Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar Caping Jerami Berpedang


__ADS_3

MANTINGAN bangkit berdiri dari bangkunya sebelum menjura sekalian membalas, “Perkataan Saudara benar adanya, sahaya adalah penyoren pedang rendahan dari Javadvipa yang mencari peruntungan di Suvarnabhumi yang indah ini.”


“Ah, orang Javadvipa memang suka berbasa-basi.” Pria bercaping itu tertawa singkat sebelum kembali melanjutkan perkataannya, “bahasa yang digunakan oleh paman pemilik kedai ini adalah bahasa daerah Pasemah, yang tentu saja amat sangat berbeda dengan bahasa di Javadvipa, tetapi biarlah daku memberi sedikit bantuan untukmu dengan menerjemahkannya. Paman ini bertanya, dirimu hendak pesan makanan apa?”


Mantingan tersenyum kaku dan tidak langsung menjawab. Rasa-rasanya sungguh tidak mengenakan jika pesanan makanannya sampai diketahui oleh orang asing yang tiada dikenal sebelumnya. Namun, sudah barang tentu bantuan yang ditawarkan oleh penyoren pedang bercaping itu tidak akan Mantingan tolak, sebab seringkali hal tersebut dianggap sebagai penghinaan.


Masih dengan senyum kakunya, Mantingan bertutur, “Maafkanlah diriku yang sungguh merepotkanmu, wahai Saudara. Tetapi yang kuinginkan adalah sayuran rebus segar yang disirami kaldu kambing.”


Penyoren pedang itu mengangkat wajah dengan seringai lebar. “Wah, pilihanmu itu membuat perutku langsung menuntut untuk segera diisi, Kawan. Daku akan memesan makanan yang sama denganmu, tetapi ditambahi dengan daging kambing pula. Apakah dikau tidak doyan daging hewan ataukah memang tidak diperkenankan untuk memakannya, Kawanku?”


“Tidak, diriku hanya merasa jenuh sebab sehari-harinya selalu makan dendeng kering.” Mantingan menjawab dengan sejujur-jujurnya, tentu agar segala perkataannya nanti tidak terkesan sebagai karangan semata. Mantingan memang tidak dapat menjamin bahwa dirinya tidak akan berbohong pada penyoren pedang bercaping itu nanti, sebab dirinya memang tidak sungkan untuk berbohong jika keadaan telah benar-benar mendesak keselamatan jiwanya.


Patut diingat kembali bahwa pada saat ini, Mantingan telah kehilangan lengan kanannya, yang sama saja berarti kehilangan sebagian besar dari kemampuan bertarungnya. Tentu dalam keadaan seperti ini, Mantingan akan menghindari pertarungan sebisa mungkin.


Meski telah jelas aturan tak tertulis dalam rimba persilatan, bahwasanya dalam keadaan apa pun seorang pendekar masih diwajibkan untuk mencari kesempurnaan hidup, yang tidak lain dan tidak bukan ialah mati dalam pertarungan, tetapi tujuan Mantingan menjadi pendekar bukanlah untuk mencari kesempurnaan dengan mati dalam pertarungan, melainkan untuk mencari Kembangmas demi membebaskan Kenanga dari kurungan. Dan jikalau Kembangmas seandainya telah berhasil didapatkan, Mantingan tetap tidak akan mau mati dalam pertarungan yang sia-sia belaka.


Kiai Guru Kedai menambah pula tugasnya sebagai seorang pendekar, yakni untuk selalu membela kebenaran dan menebar kasih sayang.

__ADS_1


Lebih-lebih lagi terhadap sosok bayang-bayang Rara yang ternyata ialah seorang perempuan tanpa nama, telah memberikannya tugas untuk membela kebenaran dengan pedangnya itu. Bukankah nama Savrinadeya berasal dari bahasa Sanskerta yang kurang-lebih artinya adalah selalu membela kebenaran?


Begitulah meskipun merupakan seorang pendekar, Mantingan tidak bertujuan mencari keparipurnaan hidup dalam pertarungan.


“Kesempurnaan hidup adalah sebuah perjalanan teramat sangat panjang yang barang tentu tidak bisa didapatkan dengan cara yang begitu singkatnya seperti mati dalam pertarungan.” Begitulah nasihat gurunya pada malam sebelum masa pelatihan selesai.


“Baiklah jika memang itu kehendakmu, Kawan!” Pria bercaping itu membuyarkan perenungan Mantingan. “Akan kusampaikan pada paman pemilik kedai ini, tetapi itu hanya jika dikau sudi berbagi meja denganku.”


