Sang Musafir

Sang Musafir
Penambahan Pajak


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara sebenarnya masih belum dapat sepenuhnya mengendalikan pikiran. Tetapi Mantingan memaksanya tidur. Maka tidurlah ia seperti tadi. Seolah tidak terjadi apa-apa. Kembali Mantingan menghela napas panjang.


Mantingan berjalan keluar dari kamar. Menutup pintunya pelan-pelan agar gadis itu tidak terbangun. Kasihan, malang sekali nasibnya di tanah asing.


***


“Maafkan diriku yang merepotkanmu tadi malam.” Bidadari Sungai Utara menunduk rendah.


MANTINGAN TERSENYUM samar. Mengangguk pelan. “Bukan masalah sama sekali, Saudari.”


Bidadari Sungai Utara kembali menegakkan tubuhnya. “Jikalau begitu, sampai jumpa.”


Gadis itu melangkah pergi. Sedangkan Mantingan menutup pintu gerbang dan berjalan menuju toko bunganya. Masih banyak yang perlu ia kerjakan sebelum memulai penjualan esok hari. Kualitas seluruh bunga harus diperiksa dan dipastikan kembali, sehingga layak jual.


Ada pula beberapa jenis bunga yang memang harus dikeringkan sebelum bisa dipakai. Lama pengeringannya bisa memakan waktu hingga dua hari. Sedangkan baru sehari yang lalu seluruh bunga dipanen. Maka memang esok adalah hari yang tepat untuk membuka toko.


Sedangkan nama toko, Mantingan sudah menetapkan nama Kana dan Kina sebagai nama toko. Meskipun penggunaan nama orang tersayang menjadi nama toko sudah lazim, tetapi Mantingan tetap menggunakannya. Ia memikirkan makna apa yang tersimpan di dalam nama toko. Maka terpikirkanlah Kana dan Kina. Pemuda itu akan merasa berdosa jika tidak memakai nama Kana dan Kina sebagai nama tokonya.


Namun soal ini, Kana dan Kina masih belum mengetahui. Hanya Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saja. Mantingan juga meminta gadis itu tidak memberitahukan hal ini pada Kana ataupun Kina.

__ADS_1


Mantingan membuka pintu dan masuk ke dalam tokonya. Mulailah ia mengerjakan banyak hal sesuai dengan rencananya. Kali ini, Mantingan berniat melakukannya dengan cepat. Masih ada rencana penyelamatan Desa Lonceng Angin yang perlu ia susun matang-matang.


Saat Mantingan sedang memeriksa laci-laci berisi bubuk obat, terdengar suara pintu diketuk beberapa kali. Ketukan pintu begitu cepat dan kuat. Mantingan yakin itu bukan Bidadari Sungai Utara. Kendati demikian, ketukan seperti itu dapat menandakan kegawatan.


Mantingan bergerak cepat membuka pintu. Terpampanglah wujud pria tua yang beberapa hari lalu datang. Mengakui diri berasal dari jawatan desa. Namun, pria tua itu tidak lagi bertampang hangat. Tidak seperti kemarin. Tampangnya sungguh menyiaratkan kecemasan besar.


Sebelum Mantingan menyapanya, pria tua itu keburu mencecarnya.


“Anak, engkau tidak berniat pergi meninggalkan desa ini bukan? Kau juga tidak berniat melaporkan pembajakan desa ini kepada pemerintahan bukan? Janganlah berbuat seperti itu. Kami tahu bahwa engkau adalah pendekar kuat yang bisa melarikan diri dari mereka, tapi bagaimanakah dengan anak-anak gadis kami yang tinggal di desa? Sudah pasti mereka *****, habis tak bersisa.”


Mantingan mengangkat tangannya, tampak berusaha menenangkan. “Sahaya tidak mau meninggalkan desa dalam waktu dekat. Sahaya juga tidak mau melaporkan ini ke pemerintahan Taruma. Bapak tenang saja, sahaya jelas mengetahui jika tindakan itu akan membahayakan keselamatan penduduk desa.”


