Sang Musafir

Sang Musafir
Pergi Meninggalkan Perkemahan


__ADS_3

Pada malam harinya, mereka makan bersama. Dara menumis sayuran-sayuran itu menjadi hidangan yang nikmat. Api unggun masih tetap menyala, seperti biasanya saat malam hari. Kali ini mereka makan dengan porsi yang cukup besar.


Mereka makan sambil mengobrol ringan.


“Tujuh Bunga Aroma Kematian bisa menghasilkan minyak hingga 500 bumbung kecil. Walau terkesan dapat menghasilkan banyak, tapi satu bumbung minyak Bunga Aroma Kematian berharga mahal, atau bahkan tidak dijual secara bebas.”


Mantingan mengangguk, mengerti. “Minyak di dalam satu bumbung kecil itu bisa berkhasiat sampai sejauh mana?”


“Satu bumbung kecil tidak boleh diminum sekaligus, Mantingan. Tetapi satu teguk cukup untuk menghentikan pendarahan dalam, lebih banyak tegukan lagi bisa meredakan rasa nyeri.”


Sekali lagi Mantingan mengangguk. “Apakah masih bau setelah dijadikan minyak?”


Dara tertawa pelan. “Pandangan orang-orang berbeda, termasuk pandangan engkau Mantingan. Untuk membuktikan hal ini, kau bisa mencicipinya sendiri.”


Mantingan menggeleng. “Kalau belum butuh, lebih baik tidak perlu minum.”


Dara tertawa renyah. “Bicara-bicara soal minum, apakah engkau minum?”


“Tentu saja aku minum. Tetapi, apakah arti sebenarnya dari kata ‘minum’ darimu itu?”


Dara tersenyum lebar. “Minum. Minum tuak.”


Raut wajah Mantingan berubah setelah mendengar itu. “Aku tidak minum tuak. Tidak ada manfaat.”


Dahi Dara mengernyit. “Bukankah itu berguna untuk menghangatkan tubuh? Seperti di malam yang dingin ini ....”

__ADS_1


“Bagiku, minuman yang terbuat dari jahe jauh lebih baik.”


Dara terdiam beberapa saat kemudian mengangguk pelan dan berkata sedih. “Benar kalau pandanganmu itu cukup berbeda dengan pandangan orang kebanyakan. Aku sering sekali minum hanya karena malam terlalu dingin, tanpa berpikiran bahwa minuman jahe bisa menjadi pilihan terbaik. Dan parahnya lagi, aku minum sampai mabuk.”


Saat mengatakan itu, mata Dara sedikit berlinang oleh air mata. Ini adalah satu cara meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia tak cukup baik untuk Mantingan. Atau Mantingan yang tidak cukup buruk untuk dirinya.


Mengetahui hal itu, Mantingan terbatuk pelan. Tidak bisa ia mengelak lagi. Jika saja dirinya memang begitu mempesona—tanpa bermaksud sombong, maka sudah menjadi tanggungjawabnya untuk mengatasi ini. Sudah ia pikirkan sejak dalam masa pelatihan, Kiai Guru Kedai juga menyinggung beberapa kali tentang perasaan wanita, gurunya itu pula memberikan Mantingan sedikit arahan jika dirinya masih belum siap memiliki pasangan tapi sudah didekati wanita.


“Ya. Terkadang manusia tidak tahu mengabdikan diri untuk siapa.”


Dara menatap Mantingan bingung. “Maksudmu?”


“Seseorang bisa saja gagal dalam hidupnya jika ia salah memilih kepada siapa atau kepada apa ia harus mengabdikan diri.” Mantingan melanjutkan. “Jika seseorang mengabdikan diri untuk kesesatan, barang tentu hidupnya penuh dengan kesesatan dan kemuraman. Beda lagi jika dirinya mengabdikan diri untuk Gusti, segala kelimpahan berubah ilmu dan kedamaian akan menyertai dirinya.” Mantingan menoleh kepada Dara dan tersenyum. “Begitu banyak hal yang bisa kita abdi, walau itu menandingi Gusti. Banyak manusia mengabdikan diri pada cinta, rela melakukan apa pun hanya demi cinta, hingga ia lupa kepada siapa seharusnya ia mengabdi.”


Ucapan Mantingan itu bagaikan palu gondam yang membentur dinding batin Dara. Dirinya berada dalam perenungan mendalam.