“Ah, tentu saja.” Mantingan menjawab dengan senyum canggung di wajahnya. Tentu Mantingan mengetahui bahwa sekalipun dirinya tidak mempersilakannya, pria bercaping dan berpedang itu akan tetap membantunya dengan menyebutkan segala pesanannya kepada paman pemilik kedai. Namun, bagaimanakah kiranya Mantingan bisa menolak permintaan dari orang yang telah berbuat begitu baik kepadanya itu?


Pria bercaping itu kemudian berujar kepada pemilik kedai dalam bahasa yang hampir secara keseluruhan tidak dapat Mantingan pahami sama sekali. Pemilik kedai manggut-manggut beberapa kali sebelum pergi ke arah dapur yang berada di belakang kedai, sedang pria bercaping itu menarik kursi di meja Mantingan untuk kemudian didudukinya.


Mantingan duduk di kursi sebelum menjawab, “Daku adalah Mantingan, tidak ada sesuatupun yang istimewa dari diriku ini selain penyoren pedang bertangan buntung.”


“Daku mendengar bahwa Sri Maharaja Tarumanagara Punawarman menyembelih ribuan ekor sapi sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilannya menumpas kaum pemberontak, apakah itu benar Kawan?” Pria bercaping itu langsung bertanya. “Kalau tidak salah mendengar, penyembelihan ribuan sapi itu juga sebagai wujud terima kasih pada seorang pahlawan bernama Mantingan. Apakah orang yang dimaksudkan itu adalah dikau, Kawanku?”


Sekali lagi Mantingan menjawab tanpa kebohongan, “Banyak sekali nama Mantingan di Javadvipa, wahai Saudara. Dan perkara penyembelihan ribuan ekor sapi itu, daku baru mendengar kabar ini darimu.”

__ADS_1


“Jadi, dikau sudah lama tinggal di Samudradvipa ini, Kawan?”


Mantingan mengernyitkan dahi. “Samudradvipa?”


Gema menyeringai. “Ya. Samudradvipa ialah penyebutan lain dari Suvarnabhumi atau Suvarnadvipa. Cukup banyak nama yang dimiliki pulau ini, bukan?”


Mantingan tertawa singkat sebelum menjawab pertanyaan itu, “Daku tiba di Samudradvipa sekitar tiga pekan yang lalu, Saudara. Tidak dapat kukatakan terlalu lama, tetapi tidak juga sebentar.”


“Dua pekan itu adalah waktu yang teramat sangat sedikit yang saking sedikitnya tidak pantas disebut sebentar. Singkat sekali, sangat singkat.”


Kembali dahi Mantingan berkerut. Penekanan yang diberikan oleh Gema Samudradvipa tentu saja telah membuatnya merasa sedikit bertanya-tanya. Apakah penanggalan yang ada di Javadvipa dan Suvarnadvipa begitu berbeda, sehingga dua pekan di Suvarnadvipa menjadi begitu singkat, sedang di Javadvipa menjadi cukup lama? Ataukah memang anggapan masyarakat Suvarnadvipa tentang waktu sedikit berbeda dengan masyarakat di Javadvipa?


“Samudradvipa ini begitu luas, Kawan. Dalam waktu dua pekan saja, kuyakin dikau hanya menjelajahi bagian timurnya saja, sedang di bagian baratnya masihlah terdapat peradaban yang boleh dikata jauh lebih maju ketimbang di Pasemah maupun Tulang Bawang.” Gema bertutur dengan sedikit nada syair yang terkandung dalam suaranya. “Itulah Kerajaan Koying, pusat peradaban di Suvarnabhumi. Dikau harus mengunjunginya sewaktu-waktu, Kawanku.”


Mantingan belum pernah mendengar nama Kerajaan Koying, tetapi dirinya pernah mendengar tentang peradaban maju yang terletak di sebelah barat Suvarnadvipa dari gurunya. Peradaban itu menjadi maju sebab menguasai Jalur Sutra, serta pula menjadi perantara dagang terbesar di Suvarnadvipa yang pengaruhnya bahkan terasa sampai ke Javadvipa.


“Di sana, dikau akan menemukan banyak orang dari Jambhudvipa yang warna kulitnya menyerupai orang Javadvipa. Mereka datang untuk berdagang, tetapi sebagian lainnya datang untuk menyebarkan igama Hindu ataupun Brahma.”

__ADS_1


Mantingan menganggukkan kepalanya. Selat yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan Suvarnadvipa memang merupakan Jalur Sutra yang lebih banyak dilewati oleh pedagang-pedagang dari Jambhudvipa. Sedangkan Jalur Sutra yang banyak dilewati oleh pedagang-pedagang dari Negeri Atap Langit telah dikuasai oleh Champa.



__ADS_2