
“Jumlah Pemangku Langit telah ditentukan sebelumnya. Dwipantara diberikan jatah dua tempat duduk bagi para pendekarnya untuk menempati Pemangku Langit. Dan hal itulah yang menyebabkan dunia persilatan Dwipantara sekali lagi kembali bergejolak, sebab terjadi persaingan antara pendekar-pendekar papan atas di telaga persilatan, rimba persilatan, dan bahkan dunia persilatan bawah tanah,” jelas Chitra Anggini. “Mereka memperebutkan satu kursi yang tersisa, sebab satu kursi telah pasti ditempati oleh Pahlawan Man dari Tarumanagara.”
***
BARANG tentu pernyataan itu amat-amat sangat mengejutkan bagi Mantingan, seolah tiada hal lain yang lebih mengejutkan daripada pernyataan Chitra Anggini tentang Pemangku Langit yang pula menyertakan namanya sebagai pendekar yang telah dipastikan masuk ke dalamnya!
Sungguh sangat sulit dipercaya!
Melihat keterkejutan Mantingan, Chitra Anggini segera berkata, “Pahlawan Man adalah pendekar muda paling berbakat di Dwipantara. Dia berhasil mengalahkan tiga pilar besar dari Kelompok Pedang Intan, membuat kelompok terbesar di dunia persilatan bawah tanah itu hancur.”
Terjadi kesalahpahaman, dan Mantingan benar-benar tahu itu. Bukan dirinya yang membunuh dua Pilar Intan sewaktu terjadi pertempuran di tengah lautan kala itu. Perempuan Tak Bernama yang membunuh mereka. Dan betapa telah ia ketahui, bahwa Perempuan Tak Bernama jauh lebih berbakat dan hebat ketimbang dirinya. Jika Mantingan diibaratkan sebagai langit, maka Perempuan Tak Bernama adalah langit di atasnya!
“Bagaimanakah bisa seperti itu?” Mantingan menggelengkan kepalanya. “Tentunya di atas langit selalu ada langit lainnya. Lantas mengapakah mesti dibentuk Pemangku Langit jika ternyata ada yang lebih kuat daripada mereka?”
“Sudah kukatakan sedari awal, dikau tidak akan pernah mengerti dunia persilatan.” Chitra Anggini berkata malas sebelum melahap potongan ayam di tangannya, sebab memanglah sedari tadi dirinya menunda makan untuk menjelaskan perkara Pemangku Langit kepada Mantingan.
Sedangkan itu, Mantingan terdiam dalam perenungannya.
Sekiranya Pemangku Langit tidak benar-benar dibutuhkan di dunia persilatan, justru inilah cara para raja menghilangkan pengaruh dunia persilatan dari kerajaan mereka. Tentu saja telah jelas bahwa keberadaan para pendekar lebih sering menebar kekacauan yang pula disertai ketakutan ketimbang keuntungan yang dapat menguntungkan siapa pun, sebab betapa pun jalan persilatan adalah jalan yang selalu basah oleh darah, yang mana pula kesempurnaan diri baru bisa didapatkan dari kekalahan dalam pertarungan.
Dengan hanya diberikannya dua jatah Pemangku Langit untuk Dwipantara, maka sudah pasti akan terjadi persaingan yang teramat sangat sengit dari pendekar-pendekar yang menginginkan wibawa seorang Pemangku Langit. Dan begitulah betapa persaingan di dalam dunia persilatan dapat selalu berarti pertarungan dan pertumpahan darah yang tidak sedikit.
__ADS_1
“Pendekar yang dapat mengalahkan Pemangku Langit akan secara langsung akan mendapatkan wibawa Pemangku Langit.” Chitra Anggini melanjutkan.
Itu berarti, seseorang yang telah ditetapkan menjadi Pemangku Langit masih dapat dilengserkan dari wibawanya jika ada pendekar lain yang berhasil mengalahkannya. Jika begitu, dunia persilatan akan amat sangat bergejolak hingga masa mendatang, sebab tantangan bertarung demi tantangan bertarung akan selalu menghampiri para Pemangku Langit yang tak terkalahkan. Bukankah hal itu sudah pasti akan menggerus dunia persilatan secara perlahan-lahan tetapi pasti?
“Pemangku Langit ini seharusnya ditiadakan, atau dunia persilatan akan semakin tidak ramah di masa mendatang.” Mantingan mengutarakan pendapatnya. “Bukankah dengan begitu, para pendekar berbakat akan selalu binasa di tangan para Pemangku Langit sebab telah berani menantang mereka? Dan bukankah dengan begitu pula, kerjanya para Pemangku Langit hanya membunuh pendekar-pendekar dengan tiada hentinya, dan bukannya menjaga keseimbangan dunia persilatan?”
Chitra Anggini membalas, “Kesempurnaan seorang pendekar adalah saat dirinya mati di tangan pendekar yang lebih kuat darinya. Maka mati di tangan Pemangku Langit dapat dianggap sebagai kesempurnaan yang tiada duanya.”
“Apakah mati adalah segala-galanya bagi kalian?”
