Sang Musafir

Sang Musafir
Daku-Dikau


__ADS_3

“Dari mana saja dikau?”


CHITRA Anggini mendesis tajam. Menatap tajam pula. Wajahnya yang tertutupi bayang-bayang tudung itu masih dapat terlihat kemarahannya. Berdiri agak jauh dari gerbang pasar.


“Ada sedikit urusan, maafkan daku.” Mantingan mendekat sambil tersenyum gugup.


“Daku merasa berhak mengetahui urusanmu itu.”


“Daku membeli tanaman untuk makanan Munding, sekaligus menjual tanaman obat yang pernah ditemukannya.” Mantingan menepuk Munding Caraka di sebelahnya, kerbau itu melenguh pelan sambil mengangkat kepalanya dengan raut wajah sombong. Chitra Anggini menatap geli kerbau itu. “Sekarang, Munding sudah memakan semuanya tanpa sisa. Cepat sekali. Andai dikau melihatnya tadi, pastilah dikau akan terkagum-kagum. Seikat rumput berukuran satu pelukan orang dewasa dihabiskannya hanya dalam sekejap mata.”


Kini Munding justru yang dengan tajam menatap Mantingan. Bukan lagi Chitra Anggini. Sedangkan pemuda itu hanya mengangkat bahu, ia tidak berniat menyindir kerbau itu sama sekali. Menurutnya, menelan banyak makanan dalam waktu singkat termasuk ke dalam salah satu kemampuan luar biasa yang dimiliki Munding.


“Lebih baik kita melanjutkan perjalanan,” kata Mantingan sambil menepuk tangannya. “Tidak ada lagi yang ingin dikau beli, bukan?”


Perempuan itu menggeleng. “Daku hanya membeli pakaian, beberapa jenis racun, pisau terbang, cakram, dan pisau lempar bertali dari Negeri Atap Langit.”


Mereka mulai berjalan bersisian, semakin menjauhi pasar.


“Banyak sekali barang persilatan yang dikau beli, Chitra. Padahal sedari awal, dikau terkesan takut jika penyamaranmu sebagai orang awam terbuka.”


“Daku sungguh tidak dapat menahan diri ketika melihat barang-barang itu.” Chitra Anggini berkata enteng. “Lagi pula, tidak banyak uang yang harus kukeluarkan. Hanya DUA RATUS keping emas saja.”


Mantingan hanya menganggukkan kepalanya sambil bergumam kecil. Chitra Anggini berdecak kesal di dalam benak, bukan itu tanggapan yang diinginkannya dari Mantingan. Dirinya telah dengan sengaja mengeraskan suaranya ketika menyebutkan jumlah harga untuk seluruh barang yang dibelinya.


“Memangnya, berapa yang dikau keluarkan untuk membeli makanan Munding?”


“Delapan ratus keping emas.” Mantingan menjawab dengan enteng. Bahkan jauh lebih enteng ketimbang Chitra Anggini tadi. “Tetapi itu tidak seberapa, hasil penjualan tanaman yang ditemukan Munding mencapai 9.800 keping emas. Daku harus membelikannya lebih banyak makanan lagi di masa mendatang.”


Perkataan Mantingan itu membuat Chitra Anggini tersedak ludahnya sendiri. Sama sekali tidak menyangka. Begitu banyak uang yang dikeluarkan Mantingan, tetapi jauh-jauh lebih banyak uang yang didapatkannya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Mantingan terlihat biasa-biasa saja. Hampir tidak ada kegembiraan yang berlebihan di wajahnya. Hanya kehangatan dan kelembutan, seperti biasanya.


“Wahai Munding, dikau harus lebih dekat denganku mulai sekarang. Ah, kurasa engkau sudah tidak bau dan dekil lagi ....” Chitra Anggini mendekati Munding dengan senyum lebar, sedangkan kerbau itu membalas dengan memperlihatkan senyum penuh kemenangan kepada Mantingan.

__ADS_1


Pemuda yang sedang ditatap itu hanya bisa menggelengkan kepala, sambil berkata, “Wanita.”


***


MEREKA kembali terbang di antara mega-mega. Dengan embusan angin yang menerpa kuat-kuat dari depan. Dengan wajah menatap kagum ke arah daratan.


Chitra Anggini tetap duduk di bagian depan, meski perempuan itu sudah tidak lagi takut pada ketinggian. Dia hanya sekadar ingin melihat pemandangan dengan lebih jelas. Tidak peduli dengan Mantingan di belakangnya yang selalu saja melihat leher jenjang dan rambut hitamnya.


“Tadi kulihat dikau melepas kondemu, Mantingan.”


“Daku takut disangka pria jadi-jadian, Chitra.” Mantingan membalas, suaranya jelas terisi tenaga dalam.


