
PAGI masih cukup suram. Rintik-rintik hujan masih belum usai, meski tidak sederas dan segila malam tadi. Burung-burung gagak bersembunyi di balik atap-atap bangunan, berharap hujan reda secepat mungkin agar mereka dapat menyantap bangkai segar bekas pertarungan malam tadi.
Namun selintas kemudian, berkobarlah api di pinggir jalanan. Terang dan panasnya bagai menantang derasnya hujan. Seseorang berdiri di hadapan api besar itu dengan sebatang obor di genggaman tangannya. Burung-burung gagak memandang benci orang itu, bersorak riuh dengan suara paraunya.
Orang itu mengetahui bahwa sorak-sorai gagak tersebut ditunjukkan kepadanya, tetapi ia tidak menaruh peduli. Betapa pun, kobaran api di hadapannya itu berasal dari pancaka berisi korban-korban tak bersalah yang gugur dalam pertarungan tadi malam. Dan benarlah bahwa pemuda yang sedang berdiri tegap itu adalah Mantingan.
Terdapat sepuluh mayat yang kini sedang dilahap api. Bukanlah jumlah yang sedikit, terlebih mengingat bahwa mereka sebenarnya sama sekali tidak pantas mati.
“Aku sudah mati, Chitra.” Mantingan menggumamkan kalimat itu meski sungguh Chitra Anggini tidak sedang ada di dekatnya. Kalimat itu hanya sekadar mengingatkan dirinya sendiri bahwa seharusnya ia sudah mati malam itu, tetapi kemudian takdir memberikannya kesempatan untuk dapat hidup sedikit lebih lama lagi.
Betapa pun, Mantingan masih menganggap bahwa dirinya sudah mati, sehingga apa-apa yang akan dilakukannya nanti pastilah jauh lebih gila sedari biasanya!
Mantingan pula tidak lagi merasa takut mati. Toh jika dirinya memang sudah merasa mati, untuk apakah lagi takut terhadap kematian?
Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya di suatu saat, “Bisakah dikau menganggap diri telah mati, Mantingan?”
Mantingan menjawab, “Daku tidak dapat menganggapnya seperti itu, Kiai Guru. Betapa pun adanya, daku tetap merasa masih hidup.”
“Kuharap dikau akan merasakannya suatu saat nanti.”
“Kiai Guru berharap diriku cepat-cepat mati?”
“Tidak. Daku berharap dikau merasa mati dalam keadaan hidup.”
Maka begitulah setelah sekian tahun berlalu, Mantingan baru merasakannya sekarang. Ia merasa mati, tetapi dalam keadaan hidup jua. Kini disadarinya bahwa waktu terlalu berharga untuk dibuang sia-sia, sebab sungguh tiada sesiapa mampu membeli waktu dengan harga setinggi apa pun.
Mantingan melempar obor di tangannya ke arah api pancaka. Seketika itu pula ditelan kobaran api. Di waktu yang hampir bersamaan, Mantingan melesat kembali ke Penginapan Permata Malam.
***
__ADS_1
“Kau ingin pergi sendirian?”
CHITRA Anggini menatapnya bingung dengan dahi berkerut. Baru saja Mantingan meminta izin kepadanya untuk pergi dari Pemukiman Kumuh Kotaraja selama dua hari, dengan hanya membawa Munding Caraka tanpa mengajaknya.
“Benar.” Mantingan menjawab singkat sambil mengikat tali bundelan di punggungnya. Ia telah siap pergi sekarang juga.
“Apa yang salah denganku hingga kamu tidak sudi mengajakku?” Raut wajah Chitra Anggini mulai menampakkan kekecewaan. Dirinya merasa bahwa telah salah bertindak sewaktu terjadi pertarungan malam kemarin. Mungkin dengan membantu Mantingan, itu justru menghinanya.
“Bukan tidak sudi, tetapi aku memang benar-benar tidak dapat mengajakmu kali ini.” Mantingan berkata dengan selembut mungkin.
“Memangnya apa yang hendak kaulakukan di luar sana?” Chitra Anggini kembali bertanya.
“Aku tidak dapat memberitahukannya kepadamu.” Mantingan menggeleng. Jika ia menjelaskan rencananya pada Chitra Anggini, maka berkemungkinan besar perempuan itu akan mati-matian melarangnya pergi.
“Perhelatan Cinta akan dimulai dua hari lagi. Kita akan tetap mengikutinya, bukan?”
Chitra Anggini mendesah pelan. Betapa pun adanya, gadis itu mengetahui bahwa Mantingan tidak dapat dihentikan lagi kali ini. Meskipun perkataan yang dikeluarkan Mantingan sungguh lemah lembut, tetapi sepasang matanya memancarkan binar ketegasan. Jelas saja dirinya tidak ingin dihentikan kali ini!
