
JAVADVIPA begitu kehilangan. Sosok Pahlawan Man telah pergi meninggalkan pulau subur yang merupakan salah satu pusat peradaban di Dwipantara itu. Tetapi kepergiannya tidak menyisakan duka maupun sesal barang sedikitpun, melainkan rasa kebanggaan dan rasa terima kasih yang tak terhingga jumlahnya.
Dari kedai ke kedai, mustahil nama Pahlawan Man tidak pernah disebut. Dari perguruan ke perguruan, mustahil nama Pahlawan Man tidak dijadikan teladan. Dari pendekar ke pendekar, mustahil nama Pahlawan Man tidak menantang untuk ditantang.
Mantingan dianggap sebagai pahlawan besar di negeri itu, yang terasa amat mustahil jika namanya tenggelam dari catatan sejarah hingga puluhan ribu tahun lamanya.
Seorang diri menghancurkan lebih dari tiga puluh kapal pemberontak, menyelamatkan putri raja Champa yang akan menyebabkan peperangan jikalau mati di tanah Taruma, dan menyumbang begitu banyak Lontar Sihir Cahaya untuk membantu peperangan dan pula kemajuan peradaban. Sungguh jasanya tiada akan terlupa.
Tetapi meskipun pun rakyat Taruma mencintai sosok Mantingan, tetap saja tidak bisa menepis kebenaran bahwa pemuda itu adalah pendekar pengelana. Kakinya tidak bisa diam di satu tempat untuk waktu yang terlalu lama.
Perguruan Angin Putih telah mengumumkan bahwa telah Mantingan pergi berkelana meninggalkan Javadvipa, tetapi mereka tidak mengumumkan ke mana Mantingan pergi. Itu dilakukan untuk melindunginya dari pendekar-pendekar yang hendak menantangnya bertarung. Betapa pun, Perguruan Angin Putih mengetahui bahwa Mantingan tidak suka melayani tantangan bertarung.
Memanglah masih banyak pemberontak di Javadvipa yang tersisa, tetapi mereka tidak lagi mendapat sokongan apa pun dari Suvarnadvipa, sebab laut telah berada dalam kendali penuh Tarumanagara.
Punawarman pun memerintahkan pasukannya untuk memburu para pemberontak yang tersisa sampai ke akar-akarnya. Jika mereka tidak menyerah atau mengungsi ke tempat yang sangat jauh, hanya perkara waktu sampai mereka benar-benar punah.
Kepala-kepala pimpinan pemberontak terpajang di gerbang menuju Sundapura, sedang kepala-kepala pemberontak lainnya dibagikan ke seluruh wilayah untuk dipajang pula. Hal itu membuat banyak pemberontak memilih untuk menyerahkan diri ketimbang harus mengalami nasib yang sama, setidak-tidaknya mereka hanya akan dipenjara atau dijadikan budak, itu jauh lebih baik ketimbang kematian.
Tanjung Kalapa kembali terbuka bagi para pendatang setelah keadaan menjadi aman dan terkendali. Namun, Sundapura tetap tertutup untuk sementara waktu demi mengamankan anggota kerajaan dari serbuan tak terduga.
***
DARA menganggukkan kepalanya paham. “Kami memiliki jaringan dagang di Suvarnadvipa, Bapak Rama. Sekalipun kerjasama ini batal, diriku tidak mengapa.”
Ketua Rama yang bersila di hadapan gadis itu justru menggelengkan kepalanya. “Kalian berdua pastinya telah meneteskan darah di atas lontar perjanjian, itu berarti kerjasama kalian tidak boleh terputus.”
Dara tersenyum canggung. Dia tidak pernah menganggap berat perjanjian darah seperti itu sebelumnya. Tetapi gadis itu memang berniat untuk mempererat hubungannya dengan Mantingan sekalipun di Suvarnadvipa. Mengetahui bahwa Bidadari Sungai Utara telah pergi ke Champa dan meninggalkan Mantingan, Dara melihat terbukanya sebuah peluang besar.
“Sahaya mengerti, Bapak Rama. Perkara kerjasama ini akan tetap kami lanjutkan.” Menjawablah Dara dengan tulus.
Ketua Rama pun tersenyum lebar. “Setidaknya dengan kerjasama ini, dia memiliki uang untuk makan.”
Dara mengangkat alisnya bingung. “Ah, jika hanya untuk makan, Mantingan pasti akan berkelimpahan. Dengan uang yang dimilikinya sekarang, dia bahkan bisa membeli ratusan kedai besar.”
“Keadaannya sekarang ini sungguh berbeda, Anak.” Ketua Rama menghela napas penuh sesal. “Mantingan kehilangan lengan kanannya dalam pertempuran. Anak Dara pasti mengetahui bahwa bagi para penyoren pedang, kehilangan tangan kanan sama saja dengan hidup sengsara.”
