Sang Musafir

Sang Musafir
Nenek Genih


__ADS_3

PEREMPUAN TUA itu tersenyum hangat dan mengibaskan lengannya, mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang harus dipikirkan. “Nenek di sini hanya sebatang kara, kedatangan kalian ke sini adalah berkah bagiku.”


Bidadari Sungai Utara menanggapi itu dengan tawaan kecil sebelum akhirnya kembali berterimakasih. Si nenek mengatakan pada Mantingan bahwa namanya adalah Genih, jadi Mantingan bisa memanggilnya begitu jika ia mau. Nenek Genih lalu meninggalkan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berdua di ruangan itu, biarlah Bidadari Sungai Utara yang menjelaskan pada Mantingan tentang apa yang terjadi, sekaligus memberi ruang bagi Mantingan untuk makan.


Bidadari Sungai Utara berdeham sekali sebelum berkata pada Mantingan, “Aku sebenarnya tidak perlu menceritakan apa yang terjadi secara merinci. Tetapi biar aku persingkat saja. Jadi, Nenek Genih yang baik hati itu menemukan kita terdampar di pinggir sungai. Kata beliau, dirinya sudah berusaha membangunkanmu, namun dirimu tidak bangun juga. Sampai aku dibangunkan olehnya, kita menggendongmu sampai ke sini.”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum mengangguk paham. Ia berterimakasih pada Bidadari Sungai Utara karena mau repot-repot menggendongnya sampai ke sini.


“Ah, kau ini seperti sedang bersama siapa saja ....” Bidadari Sungai Utara tertawa kecil. “Sekarang, dirimu yang harus menceritakan tentang apa yang terjadi padaku. Aku hanya ingat saat jalan yang kupijak runtuh dan aku jatuh ke dalam jurang. Dan entah mengapa aku dan kau bisa tiba-tiba terdampar di tepi sungai. Bagiku, itu tidak masuk akal.”


Mantingan mengangguk dan membuka mulutnya hendak berbicara, tetapi lebih dulu Bidadari Sungai Utara menahannya.


“Sebentar, sebelum itu kau harus makan.” Gadis tersebut mengangkat kembali mangkuk yang ada di atas kasur, bersama sendok kayu yang siap mengantarkan bubur hangat ke mulut Mantingan.


Akan tetapi Mantingan menggeleng. “Saudari, aku tidak mungkin disuapi olehmu, biar nanti aku makan sendiri saja selepas badan bisa digerakkan.”


Bidadari Sungai Utara menggeleng kuat. “Mantingan, kau sudah tak sadarkan diri selama seminggu, perutmu harus segera diisi begitu kau sadar.”


Mantingan mengerutkan dahinya. Satu minggu ia tak sadarkan diri, pantas saja hampir seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dan pantas pula perutnya terasa hampir tidak punya rasa. Mantingan lapar dan membutuhkan tenaga, tetapi tidak mungkin jika ia harus disuapi Bidadari Sungai Utara. Gadis itu memiliki kekasih yang senantiasa menunggunya di Champa, Mantingan merasa tidak baik jika hubungan dengan Bidadari Sungai Utara lebih dekat lagi.


Namun di lain sisi, Mantingan tetap membutuhkan makanan sebagai pengisi tenaga. Atau tubuhnya bisa bertambah buruk lagi. Saat ini, satu-satunya cara mendapatkan itu adalah dengan disuapi oleh Bidadari Sungai Utara. Mantingan menarik napas dengan canggung.


“Sekarang buka mulutmu.”


Mantingan terdiam. Bidadari Sungai Utara menatapnya tajam sambil menyodorkan ujung sendok. Mantingan kembali menarik napas panjang, kini dibuangnya perlahan. Akhirnya ia membuka mulut, menerima suapan dari Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


“Apakah terlalu panas?”


Mantingan sedikit lemah menggelengkan kepalanya. Walau sebenarnya cukup panas di lidah, tetapi biarlah ia atasi dengan tenaga dalam ketimbang Bidadari Sungai Utara yang meniup untuknya.


Kegiatan itu berlangsung beberapa lama. Biarpun Mantingan sedang disuapi, tetapi arah matanya tidak menghadap langsung pada Bidadari Sungai Utara. Berbeda dengan Bidadari Sungai Utara yang terus menatapnya penuh arti. Mantingan belum pernah makan dengan perasaan secanggung ini sebelumnya.


