Sang Musafir

Sang Musafir
Pelarian dari Penginapan Tanah


__ADS_3

Mantingan menarik gagang pintu dan melirik ke luar, dapat dilihatnya sesosok tubuh penjaga penginapan yang bersimbah darah di kursi jaganya tanpa bergerak sama sekali. Maka Mantingan mendorong Rara keluar lebih dahulu, lalu menunggu Arkawidya menyusul ke luar, baru saat itu ia keluar dan menutup pintu.


Mereka berlari menjauh dari penginapan, mengikuti jalan menuju luar kota, sedangkan orang-orang yang semula menunggu giliran untuk memesan kamar pun berhamburan keluar penginapan.


Tengah malam seperti ini jarang ada yang berani keluar rumahnya, sehingga jarang pula yang memperhatikan mereka bertiga berlarian seperti dikejar setan di jalanan kota.


Hanya penjaga pintu kota yang menanyakan mereka sesaat sebelum mereka keluar.


“Apa yang terjadi? Mengapa kalian berlarian di tengah malam seperti ini?”


Tidak ada yang menjawab, baik Rara maupun Arkawidya. Mereka menyerahkan hak menjawab itu sepenuhnya pada Mantingan.


“Ada sesuatu yang berbahaya?” Prajurit itu bertanya lagi, tapi kini dengan tatapan waspada. Rekannya menyentuh gagang pedang.


“Kami hanya lomba lari, Bapak Prajurit,” jawab Mantingan. “Dan kini kami ingin terus lomba lari hingga hutan sana! Bagi siapa di antara kami yang menang, akan dapat sepuluh keping perunggu untuk minum!”


Prajurit itu menatap mereka curiga. Bagaimana bisa mereka berlomba lari dengan tiga orang ini membawa buntelan besar-besar?


Menyadari tatapan prajurit itu, Mantingan menambahkan.


“Dan barangsiapa yang melepaskan bebannya di jalanan, akan kalah!”


“Kami akan memeriksa isi buntelan kalian, apa ada yang keberatan?”


Sebenarnya itu bukan penawaran. Sebab saat mengatakan itu, tangan si prajurit meraba gagang pedang di pinggangnya. Rela tidak rela Mantingan melepaskan buntelannya, begitu juga dengan Rara dan Arkawidya.


Prajurit itu dan rekannya memeriksa isi buntelan. Beberapa kali mereka melirik Arkawidya saat memeriksa isi buntelan miliknya. Pada akhirnya, buntelan itu dirapikan dan dikembalikan pada ketiganya. Mantingan bernapas lega, mungkin itu tanda mereka telah diizinkan keluar kota.


“Sebelum kami mengizinkan kalian, aku akan bertanya tentangmu.” Si prajurit menunjuk Arkawidya yang seketika membuat jantung perempuan itu berdebar. “Kau bukanlah warga biasa, apa benar kau bekerja di tempat pelacuran?”

__ADS_1


“Ah, iya! Tetapi aku sedang berada dalam pesanan pria ini, jadi engkau tidak bisa memesanku sekarang ini.” Yang Arkawidya tunjuk jelas adalah Mantingan.


“Apa tempat kau bekerja itu mematuhi hukum?”


Arkawidya mengangguk, walau sebenarnya Penginapan Tanah tidaklah mematuhi hukum kepelacuran.


“Keluarlah cepat-cepat.” Prajurit itu mempersilakan dengan bahasa yang sinis. “Dan jangan berkelakuan seperti anak kecil.”


Mantingan tidak peduli dengan ucapan itu, biarlah ia dianggap memiliki sikap seperti anak kecil, asalkan dirinya tidak benar-benar bersikap seperti itu.


Mereka terus berlari keluar kota tanpa penerang apa pun. Bagi orang-orang kota, yang Mantingan dan dua manusia bawaannya itu adalah hal yang sangat gila. Tak banyak yang cukup berani berlarian tanpa pengawalan di tengah hutan menyeramkan itu.


Namun ini adalah jalan yang terpaksa diambil Mantingan, untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan menyelamatkan dua orang perempuan yang sekarang ikut bersamanya itu.


