Sang Musafir

Sang Musafir
Enam Pelancong


__ADS_3

KETIKA MANTINGAN tiba di lantai bawah, dirinya segera melangkah menuju meja yang telah dipesan sepuluh Pasukan Topeng Putih.


Sepanjang perjalanan matanya beberapa kali melirik pelancong-pelancong di sudut ruangan yang kini tengah menghisap cangklong.


Ia mengerti jelas peringatan bapak pemilik kedai. Orang itu mengucapkan “berhati-hatilah kalian” setelah memaparkan bahwa pintu kamar tidak memiliki kunci khusus. Dan Mantingan pula jelas mengerti, bahwa dirinya tidak akan bisa tidur malam ini.


***


“Selamat malam, Saudara Man.”


SALAH SATU prajurit dari sepuluh prajurit itu menyapa Mantingan.


“Selamat malam, Saudara-Saudara.”


Mantingan kemudian melihati satu persatu kesepuluh prajurit itu. Meskipun mereka merupakan bagian dari Pasukan Topeng Putih, tetapi mereka melepas topeng putih yang menjadi ciri khasnya dalam tugas kali ini.


“Apakah kiranya yang ingin Saudara Man pesan? Biar daku pesankan.”


Mantingan menggeleng. “Biar daku pesan sendiri, Saudara. Terima kasih atas tawaranmu.”


Ketika bapak pemilik kedai datang membawakan pesanan berupa sepuluh cangkir berisi teh campur susu sapi ke meja mereka, barulah Mantingan memesan.


“Diriku ingin teh yang sama, Bapak. Tolong bawakan pula kacang-kacangan rebus jika engkau memiliki.”


Bapak pemilik kedai itu mengangguk sebelum berlalu.


Suasana di meja mereka tetap saja sunyi, meskipun pesanan telah diterima kesepuluh Pasukan Topeng Putih itu.


Mantingan pun terlihat tidak berminat membuka percakapan. Sama seperti sepuluh pendekar di sekitarnya, ia memahami bagaimana keadaannya.

__ADS_1


Mantingan mengetuk papan meja menggunakan jari-jemarinya dengan mata terpejam. Tepat saat itu Mantingan memasang Mendengar Tetesan Embun.


Gelombang suara yang dihasilkan Mantingan dengan mengetuk papan meja itu bergerak cepat menuju pelancong-pelancong di sudut ruangan. Merambati tubuh pelancong-pelancong tanpa disadari sama sekali oleh mereka semuanya. Suara itu kembali dipantulkan untuk kemudian ditangkap telinga Mantingan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.


Segeralah pemuda itu mendapat gambaran dari pelancong-pelancong itu yang tidak dapat dilihat matanya. Segeralah Mantingan mengirim bisikan angin kepada sepuluh Pasukan Topeng Putih di sekitarnya.


“Mereka semua berjumlah enam walau yang terlihat hanya lima. Yang keenam bersembunyi di balik bayang-bayang, menggunakan sihir penyamar. Mereka berenam bersenjatakan cakram, belati pendek, dan jarum terbang.”


Kesepuluh pendekar itu tidak memberi tanggapan apa pun meski telah menerima bisikan angin dari Mantingan. Tindakan yang tepat agar musuh tidak menaruh banyak curiga.


Hidangan yang dipesan Mantingan sampai jua. Teh dan kacang rebus itu mengepulkan uap. Jelas baru diangkat dari perapian.


Mantingan mengeluarkan sekeping emas dengan maksud memberikannya kepada bapak pemilik kedai yang mengantarkan hidangannya.


Awalnya bapak pemilik kedai itu terdiam. Sebab tiada biasa seorang pelanggan membayar di muka. Tetapi kemudian dia menerimanya pula tanpa banyak berkata-kata.


Mantingan menyesap teh bercampur susu sapi itu dengan tatapan yang tak terlepas dari ketajamannya.


Mantingan membuka mulutnya. Berbisik-bisik dengan angin yang akan mengantarkannya kepada sepuluh pendekar itu.


“Jangan membuka sebelum mereka mulai bertindak. Tetapi kuharap kalian tidak keberatan untuk mengayunkan pedang malam ini.”


Mereka melanjutkan minum teh. Mantingan mendorong sepiring penuh kacang rebus ke tengah meja dan menawarkannya kepada mereka. Mereka semuanya memakan kacang itu agar musuh melihat mereka sedang bersantai.