Dalam suatu pepatah, Mantingan ingat seperti ini: tidak kenal maka tidak sayang; tidak sayang maka tidak cinta; tidak cinta maka tidak sanggup untuk berkorban. Apakah pepatah seperti ini pantas disandingkan sebagai ungkapan pada sesama manusia?


Tidak sedikit orang yang berkata pada pujaan hatinya, “Mati pun aku rela, demi dikau.”


Kecintaan selain kepada-Nya yang berlebihan sangat tidak baik. Begitulah pemuda itu menyadarkan Dara, bahwa cinta bukanlah segalanya, dan putus cinta bukanlah akhir dari segalanya.


***


Esok paginya, Mantingan dan Dara sama-sama telah siap untuk keberangkatan meninggalkan perkemahan. Dini hari tadi Mantingan pergi ke tempat Bunga Aroma Kematian untuk memanen beberapa bunga lainnya. Alhasil, ia mendapatkan lima bunga tambahan untuk dibawa ke kota.

__ADS_1


Kepergian Mantingan itu membuat Dara memarahi dirinya habis-habisan. Padahal tidak terjadi sesuatupun yang berbahaya. Terlebih sepanjang Mantingan meninggalkan perkemahan, Dara terlelap dalam tidurnya.


Kini, sebelum meninggalkan perkemahan, Mantingan telah terlebih dahulu memeriksa perkemahannya. Mulai dari ruang penyimpanan yang dipastikan terkunci rapat, kandang ayam terkunci dan persediaan pakan yang cukup untuk lima hari, serta yang terpenting adalah Bunga Sari Ungu yang dipastikan tidak kekurangan air.


Mantingan juga hanya membawa bundelan kecil berisi 12 Bunga Aroma Kematian, dan pedangnya. Ia memilih untuk berjalan ringan saja.


Siap sudah mereka untuk memberangkatkan diri. Dara juga tampak bersemangat meninggalkan hutan menyeramkan itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, keduanya bergerak pergi dari perkemahan. Mantingan yang memimpin jalan, dengan pengetahuannya yang cukup untuk mengenali jalan keluar di hutan ini.


Suatu saat di perjalanan Dara berkata, “Setelah sampai di kota terdekat, lebih baik kita menyewa kuda untuk memangkas waktu perjalanan.”


Mantingan mengangkat alisnya beberapa saat. “Hendak kemanakah kita?”


Dara tersenyum canggung. “Tidak mungkin jika engkau meninggalkanku di kota terdekat saja, bukan? Akan berbahaya bagiku di situasi seperti ini.”


Jika Dara sudah berkata seperti itu, Mantingan sebenarnya tidak memiliki banyak pilihan. Selain Dara akan merajuk saat ditolak permintaannya, pemuda itu juga merasa Dara memang berbahaya jika pulang ke kotanya sendirian—tanpa penjagaan.


Mantingan tahu seberapa banyak orang yang mengincar Dara. Wanita muda secantik dirinya itu bagaikan mangga ranum matang di tengah orang-orang kelaparan. Mantingan sendiri tidak mengetahui mengapa dirinya tidak merasa tertarik pada Dara, padahal ia mengetahui bahwa Dara adalah gadis yang kecantikannya luar biasa.


Andaikan saja Mantingan ketahui, bahwa Dara lebih heran lagi mengapa Mantingan tidak menunjukkan ketertarikan sedikit saja padanya.


***


Berselang lama kemudian, keduanya berhasil keluar dari jantung rimba dan bertemu jalanan. Mantingan menghela napas panjang. Di sinilah ia membunuh tujuh pendekar yang berkhianat pada Dara itu. Meskipun itu adalah dua hari yang lalu, tetapi kejadiannya begitu membekas dalam ingatan Mantingan. Ia bisa mengulang pertarungan mematikan itu lagi di dalam kepalanya.

__ADS_1


Dara menepuk pelan bahu Mantingan. Meyakinkannya saat pemuda itu menunjukkan raut wajah buruk. Dengan senyum hangat ia berkata, “Jalanan ada di depan, untuk apa kau lihat kiri-kanan?”


Mantingan membalas senyuman itu tak kalah hangatnya. Ia ingat Kiai Guru Kedai pernah mengatakan hal yang sama pedanya. Secara tidak langsung, Dara mengingatkan Mantingan. Tidak ada yang perlu disesalkan. Tujuh pendekar itu merupakan pengkhianat, berniat buruk, dan mencoreng nilai Kebenaran.


__ADS_2