
Pemuda itu memotong tali yang mengikat Bidadari Sungai Utara itu dengan tangan kosong—yang telah dilapisi tenaga dalam hingga menjadi panas serta tajam.
Barulah setelah tali terlepas, dirinya memeluk tubuh Bidadari Sungai Utara untuk dibawanya berenang keluar kapal menggunakan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun.
Mantingan menjebol dinding kapal dengan serangan tapak anginnya yang betapa pun masih cukup berguna di dalam air seperti ini. Secepat mungkin dirinya berenang ke atas, sebab nyatanya kapal itu telah membawanya tenggelam cukup jauh ke dasaran laut.
Bidadari Sungai Utara masih tak sadarkan diri. Mantingan dengan kerisauannya yang teramat dalam mengambil tindakan tepat dengan memberikannya napas buatan yang disertai oleh tenaga prana. Bukankah gadis itu juga pernah melakukan hal yang sama seperti ini? Ini adalah waktu yang tepat bagi Mantingan untuk membalasnya.
***
MANTINGAN terus mengalirkan udara serta tenaga prana kepada Bidadari Sungai Utara hingga mereka melesak keluar dari dalam lautan.
Pemuda itu baru saja mengambil napas lega dan mengira bahwa keadaan telah menjadi tidak mendesak lagi. Merasa seolah tiada satupun hal yang harus dikhawatirkannya. Bidadari Sungai Utara berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, maka kiranya apa lagi yang perlu dirisaukan olehnya?
Akan tetapi memang begitulah kehidupan, selalu berjalan tanpa peduli harapan orang-orang yang menjalaninya, tanpa peduli kebahagiaan apa yang sedang menyertainya. Jika harus terjadi, maka terjadilah; begitulah hidup yang sebenar-benarnya.
Kelegaan Mantingan mestilah pupus manakala dirinya kembali menghadapi serangan mengundang maut!
Lebih dari seratus pendekar berkeahlian tinggi berkelebatan ke arahnya. Menyerangnya dari segala penjuru dengan senjata terhunus menantang kematian.
Mantingan menjadi benar-benar marah kali ini. Dirinya sungguh telah lelah menjalani segala macam pertempuran berdarah. Pertempuran mengharuskannya untuk membantai orang dalam jumlah yang tidak terhitung lagi. Tubuhnya selalu basah, merah oleh darah.
Teringatlah dirinya pada ucapan Kiai Guru Kedai:
“Pakaian pendekar hanya kering barang sejenak saja, sebelum kembali basah terbasuh darah.”
Mantingan mengibaskan sebelah tangannya. Mencipta sebuah pusaran angin besar yang berputar dengan amat sangat kencang. Menderu ganas di tengah lautan.
Mantingan kemudian melepas pelukannya pada Bidadari Sungai Utara, membiarkannya masuk ke dalam pusaran angin yang memang sengaja dibuat sebagai pelindung itu.
__ADS_1
Hanya sekejap mata setelah tubuh Bidadari Sungai Utara tampak tenggelam dalam pusaran angin, ratusan pendekar yang berkelebatan itu telah sampai begitu dekatnya dengan Mantingan. Sekejap mata lagi, mereka akan menikamkan senjata-senjatanya dengan serentak!
Namun sekejap kemudian, tubuh mereka justru terempas ke segala penjuru dalam keadaan yang telah tiada utuh lagi. Berhamburan! Kelak pastinya serpihan-serpihan daging itu menjadi makanan bagi binatang penghuni lautan.
Tubuh Mantingan berputar-putar di udara beberapa kali. Baru saja dirinya melepas puluhan Juru Tapak Angin Darah ke sekitarnya, yang menjadi penyebah mengapa tubuh musuh-musuhnya itu berhamburan!
Namun agaknya, ia masih belum diberi kesempatan untuk bernapas lega. Ratusan pendekar ahli kembali berdatangan. Melenting-lenting dari ombak ke ombak. Dengan senjata yang berkilauan dipantul sinar rembulan.
Mantingan menatap mereka yang datang dengan kebencian yang teramat sangat dalam. Seolah iblis telah meminjam tubuhnya untuk membasmi manusia di muka bumi hingga tuntas. Tatapan yang mampu membuat jantung seorang awam berhenti berdetak!
Hawa gelap seolah saja telah menyelimuti tubuhnya tanpa memberi celah barang secercah pun. Hawa yang sama sekali tidak dapat terlihat, tetapi mampu dirasakan kehadirannya. Seakan saja kembali menegaskan bahwa Mantingan bukanlah orang yang sama sekali ramah untuk didekati.
Hal itu pula disadari oleh para pendekar yang sedang berkelebatan mendekatinya. Hawa pembunuh Mantingan telah sampai pada tingkatan tertentu, yang sama sekali jarang dicapai oleh pendekar semuda dirinya.
Kendati telah mengetahui bahwa mendekati Mantingan sama saja dengan mengantar nyawa, mereka tidak mengurangi apalagi menghentikan gerak lajunya.