“Bapak kemarin tidak bertanya untuk apakah toko yang sahaya bangun ini.” Mantingan tersenyum samar. “Seandainya kemarin Bapak bertanya, mestinya Bapak tidak perlu merisaukan saya yang memanen bunga. Karena sebetul-betulnya, toko ini adalah toko bunga pengobatan. Apakah salah jika sahaya memanen bunga-bunga yang matang untuk kepentingan dagang?”


Pria tua itu seakan-akan telah dipaksa menelan ludahnya sendiri. Malu bukan alang kepalang. Seketika wajahnya merah padam. Jelas tersulut api amarah. Namun demi penyamarannya, ia rela menenggelamkan amarah. Berusaha tersenyum ramah.


“Ah, bodohnya saya ini yang asal-asalan menuduh. Aduh, saya jadi malu sendiri.” Dirinya tertawa hambar. “Akan tetapi, Anak, apalah arti kata malu bagiku yang mesti memperhatikan keselamatan segenap penduduk desa? Daku tidak takut malu jika itu memang diperlukan. Maka dari itu, dengan segala hormat yang terdalam, saya meminta Anak untuk membayar pajak bulan depan hari ini juga.”


Mantingan mengernyitkan dahi. Namun, ia tahu bahwa hal ini sudah tidak mengherankan lagi. “Untuk apakah itu?”

__ADS_1


Si pria tua masih tersenyum terpaksa, kini menggaruk lengannya yang tak gatal. “Mereka meminta uang lebih banyak lagi. Kalau kami tidak menuruti, aduh-aduh, habis seluruh gadis desa disantap mereka.”


Mendengar perkataan si pria tua, Mantingan semakin yakin bahwa orang itu adalah bagian dari perompak yang membajak desa. Gaya bahasanya terkesan bejat. Sedaripada memberi peringatan, si pria tua lebih terkesan memberi ancaman. Namun bagaimanapun, itu hanyalah kesan. Mantingan butuh penyelidikan sebelum bisa menyimpulkan.


“Jika itu memang untuk keselamatan penduduk desa, maka aku tidak keberatan sama sekali membayarnya.” Mantingan hendak pergi ke dalam toko untuk mengambil 10 keping perak, akan tetapi si pria tua menghentikannya.


“Anak, maafkanlah diriku yang tidak tahu malu ini. Akan tetapi, mesti kusampaikan bahwa perampok-perampok itu menuntut bayaran lebih setelah melihat rumahmu yang besar. Mereka meminta bayaran sekeping emas. Atau kalau tidak, daku khawatir anak-anak gadis kami—”


“Tunggulah sebentar, Bapak, saya akan mengambilnya.” Saat berbicara, raut wajah Mantingan sudah tidak enak dipandang. “Dan mungkin kali ini, sahaya akan lebih lama.”


“Tunggu dulu, Anak.” Lagi-lagi si pria tua menahannya. “Mengapakah Anak harus berlama-lama? Apakah Anak berniat melarikan diri?”


Kali ini tampang wajah Mantingan benar-benar tidak mengenakkan. Begitu pula dengan nada bicaranya. “Harus berapa kali sahaya katakan pada Bapak, bahwa saya tidak berniat kabur dari desa? Sahaya ingin membuatkan Bapak sebuah Lontar Sihir, apakah Bapak tahu benda seperti apa itu?”


“Ya, ya. Walau daku hanyalah jawatan desa, tetapi diriku mengetahui rupa dan kegunaan benda itu.”


“Begitulah. Sahaya ingin membuatkan sebuah Lontar Sihir yang bisa Bapak pakai di saat yang sangat mendesak. Apakah Bapak berkenan atau malah tidak?”


“Tentu, tentu.” Si pria tua itu kembali dengan tawanya yang hambar. “Betapa saya tahu bahwa Lontar Sihir adalah barang yang berharga. Dan betapa saya merasa terhormat akan diberikan sebuah Lontar Sihir dari Anak yang baik hati. Tetapi saya tidak berani memakainya di depan mereka. Jika saya memakainya dan melukai mereka, bisa-bisa anak gadis kami ***** semua, tak bersisa.”

__ADS_1


“Ya. Jadi Bapak tunggu di sini. Jangan bergerak ke mana-mana. Saya akan segera kembali dan jangan menahan atau menuduh daku lagi.”


__ADS_2