Sang Musafir

Sang Musafir
Sarung Baru Pedang Kiai Kedai


__ADS_3

DALAM waktu lima hari yang tersisa, Mantingan menyempatkan diri untuk pergi ke pasar membeli jubah panjang lagi lebar untuk Bidadari Sungai Utara. Sedangkan cadar, Bidadari Sungai Utara sudah membawanya, bahkan ia membawa banyak cadangannya.


Pada hari kelima setelah kematian Pendekar Cakar Emas, atau hari kedelapan pendekar muda itu di kedai ini, Mantingan akhirnya mendapatkan sarung pedang baru untuk Pedang Kiai Kedai.


Sarung pedang yang ia dapatkan sangatlah luar biasa. Seperti terbuat dari bahan keramik, tetapi sangat ringan dan keras. Tidak licin walau terkena keringat dan air sekalipun. Permukaannya berwarna hitam, sama seperti warna sarung pedang sebelumnya.


Penanggung jawab kedai menambahkan, bagian dalam pedangnya mampu mencegah pedang patah walau terkena benturan keras.


***


Di lantai bawah, telah berkumpul Mantingan, Bidadari Sungai Utara, dan penanggungjawab kedai.


“Terima kasih, Paman, sarung pedang ini pastilah berharga mahal dan sulit membuatnya. Dan terima kasih juga untuk penginapan dan makanannya, itu sangat-sangat berharga.” Mantingan berkata sambil tersenyum hangat.


“Aku yang seharusnya berterimakasih, Saudara telah menyelamatkan kedai kami. Aku harap ini pantas membalas kebaikanmu.” Penanggungjawab kedai tertawa pelan. “Dan, Saudari ini ... siapakah?”


Bidadari Sungai Utara menyenggol Mantingan, enggan banyak bicara. Tentu ia tidak dikenali karena wajahnya ditutupi oleh jubah. Mantingan berdeham beberapa kali sebelum menjawabnya, “Ini adalah Saudari yang ada di kamar sebelahku, Paman. Ia akan berjalan bersamaku.”


Penanggungjawab kedai terdiam beberapa saat sebelum tertawa hambar. “Ya, ya, baiklah. Silakan kalian berangkat, dan hati-hatilah selama di perjalanan.”


Mantingan menyadari gerak-gerik tidak biasa dari penanggungjawab kedai, ia mengerutkan dahi sebelum bertanya pada Bidadari Sungai Utara, “Kau belum bayar penginapan?”


Menggeleng perempuan itu.


“Tidak perlu, tidak perlu bayar. Jika Saudari adalah teman pahlawan Mantingan ini, maka Saudari bisa menginap sepuasnya di sini.”


“Tidak bisa begitu, Paman.” Mantingan menggelengkan kepalanya. “Berapa malam dia telah menginap, Paman?”


“Tidak perlu, Saudara Man.” Penanggungjawab kedai dengan tidak enak mengibaskan tangannya.


“Paman sudah banyak menanggung biaya sewa kamar dan makananku, tidak bisa Saudari ini tidak ikut membayar.” Mantingan kembali menoleh pada bidadari rawa-rawa itu. “Sekarang bayarlah.”


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara menatapnya tajam sebelum menggeleng pelan. Dengan tatapan itu, Mantingan mengetahui bahwa ia tidak punya uang. Mantingan menghela napas sekali.

__ADS_1


“Berapa semua biaya yang harus dibayar, Paman?”


Penanggungjawab kedai menegak ludahnya, ia tahu bahwa sepertinya Mantingan tidak bisa dipaksa lagi. Melihat senyum dari pemuda itu, penanggungjawab kedai tak tega jika harus menolak kebaikannya.


“Semuanya, seratus keping emas, Saudara. Satu malam berharga sekeping emas.”


Mantingan melebarkan matanya. “Seratus hari?”


***


Keluar dari kedai setelah berbasa-basi, bidadari rawa itu melayangkan protes keras pada Mantingan.


“Kau sangat-sangat mempermalukanku di kedai tadi. Aku belum pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya.”


“Aku bukannya mempermalukanmu, hanya saja terkejut saat tahu kau bisa tidak keluar kamar seratus hari lamanya.”


“Jangan berkata seperti itu. Tidak mungkin aku diam terus di kamar selama seratus hari. Diam-diam aku menyelinap, pergi membersihkan diri di sungai setiap petangnya.”


Mantingan tersedak ludahnya dan terbatuk berkali-kali setelah mendengar itu.


Mantingan mengatur napasnya dan menggeleng. “Seharusnya tidak ada.”