Dapat mati di tangan Mantingan yang amat sangat kuat bagaikan dewa dari segala dewa bagi mereka adalah suatu kehormatan yang amat sangat besar.
Sayangnya, hal itu justru berdampak buruk pada Mantingan yang sangat tidak menyukai pembunuhan. Membunuh ribuan orang dalam waktu satu malam bukanlah sesuatu yang tidak mengguncang kejiwaannya.
Lebih-lebih, Mantingan tidak pernah sekalipun berusaha untuk menikmati pembunuhan.
Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya semasa di pelatihan:
“Engkau memiliki darah leluhur yang sangat gemar membunuh orang, sangat berkemungkinan bahwa sifat itu menular kepadamu. Maka jika engkau tidak ingin menjadi manusia buas tiada beradab yang tindak-tanduknya macam iblis, janganlah pernah berusaha untuk menikmati pembunuhan, sekalipun engkau merasa bahwa pembunuhan lebih baik dinikmati.”
Namun untuk saat ini, Mantingan tidak memiliki pilihan lain selain membunuh dan membunuh. Meski keputusannya untuk tidak menikmati pembunuhan itu akan berdampak pada kejiwaannya, tetapi seperti yang telah disebutkan barusan bahwa Mantingan tidak memiliki pilihan lain.
Dibutuhkan pengorbanan, untuk mencapai kemenangan.
__ADS_1
Bukan saja tentang Bidadari Sungai Utara yang benar-benar harus dilindunginya, melainkan pula tentang Tarumanagara yang harus betul-betul berhasil menumpas pemberontak.
Ketika lawan-lawannya yang baru saja datang telah begitu dekat dengannya, Mantingan kembali mengirim belasan Tapak Angin Darah, yang dalam sekali serang itulah dapat membunuh hingga selusin pendekar sekaligus.
Mantingan pula memanfaatkan senjata lawan-lawannya untuk turut dilibatkan dalam serangan tapak angin, sehingga akan lebih banyak pendekar musuh yang tewas dalam satu kali serangan.
Pendekar-pendekar terus berguguran di udara. Melayang jatuh hingga pada akhirnya mengempas lautan sebelum tenggelam. Begitulah yang berkelebat datang kepadanya selalu jatuh tenggelam ke dalam lautan dengan nyawa yang melayang pergi entah ke mana.
Laksana lalat-lalat yang datang mengerumuni bangkai; laron mengerumuni lentera, tetapi sayangnya bahwa bangkai tersebut telah dibubuhi racun yang amat sangat mematikan; dan lentera itu telah dilapisi minyak penjerat. Begitulah yang tampak saat ini.
Hingga setelah beberapa saat berlalu, kerumunan musuh yang seolah tiada habisnya itu berhenti menyerang manakala muncul perintah dari sebuah suara.
“Bubarlah! Dia bukan lawan kalian! Jauh lebih baik jika kalian menghentikan si Gila dari Sagandu yang sedang benar-benar menggila itu!”
Mantingan yang telah dilepas dari kerumunan musuh itu kemudian memendaratkan dirinya di atas air laut. Di belakangnya adalah pusaran angin yang masih pula melindungi Bidadari Sungai Utara. Tentu pusaran angin tersebut bukan saja untuk menahan segala laju pendekar yang berusaha melukai Bidadari Sungai Utara, melainkan pula untuk menutupi tampang gadis yang berbusana sedikit itu dari pandangan mata penasaran para pendekar musuh.
Mantingan masih saja menganggap bahwa kecantikan Bidadari Sungai Utara yang menyebabkan musuh-musuh rela berdatangan untuk merebutnya. Sehingga dalam keadaan yang amat sangat memprihatinkan seperti itu, Bidadari Sungai Utara harus dilindungi dari segala pandangan mata.
Sesosok pria tua ringkih datang dengan cara yang sama seperti kawan-kawannya; melayang turun dari langit sebelum menjejak air laut dengan jarak yang tak jauh dari Mantingan.
Pria tua itu tersenyum dengan lebar. Sedang Mantingan terus menunggu dengan raut wajah yang boleh dikata teramat sangat dingin. Dirinya memilih untuk tidak terburu-buru, sebab betapa pun Bidadari Sungai Utara telah berada dalam jangkauannya.
“Pak tua yang rendah ini datang untuk menjemput Bidadari Sungai Utara. Sekiranya anak berkehendak memberikannya kepada sahaya, sebab betapa wanita itu sangat diperlukan demi terciptanya kedamaian di Yawabhumi.”
Mantingan mengerutkan dahinya. “Omong kosong apa yang kaukatakan? Jelas-jelas niat dikau menculiknya adalah untuk menuntaskan nafsumu! Kedamaian Javadvipa seperti apakah yang dikau bicarakan?”
Pria tua itu mengelus janggut putihnya sambil bergumam. “Hmm, itu artinya Cagak Keenam belum memberitahumu soal kebenaran yang disembunyikan wanita itu dari engkau dan dari semuanya. Sungguh kebenaran yang pahit.”
__ADS_1