
PADA AKHIRNYA, Cakrawarman pergi meninggalkan Mantingan sebab merasa pemuda itu membutuhkan sedikit waktu untuk sendiri. Namun Cakrawarman masih menyesali sikap Mantingan yang terlalu berperasaan, berbanding terbalik dengan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya.
Mantingan dapat memahami jalan pikir Cakrawarman tetapi hanya bisa memakluminya. Betapa ia pun menyadari, sikapnya memang terlalu berperasaan terhadap segala sesuatu. Tetapi bagaimanakah hendak diubah jikalau sedari masa kanak-kanak ia dididik dengan penuh perasaan oleh kedua orang tuanya?
Mantingan menarik napas panjang dan kembali mengingat pertemuannya dengan Rara sesaat sebelum memulai pertempuran pagi tadi.
Itu adalah pertama kalinya Rara muncul setelah sekian lama menghilang. Dan hebatnya lagi, gadis itu telah mengetahui keberadaan Penginapan Tanah di gelanggang pertempuran yang bahkan tidak diketahui Cakrawarman sekalipun. Mantingan tidak dapat meragukan bahwa Rara adalah yang sosok benar-benar nyata, bukan hanya bayangannya saja.
Tetapi, bagaimanakah Rara dapat kembali ke dunia dalam setelah kematiannya lama berlalu?
Mantingan ingat jelas bahwa abu Rara tersimpan di dalam kendi kecil yang kini ia pakai sebagai mata kalung.
Pemuda itu awalnya tidak mempercayai bahwa arwah manusia yang telah mati dapat kembali menggentayangi. Tetapi setelah dirasakannya sendiri bahwa Rara adalah sosok yang benar-benar nyata, maka dapatkah ia mulai menerima dan mempercayai takhayul seperti ini?
Mantingan memilih beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Rombongan permaisuri akan tetap melanjutkan perjalanan ke Perguruan Angin Putih yang jaraknya sudah tidak terlampau jauh lagi. Kali ini, rombongan tidak perlu merisaukan apa pun, sebab akan mendapat pengawalan dari dua puluh pendekar Laskar Kerbau Taruma ditambah dengan keberadaan Mantingan di dalamnya. Maka seharusnya, segala marabahaya dapat teratasi.
Rombongan akan berangkat tengah hari esok, maka Mantingan harus beristirahat sebagai wujud persiapannya.
***
KETIKA HARI telah memasuki waktu siang, seluruh rombongan permaisuri memberangkatkan diri dari perkemahan prajurit menuju Perguruan Angin Putih.
Kali ini Mantingan tidak perlu berkelebat lagi, sebab dirinya, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina secara khusus diberikan sebuah kereta kuda hasil rampasan perang.
__ADS_1
Mantingan duduk di tempat kusir sambil merangkul pedangnya. Kepalanya terlindungi dari sinar mentari oleh caping lebar yang masih belum pula diganti sejak awal perjalanannya bersama Rara. Jubah kelabu pemberian Kenanga membuat badannya tetap segar meskipun matahari sedang bersinar terik.
Kereta kuda permaisuri berjalan tepat di belakang kereta kuda Mantingan. Sengaja ditempatkan begitu demi keamanan. Sewaktu-waktu jika terjadi serangan, maka Mantingan akan lebih dahulu menghadapinya.
Jakawarman, enam pendekar Pasukan Topeng Putih, serta dua puluh prajurit berpendekar berjalan di sekitaran dua kereta kuda tersebut. Terkhusus Jakawarman, ia berjalan tepat di samping Mantingan.
Pria muda itu begitu keras kepala. Meskipun Mantingan telah menawari—bahkan memintanya—untuk naik ke kereta kudanya, Jakawarman tetap menolak. Dia berkata bahwa tugasnya adalah melindungi Mantingan, bukan untuk bersantai di atas kereta kuda. Dia juga menambahkan bahwa untuk memberi perlindungan yang lebih baik, ia harus berjalan di atas tanah. Mendengar itu, Mantingan hanya bisa tersenyum tipis dan tidak memaksanya lagi.
Jauh di depan sana, rombongan melihat sebuah gapura yang berdiri di sisi jalan. Sepasang gapura tersebut berwarna kelabu kusam, dirambati tanaman liar, serta dipenuhi lumut dan jamur. Namun, aksara yang tertulis di sana masih dapat terbaca, bahwasanya mereka telah meninggalkan Agrabinta dan memasuki wilayah Karang Sindulan.