Bidadari rawa-rawa itu berpikir beberapa saat sebelum membeliakkan matanya. “Kau ... kau?”


“Tapi aku tidak melihatmu sama sekali.”


“Tetap saja!”


Mantingan memilih untuk acuh. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan Mantingan tidak pernah melihat keberadaan Bidadari Sungai Utara di sungai itu.


Ia sendiri masih tidak mengetahui mengapa dirinya tidak mendengar keberadaan perempuan itu saat di tepi sungai. Apakah karena Lontar Sihir yang dipasang, ataukah karena Mantingan terlalu memperhatikan pemandangan sungai hingga tidak menyadari keberadaan bidadari rawa-rawa itu?


Maka itu dapat saja diartikan sebagai ketidakwaspadaan; kelengahan yang sangat berbahaya di suatu hari nanti jika tidak segera diatasi.

__ADS_1


***


Baru setengah hari mereka meninggalkan Kedai Purnama Merah, Bidadari Angin Utara mulai terlihat tidak nyaman dengan keadaan. Walau udara jauh lebih dingin karena mereka berada di daerah perbukitan, tetapi Bidadari Angin Utara tampak kepanasan sebab jubahnya yang panjang lagi lebar, ditambah cadar yang tidak memudahkannya menghirup udara segar.


Biarpun sangat tidak nyaman, Bidadari Sungai Utara enggan mengeluh. Dirinya tetap menjaga wibawa sebagai seorang pendekar terkenal dari negeri Champa, sekaligus tidak ingin Mantingan mengubah pikirannya. Maka walau agak kesulitan, ia tetap berusaha mengimbangi cepat jalannya Mantingan.


Tentu Mantingan menyadari hal tersebut, sehingga pada malam harinya ia memutuskan untuk istirahat. Dikarenakan tidak ada penginapan yang buka malam-malam begini, Mantingan membangun tenda agak jauh ke pelosok hutan. Beruntungnya saat itu langit telah menggelap, sehingga Bidadari Sungai Utara tidak menyadari dirinya telah berada jauh dari jalan raya, atau ia akan ketakutan setengah mati.


Mantingan hanya membangun satu tenda, ia tidak memiliki tenda lain. Barang tentu mereka tidak tidur bersama di dalam tenda. Mantingan—sebagai seorang pria—mengalah. Ia tidak berniat tidur sama sekali, menjaga tenda dari ancaman perompak hutan.


“Di mana kita, wahai pendekar yang bernama Mantingan?” Bidadari Sungai Utara bertanya saat tenda selesai dibangun.


“Kita berada di Kelapa Larang sekarang.”


“Ya, aku tahu. Lebih tepatnya kita berada di mana?”


Mantingan tersenyum canggung dan menggeleng pelan. “Lebih baik kau tidak tahu.”


Bidadari Sungai Utara mundur menjauh, tindakannya itu cukup membuat Mantingan heran. “Apakah kau berusaha menjebakku?”


“Tentu saja tidak, untuk apa aku menjebakmu?”


“Lalu, mengapakah kau tidak beritahu kita ini sedang di mana?” Hanya mata dari Bidadari Sungai Utara saja yang dapat Mantingan lihat ketakutannya, sebagian besar wajahnya tertutup cadar.


Maka saat itu Mantingan menghela napas panjang. “Kita berada di tengah hutan sekarang, jauh dari jalanan yang berarti jauh juga dari perompak.”


Bidadari Sungai Utara sedikit terkejut, tetapi lekas menenangkan diri. “Jadi apakah di sini ada binatang buas seperti macan?”


Mantingan tidak mau berbohong. “Bisa jadi ada harimau di sini. Namun, itu bukan masalah besar.”


“Bukan masalah besar? Ancaman dari binatang buas sama besarnya dengan ancaman dari manusia.”


Kekhawatiran Mantingan akhirnya terbukti. Pada akhirnya Bidadari Sungai Utara ketakutan, walau terlihat perempuan muda itu berusaha menangkan dirinya sendiri. Seperti orang yang tahu bahwa dirinya sedang terkurung di ruangan yang sempit. Bedanya di sini adalah ruangan besar, bahkan hampir tanpa batas, malah di situlah letak bahayanya. Mantingan kembali menghela napas untuk kedua kalinya sebelum menjawab, “Aku akan melindungi kita berdua.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara diam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali bertanya, “Mengapa kau tidak pasang saja api unggun besar-besar untuk menangkal hewan buas?”


“Kalau aku lakukan itu, perompak hutan yang akan datang dan bermalam bersama kita di sini. Kau mau?”


__ADS_2