
MANTINGAN merasakan tubuhnya bergetar hebat. Meskipun sebenar-benarnyalah itu hanya perasaannya saja, tubuhnya tidak benar-benar bisa bergerak di bawah lilitan Golek Jiwa. Tetapi itulah pertanda bahwa ketujuh cakranya menanggapi tindakan yang tengah dilakukan Mantingan. Apakah itu bermakna baik atau buruk, Mantingan tidak mengetahui.
Perlahan-lahan ia penglihatannya kembali. Pendekar Sanca Merah cukup terkejut ketika melihat bola mata Mantingan bergerak-gerak. Perempuan itu kemudian menggerakkan jari-jarinya sebelum Golek Jiwa sanca mempererat daya cengkramnya pada tubuh Mantingan.
Seharusnya, lilitan tersebut dapat langsung memecahkan tubuh Mantingan bagai meremukkan semangka belaka. Akan tetapi hal itu tidak terjadi, bahkan sebaliknya, lilitan ular perlahan mengendur. Di sisi lain, Mantingan mendapatkan napasnya, meski baru satu-dua, tetapi Pendekar Sanca Merah cemas bukan alang kepalang.
“Tidak mungkin ...,” desisnya, “tidak ada yang pernah lolos dari jeratan sanca merahku. Termasuk engkau! Makanlah ini!”
Pendekar perempuan itu merapatkan jari-jemarinya. Mantingan kembali terjepit. Napasnya berhenti di situ. Tetapi bukan berarti bahwa dirinya menyerah.
Pemuda itu memejamkan matanya. Pendekar Sanca Merah mengira bahwa ia memilih menyerah. Tetapi perempuan itu salah betul. Mantingan memejamkan mata agar mampu memusatkan seluruh perhatiannya untuk membuka ketujuh cakra secara sempurna. Itu sama sekali bukan tanda menyerah.
Selintas lalu, terdengar suara kertak yang terdengar sebanyak beberapa kali. Pendekar Sanca Merah awalnya tersenyum lebar, mengira bahwa itu merupakan suara remuk dari tulang lawannya. Namun sayang seribu sayang, yang remuk bukanlah tulang Mantingan, melainkan tulang Golek Jiwa-nya!
Mantingan membentak keras. Udara seolah meledak oleh sebuah kekuatan yang pula mendadak meledak. Golek Jiwa berbentuk ular sanca itu pula meledak, menjadi serpihan kayu tak bernilai. Pendekar Sanca Merah terempas kuat-kuat ke udara bersamaan dengan pecahan goleknya. Matanya membeliak. Tatapannya mengisyaratkan ketidakpercayaan.
Pendekar Sanca Merah terseret cukup jauh di atas tanah. Tubuh perempuan itu kini bersimbah darah. Serpihan-serpihan kayu dari sanca golek telah menciptakan luka yang cukup parah pada pemiliknya sendiri. Serpihan-serpihan itu menyayat bahkan menancap di kulit Pendekar Sanca Merah.
Mantingan berjalan untuk menghampirinya. Kini ia tidak perlu membuka pintu kedai, sebab bangunan kedai telah habis dimakan angin badai. Tak butuh waktu lama bagi Mantingan untuk sampai di depan Pendekar Sanca Merah.
Perempuan tertawa pelan. Wajahnya diselimuti darah, begitu pula bibirnya yang tampak masih mengapit puntung cangklong. Betapa perempuan itu agaknya tidak dapat bangkit kembali.
__ADS_1
“Pahlawan Man, sahaya tahu bahwa hal ini akan terjadi,” katanya sebelum mulai menghisap asap cangklong. “Sahaya sudah mempersiapkan kematian semenjak sahaya mendapatkan tugas ini. Sebuah kehormatan bisa mati di tangan pendekar seperti dirimu, Pahlawan Man.”
Mantingan memilih untuk bungkam sedang perempuan itu kembali melanjutkan.
“Sahaya telah mengetahui cukup banyak keterangan tentang dirimu. Termasuk bahwa engkau adalah pendekar beraliran hitam. Sahaya sungguh heran, mengapakah ada pendekar beraliran hitam yang mampu berbuat baik seperti dirimu, Pahlawan Man. Engkau melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan pendekar aliran putih sekalipun. Maka dari itulah, sahaya menyiapkan sebuah kitab ilmu beraliran hitam yang cukup berharga untukmu, Pahlawan Man, sahaya simpan di balik pakaian sahaya. Mungkin inilah kebaikan terakhir yang dapat sahaya berikan.”