Pada akhirnya, seluruh rombongan melewati sepasang gapura tua itu, masuklah mereka ke dalam wilayah Karang Sindulan.
Rombongan akan terus bergerak ke arah timur, melintasi Karang Sindulan sebelum akhirnya tiba di wilayah Gunung Kubang. Perjalanan ini seharusnya tidak memakan waktu lebih dari satu pekan, sebab Karang Sindulan dan Gunung Kubang adalah dua wilayah yang bersebelahan.
Jika Mantingan melihat berdasarkan yang terdapat di peta tersebut, maka seharusnya rombongan ini akan melewati beberapa kota perdagangan kecil dan beberapa perguruan aliran putih. Mantingan melihat bahwa perbekalan kelompok ini sebenarnyalah tidak banyak. Perbekalannya pun tidak tersisa banyak bahkan untuk dirinya sendiri.
Cara satu-satunya untuk mengisi perbekalan adalah dengan singgah ke salah satu kota perdagangan tersebut. Tetapi hal itu bisa saja mengundang risiko lain, sebab selalu ada satu-dua pendekar di kota kecil sekalipun. Yang Mantingan waspadai bukanlah satu-dua pendekar tersebut, tetapi pendekar jaringan bawah tanah yang mendengar kabar tentang perubahan jalur rombongan ini.
Tetapi betapapun, perbekalan haruslah tetap didapatkan. Entah itu dengan membelinya, atau dengan diantarkan oleh pihak terpercaya.
Meskipun kabar tentang perubahan jalur yang akan dilewati rombongan permaisuri telah diketahui oleh Laskar Kerbau Taruma, dan seandai-andainya pengkhianat pun telah mengetahui kabar ini, tetapi tetap saja akan lebih berbahaya lagi jika kabar ini sampai tersiar keluar.
Cakrawarman pun begitu geramnya setelah mendengar kabar tentang pengkhianatan yang dilakukan prajurit khusus Taruma. Baginya, ini merupakan noda hitam bagi keperkasaannya sebagai patih perang negeri tersebut. Dua puluh pendekar yang ditugaskannya untuk mengawal permaisuri saat ini hanyalah teman-teman kepercayaannya saja. Dia tidak ingin ada dua noda hitam yang mengotori keperkasaannya.
__ADS_1
Mantingan pun diminta untuk mewaspadai segala gerak-gerik prajurit yang ada di dalam rombongan. Tak terkecuali Jakawarman dan enam pendekar Pasukan Topeng Putih. Bahkan dayang-dayang pun dirasanya perlu diwaspadai secara lebih ketat daripada yang lainnya. Meskipun itu terkesan berlebihan, Mantingan memahami keadaan dan hanya bisa menerimanya.
***
KETIKA MALAM telah datang, rombongan beristirahat pada sebuah kedai yang di bawahi perserikatan dagang sekaligus perguruan silat aliran pun, Kelompok Purnama Merah.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tercebur kembali ke dalam kenangan. Dahulu, pertemuan mereka terjadi di salah satu kedai Kelompok Purnama Merah hingga akhirnya mereka bisa bersama hingga sekarang.
Pihak kedai menjanjikan keamanan bagi rombongan ini meskipun tidak mengetahui siapakah yang sedang dikawal. Namun setelah melihat pakaian bergambarkan tanduk kerbau yang dikenakan oleh para prajurit, maka mereka segera mengetahui bahwa yang datang adalah rombongan penting dari kerajaan.
Dua kereta kuda disembunyikan di dalam hutan, Mantingan memberikan Lontar Sihir Penyamar agar keberadaan dua kereta kuda tersebut tidak mudah terendus.
Seluruh pintu dan jendela kedai dikunci rapat-rapat, sehingga menampilkan seolah sedang menutup gerainya. Tanpa pihak luar yang mengetahui, sebenarnyalah kedai itu telah menjadi tempat persinggahan Sri Prameswari.
Mantingan dan Kana mendapatkan sebuah kamar, sedangkan Bidadari Sungai Utara dan Kina mendapatkan kamar tak jauh darinya.
Ketika Kana bersiap-siap untuk tidur, Mantingan terlebih dahulu memanggilnya.
“Ada apakah, Kakanda?”
Ketika Mantingan mendengar cara Kana menyebutnya, ia hampir tersedak napasnya sendiri. “Mengapa kaumemanggilku dengan sebutan yang lain lagi?”
__ADS_1