“Pakailah sekarang. Tidak ada yang akan menyangka dikau sebagai pria jadi-jadian di atas sini.”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Kembali memasangkan konde kayu itu pada gelungan rambutnya.


“Itu jimat keberuntungan.” Chitra Anggini kembali menambahkan, meski sebenarnyalah dia hanya mengulang perkataannya yang kemarin.


“Dikau tidak pernah menghargainya.”


“Daku hanya akan melepaskan konde ini di saat-saat tertentu saja.” Mantingan berpungkas, berharap perkataannya itu cukup memuaskan Chitra Anggini. Lelah jika harus terus berbicara di tengah deburan angin yang begitu kuat seperti ini. Namun, perempuan itu masih saja mengeluarkan cakapan!


“Daku-dikau, daku-dikau, daku-dikau, teruslah seperti itu! Sudah bosan aku mendengarnya. Gunakanlah kata panggilan yang lebih dekat lagi. ‘Aku’ dan ‘kau’, atau ‘aku’ dan ‘kamu’. Tidak bisakah dikau menganggapku sebagai teman seperjalanan yang sesungguh-sungguhnya?” Saat mengatakan itu, Chitra Anggini memutar tubuh, betul-betul menatap Mantingan.


Mantingan sampai menelan ludah menghadapi tatapan seperti itu. “Baiklah, itu sangat mudah. Daku akan—”


Lihatlah bagaimana Chitra Anggini menatapnya sekarang ini! Bagai setajam pisau belati bertali dari Negeri Atap Langit yang tadi dibelinya! Seolah saja yang dilemparnya bukanlah tatapan mata, melainkan pisau itu! Sekali lagi Mantingan menelan ludah.


“Aku akan berusaha sebisa mungkin, tetapi jangan pernah kautatap aku seperti ini jika aku salah nantinya.” Mantingan menjelaskan pelan-pelan.


Chitra Anggini mengembuskan napas panjang, berbarengan dengan tatapan matanya yang melunak. Perlahan tetapi terdengar jelas, perempuan itu berkata, “Aku hanya ingin kita lebih dekat saja, Mantingan. Selama ini, aku tidak pernah memiliki teman yang seperti dirimu. Kawan-kawanku di Kelompok Penari Daun tidak pernah benar-benar mengawaniku, sejak aku menghilang belasan tahun lalu. Mereka tidak pernah menganggapku sama lagi. Kakak Kartika tidak dapat menjadi kawan dekatku, meski aku tahu bahwa dia selalu ingin seperti itu, tetapi waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi kelompoknya serta menyusun siasat-siasat rumit.”

__ADS_1


Sebenarnya, Mantingan tidak tahu harus menanggapi apa, tetapi akhirnya ia berkata, “Aku sudah menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri, Chitra, meski sungguh aku belum pernah memiliki adik kandung maupun angkat sebelumnya. Jadi, kita mungkin bisa saling mengangkat menjadi saudara setelah turun ke daratan nantinya.”


Chitra Anggini menggeleng cepat, seolah sudah lama mengantisipasi perkataan seperti itu. “Tidak perlu. Itu ritual sampah, ritual tak berguna. Aku tidak mau melakukannya. Buat apa aku sampai harus meneteskan darah untukmu lalu meminumnya bersama darahmu?”


Mantingan hanya tersenyum pahit. Apakah perempuan itu sungguh malas meneteskan darah pada cawan minuman lalu meminumnya bersama-sama sebagai tanda telah mengangkat saudara?


Namun, sungguh Mantingan tidak mengetahui maksud Chitra Anggini yang sebenar-benarnya. Tidak akan ada yang mengetahuinya, sampai tiba saatnya nanti.


Mantingan mengeluh pelan ketika sorot matanya kembali memandang jauh ke depan. Jauh di depan sana, awan hitam bergulung-gulung. Satu-dua kilatan petir menyambar. Mereka harus turun jika tidak ingin celaka.


***


SEPERTI biasa, Chitra Anggini membangun tendanya. Sedangkan Mantingan hanya sekadar berteduh di bawah pohon rindang, bersama Munding Caraka. Pemuda itu menceritakan banyak hal pada kerbaunya, sebelum menjadi terputus akibat Chitra Anggini yang memanggilnya.


“Masuklah ke tendaku, Mantingan!”


____


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 April 2022.


Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]


Favorit 1400\= 5 episode [+3 EPS]


Vote 950\= 2 episode


Vote 1000\= 5 episode


Bonus episode untuk 1370 favorit: 1/2

__ADS_1


Tunggu apalagi? Vote & share sekarang dan dapatkan bonus episodenya!


__ADS_2