
“Daku ingin mengambil kerbauku.” MANTINGAN langsung melempar sebuah lempengan kayu pada orang yang berbicara padanya itu. Tidak berbasa-basi.
“Kerbaumu?” Orang itu melirik lempengan kayu yang kini telah berpindah ke tangannya tersebut. “Semua hewan titipan yang ada di tempat ini telah kami kembalikan pada pemiliknya masing-masing. Tetapi memang ada beberapa hewan yang sengaja kami bebaskan di kaki gunung setelah tidak diambil jua oleh pemiliknya. Lantas giliranku bertanya, bagaimana dikau berani dengan lancang masuk ke tempat ini tanpa izin?”
Raut wajah Mantingan mengeras. Bukannya menjawab, ia justru dengan amat tajamnya kembali melempar pertanyaan. “Apakah kerbauku turut dikau buang?”
Menghadapi perlakuan yang tidak sopan darinya, orang itu pula tidak memiliki minat untuk bersikap sopan.
“Jika memang benar, lantas mengapa? Lagi pula, hewan titipan yang kami buang hanyalah mereka-mereka yang telah dekil tampangnya, pula terlihat menderita sakit-sakit.”
Mantingan bergerak maju dengan amarah yang bukan kepalang tanggung. Orang-orang itu menanggapinya dengan menerjang langsung ke arahnya menggunakan belati di masing-masing tangan mereka, tetapi kemudian bagai tanpa penyebab tubuh mereka berdebam jatuh ke dasar lantai. Padahal dengan penglihatan apa pun, bahkan penglihatan seorang pendekar yang mampu menangkap gerakan cepat menjadi sangat lambat, tidaklah tampak Mantingan menyentuh orang-orang itu sedikitpun.
Mereka mengerang kesakitan, sekuat tenaga berusaha bangkit, tetapi sekuat itu pula suatu kekuatan aneh menekan mereka kembali ke bawah. Tubuh mereka bahkan tidak dapat terangkat meski hanya untuk sejengkal jari dari lantai bangunan itu.
“Sial! Hawa pembunuh macam apa ini?!” Salah seorang di antara mereka mengerang kesakitan.
Mantingan tidak mau ambil peduli, sehingga berkatalah ia, “Jika daku tidak membayar mahal agar kalian menjaga kerbauku baik-baik, maka urusan seperti ini tidak perlu kupeributkan. Tetapi setelah semua itu dilanggar, tidaklah lagi daku sudi berlaku segan.”
“Pendekar! Kami pula terpaksa melakukan itu demi tujuan yang lebih baik. Kami takut hewan-hewan titipan itu dijarah para pemalak yang berkeliaran bebas di seluruh penjuru kotaraja setelah kedatuan jatuh akibat tindakan makar dari salah satu selir kesayangan datuk. Lebih baik kami membiarkan hewan-hewan itu hidup bebas ketimbang harus menderita di tangan-tangan kasar para pemalak!”
Setelah berpikir beberapa saat, Mantingan melepaskan hawa pembunuh yang mengukung pergerakan orang-orang itu. Meskipun dalam lubuk benaknya ia merasa sangat bersalah, tetapi tidak sedikitpun tampak perubahan pada raut wajahnya. Dirinya lekas membalikkan tubuh untuk pergi segera, tetapi orang-orang itu masih menahannya.
“Saudara Pendekar, kami telah mengecewakanmu terlalu jauh. Kami tahu jelas kesalahan kami, tetapi masih pula bersikap tidak sopan pada dikau. Sebagai permintaan maaf, biarlah kami mengembalikan semua keping emas milikmu.”
“Tidak perlu. Dakulah yang bersalah di sini.” Tepat setelah itu, tubuh Mantingan tiba-tiba saja menghilang dari tempatnya. Bagai terbawa oleh angin malam yang pada sekarang memang tengah berkesiur deras.
Orang-orang penjaga kandang penitipan hewan itu saling bertatapan barang sesaat sebelum menghela napas panjang. Salah satunya bahkan berkata, “Tidakkah dia memiliki wajah Pahlawan Man?”
“Jika benar begitu, maka sikapnya telah berubah banyak. Pasti tidak ringan apa yang dihadapinya di dalam istana, pula sebentar lagi seluruh Dwipantara akan menyudutkannya sebagai orang pemberontak.”
__ADS_1
“Ya. Tetapi daku masih menganggap dia sebagai pahlawan. Betapa pun adanya.”
***
MALAM yang pada dasarnya memang telah gelap kini semakin bertambah gulita setelah lautan awan-awan kelabu menutupi langit. Petir menyambar-nyambar. Angin bergemuruh. Begitu pula dengan hujan, dahsyat sekali turunnya.
Di pedalaman hutan, Mantingan berkelebat cepat. Keadaan seperti ini tidak terlalu menguntungkan bagi pengguna ilmu meringankan tubuh, sebab angin yang bertiup bukan main kuatnya itu dapat menerbangkan tubuh para pendekar.
Maka dari itu, Mantingan memutuskan untuk melepas ilmu meringankan tubuhnya dan bahkan memasang ilmu pemberat tubuh, meski demikian dirinya harus mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar lagi untuk dapat tetap berkelebat cepat.
