Sang Musafir

Sang Musafir
Tanaman-Tanaman Herbal


__ADS_3

TENTU SAJA pertemuannya dengan Nyai Dara sama sekali tidak diduga Mantingan. Jika saja ia menyadari kehadiran Dara lebih awal, maka barang tentu Mantingan telah mengurungkan niatnya untuk mengikuti lelang.


Sebab biar bagaimanapun, perjalanan rombongan permaisuri masih sangat dirahasiakan. Belum lagi, Bidadari Sungai Utara masih menjadi buronan paling dicari di Tarumanagara, bahkan Javadvipa. Dengan terungkapnya jati diri Mantingan, maka nyawa permaisuri beserta nyawa Bidadari Sungai Utara dapat saja terancam.


Mantingan merasa percuma menyesali keputusannya untuk mengikuti lelang. Tetapi saat ini, penyesalan tidak dibutuhkan. Yang ia harus lakukan adalah memperbaiki keadaan sebisa mungkin.


Maka berdirilah Mantingan dari kursinya lantas menjura ke arah Dara yang berdiri di tengah panggung lelang itu. “Dengan disanjung oleh Nyai Dara, sahaya merasa penuh kehormatan. Perubahan Nyai bukanlah disebabkan oleh sahaya, melainkan oleh Nyai sendiri. Dan sahaya merasa sangat senang dapat bertemu kembali dengan Nyai, saat ini sahaya bersama murid sahaya sedang berjalan ke arah timur untuk sekadar mengembara. Kami berdua tiada sengaja mendengar kabar tentang lelang ini ketika sedang singgah di kota.”


Mantingan sengaja melantangkan suaranya, memastikan bahwa seluruh tamu lelang dapat mendengarnya. Mantingan lalu menyunggingkan senyum penuh arti pada Dara.


Gadis itu segera saja mengerti harus berbuat apa sesaat setelah ia melihat senyuman itu, tetapi dirinya masih pula belum mengerti tentang apa yang terjadi sebenarnya pada diri Mantingan.


Dara balas menjura. “Sahaya ucapkan terima kasih dan selamat datang, Saudara. Silakan untuk duduk di tempat Saudara sebab lelang akan segera dimulai.”


Mantingan mengangguk pelan sebelum kembali duduk. Kana melirik Mantingan dengan raut wajah tegang, dirinya mengetahui dengan jelas tentang bahaya apa yang sedang membayang-bayangi mereka. Menuruti apa yang Mantingan katakan tadi, Kana memilih untuk tetap duduk dan diam.


Sedang Mantingan mengembuskan napas lega. Walau ia tidak dapat menjamin apakah dengan berkata seperti itu dengan suara lantang supaya semua tamu dapat mendengarnya tanpa terkecuali, ia bisa terlepas dari bahaya yang mengintainya dan rombongan.


Kebohongan kecil bukanlah masalah jika itu terpaksa dilakukan untuk melindungi sesuatu yang lebih besar. Ia telah berjanji untuk melindungi Bidadari Sungai Utara. Berjanji pada gadis itu dan pula pada dirinya sendiri, ia tidak akan membiarkan gadis itu mati di Javadvipa.

__ADS_1


“Pada lelang ini, Dara akan lebih banyak melelang tumbuhan pengobatan yang kami dapatkan dari tangan pemburu-pemburu ahli. Pastinya, yang akan Dara lelang bukanlah tanaman berkualitas rendah.” Dara meneruskan lelang seolah sebelumnya tidak pernah terjadi pertemuannya dengan Mantingan. “Memasuki tumbuhan yang pertama, yaitu tumbuhan Pembuyar Racun Selerang . Dari seluruh bagian tanaman Pembuyar Racun Selerang , hampir semua bagian kecuali akar Pembuyar Racun Selerang dapat digunakan sebagai obat herbal.  Berikut ini akan Dara paparkan mengenai manfaat tanaman Pembuyar Racun Selerang sebagai obat herbal untuk menumpas berbagai macam penyakit. 


“Pembuyar Racun Selerang dipercaya mampu mengobati batuk yang disebabkan oleh racun buatan atau semacamnya, dan pula memang sudah terbukti kebenarannya. Untuk mendapatkan manfaatnya, cukuplah menggiling satu genggam daun Pembuyar Racun Selerang segar. Kami memiliki tanaman Pembuyar Racun Selerang yang cukup menarik, tanaman ini telah dikeringkan dan disimpan selama lebih dari sepuluh tahun. Beberapa orang telah membuktikannya sendiri, bahwa hanya dengan meminum sedikit saja air perasan yang berasal dari tanaman kami ini, maka bukan hanya batuk yang menghilang, melainkan pula racun yang mengotori tenggorokan.


