
MANTINGAN menggosok hidungnya yang benar-benar terasa gatal. Baru saja dirinya bersin beberapa kali, sungguh suara yang dihasilkan itu teramat sangat menggelegar hingga bergema ratusan kali di dalam Gaung Seribu Tetes Air.
“Huasssuuu!” Mantingan kembali bersin. “Jika seperti ini terus, aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan golek ini.”
Mantingan meletakkan pisau pahatnya dan beranjak berdiri sembari menggosok hidungnya. Memanglah pada saat itu, dirinya sedang membuat sebuah Golek Jiwa yang nantinya akan berbentuk selayaknya patung arca, yang baru diselesaikan bagian lengannya saja.
Mantingan bukannya malas untuk melanjutkan. Sungguh dirinya tidak malas, bahkan boleh dikata justru senang selama membuat Golek Jiwa. Hanya saja memang telah dirasa tubuhnya sedikit membutuhkan istirahat, sebab ia belum tidur selama tiga hari penuh semenjak kembali ke Gaung Seribu Tetes Air. Jika bukan karena dibantu tenaga dalam serta tenaga prana, sudah barang tentu Mantingan akan ambruk tanpa ada seorangpun yang datang menolongnya.
Mantingan awalanya ingin membuat sebuah Golek Jiwa berbentuk tangan untuk menggantikan lengan kanannya. Namun, Mantingan teringat bahwa Golek Jiwa mesti dikendalikan oleh jari-jemari tangan. Sedang tidak mungkin jika dirinya menggerakkan jari-jemari di tangan kanannya hanya untuk menggerakkan tangan kiri. Lagi pula, hal tersebut membutuhkan pemusatan pikiran yang luar biasa. Dan sekalipun itu, Mantingan tidak tahu cara membuat Golek Jiwa berbentuk tangan. Maka dirasalah bahwa mendapatkan tangan tiruan dengan Golek Jiwa adalah sesuatu yang teramat sangat mustahil.
Setelah masuk ke bangunan utama—yang terletak di sebelah utara, Mantingan segera berkelebat menuju kamarnya. Memanglah sekiranya berkelebat dibutuhkan, sebab bangunan tersebut berukuran cukup besar dengan lorong yang berlika-liku, sehingga akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk sampai di kamarnya.
Dengan berkelebat, Mantingan hanya membutuhkan waktu kurang dari dua kejap mata saja untuk tiba di kamarnya.
Pemuda itu lantas merebahkan diri di atas ranjang. Memejamkan mata, berniat untuk tidur sesegera mungkin. Namun ketika kelopak matanya telah tertutup sempurna, hingga yang tampak hanyalah kegelapan dan tiada lain selain kegelapan itu sendiri, sekilas lalu terbesit bayangan Bidadari Sungai Utara yang betapapun membuat kelopak mata Mantingan kembali terbuka.
Ia merasakan matanya telah berlinangan untuk alasan yang sebenarnya telah jelas sejelas-jelasnya tetapi tidak sedikitpun mau untuk diungkapkan.
Betapa kepergian Bidadari Sungai Utara telah menciptakan sebuah kekosongan di dalam benaknya, yang sekuat tenaga berusaha untuk dihiraukan saja perasaan itu, tetapi lambat laun kembali menciptakan kesengsaraan dalam benak yang biar bagaimanapun tidak memiliki penawarnya selain dari kehadiran Bidadari Sungai Utara itu sendiri.
Kemudian Mantingan mulai berpikir, apakah memang wajar apa yang dialaminya ini? Apakah tiap-tiap pendekar di telaga persilatan juga merasakan hal yang sama, yaitu sakit hati dalam menghadapi cinta? Atau hanya dirinya sajakah?
Betapapun Bidadari Sungai Utara merupakan satu-satunya sosok perempuan yang mampu membuat Mantingan terkagum-kagum sekaligus nyaman bersamanya. Sedangkan Rara, tidaklah pantas dikatakan sedemikian, sebab kebersamaannya dengan perempuan itu hanya sebentar saja, bahkan tidak lebih dari satu purnama.
Kemudian Mantingan menyadari, bahwa sakit badannya itu bukanlah disebabkan oleh suatu penyakit dari luar, melainkan oleh penyakit dari dalam, yang tiada lain dan tiada bukan ialah putus cinta.
***
ENTAH sudah lewat berapa hari semenjak Mantingan tertidur. Mungkinkah hanya dua hari? Satu hari? Atau malah hanya kurang dari setengah hari?
Sungguh dalam kondisi ketiadaan matahari di dalam Gaung Seribu Tetes Air, Mantingan tidak dapat menghitung hari dengan begitu tepat.
__ADS_1
Memanglah Mantingan sudah menggores-gores dinding membentuk garis-garis untuk menghitung hari yang telah terlampaui dari pengamatannya terhadap permata-permata bercahaya di dalam Gaung Seribu Tetes Air. Satu garis adalah satu hari. Namun dalam keadaan tertidur, yang akibat ketiadaan matahari itu bisa pulas untuk waktu yang lama, Mantingan sungguh tidak dapat menghitung hari.