Asap yang mengalir dari hidung perempuan itu mulai putus-putus, tanda bahwa ajal telah di depan matanya. Sebelum perempuan itu mati, lebih dahulu Mantingan berkata supaya tidak ada kesalahpahaman, “Diriku memang pendekar beraliran hitam, tetapi aku tidak berperilaku seperti pendekar aliran hitam kebanyakan. Aliran tidak dapat menjamin sifat orang-orang di dalamnya.”
Pendekar Sanca Merah tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Tiada lagi asap yang keluar dari hidungnya. Kendati demikian, cangklongnya masih diapit oleh kedua sisi bibirnya.
Mantingan mengembuskan napas panjang.
***
Betapa lawan yang pandai berbohong jauh lebih berbahaya ketimbang lawan yang benar-benar kuat. Kebohongan Pendekar Sanca Merah berhasil membuat Mantingan sempat menahan diri untuk tidak menyerangnya. Bahkan jika dirinya tidak mampu membuka ketujuh cakranya, ia akan mati dengan lilitan sanca golek.
Mantingan kembali ke perkemahan dengan membawa seekor ikan berukuran besar yang ia temukan di rawa-rawa saat perjalanan pulang. Betapa dirinya merasa tidak enak untuk kembali tanpa membawakan makanan yang telah dijanjikannya. Meskipun sebenarnyalah, ia kembali dengan tangan yang tidak benar-benar kosong.
Mantingan membawa serta sebuah kitab warisan Pendekar Sanca Merah. Ia belum membaca kitab tersebut dan berniat membacanya nanti jika memiliki kesempatan. Ia merasa yakin bahwa kitab yang baru saja didapatkannya itu bukanlah kitab sembarangan.
Bidadari Sungai Utara menyambut Mantingan dengan hangat bercampur perasaan khawatir. “Saudara, ke mana sajakah dirimu?”
__ADS_1
Mantingan tersenyum dan menjawab, “Yang pasti, bukan ke tempat tinggal kembang desa.”
Bidadari Sungai Utara berdecak kesal. Pertanyaannya tidak mendapat jawaban yang sebenar-benarnya. Mantingan pula tak tampak ingin menjawabnya.
“Kubawakan satu ekor ikan yang lumayan besar, lihatlah.” Mantingan mengangkat ikan yang setengah hidup-setengah mati di tangannya. “Bakarlah, buat anak-anak merasa bahagia.”
Bidadari Sungai Utara tidak sungkan-sungkan lagi untuk menerima ikan tersebut dari tangan Mantingan, tetapi kemudian ia bertanya, “Haruskah kubangunkan Kana dan Kina?”
“Mereka tidur?”
“Mereka sudah berjalan sepanjang hari tanpa henti, sudah pasti mereka lelah. Dan kulihat mereka jenuh menunggu Saudara yang tak kunjung kembali.”
Bidadari Sungai Utara lalu menjelaskan bahwa dirinya telah menyuruh Kana dan Kina makan terlebih dahulu, namun mereka bersikeras untuk menunggu Mantingan kembali.
Mantingan tersenyum dan berkata, “Bakarlah ikan itu, begitu mencium aromanya, mereka akan terbangun.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk paham sebelum pergi ke arah api unggun. Sedangkan itu, Mantingan dihampiri oleh murid Perguruan Angin Putih yang ikut bersamanya.
“Saudara, apakah yang telah terjadi sebenarnya?”
Mantingan menarik napas dingin sebelum berkata pelan, “Apakah Saudara pernah mendengar nama Pendekar Sanca Merah?”
__ADS_1
Pendekar itu manggut-manggut beberapa kali, segera mengerti duduk permasalahannya. “Diriku cukup banyak mendengar nama Pendekar Sanca Merah disebut-sebut di beberapa kota yang pernah kusinggahi. Pendekar yang satu ini merupakan pendekar perempuan aliran hitam paling tersohor di Javadvipa, bahkan sampai Swarnabhumi. Kata-katanya, pendekar ini berumur masih muda, parasnya cantik, namun kematian dapat datang kepada siapa saja yang pernah melihat wajahnya.
“Meskipun Pendekar Sanca Merah merupakan seorang perempuan, tetapi itu tidak melepas kenyataan bahwa dirinya memiliki kegemaran menghisap cangklong. Berapa orang mengatakan bahwa perempuan itu menggunakan tulang manusia sebagai bakaran, tetapi tidak ada bukti yang mengatakan sedemikian.”