
TIDAK lama kemudian, seorang pelayan datang membawa hidangan hangat beserta pakaian ganti. Tentulah semua itu yang memang Mantingan butuhkan saat ini. Terhitung hari dirinya belum menyuap makanan, meskipun tidak lapar akibat tenaga dalam tetapi ia tetap merindukan rasa makanan.
Ibu pemilik penginapan seperti telah mengenali pemuda itu dengan amat baik. Semestinya setiap pelayan yang bekerja di penginapan ini memakai pakaian sedikit, tetapi pelayan yang datang kepadanya justru mengenakan pakaian lengkap tanpa kurang satupun.
“Jika ada hal-hal lain yang Tuan butuhkan, tolong panggillah diri sahaya. Apa pun yang Tuan perintahkan, sahaya siap menuruti.” Pelayan perempuan itu menunduk dalam-dalam.
Tidak menuai balasan. Mantingan terdiam beberapa saat hingga pelayan itu hampir saja meninggalkan kamar tersebut, tetapi tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara, “Bawalah satu cangkir teh terbaik yang kalian miliki. Daku akan membayarnya dengan harga berapa pun.”
Setelah mengangguk, pelayan itu beranjak dari kamar tersebut untuk memenuhi permintaan Mantingan.
Bukanlah tanpa sebab ia meminta teh meskipun ibu pemilik kedai yang cantik jelita itu telah memberikannya makanan berkuah hangat yang lebih dari cukup untuk membuat tubuhnya tidak kedinginan. Bahkan sebenarnya ia tidak perlu makanan hangat, sebab dengan tenaga prana dapatlah membuat ia tubuhnya tetap hangat sebagaimana rupa. Diinginkannya minuman itu sekadar untuk memenuhi permintaan Kiai Guru Kedai yang masih belum terwujud hingga sekarang.
Gurunya itu pernah berkata:
“Hikmah dunia persilatan terdapat di dalam secangkir teh. Daku tidak akan pernah memberitahukannya padamu, carilah sendiri.”
Bukan hanya Mantingan saja yang dimintai mencari makna dunia persilatan dari secangkir teh, Tapa Balian pun mendapatkan permintaan yang sama rupa, tetapi hingga akhir hayat pun agaknya orang tua penempa besi itu belum berhasil menemukannya. Mantingan tidak mau mengalami nasib yang sama sehingga boleh saja Kiai Guru Kedai menjadi kecewa di alam sana.
Tak lama kemudian, pelayan perempuan itu kembali mendatangi kamarnya. Tetapi dia bukan membawa secangkir teh yang telah matang dan siap minum, melainkan seluruh bahan serta alat yang biasanya digunakan untuk membuat teh!
Mengambil sikap duduk dengan kedua kaki menekuk ke belakang, pelayan itu kemudian meletakkan nampan berisi peralatan-peralatan itu di atas lantai kamar.
Mantingan segera beranjak turun dari bangkunya sebelum duduk bersila di hadapan perempuan itu sebab ia tahu betul teh permintaannya akan dibuat di kamar ini dan saat ini pula.
__ADS_1
“Tuan tidak perlu menghinakan diri dengan duduk sejajar bersama sahaya.” Tubuh pelayan itu bergemetaran saat dia mengatakan itu.
Tentulah perlakuan yang didapatkannya jauh berbeda dengan apa yang didapatkannya dari Mantingan. Kebanyakan dari ‘pelanggan’ tidak menganggapnya sebagai manusia, bahkan kiranya lebih rendah dari binatang peliharaan.
Bukan jarang para pelayan diminta mengesot oleh pelanggan mereka ketika memasuki kamar. Itu pun tak menjadi jaminan bahwa mereka tidak akan mendapatkan perlakuan yang kasar. Jadi, Mantingan yang tidak mempermasalahkan dirinya masuk ke dalam kamar dengan kaki tetap menapak teguh pada lantai adalah sebuah keberuntungan yang amat langka.
Namun, setelah dengan sengaja ia turun dan duduk bersama pelayan perempuan itu di lantai, dapatkah hal itu masih disebut sebagai keberuntungan? Tidaklah dapat kiranya pelayan itu menahan prasangka buruknya terhadap Mantingan. Di dalam penginapan tempat hiburan malam seperti ini, hampir tiada satupun yang dapat dipercayai.
“Lanjutkan saja.” Tanpa terduga, Mantingan justru mempersilakan.
Maka begitulah kemudian si pelayan melanjutkan kerjanya meski tangan bergemetar sebab rasa gugup yang alangkah besar.
Katanya kemudian, “Penginapan Seribu Cangkir memiliki racikan teh paling terkenal di seluruh penjuru kotaraja, untuk itulah tempat ini hampir tidak pernah tidur meskipun sebenarnya merupakan penginapan. Racikan teh yang biasa dapat dikerjakan oleh pelayan-pelayan lain di penginapan kami, tetapi untuk teh istimewa hanya ada beberapa saja yang mampu meraciknya. Sahaya adalah salah satu pelayan yang sekiranya mampu memuaskan Tuan, diri sahaya yang rendahan ini tidak pantas memiliki nama Puspa bila Tuan belum merasa puas.”