Maka masuklah mereka ke hutan yang dipenuhi pepohonan lebat dan semak belukar. Suara serangga bersahutan di mana-mana. Jalanan sedikit diterangi oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang.


Rara dan Arkawidya berhenti berlari dan itu juga menghentikan langkah lari Mantingan. Mereka berkata pada Mantingan, bahwa tubuhnya butuh istirahat biar sebentar saja. Mantingan setuju, membiarkan keduanya duduk bersandar di sebatang pohon sedang dirinya mengawasi jalanan.


Mantingan semakin mempercayai bahwa pendekar itu adalah sosok-sosok yang nyata, bukan hanya dongeng yang dibuat-buat.


“Arka, Mantingan, apa yang sebenarnya terjadi?” Bertanya Rara.


Arkawidya menggeleng sambil mengatur jalannya napas. “Biar Tuan Mantingan saja yang menjelaskannya.”


Mantingan mengangguk lalu mulai menceritakan mulai dari bagian dirinya menunggang kuda sewaan, bertemu Birawa, dan pada akhirnya sampai di penginapan. Arkawidya mengangguk paham, sedangkan Rara masih tidak terlalu percaya akan keberadaan pendekar-pendekar, baginya itu hanya dongeng semata.


Kini giliran Mantingan yang bertanya pada Rara tentang orang asing yang menyekapnya di kamar Penginapan Tanah. Rara menghela napas sebelum mulai menjawab ringkas.


“Aku tidak mengetahui bagaimana orang itu bisa ada di kamar, serta jelas niatnya adalah buruk kepadaku.”

__ADS_1


“Mengapa dikau tidak melawan? Bukankah dikau sudah menyiapkan pisau?”


“Aku terlambat dan orang itu keburu mengikatku di bangku, padahal bangku itu tidak pernah ada sebelumnya. Lalu saat itu engkau datang, Mantingan.” Ucapannya melembut, “kau datang menyelamatkan hidupku sekali lagi.”


Mantingan berdeham dan mengalihkan pandang. Pikirannya melayang pada maksud Wasupati terhadap Rara. Jika saya Wasupati itu hendak merebut kesucian Rara, maka ia tidak perlu mengikat Rara di bangku dan menyekap mulutnya. Lalu apa hendak orang itu berlaku sedemikian? Bukankah ada maksud selain membunuh dan merengut kesucian Rara? Jika iya, apakah itu?


“Arkawidya, bisa engkau jelaskan tentang siapa Bapak Birawa sebenarnya?”


Arkawidya cepat menggeleng, seolah ia telah menduga Mantingan akan bertanya itu. “Kalau seandainya kuceritakan hal yang menyangkut tentang Birawa sekarang ini, maka saya pastikan bahwa pelarian kita akan tersendat-sendat karena luapan kesedihan dan amarahku. Saya tidak mau menceritakan ini sekarang, tunggulah sampai waktu yang tepat.”


Karena memaksa dalam kondisi saat ini bukanlah tindakan yang bijak, maka Mantingan melupakan soal itu untuk sementara dan mengajukan pertanyaan lain.


“Apakah dikau memiliki rencana ke mana kita akan bertujuan, Arkawidya?”


“Ya, tentu saja, kita akan pergi ke rumah kakekku Birawa. Dan setelah sampai di sana, siapa pun boleh singgah atau tinggal selamanya.”


Mantingan melirik Rara, tetapi gadis itu menunjukkan raut wajah datar yang seolah dirinya tidak tertarik.


“Di mana tempat itu letaknya?”


“Rumahnya dibangun di tepi pantai, dan dia tinggal di sana saat saya masih kanak-kanak.”


“Itu artinya dikau hanya menduga-duga? Bagaimana jika rumah Bapak Birawa sudah tidak ada di sana lagi?”


“Saya yakin, dia tidak suka berpindah-pindah tempat tinggal.”


“Aku harap perkataanmu itu benar, Arkawidya, karena kita akan pergi ke sana secepatnya.”


Arkawidya tersenyum kaku. “Bisakah Tuan tidak bersikap sangat sinis padaku.”

__ADS_1


Rara yang menjawab, “Memang seperti itulah sikapnya, Arka. Sinis sekali. Jadi mulailah terbiasa dengan sikapnya itu.”


Mantingan hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


__ADS_2