Pencarian Munding Caraka tetap dilakukannya meski tidak memiliki petunjuk apa pun. Hutan di kaki gunung itu adalah belantara yang teramat luas, sedangkan Munding hanyalah seekor kerbau yang ukurannya tiada lebih dari sebongkah batu cadas di pinggiran sungai.
Tindakan Mantingan terkesan amat mustahil dapat menemui keberhasilan, tetapi pemuda itu tidak peduli dengan segala kesan buruk yang hinggap di lubuk benaknya. Ia percaya pada kemampuannya membaca pertanda, yang dengan itu dirinya masih bisa merasakan keberadaan Munding di sekitarnya.
Pemuda itu terus berkelebat dan berkelebat. Tiada hal lain yang dilakukannya kecuali berkelebat saja. Air hujan terasa amat tajam bagaikan serbuan jarum-jarum terbang ketika menyentuh kulitnya, tetapi tidaklah dapat dirinya peduli akan perasaan itu.
Bila Chitra Anggini telah meninggalkannya, maka janganlah pula Munding begitu. Siapakah lagi yang dimilikinya saat ini?
Lantas kemudian ia menengadah menghadap langit. Dengan bantuan cahaya dari kilatan-kilatan petir, dapatlah ia melihat Munding yang menukik dari angkasa menuju tempatnya berdiri saat ini.
“Dia mengejarku?”
Jadi, memang bukan Mantingan yang mencari Munding, justru kerbau itulah yang sedari di kotaraja telah mengejarnya. Pantaslah pemuda itu merasakan keberadaan Munding selalu berada di sekitarnya tetapi tidak pula ia kunjung menemukannya, rupa-rupanya kerbau itu sedang terbang melawan angin demi menyusulnya ke tengah belantara seperti ini.
Munding Caraka berhenti menukik ketika ketinggiannya telah setara dengan pucuk-pucuk pohon, tetapi kecepatannya tidak juga menurun ketika ia melesat ke arah Mantingan. Kerbau itu melenguh panjangg.
Seolah mengetahui arti lenguhan itu, Mantingan segera berkelebat dan mendarat tepat di atas punggung Munding tepat sebelum kerbau itu kembali menukik ke atas langit.
“Ongng!”
__ADS_1
Mantingan akhirnya tersenyum. Itulah senyuman tulus pertama yang ditunjukkannya setelah peristiwa penyerangan di Istana Koying malam itu.
“Maafkan daku tidak segera menemuimu, Munding.” Suara Mantingan tidak dapat mengalahkan deru angin, tetapi Munding Caraka memang tidak membutuhkan bahasa untuk mendapatkan gagasan yang disampaikan Mantingan.
Kerbau itu kembali melenguh, tetapi sayangnya hanya Mantingan seorang yang dapat mengerti bahasa kerbau itu menggunakan kemampuan membaca pertanda. Selebihnya, tidak akan ada yang mengerti. Orang-orang hanya akan menganggap pemuda itu telah kehilangan akal atau kehilangan teman-temannya.
“Kembalilah ke kotaraja. Kita menginap untuk satu malam. Esok pagi buta kita harus menemui Chitra Anggini di pulau pada teluk lepas pelabuhan kotaraja.”
“Ongng?”
“Tidak ada apa-apa. Semuanya akan membaik.” Mantingan berkata begitu sambil menggeleng pelan. Bahkan dirinya pun tidak yakin dengan perkataan itu.
***
MANTINGAN memutuskan untuk menginap di Penginapan Seribu Cangkir. Hanya penginapan itu saja yang masih menerima tamu di saat penginapan-penginapan lain menutup rapat-rapat pintu mereka. Tentulah dengan kekuatan pendekar-pendekar yang ada di belakang Penginapan Seribu Cangkir, para pengacau akan berpikir puluhan kali untuk menyerang tempat itu.
Ibu pemilik penginapan menyambut Mantingan dengan wajah prihatin, dan tanpa banyak basa-basi langsung mengantar pemuda itu menuju kamar terbaik yang dimilikinya.
“Puan Kekelaman telah mengumumkan tentang dirimu pada semua jajaran jaringannya,” kata ibu pemilik penginapan setelah mereka tiba di dalam kamar. “Daku dapat merasakan apa yang dikau rasakan, Pahlawan Man, meski hanya sedikit bila dibandingkan dengan besarnya rasa duka yang dikau dapatkan. Atas kematian gurumu, daku berduka sedalam-dalamnya.”
Mantingan tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. “Terima kasih untuk kamar ini. Daku hanya ingin menginap satu malam, apakah ini cukup?”
Mantingan mengeluarkan lima keping emas sekaligus.
“Tidak perlu membayar apa pun di sini. Dikau bebas mengambil dan berbuat apa jua.”
Tidak mau membantahnya lagi, Mantingan menyimpan kembali keping-keping emas itu. “Dan apakah kerbauku bisa mendapatkan tempat yang teduh juga?”
“Tentu saja. Daku akan memberikannya tempat dan makanan yang terbaik. Dikau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”
__ADS_1
Tidak ingin mengganggu ketenangan Mantingan lebih jauh lagi, ibu pemilik penginapan segera meninggalkan pemuda itu seorang diri.