
"Ceritakan bagaimana kau dan kawan-kawanmu bisa menemukan gadis itu. Suasana hatiku sedang tidak baik saat ini, jadi aku tidak segan untuk membunuhmu.”
MANTINGAN MENCENGKERAM kerah baju salah satu pria yang berniat melecehkan Bidadari Sungai Utara. Pria itu siuman tak lama setelah Rara pergi meninggalkan Mantingan, dan sepertinya orang itu sedang tidak beruntung karena dirinya menjadi seorang yang siuman di antara kawan-kawannya.
“Jangan bunuh aku ... aku bisa menjelaskannya.” Pria itu menangkupkan dua telapak tangannya di hadapan Mantingan. “Ini semula berawal dari rumah, aku dihampiri kawan-kawanku dan berkata bahwa ada perayaan di Penginapan Bulu Merpati. Aku sudah menolak mereka, tetapi mereka memaksa dan terus memaksa sampai aku—”
“Apa kau mau tahu satu hal?” Mantingan mempererat cengkeramannya dan menyeringai geram. “Satu yang perlu kau tahu, aku tidak peduli soal itu. Jelaskan bagaimana kau bisa menemukan gadis itu di sini!”
“Mantingan! Itu bukan dirimu, tetap tenang!” Suara Rara muncul di dalam kepalanya, memperingati Mantingan yang sangat bernafsu membunuh orang itu. Sebagai jawaban, Mantingan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
“Baiklah-baiklah! Akan kujelaskan, tapi mohon jangan bunuh aku! Aku dan kawan-kawanku sampai di Penginapan Bulu Merpati, saat itu kami dalam keadaan mabuk berat, lalu kami melihat seorang wanita bercadar turun dari lantai dua. Walaupun bercadar, tapi kami tahu tersimpan kecantikan di dalam cadarnya itu. Maka kami menghampirinya dan mengajaknya minum, dia menolak dan kami tidak memaksa lagi. Tapi ternyata ....”
Saat pria itu berhenti bicara, Mantingan menggertaknya, “Tapi apa?!”
“Dia ... dia malah minum sendirian. Kami menghampirinya sekaligus mengusir bocah-bocah ingusan yang berusaha merayunya. Pada waktu itu, gadis itu mabuk dan mengatakan perkataan yang kami tidak mengerti artinya. Namun dia tampak menggoda saat sedang meracau, maka kami terpaksa membawanya keluar dari penginapan.”
Mantingan menggeram kuat. “Lalu mengapa dia bisa sampai di sini?!”
“Kami berniat membawanya ke salah satu rumah kami ... tapi kami bertemu denganmu di sini.”
“KALIAN BELUM BERBUAT MACAM-MACAM PADANYA, BUKAN?!” Mantingan berkata dengan suara menggelegar. Nyali pria di hadapannya itu langsung ciut sampai titik penghabisan.
“Sungguh! Kami belum berbuat apa-apa! Padanya kami belum berbuat apa-apa! Bahkan membuka cadarnya saja, kami belum!”
“Bohong!” Mantingan menjembabkan kepala pria itu ke permukaan tanah. “Tidak mungkin kalian belum membuka cadarnya.”
“Sungguhan! Kawan-kawanku berjanji untuk tidak membuka cadar gadis itu sebelum membawanya masuk ke dalam rumah.”
Mantingan menahan kata kasar yang hampir terucap. Sebagai gantinya, Mantingan mengangkat kepala orang itu tinggi-tinggi sebelum dibenturkan kembali ke permukaan tanah. Pria itu berteriak sesaat dan mengaduh kesakitan.
__ADS_1
“Dia adalah pendekar, seharusnya kalian bukan jadi lawan tandingnya. Kalian menangkapnya dengan mudah, ramuan apa yang telah kalian berikan padanya?!”
“Sungguh! Kami tidak memberi ramuan apa pun. Tapi, aku melihatnya memperagakan gerakan semacam gerakan silat. Aku tidak tahu pasti itu gerakan apa, sungguh!”
“Apa di antara kalian ada yang terluka karena gerakan silat itu?”
“Syukurlah tidak ada.”
Mantingan melakukan hal sama seperti yang tadi ia lakukan. Mengangkat kepala orang itu ke atas, lalu membenturkannya kuat-kuat ke atas tanah. Sekali lagi orang itu berteriak dan mengaduh kesakitan.