“Selain itu, Pembuyar Racun Selerang dapat pula membersihkan racun di dalam kulit. Sebagai pendekar yang hidup di rimba persilatan, pastilah kita mengetahui bahwa senjata lawan yang paling berbahaya adalah racun. Hanya dengan menelan selembar daun Pembuyar Racun Selerang kami, maka racun tingkat rendah hingga tingkat menengah dapat dimusnahkan. Tetapi ingat, sebelum racun menyebar masuk ke dalam kulit, Pembuyar Racun Selerang ini harus segera ditelan.


“Kami melelang 20 daun Pembuyar Racun Selerang yang tidak dapat dibeli secara terpisah, Dara membuka harga mulai dari 10 keping emas!”


Selesai Dara berkata, Mantingan memeriksa selembar lontar yang berisi catatan barang-barang apa saja yang harus dibelinya. Setelah memastikan bahwa tidak ada nama tetumbuhan Pembuyar Racun Selerang di antara banyaknya nama-nama tetumbuhan pengobatan, Mantingan tidak memilih untuk tidak mengajukan penawaran.


Meskipun diakuinya, Pembuyar Racun Selerang memiliki khasiat yang memang cukup menarik.


Tamu-tamu lelang deras mengajukan penawaran, kecuali tamu istimewa yang berada di atas panggung. Tamu-tamu istimewa yang merupakan pendekar berpengalaman tentu saja mengetahui bahwa daun Pembuyar Racun Selerang dibutuhkan sekaligus tidak dibutuhkan. Namun, mereka memilih untuk tidak membelinya.


Dua puluh daun Pembuyar Racun Selerang tersebut jatuh di harga 100 keping emas.


Mantingan menelan ludah. Jika barang pertama saja sudah jatuh di harga 100 keping emas, bagaimanakah dengan barang-barang selanjutnya yang sudah pasti dibuka dengan harga tinggi? Saat ini, ia sedang tidak memiliki banyak uang. Kekayaannya bukanlah tanpa batas.


“Memasuki tumbuhan ketiga, ialah tumbuhan Sambung Pepatahan Tulang. Tanaman perdu ini memiliki tinggi jingga satu depa, berdaun lebat dan berbulu cokelat pada bagian bawahnya. Memiliki bunga berwarna putih kecoklatan dan buah berbentuk polong. Tumbuhan ini hidup di pegunungan tinggi di Javadvipa dan Suvarnadvipa.

__ADS_1


“Tanaman yang kami jual telah dikeringkan dan disimpan selama lebih dari lima tahun, sehingga memiliki khasiat yang lebih daripada Sambung Pepatahan Tulang lainnya. Untuk tanaman Sambung Pepatahan Tulang yang kami jual, telah terbukti mampu mempercepat penyembuhan tulang yang retak atau bahkan patah.


“Meskipun bukan tanaman yang istimewa, tetapi tetap saja bukan perkara mudah untuk mendapatkan dan menyimpannya. Untuk 20 lembar daun Sambung Pepatahan Tulang, Dara membuka harga mulai dari 20 keping emas!”


Deras pula yang menawar untuk tanaman itu. Padahal jika dilihat dari sisi manapun, tanaman ini tidaklah terlalu berguna bagi seorang pendekar. Hingga pada akhirnya, Mantingan mengetahui bahwa tamu lelang menawar bukan untuk mendapatkan barangnya, melainkan untuk mendapatkan perhatian dari Dara. Mantingan hanya bisa tersenyum geli.


“Memasuki barang yang ketiga ....”


Lelang terus berlanjut dengan penawaran-penawaran yang deras. Tiada satupun tanaman lelang yang tidak ditawar kurang dari sepuluh kali banyaknya. Harga tanaman pun naik hingga berkali-kali lipat daripada harga pembukaan.


Mantingan baru melihat tanaman yang dipesan Bidadari Sungai Utara saat lelang memasuki dua puluh tanaman terakhir. Harga yang dipasang untuk tanaman-tanaman tersebut sangatlah tinggi, Mantingan berpikir bahwa dirinya hanya bisa memberi beberapa saja.


Mantingan menjadi penawar pertama ketika Dara selesai bercakap, “Delapan puluh keping emas!”


Setelah Mantingan berkata, suasana balai lelang menjadi sunyi. Tidak satupun yang berani mengeluarkan suara. Mereka memilih untuk bungkam.


Mantingan menyadari yang menyadari penyebab keterdiaman para tamu lelang itu hanya bisa tersenyum canggung.


__ADS_1


__ADS_2