Dara membeliakkan matanya tak percaya. Kedua tangannya tanpa sadar menutupi mulutnya yang ternganga penuh keterkejutan. Betapa gadis itu mengetahui bahwa yang diucapkan oleh Ketua Rama adalah suatu kebenaran. Seorang pendekar yang menggantungkan diri pada ilmu berpedang akan amat sangat menderita ketika harus kehilangan tangan andalan mereka.
Diandaikan bahwa seorang penyoren pedang akan memilih kehilangan kedua kakinya ketimbang tangan kanannya.
__ADS_1
Sekalipun seorang pendekar, terutama yang berpedang, dilatih untuk dapat menggunakan kedua tangan mereka dengan baik, tetapi tetap saja tiada bisa menghilangkan kebiasaan dasar bahwa manusia kebanyakan hanya berpusat pada salah satu tangan andalan mereka saja.
Memang tidak semua pendekar memainkan pedang di tangan kanannya, sebab ada pula yang sejak lahir mengandalkan tangan kiri dalam melakukan keseharian.
“Dia bisa saja bertemu dengan penyamun atau pendekar penasaran,” lanjut Ketua Rama setelah terdiam beberapa saat. “Daku khawatir dirinya tidak mampu menghadapi mereka sehingga harta bendanya dirampas semua. Lebih-lebih lagi, Pedang Kiai Kedai telah patah.”
“Ketua Rama, sahaya tidak menyangka keadaannya menjadi sangat buruk seperti ini.” Tampak raut kegelisahan yang begitu pekatnya tercekat di wajah Dara. “Sahaya akan mengirim pendekar bayaran untuk menemukan dan menjaganya.”
Namun Ketua Rama menolak keras. “Kuharap engkau tidak melakukan hal itu, Anak. Alangkah baiknya jika Mantingan melewati keadaan ini tanpa sokongan yang berlebihan. Lagi pula, bukan hal yang mudah untuk dapat menemukan Mantingan di Svarnabhumi. Sekali orang mengembara di sana, maka akan hilang kabarnya sampai orang itu memutuskan sendiri apakah kembali atau tidak kembali.”
Dara menghela napas perlahan. Selama melakukan perdagangan di Svarnabhumi, dirinya memang mengalami kesulitan untuk mengirim kabar ke Javadvipa. Jumlah penyamun di bagian timur pulau itu telah sampai pada angka yang tidak dapat diperkirakan, merekalah yang menyebabkan pengiriman surat melalui burung merpati maupun manusia menjadi amat sangat terganggu.
“Lalu apakah yang harus sahaya lakukan untuk dapat membantunya, Bapak Rama?” Dara berkata setengah membungkuk. Dirinya menawarkan bantuan, tetapi bersikap seolah sedang meminta bantuan.
“Teruslah engkau berhubungan dengannya melalui kerjasama dagang. Kuyakin dirimu memiliki jaringan dagang di Svarbhumi.” Ketua Rama mengulang permintaan yang sebenarnyalah telah ia katakan di awal.
Dara menganggukkan kepalanya pelan. “Baiklah, Bapak Rama, sahaya mengerti.”
Tepat setelahnya, Dara undur diri dari hadapan ketua Perguruan Angin Putih itu. Memanglah sebelumnya gadis itu yang diundang oleh Rama, bukan Rama sendiri yang menghampirinya.
Baru sejenak setelah Dara pergi, pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita muda berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan sebelum akhirnya berlutut di hadapan Rama.
Rama mengelus janggutnya sambil manggut-manggut. “Chitra Anggini, kuyakin dikau telah mendengar semuanya.”
Wanita muda itu terenyak barang sesaat sebelum kembali menundukkan pandang.
“Tetapi biarlah, daku tidak perlu repot-repot menjelaskan ulang kepadamu. Sekarang daku ingin memberi sebuah tugas dengan bayaran yang mahal ....”
Chitra Anggini memotong, “Maaf, Ketua Rama, tetapi diriku bukan lagi pendekar bayaran.”
Rama bergumam pelan sebelum menimpal dengan penuh penekanan, “Anggaplah bayaran ini sebagai hadiah setelah dikau berhasil menyelesaikan tugas. Apakah masih mau mendengarkan?”
“Tentu saja, Ketua Rama. Sahaya siap mendengarkan,” kata gadis itu dengan nada kepatuhan.
“Dikau masih memiliki hubungan perkumpulan dengan kelompok pendekar bayaran di Svarnabhumi itu, bukan?”
“Benar, tetapi sahaya sudah tidak menerima tugas apa pun dari mereka.”
“Bisakah engkau pergi ke sana dan membunuh seluruh anggotanya?”