Pelayan perempuan yang memiliki nama Puspa itu mulai memperkenalkan segala alat sekaligus bahan yang ada di atas nampannya.
Terdapat dua teko besar. Satu teko berisi air panas, sedangkan satu teko lainnya kosong tanpa isi. Teko kosong itulah yang kemudian akan digunakan untuk menyeduh teh.
Kemudian, terdapat pula tembikar yang Puspa katakan berasal dari Negeri Atap Langit. Tembikar itu memiliki corak ukiran seekor angsa terbang dia atas dedaunan teratai, yang pada guratannya itulah dilapisi bubuk emas mengesankan.
Sedangkan wadah untuk menampung daun teh kering adalah sebuah piring kecil yang terbuat dari batuan giok. Pula Puspa berkata benda itu berasal dari Negeri Atap Langit.
Nampan yang dibawanya pun ternyata bukanlah nampan biasa. Benda itu dibuat lebih tinggi dengan jaring-jaring buluh di bagian atasnya, sehingga bila terdapat air yang tumpah langsunglah tertampung di dalamnya, sedang jaring-jaring itu menjadi penahan bagi benda-benda yang ada di atasnya. Mirip seperti penjaring.
__ADS_1
“Cara meracik teh ini juga berasal dari Negeri Atap Langit, Tuan, sebab memang pada dasarnya minuman teh berasal dari negeri itu ribuan tahun silam, sebelum kemudian memasuki Dwipantara melalui perdagangan.” Puspa kembali menjelaskan.
Dengan tangkas, perempuan itu membuka bungkusan pada lempengan daun teh, lantas memotongnya sedikit bagian sebelum diletakkan pada wadah piring giok. Setelah itu, dia menuangkan air panas pada teko tanpa isi, hanya untuk dibuangnya kembali.
“Segala alat yang akan digunakan memang harus dibersihkan terlebih dahulu dengan air panas,” kata Puspa sambil terus menuangkan air panas pada tembikar, seolah mengerti tatapan keheranan dari Mantingan.
Setelah demikian, barulah perempuan itu menuangkan dedaunan teh dari piring giok ke dalam teko kosong itu, sebelum lantas diisinya kembali menggunakan air panas.
Mantingan awalnya berpikir bahwa tata cara pembuatannya akan berakhir sampai di sana, tetapi dugaannya salah besar. Teh di dalam teko itu kemudian dituangkan kembali ke atas nampan, yang sama saja dengan membuangnya!
“Rasa teh pada seduhan pertama bukanlah rasa yang terbaik, Tuan,” kata Puspa sambil tersenyum.
“Mengapa demikian?” tanya Mantingan, berharap dapat menemukan makna dunia persilatan dari tindakan itu.
“Karena terdapat banyak kotoran yang terangkat dari daun teh ketika bersentuhan dengan air mendidih, Tuan.” Pelayan perempuan itu menjawab.
Mantingan kembali terdiam. Dapatkah kiranya ia menemukan makna dari terangkatnya kotoran setelah tersentuh air mendidih itu? Dirinya tidak dapat menemukan kesimpulan, sebab memang tidak ingin mengambil kemungkinan akan kesimpulan dengan begitu mudahnya. Makna yang dimaksud oleh Kiai Guru Kedai pastilah bukan sembarang makna yang dapat ditemukan dengan sembarang pikiran pula.
Puspa menuangkan air panas ke dalam teko berisi daun teh yang telah bersih itu sekali lagi. Lantas tembikar diisi penuh dengan air teh, tetapi kemudian dibuangnya kembali teh itu ke dalam nampan.
“Ini gunanya untuk menjaga rasa teh tetap pada sejatinya, Tuan,” kata Puspa. “Tidak akan terasa seperti meminum tembikar.”
Melihat itu, Mantingan kembali menggelengkan kepalanya. Kiai Guru Kedai tidak pernah membuang-buang minuman tehnya begitu saja. Caranya menyeduh teh amat sangat berbeda dengan yang Puspa lakukan. Jadi, barang tentu pembermaknaan dunia persilatan dalam secangkir teh yang dimaksudkan oleh Kiai Guru Kedai tidak akan ditemukan pada cara pembuatan yang dilakukan Puspa.
__ADS_1
Pelayan perempuan itu kembali menuangkan air teh ke dalam tembikar hingga penuh, tetapi kali ini tidak lagi dibuangnya ke dalam nampan, melainkan dengan begitu hikmatnya diberikan kepada Mantingan bersama tatakan kayu kecil yang mendasari tembikar tersebut.
“Mohon sudi mencicipi teh buatan Puspa ini meski untuk sedikit saja,” kata perempuan itu dengan wajah tertunduk dalam-dalam.