangat kapan pun juga.


Tampak bahwa pelabuhan masih dipadati oleh gerai-gerai kepunyaan para pedagang kelana yang singgah. Acara lelang memang telah usai tadi malam, tetapi keramaian di pelabuhan diperkirakan masih akan bertahan hingga tiga hari ke depan, sehingga seluruh pedagang kelana memilih untuk menetap sementara. Sedangkan itu, pihak Pelabuhan Angin Putih memberikan waktu selama tujuh hari sebelum toko-toko mereka dikenakan pajak yang setara dengan toko-toko tetap di pelabuhan itu.


Dilihat dari balik jendelanya, tampaklah murid-murid Perguruan Angin Putih yang sedang membersihkan sampah-sampah di jalanan. Namun tentu saja mereka tidak menggunakan sapu untuk membersihkan sampah-sampah itu, melainkan dengan Ilmu Mengendalikan Angin!


“Sena! Engkau terlalu banyak mengalirkan tenaga dalam pada anginmu! Lihatlah, sampah-sampah yang telah kukumpulkan jadi berhamburan gegara dikau ....”


“Aduh, aduh. Maafkan diriku! Biar sampah yang telah dikau kumpulkan itu menjadi tanggung jawabku.”


“Duhai, Sena! Dikau juga mengacaukan bagianku!”

__ADS_1


“Baiklah! Maafkan diriku, biar kuambil alih.”


Mantingan tertawa kecil ketika memperhatikan mereka. Sedang seorang guru yang mengawasi mereka hanya bisa tersenyum sambil terus mengelusi jenggot panjangnya.


Mantingan bergerak dari jendela kamarnya menuju mejanya. Seperti apa yang telah menjadi tekadnya kemarin, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu dengan bermalas-malasan atau mengurusi perkara cintanya dengan Rara yang tiada kunjung menemui kata usai. Mantingan akan mulai kembali mempelajari Kitab Teratai.


Mantingan teringat bahwa bagian ketiga dari kitab itu masih belum dirampungkannya. Dini pagi seperti saat ini amatlah sangat cocok digunakan untuk membaca kitab yang tergolong berat ilmunya, sebab pikirannya masih dalam keadaan segar dan udara pula masih sangat sejuk untuk mendinginkan kepala.


Kitab Teratai yang disimpannya di dalam keropak paling bagus itu kemudian dikeluarkannya secara perlahan-lahan. Bersyukurlah ia sebab kitab itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun meski telah dibawa berpergian dari Tanjung Kalapa hingga ke Bumi Sagandu.


Dengan perlahan-lahan pula, Mantingan membuka bagian ketiga dari kitab yang bukan berisi ilmu persilatan tetapi dapat diterapkan ke dalam ilmu persilatan itu.


***


KETIKA Mantingan selesai membaca bagian ketiga dari Kitab Teratai, matahari telah menanjak dari lautan luas ke hamparan langit yang tiada kalah jua luasnya.


Mantingan memang telah berhasil membaca habis bagian ketiga kitab itu, tetapi tidak serta-merta membuat segala hal di dalamnya dapat ia pahami dalam satu waktu. Meskipun begitu, Mantingan telah menerima pemahaman yang teramat sangat banyak dari kitab tersebut.


Ilmu yang didapatkannya memanglah bukan ilmu persilatan, sebab betapa pun telah diketahuinya sebelumnya bahwa Kitab Teratai sama sekali bukan kitab persilatan. Kendati demikian, ilmu-ilmu di dalam kitab itu memang dapat diterapkan menjadi sebuah jurus silat. Mantingan hanya perlu mengambil kunci-kunci penting dari dalam kitab itu.


Di dalam bagian ketiga dari kitab tersebut, terdapat sebuah ayat yang mengatakan:


t**idak akan bisa mengantar seseorang sampai di tujuan


maka sebagai nakhoda


janganlah engkau mengundang orang naik ke kapalmu


jika masih dalam keadaan karam


Ayat tersebut meskipun tampak sekilas hanya diperuntukkan untuk para pelaut, tetapi sebenarnyalah diperuntukkan untuk semua kalangan manusia tanpa peduli apa pekerjaannya. Kapal yang karam hanyalah sebagai bahasa kiasan saja.


Yang dapat Mantingan ambil dari ayat tersebut adalah jika seseorang yang masih berada di dalam kesesatan, maka orang itu tiada akan mampu membawa orang lain ke jalan yang terang. Bahwasanya, orang buta yang menuntun orang buta lain hanya akan menyesatkan saja.


Kiasan orang buta itu Mantingan ambil dari ayat lain di bagian yang sama:


Orang buta mata

__ADS_1


masihlah jauh lebih beruntung


dari orang yang buta secara pikiran


atau orang yang terbutakan oleh pikirannya sendiri


Orang buta mata mampu berjalan di jalan yang terang


tetapi orang buta pikiran justru terbutakan oleh matanya yang tidak buta


Di dalam Kitab Teratai, orang yang buta secara penglihatan mata tiada akan diremehkan. Justru yang buta secara pikiran itulah yang bagaikan sebuah kutukan.


Namun, di antara kapal yang karam dengan orang yang buta secara pikiran itu, terdapat sesuatu yang jauh lebih menyesatkan lagi.


Orang buta masih bisa disembuhkan


Kapal karam masih bisa diperbaiki


Tetapi orang yang tidak lagi buta


Dan kapal yang tidak lagi karam


Masih saja menyesatkan orang dengan kemampuannya


Memang harus dimusnahkan


Mantingan ingat bahwa hal ini sering terjadi sekarang. Di mana seseorang memanfaatkan orang lain demi keuntungannya sendiri. Menyamar bagaikan orang, biksu-biksu, atau ahli nunjum, yang sebenarnyalah hanya ingin menipu orang banyak dengan penampilan mereka.


Maka Mantingan sampai disini pun menyadari, bahwa menilai seseorang hanya berdasarkan penampilannya saja, adalah sebuah kesalahan besar.


Mantingan, pula teringat bahwa dirinya pernah sengsara akibat penampilannya yang sangat buruk. Mengingat itu membuat Mantingan menjadi tertawa kecil.


___


catatan:


Sekiranya inilah crazy up yang dapat penulis berikan kepada para pembaca tercinta. Selamat dinikmati, perlahan-lahan.

__ADS_1


Jangan lupa follow IG @westreversed untuk mendapatkan ilustrasi terbaru!



__ADS_2