
MANTINGAN melempar tatapan yang seolah saja mengatakan, bagaimana kau bisa tahu?
Chitra Anggini tersenyum tipis. Amat tipis malahan. “Dikau kira gadis manis itu tidak bercerita banyak kepadaku?”
“Apa saja yang dia ceritakan?” Mantingan bertanya setengah penasaran.
“Akan daku ceritakan di perjalanan nanti.”
Mungkin jika keadaan tidak seperti sekarang, di mana perasaannya masih mengharu-biru sebab enggan meninggalkan Munding Caraka, Mantingan akan tersenyum pahit sepahit-pahitnya. Ia sama sekali tidak sempat tersenyum. Atau lebih tepatnya, ia sama sekali tidak dapat tersenyum.
Mantingan kembali mengalihkan perhatiannya pada Munding Caraka. Berpikir keras. Bertimbang matang-matang. Kiranyakah mana yang lebih penting? Menyelamatkan Tapa Balian dengan meninggalkan Munding Caraka, ataukah membawa Munding Caraka dengan mempertaruhkan keselamatan Tapa Balian?
Pada akhirnya, Mantingan sungguh tiada dapat mementingkan nafsunya sendiri. Sama sekali tidak. Dilihat dari sisi mana saja, Tapa Balian jauh lebih berharga ketimbang Munding Caraka.
Betapa pun, Tapa Balian adalah manusia, yang dengan cara apa pun mesti lebih dipentingkan ketimbang seekor kerbau. Ditambah lagi, Tapa Balian telah amat sangat berjasa bagi Mantingan. Ketimbang jasa-jasa yang pernah diberikan Munding kepadanya, jasa Tapa Balian masih terlalu besar. Ibarat kata, bumi dan langit.
Mantingan merasa harus tetap meninggalkan Munding Caraka. Menyelamatkan Tapa Balian barang secepat mungkin. Lalu memulai kembali pencarian menemukan Kembangmas, sebab dirinya telah kembali mengucap berjanji pada Kenanga di alam mimpinya. Jangan sampai janji itu teringkari. Kembangmas harus tetap ditemukan!
Mantingan mengembuskan napas panjang. Amat panjang malahan, bagai tiada helaan napas lain yang dapat sepanjang itu. Ditatapnya langsung mata Munding Caraka dengan penuh kepedihan. Tetapi lihatlah mata kerbau itu, tampak amat sangat tidak ingin melepaskan Mantingan barang sekejap mata pun!
“Munding.” Mantingan terhenti sejenak. Atau lebih tepatnya tercekat. Ia berusaha merangkai ulang kalimat yang akan diucapkan pada Munding Caraka. “Daku tidak dapat membawamu, Munding. Sungguh-sungguh tidak dapat membawamu. Dikau pasti mengerti bahwa pendekar memiliki kemampuan bergerak dengan cepat. Berkelebat seperti bayang-bayang. Dua-tiga bukit terlampaui dengan sekali mengentak kaki.
__ADS_1
“Sayang sekali, Munding, dikau tidak memiliki kemampuan semacam itu. Sedangkan aku, aku harus bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan orang yang sangat kusayangi. Terpaksa daku meninggalkanmu, Munding, sungguh terpaksa. Tiada diriku akan bersuka hati nantinya. Dikau harus kutitipkan pada Kartika.
“Tetapi sungguh, daku tidak dapat berjanji akan kembali menjemputmu, Munding. Dikau mestinya telah mengetahui bahwa diriku adalah pendekar, dan kematian seorang pendekar sungguh tiada dapat terduga-duga. Daku tidak berani mengucap janji yang sekiranya tidak dapat kupenuhi, maafkanlah. Jadi jangan pernah menungguku.”
“Oooooongng ....” Munding Caraka melenguh panjang. Lenguhan yang berhasil membasahi mata Mantingan. Lenguhan putus asa, penuh duka yang tiada lagi dapat terkirakan atau terkatakan. Mantingan cepat-cepat merangkul lehernya.
Kerbau itu berontak. Melepaskan rangkulan Mantingan dari lehernya. Matanya mengeluarkan air mata. Tubuhnya tetiba saja mengembang, pula mulai tampak kemerahan. Tanduknya bertambah panjang, besar, runcing, dan berkilauan bagai bilah besi. Uap napas keluar masuk dari hidungnya. Sungguh tampak seperti akan mengamuk.
Kartika dan Chitra Anggini serempak menyiapkan kuda-kuda. Dibukanya pula kantung berisi daun yang terselempang di punggung mereka. Saling tatap satu sama lain, berbicara dalam pandang untuk memutuskan maju menyerang atau bertahan di tempat.
Berbanding terbalik dengan kedua wanita itu yang memasang jarak aman, Mantingan justru mendekati Munding Caraka. Tampak sama sekali tidak takut. Biarlah kerbau itu mengamuk dengan sedemikian rupa. Rasa-rasanya, memang pantas.