Setelah makanan habis dan Mantingan diberi air minum, Mantingan kembali membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang terjadi. Tentu Mantingan tidak menceritakan tentang bagaimana ia menangkap Bidadari Sungai Utara dan memeluknya, hanya bagian saat mereka menghadapi arus sungai yang Mantingan ceritakan secara lengkap.


Namun, Bidadari Sungai Utara agaknya tidak bodoh untuk melewatkan suatu bagian terpenting. “Bagaimana kau bisa menangkapku dalam kegelapan?”


Mantingan menjawab cepat, “Dengan bantuan Lontar Cahyaa tentunya."


“Lalu? Itu saja? Apakah Lontar Cahaya bisa membantu orang terbang?"


“Memangnya, apa yang salah jika kau melakukan hal itu? Apa yang salah pula jika kau mengatakan itu?"


Mantingan tidak bisa menjawab itu beberapa lama. Ia memikirkan jawaban yang tepat untuk Bidadari Sungai Utara. Dirinya sendiri merasa bingung mengapa Bidadari Sungai Utara begitu berani mengatakan hal itu padanya, sedangkan kekasihnya di Champa masihlah hidup. Hingga akhirnya, Mantingan memutuskan untuk bicara serius pada perempuan muda itu.


“Saudari Sungai, tentu saja hal itu adalah salah. Aku memelukmu saat kau terjatuh, padahal dirimu sudah memiliki pasangan di Champa. Bahkan jika kau tidak memiliki pasangan sekalipun, tidak seharusnya aku melakukan itu. Saudari Sungai Utara, apakah kau tidak marah aku melakukan hal selancang itu padamu?”


Bidadari Sungai Utara mendekatkan wajah pada Mantingan hingga pemuda itu dapat merasakan napasnya, berkata dengan bisikan lembut, “Mantingan, apakah kau tidak sadar sebelumnya? Aku selalu suka sentuhanmu.”


Mantingan menatapnya balik dengan tajam. “Lalu bagaimana dengan kekasihmu di Champa, Bidadari Sungai Utara?”


“Mantingan, dia sedang tidak ada.”

__ADS_1


“Saudari, perbuatanmu ini salah!”


“Aku tidak peduli ini salah atau tidak, Mantingan. Jika dirimu begitu menghanyutkan daku, apakah yang bisa aku lakukan agar tidak terbuai oleh lembutnya dirimu?”


Sungguh Mantingan ingin bergerak. Namun sayang seribu sayang, ia tidak bisa!


“Saudari, tolong menjauh.” Hanya itu yang dapat Mantingan katakan.


“Sedihnya hatiku mengetahui kau tidak suka keberadaanku, Mantingan.” Bidadari Sungai Utara mundur selangkah dengan raut wajah kecewa. “Maafkan aku jika memaksakan kehendakku padamu. Sungguh maafkanlah. Terkadang aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.” Bidadari Sungai Utara menyunggingkan senyum, senyum yang sedih. “Aku akan keluar, jika ada butuh tinggal panggil saja aku.”


Gadis itu berbalik dan keluar pintu dengan cepat. Mantingan hanya bisa menatapnya pergi menjauh dan menghela napas panjang. Sungguh dirinya jadi tersiksa jika melihat orang lain tersakiti karenanya.


Di saat-saat seperti ini, muncullah suara Rara yang telah lama diharapkannya. “Mantingan, apa kau ingat pesan dari Kiai Guru Kedai?”


Mendengar suara itu, Mantingan langsung tersenyum. Ingin ia diam saja, menikmati suara Rara yang betapapun terdengar indah di dalam pikirannya. Namun, Mantingan harus tetap menjawab jika tidak ingin suara itu menghilang kembali.


“Tentu saja. Aku mengingatkan dengan jelas, seperti aku mengingat dirimu dengan jelas dalam kepalaku.”


Rara tertawa. “Sekarang, katakan apa itu.”


Mantingan tersenyum sebelum menjawab, “Kiai Guru Kedai pernah berkata, ‘Kau akan didekati banyak wanita, tetapi jangan sampai kau mengambil banyak wanita tanpa alasan yang jelas’.”


“Awalnya kau tidak percaya kata-kata itu, tetapi sekarang malah terbukti,” tawa Rara.


“Setidaknya, aku tidak mengambil wanita lain.”

__ADS_1


__ADS_2