“Berhati-hatilah,” kata Chitra Anggini pada akhirnya. “Meskipun kotaraja yang teramat besar ini tidak akan dapat mengalahkan seorang Pemangku Langit seperti dirimu, tetapi tetap berhati-hatilah. Begitu banyak tipu daya, begitu banyak niat jahat. Jangan mudah percaya kepada siapa pun.”
Mantingan menganggukkan kepalanya sambil melepas salah satu kantung pundi-pundi di sabuk pinggangnya. “Ada seratusan keping emas di dalamnya. Gunakanlah dengan bijak selama aku pergi.”
Itu adalah seluruh keping emas yang Mantingan miliki. Ia merasa tidak membutuhkannya dalam waktu dekat, sebab apa pun yang akan dibelinya nanti pasti akan bernilai lebih dari seribu keping emas. Tentu saja jumlah itu dapat diganti dengan sebongkah Batu.
Chitra Anggini tidak sungkan menerimanya. Bukankah dengan begitu dirinya telah membantu Mantingan menunaikan kewajibannya sebagai kawan seperjalanan, yakni membantu setelah dibantu?
“Bolehkah aku membeli tuak murahan dengan ini?” Chitra Anggini tersenyum jahil.
“Jika kau memang bosan hidup, maka lakukan saja.” Mantingan berkata sambil menjentik hidung Chitra Anggini, sama seperti ketika mereka hendak memasuki kotaraja. Namun, kali ini Chitra Anggini sama sekali tidak marah. “Jaga dirimu baik-baik di sini,” tambahnya sebelum berjalan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
***
DI mata Mantingan saat ini, Kotaraja Koying tidak lagi terlihat megah. Tidak lagi terlihat ramah. Semua itu pupus setelah dirinya melihat keterpurukan Pemukiman Kumuh Kotaraja yang benar-benar bersenjangan dengan keadaan di kotaraja yang serba mewah!
Duduk di atas punggung Munding, Mantingan sama sekali tampak tidak peduli dengan siapa pun atau apa pun. Capingnya yang lebar dengan tambahan Lontar Sihir Bayangan mampu menyamarkan rupa wajahnya dengan baik.
Mereka tiba di sebuah gedung yang teramat sangat besar serta tinggi. Di halaman gedung itu ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang sambil membawa lempir-lempir lontar tebal. Betapakah mereka tidak membawa lempir-lempir lontar jikalau gedung besar nan tinggi itu adalah perpustakaan sekaligus toko kitab terbesar di kotaraja?
Mantingan mendapati keterangan tentang perpustakaan ini setelah bertemu dengan Dara tadi pagi tadi di Penginapan Barisan Bintang, meski sebenarnyalah yang mengatakan itu adalah Rashid.
“Ada lebih dari satu juta kitab di tempat itu. Banyak orang-orang terpelajar yang berkunjung ke sana. Kau juga akan menemukan beberapa cendekia yang sedang membaca kitab di sudut-sudut ruangan, atau yang sedang memaparkan pembelajaran di tengah-tengah aula,” kata Rashid pada saat itu. “Tidak sedikit pula perpustakaan itu menyimpan ilmu-ilmu persilatan tingkat tinggi yang teramat sangat sulit dipelajari. Untuk mendapatkannya pun, kau memerlukan uang yang sama sekali tidak sedikit. Kuharap, ilmu yang kaucari ada di sana. Semoga beruntung, Kawan.”
Mantingan membawa Munding mendekati halaman perpustakaan sampai seorang penjaga bergegas menghalanginya.
“Hewan ternak tidak boleh masuk!” Penjaga itu membentak kasar dengan tombak teracung. “Pergilah kalian berdua! Kembalilah membajak sawah!”
Mendapat perlakuan seperti itu, Mantingan hanya mengangkat alisnya. Memanglah tidak salah bila penjaga itu menganggapnya sebagai petani, tetapi tentulah salah bila sampai mengusirnya. Siapa pun jua, bahkan Astacanadala sekalipun, berhak mengunjungi Perpustakaan Kotaraja.
Mantingan menggeleng pelan sebelum menggerakkan kakinya pelan. Itu sudah cukup menjadi tanda bagi Munding untuk terus maju.
“Berhenti atau mati!”
Mantingan maupun Munding tidak menaruh hirau. Sama-sama tidak gentar. Namun, nyatanyalah penjaga itu tidak merasa gentar pula. Dengan segenap kekuatan serta kemarahan yang telah memuncak, dia menusukkan tombaknya langsung ke arah perut Munding Caraka!
___
catatan:
Episode bulan ini: 11/40
__ADS_1