“Mati bukanlah segala-galanya, tetapi mati adalah jalan kesempurnaan bagi kami.”
Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. “Ini tidak benar. Sama sekali tidak benar. Pemangku Langit justru akan mengacaukan segala-galanya di dunia persilatan.”
Kali ini Mantingan terdiam, sebab dirinya memang tidak berniat membantah lagi. Hal itu justru akan memancing kecurigaan Kartika yang sudah pasti sedang menyimak perbincangannya dengan Chitra Anggini, karena sangat tidak mungkin bagi orang awam seperti dirinya betul-betul mengetahui dunia persilatan bahkan sampai pada maknanya. Meski mungkin jati dirinya telah terungkap oleh Kartika, tetapi tetap saja Mantingan tidak ingin mengungkapkannya secara langsung.
“Saat ini, Pahlawan Man adalah orang paling dicari di Javadvipa. Bahkan para pendekar memburunya hingga ke pulau-pulau di luar Javadvipa, seperti Suvarnadvipa ini.” Chitra Anggini kembali membuka percakapan, yang jelas-jelas dilakukan demi menyelubungi niatannya untuk memperingati Mantingan.
Mantingan mengerutkan dahinya, kemudian bertanya dengan tenang, “Mengapa begitu?”
“Beberapa pihak merasa tidak setuju jika Pahlawan Man dijadikan Pemangku Langit. Mereka berpendapat bahwa masih banyak pendekar yang lebih berbakat dari Pahlawan Man. Perguruan-perguruan tinggi mengirim murid terbaik mereka untuk menemukan dan menantang dirinya secara terbuka, sedangkan pendekar-pendekar aliran merdeka bergerak sendiri dengan dalih mencari kesempurnaan ilmu dengan menantangnya meski niat mereka sebenarnya juga untuk merebut wibawa Langit.”
__ADS_1
Mantingan kembali menggelengkan kepalanya dengan penuh sesal. Kini disadari betapa dirinya sedang berada dalam masalah serius akibat wibawa Langit yang disematkan kepadanya meski tanpa persetujuan sama sekali. Belum genap tiga hari dirinya kembali bergabung dengan dunia persilatan, tetapi ancaman demi ancaman menerpanya bagaikan hujan deras di tengah badai penuh malapetaka.
“Tetapi Pahlawan Man tidak pernah ditemukan lagi semenjak peristiwa pertempuran di laut utara. Benar-benar tidak ada kabar tentangnya, bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan perguruan tempatnya berlatih pun mulai mencemaskannya karena orang yang mereka kirim untuk menemukannya belum membawa satupun kabar baik.”
Mantingan berdeham pelan dengan senyum canggung di bibirnya. “Mungkin dirinya gugur di pertempuran itu.”
“Banyak yang menaruh dugaan seperti itu. Tetapi sebelumnya, perguruan tempat Pahlawan Man berlatih telah mengumumkan bahwa pemuda itu sedang mengembara di tempat yang benar-benar jauh. Sehingga dugaan bahwa Pahlawan Man gugur dalam pertempuran akan selalu menjadi dugaan yang tiada berkepastian sampai orang itu muncul atau tidak muncul suatu saat nanti.”
Mantingan mengangguk kecil. “Semoga saja namaku yang begitu mirip dengannya ini tidak akan membawa masalah di masa mendatang.”
Setelah menelan daging ayam di mulutnya, Chitra Anggini lantas berujar, “Mengapakah dikau terus berkata ‘masa mendatang’? Tidak sadarkah dikau bahwa saat ini pula Pahlawan Man sedang di bawah bayang-bayang rajawali yang siap menerkamnya kapan saja?”
Seketika itu pula jantung Mantingan berdebur kuat. Ia menahan raut wajahnya tetap dalam keadaan datar tanpa memperlihatkan keterkejutannya sama sekali. Diam-diam, dirinya mengirim bisikan angin kepada Chitra Anggini. “Apakah rombongan ini juga memburuku?”
Chitra Anggini menganggukkan kepalanya meski tampak seolah dirinya hanya sedang menggertak tulang leher.
“Lihatlah Chitra ini! Makanannya sampai tidak tersentuh karena terlalu asik berbincang dengan lelaki!”
Perkataan dengan nada meledek itu disahuti dengan gelak tawa menggelitik dari yang lainnya. Bahkan beberapa perempuan mulai berdiri dan menghampiri Chitra Anggini meski tidak benar-benar Mantingan ketahui alasannya.
“Aih, sejak kapan dikau tertarik pada lelaki?” Salah satu perempuan yang telah benar-benar dekat dengan Chitra Anggini bergerak menarik dagu gadis itu. Dan dalam waktu yang sungguh teramat sangat singkat dan tiada pernah diduga-duga sama sekali, terlaksanalah sesuatu yang sungguh bukan sepantasnya begitu!
__ADS_1
Mantingan membeliakkan matanya dengan tatapan yang teramat sangat tidak percaya, bagai kenyataan bahwa dirinya dicalonkan menjadi Pemangku Langit tidak cukup mengejutkan ketimbang kecupan itu. Sedangkan Chitra Anggini hanya melempar tatapan malas kepadanya.