Begitulah perhitungan hari di dalam Gaung Seribu Tetes Air menjadi sesuatu yang tidak terlalu penting. Seolah Perempuan Tak Bernama memang sengaja membuat waktu seolah tidak terasa, agar seseorang di dalamnya benar-benar dapat berpusat diri pada pelatihan tanpa diburu-burukan oleh waktu.
Maka begitu terbangun dalam keadaan segar, Mantingan segera berkelebat keluar bangunan dan pergi ke tengah-tengah lapangan berlatih tempat dirinya memahat kayu untuk Golek Jiwa kemarin hari.
***
SEBENARNYALAH bukan hal yang mudah bagi Mantingan untuk memahat kayu yang permukaannya amat sangat keras dengan hanya menggunakan sebelah lengan saja, tetapi dirinya tetap berhasil membuat sepasang lengan dan sepasang kaki untuk Golek Jiwa-nya dalam kurun waktu dua pekan saja.
Memanglah pembuatannya belum sampai pada badan, bahkan jari-jemari untuk tangan dan kaki goleknya pun belum dibuat. Namun, apa yang Mantingan lakukan sebenarnyalah jauh lebih bagus ketimbang yang seharusnya.
Seperti yang pernah disinggung lalu-lalu, Golek Jiwa bukanlah suatu benda yang mudah diciptakan. Diperlukan waktu dan uang yang banyak untuk membuatnya. Setiap Golek Jiwa seukuran arca batu membutuhkan biasanya membutuhkan waktu lima belas purnama untuk pembuatannya. Mantingan telah berhasil memahat lengan dan kaki Golek Jiwa dalam kurun waktu dua pekan sudah sangat bagus.
Masih tersisa banyak kayu ulin, tetapi tidak cukup banyak untuk membuat badan, kepala, dan bagian-bagian tambahan untuk Golek Jiwa-nya. Jika kayu-kayu itu telah habis, Mantingan berencana untuk menebang pohon ulin sendiri tanpa bantuan Gema Samudradvipa, maka dirinya tidak perlu menyamar lagi menjadi orang awam sehingga semuanya dapat dilakukan dengan cepat.
Dan selama dua pekan ini, sudah barang tentu tidak seluruh waktunya dihabiskan untuk memahat kayu, sebab betapa pun terlalu banyak melakukan sesuatu yang sama berulangkali akan menimbulkan kejenuhan. Maka Mantingan berlatih pula ilmu berpedang, dengan membuka kitab baru yang tersedia di Gaung Seribu Tetes Air.
Kitab itu mengandung bahasa-bahasa yang enteng dan mudah dipahami, tetapi hal itu tidak lagi berlaku setelah Mantingan mencobanya langsung sebagai sebuah jurus.
Selayaknya penggalan yang tertulis di dalam kitab itu:
...gerakan pedang ke kiri...
...lalu belakang...
...lalu atas...
...lalu bawah...
...dan ketika digerakkan ke kanan...
__ADS_1
...akan menciptakan sekumpulan angin tajam...
Mantingan berpikir bahwa melakukan apa yang tertulis di dalam kitab itu akan berjalan dengan teramat sangat mudah. Apalah sulitnya menggerakkan pedang ke kiri, ke belakang, ke atas, ke bawah, sehingga manakala digerakkan ke kanan akan menciptakan sekumpulan angin tajam?
Namun ketika Mantingan melakukan gerakan itu, tidaklah lantas terjadi sesuatu. Jangankan angin tajam, seembusan angin pun tiada tercipta. Mantingan telah melakukan hal itu berulang kali, ratusan bahkan mungkin ribuan kali banyaknya, tetapi tetap saja tidak terjadi sesuatupun yang dapat memenuhi harapannya.
Dan pula selayaknya penggalan dalam kitab tersebut:
...pusingkan pedang ke kanan tiga kali...
...pusingkan pedang ke kiri dua kali...
...maka pedang itu akan kembali tajam...
...hingga ujung rambut pun akan terbelah...
...menjadi dua...
Dan akhir kisahnya tetaplah sama, yakni tiada terjadi sesuatupun yang dapat memenuhi harapannya. Pedang Savrinadeya tetap tidak bisa membelah ujung rambut. Dan jangankan untuk membelah ujung rambut menjadi dua bagian, memotong dendeng kering pun pedang itu tidak bisa.
___
catatan:
Saya ingin mulai menjual karya di karyakar**, melihat penulis lain mulai pindah ke sana. Menurut para Pembaca yang Budiman, bagaimanakah? Dan jika bersedia mendukung, kalian ingin karya yang seperti apa?
Sang Musafir akan tetap lanjut di sini hingga selesai.
Jawaban para pembaca sangat dinantikan, terima kasih.
__ADS_1