“Bisa-bisanya kau bersyukur di depanku.” Mantingan kemudian menghempaskan kerah pria itu dan berjalan pergi meninggalkannya tanpa mengeluarkan suara lagi.
“Aku tidak pernah melihatmu seperti itu sebelum, Mantingan.”
Mantingan berkata dalam benaknya, “Memang tidak pernah.”
“Seharusnya kaukatakan tidak akan pernah lagi.”
“Itu tidak baik, Mantingan. Kamu melakukan kekerasan yang tidak perlu pada orang itu. Besok jangan ulangi lagi, ya?”
Mantingan menghela napas panjang dan mengangguk pelan, walau sebenarnya ia ragu apakah dapat tidak melakukan hal yang sama di hari esok.
***
MANTINGAN KEMBALI ke dalam kamar sewaannya melalui jendela yang masih terbuka. Cepat-cepat ia berkemas. Dua bundelan terpasang di belakangnya, tidak terasa berat. Pedang Kiai Kedai tersoren di punggungnya pula. Tidak lupa meninggalkan sejumlah keping emas di atas kasurnya. Setelah memasang caping, Mantingan siap berangkat.
Namun sebelum benar-benar berangkat dan meninggalkan Penginapan Bulu Merpati, Mantingan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar Bidadari Sungai Utara, melalui jendela yang dapat terbuka dengan mudah setelah dicungkil beberapa kali.
Kiai Guru Kedai tentang mengajarinya tentang cara membobol rumah, namun itu hanya boleh Mantingan lakukan jika bersangkutan dengan tujuan yang baik. Selain dari itu Mantingan dilarang melakukannya.
__ADS_1
Ia memeriksa ruangan itu secara menyeluruh namun cepat, hingga ditemukan pedang kepunyaan Bidadari Sungai Utara yang tertinggal. Mungkin sengaja ditinggal karena pedangnya adalah pemberian Mantingan.
Kali ini Mantingan benar-benar memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Sebab nanti ia akan mengejar Bidadari Sungai Utara, tentu tidak memungkinkan untuk kembali ke penginapan ini hanya untuk mengambil barang yang tertinggal. Maka setelah dipastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal, Mantingan melompat keluar melalui jendela.
***
“Tetap ikuti dia, tapi jangan membantunya jika kamu tidak mau dia melakukan hal yang tidak-tidak.”
PETIR MENYAMBAR. Saat ini hujan sedang deras-derasnya mengguyur. Tetesan air pun menjadi lebih sakit ketika menghantam kulit. Caping Mantingan mengeluarkan suara bunyi hujan saat ratusan titik air menimpanya.
Di pucuk pohon cemara itu Mantingan berdiri seimbang. Tak peduli derasnya angin dan hujan yang menerjang. Bagai burung hantu yang mengintai di dalam kegelapan malam. Dilihatnya ke arah jalan, Bidadari Sungai Utara masih terus melangkahkan kaki dengan tertatih-tatih. Sudah beberapa kali ia terjatuh karena pada malam itu tidak ada pencahayaan sama sekali. Hanya petir yang sekilas datang menuntun gadis itu menyusuri jalanan becek. Sudah beberapa kali bidadari rawa-rawa itu terpeleset dan berdebam jatuh hingga tubuhnya dipenuhi luka.
“Apakah ini bisa disebut sebagai kejahatan?” tanya Mantingan pada Rara yang duduk pada sebatang dahan di bawahnya.
“Mungkin tidak dan mungkin juga iya.”
“Rara, tolong beri aku jawaban yang sedikit lebih tegas lagi. Aku tidak tega melihatnya seperti itu.”
“Kalau mengingat-ingat ucapannya di awal malam tadi, membiarkannya seperti ini seharusnya bukan sebuah kejahatan.” Rara kemudian meneruskan. “Tetapi aku sarankan kamu tidak membantunya. Dia akan sangat marah padamu, lalu dia akan berlari menjauhimu ke sembarang arah. Kita tidak tahu apakah dia hanya menginjak ranting ataukah menginjak udara kosong, terperosok ke dalam jurang.”
“Apa yang kamu katakan itu mengerikan, Rara, tetapi itu benar.” Perlahan Mantingan mengangguk.
“Kau melihati dan menjaganya saja sebenarnya sudah cukup dikatakan membantu. Bidadari Sungai Utara terlalu manja bersamamu, mungkin dengan dia berjalan sendiri kemanjaannya akan berkurang banyak.”
____
Follow IG: @westreversed
Terima kasih untuk divisi @pandhewesi
__ADS_1