Namun, bukannya menyeruduknya, atau menginjak-injaknya, atau semacamnya, Munding Caraka justru berlari kencang menjauhinya. Pergi ke arah hutan. Ditelan kegelapan malam. Hanya lenguhan panjang darinya saja yang menandakan bahwa kerbau itu masih hidup.
“Jangan disusul, Mantingan! Mungkin saja dia ingin sendiri terlebih dahulu!”
Mantingan menoleh ke belakang dengan tatapan aneh. “Kartika, mungkinkah kerbau sama seperti manusia?”
Tidak hanya Mantingan, Chitra Anggini pun menatapnya dengan pandangan aneh. Di sanalah Kartika menyadari kesalahannya.
“Dia mampu mengerti perkataan manusia, maka kupikir jalan pikirnya pun tidak akan jauh berbeda dengan manusia.” Kartika tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia merasa tampak amat sangat bodoh sekarang. “Lagi pula, anak-anak asuhku sering bersikap seperti kerbaumu. Merajuk, lalu pergi begitu saja, berkata untuk membiarkan dirinya sendirian terlebih dahulu.”
__ADS_1
Mantingan menelan ludahnya. Sama seperti Bidadari Sungai Utara. Tetapi dapatkah Munding Caraka, kerbau jantan itu, disamakan dengan perempuan?
“Terlepas dari apa pun, ini adalah waktu yang tepat bagi kalian untuk segera pergi.” Kartika kembali bersungguh-sungguh. “Jika Munding kembali, dia mungkin tidak akan melepaskanmu, Mantingan. Jadi selagi sempat, pergilah secepat dan sejauh mungkin dari Lembah Balian.”
Chitra Anggini tiba-tiba saja menatap Mantingan dengan tajam. Bagai setajam Pedang Savrinadeya yang mampu memotong kepanjangan sehelai rambut menjadi tujuh bagian.
“Berangkat sekarang,” gumam perempuan itu setengah menggeram, “atau dikau akan tahu macam mana akibatnya.”
Mantingan segera menggapai bundelan dan kedua pedang yang semulanya tergeletak begitu saja di atas tanah. Segera memasangkannya pada tubuh. Hanya itu yang akan dibawanya. Golek Jiwa yang dibuatnya semasa masih berada di Gaung Seribu Tetes Kematian terpaksa ditinggalkan, terlalu berat untuk dibawa.
Mantingan sadar betul betapa dirinya harus segera berangkat. Di ufuk timur sana, setengah badan matahari telah menyembul. Dirinya benar-benar harus berangkat sekarang!
Ketika Mantingan berbalik badan, dilihatnya sebuah pemandangan yang cukup mengharukan. Chitra Anggini sedang memeluk tubuh Kartika dengan teramat erat, sambil menangis. Kartika tersenyum dengan mata sembab, membalas pelukan itu dengan hangat.
“Kakak, awalnya daku sama sekali tidak ingin menangis ... sungguh.” Chitra Anggini mulai terisak-isak. Air matanya mengalir ke pipi, dagu, hingga berakhir di dada Kartika. Sebab betapa pun, gadis itu membenamkan wajahnya di tempat itu. “Tetapi aku tidak kuasa, Kakak, sungguh tidak kuasa menahan air mata ini.”
Tangan kanan Kartika membelai rambut Chitra Anggini, sedang tangan kirinya mengelus punggung adiknya itu.
“Siapakah yang melarang engkau menangis, Chitra?” Bertanyalah Kartika dengan teramat lembut.
“Tidak ada yang melarangku, Kakak.” Chitra Anggini menggeleng meski kepalanya masih terus terbenam. “Tetapi Kakak selalu menunjukkan sikap yang teramat sangat kuat kepada kami semua. Aku akan selalu ingin menjadi seperti kakak. Biarpun perempuan, Kakak telah bertindak gagah seperti lelaki, melindungi kami semua. Kakak tetap menerimaku setelah aku menghilang bertahun-tahun lamanya, pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan. Sedangkan diriku tidak pernah sedikitpun membalas kebaikan Kakak. Aku ini orang yang tidak tahu diri, Kakak!”
__ADS_1
“Jangan berbicara seperti itu.” Kartika mengecup kening Chitra Anggini. “Kau tidak harus benar-benar membalas budi langsung kepadaku. Itu akan membuatku senang, tetapi hanya sesaat saja. Namun, jika kau melakukan sesuatu yang benar karena didikanku, maka sungguhlah justru itu yang akan membuatku bahagia seumur hidup. Ketika mengasuh kalian semua, terkhususnya dirimu Adik, harapanku hanyalah melihat kalian tumbuh menjadi orang-orang baik berkat didikanku.”