__ADS_1
Chitra Anggini membeliakkan matanya. Dengan tatapan mata yang berani, perempuan itu mengangkat muka. “Ketua Rama, dengan seribu maaf yang sahaya permohonkan, sungguh diri sahaya yang begitu berperasaan harus menyatakan tidak sanggup untuk melakukan berbuat sedemikian.”
“Apakah alasanmu?” tanya Rama masih dengan tenang.
“Biar bagaimanapun, mereka adalah sahabat-sahabat lama yang pernah berjuang bersama sahaya. Membunuh mereka sama saja dengan mengkhianati persahabatan!”
“Laporan yang kuterima dari telik sandiku mengatakan bahwa ada beberapa kelompok penyamun yang ditugaskan para pemberontak untuk memburu Mantingan agar dapat membalas dendam kekalahan, termasuk di dalamnya adalah kelompok pendekar bayaran itu, yang sayangnya sekarang ini telah menjadi kelompok penyamun.” Rama mengeluarkan selembar lontar dari dalam saku jubahnya. “Ini adalah bukti surat perintah yang diturunkan kepada mereka.”
Seketika itu pula, kebimbangan menerpa benak Chitra Anggini. Tidak perlu perempuan muda itu membaca isi dari selembar lontar yang diberikan Rama, sebab dirinya telah tahu betul akan seperti apa isinya.
Setelah disebutkan bahwa Mantingan terancam oleh keberadaan kelompok itu, Chitra Anggini merasa seolah tidak memiliki pilihan lain selain menerima tugasnya, mengingat pula bahwa Mantingan telah pernah mengubah jalan kependekarannya, dan kini pemuda itu sedang tidak berdaya setelah kehilangan lengan kanannya.
Lebih-lebih lagi, kelompok pendekar bayaran itu disebutkan oleh Ketua Rama telah menjadi kelompok penyamun; sebuah pernyataan yang semakin mendesak Chitra Anggini untuk menerima tugasnya.
“Tetapi, sahaya hendak pergi ke utara ....”
“Hendaknya dikau mengunjungi Kerajaan Kutai, bukan?”
“Benar, sahaya ingin mencoba peruntungan di sana. Terlalu banyak hal-hal kelam yang sahaya perbuat semasa masih di Javadvipa, hal-hal tersebut itulah yang memupuk menjadi kenangan kelam yang ingin sahaya lupakan sesegeranya.”
“Kenangan-kenangan itu hanya ada di dalam kepalamu, bukan di Javadvipa. Sejauh apa pun engkau kakimu melangkah pergi, kenangan-kenangan itu tidak akan tertinggal di belakangmu.” Ketua Rama tersenyum, yang dalam seketika mengingatkan Chitra Anggini pada sosok Mantingan. “Yang harus dikau lakukan adalah menerima kenangan-kenangan kelam itu sebagai sesuatu yang telah dimaafkan tetapi tidak disesali.”
Rama mengembuskan napas perlahan. Sebenarnyalah perkataan itu bukan berasal darinya, melainkan berasal dari Mantingan; seorang pemuda yang dengan segala kebijaksanaannya mampu menerima kenangan buruk dengan senyum hangat.
“Daku tidak melarangmu untuk berkelana, Chitra Anggini. Setelah segala macam urusanmu di Svarnabhumi telah menemui kata usai, dikau akan pergi ke Kutai dengan hadiah besar dari Perguruan Angin Putih dan Tarumanagara.” Demikianlah Rama melanjutkan perkataannya setelah kembali bersungguh-sungguh. “Akan tetapi, daku tetap tidak akan memaksamu. Dikau bisa menerima atau menolaknya, apa pun keputusanmu itu akan kami hargai.”
“Biarlah daku mengemban tugas ini, Ketua Rama,” kata Chitra Anggini dengan cepat. “Kuyakin Mantingan tidak akan senang dengan ini, tetapi dia membutuhkanku sekarang.”
Ketua Rama mengembuskan napas panjang dan tersenyum samar. Betapa sebenarnya pria tua itu menaruh sedikit banyak rasa iba pada Chitra Anggini yang mesti membunuh sahabat-sahabat lamanya hanya untuk seseorang yang pernah berbudi kepadanya.
Chitra Anggini bangkit dan berjalan pergi. Sorot matanya dipenuhi tekad. Jika Mantingan yang dilibatkan dalam tugas ini, hadiah bukanlah perkara utama.
____
catatan:
Sesuai dengan janji, Sang Musafir update setiap 3 hari sekali sampai bulan Februari berakhir. Tapi sayangnya, ini adalah hari terakhir Sang Musafir update di bulan Februari, sebab dua hari lagi Sang Musafir akan kembali update normal!
Terima kasih untuk yang terus setia menunggu. Terus dukung Sang Musafir dengan one like, one comment, dan tak ketinggalan one share.
__ADS_1