Mantingan terus mengetukkan jari jemarinya ke papan meja. Terlihat sama sekali sedang menikmati pemandangan. Tetapi betapa ketukan jari di papan meja itu sebenarnya merupakan cara Mantingan mengetahui segala lawannya tanpa menoleh ke arah mereka.


Tiba-tiba salah satu dari para pelancong beranjak berdiri dari tempat duduknya. Setelah meluruskan punggung barang sejenak, orang itu melangkahkan kaki ke arah tangga. Langkahnya sepatah-patah. Bagai orang mabuk yang mengantuk, dan seolah pergi ke atas untuk tidur di kamarnya.


Mantingan berdiri pula dari tempat duduknya. Sambil menenteng Pedang Kiai Kedai, dirinya berjalan cepat mendekati orang itu.

__ADS_1


Betapa dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun dan berdasarkan penjelasan dari bapak pemilik kedai yang bertujuan untuk memperingatinya, ia mengetahui bahwa seluruh kamar di lantai dua telah terisi penuh oleh pedagang-pedagang!


Maka ketika orang itu mengetahui bahwa Mantingan mengikutinya, dia tidak lagi menaiki anak tangga satu per satu, melainkan berkelebat cepat!


Mantingan menyusulnya dengan berkelebat pula. Orang yang dikejarnya itu bergerak secepat petir, tetapi Mantingan yang dapat bergerak lebih cepat daripada kecepatan petir itu mudah sekali untuk menyusulnya.


Bahkan orang itu belum sampai di tikungan tangga menuju lantai dua, nyawanya telah tercabut di bilah Pedang Kiai Kedai. Mantingan menyarungkan pedangnya itu sebelum tubuh lawannya ambruk ke lantai kedai.


Mantingan berdiri tegak tak jauh dari tempat lawannya itu terkapar tanpa nyawa. Matanya memandang lurus. Tajam, tetapi seolah tidak memandang apa pun selain tembok kayu.


“Menggunakan kawan untuk menguji kekuatan lawan ....” Mantingan berkata pelan, tetapi ia mengetahui bahwa suaranya dapat didengar kelima pelancong di sudut ruangan itu. “... tindakan yang hanya dapat dilakukan pendekar aliran hitam jaringan bawah.”


Mantingan mendengar suara gelak tawa. Keras mengisi ruangan, panjang seolah tidak akan berhenti.


“Kau telah mengetahui jati diri kami, wahai Pahlawan Man? Kami pula telah mengetahui jati diri kau.”


Mantingan tersenyum samar di bawah bayang-bayang capingnya.


“Tidak perlu berlama-lama lagi, Saudara Man.” Salah seorang pendekar dari Pasukan Topeng Putih berkata sambil menarik pedangnya dari sangkar. “Kita memang harus menumpas mereka.”


“Kalian begitu percaya diri, ya?” Kini seorang pelancong itu yang berkata dengan nada keperempuanan. “Kami bukannya mengorbankan kawan untuk menguji kekuatan lawan, kami hanya membuang sampah saja.”


Mantingan berbalik dan menuruni tangga selangkah demi selangkah sambil berujar, “Mengapakah kita tidak bertarung di luar saja?”


Kembali terdengar suara pelancong yang keperempuanan itu, “Bagaimanakah kami dapat melepas mangsa kami begitu mudahnya, Pahlawan Man?”


“Baiklah.” Mantingan berkata santai ketika alas kakinya tak lagi menginjak anak tangga. “Bapak kedai, berapa biaya untuk mengatasi kerusakan kedai ini? Kami semua akan patungan untuk membayarnya.”


Bapak pemilik kedai yang terlihat sedang menghisap teh di belakang meja pemesanan itu berkata, “Tadi sudah kukatakan untuk tidak membawa masalah ke tempat ini, bukan? Tetapi jika kalian mau bertanggungjawab atas kerusakan kedai ini, maka kemarahanku boleh jadi banyak berkurang.” Bapak itu meletakkan cangkirnya di atas meja sebelum melanjutkan perkataannya. “Untuk memperbaiki kedai yang mengalami kerusakan sedang hingga berat, dibutuhkan setidaknya seratus keping emas.”

__ADS_1


Mantingan mengeluarkan sejumlah uang keping emas, meletakkannya di atas meja kosong di dekatnya. “Dariku dua puluh keping emas. Bagaimana dengan yang lain?”


__ADS_2