Sang Musafir

Sang Musafir
Cinta Bukan Milik Pengembara


__ADS_3

OM. Bagi Hindu dan Budha, kata itu adalah kata keramat. Keramat bukan dalam artian dilarang untuk dipakai, tetapi telah menjadi begitu penting dan berharga.


Kata “om” biasa digunakan dalam upacara keagamaan, tetapi tidak jarang juga digunakan orang yang sedang bersamadhi. Itu adalah pranava, suara yang mampu mengatur aliran prana di dalam tubuh.


Om adalah simbol tertinggi kesadaran jiwa terhadap ruang dan waktu, kesempurnaan, dan kehakikatan.


Dalam upacara keigamaan, tiada yang akan menjadi sempurna tanpa menyertakan kata om.


Sedang dalam dunia persilatan, memang tidak banyak yang menggunakan kata om sebab tidak percaya, tetapi bagi pendekar yang menguasai pengendalian tenaga prana pastinya mengetahui betapa pentingnya sekerat kata itu.


Ketika sedang mengajari Mantingan tentang tata-cara mengendalikan tenaga prana, Bidadari Sungai Utara seringkali menggumamkan kata om, sebab betapa telah diketahuinya bahwa om termasuk ke dalam pranava.


Namun, untuk apakah kiranya kata om di dalam tarian yang akan mereka mainkan? Apakah tarian itu mesti menggunakan tenaga prana? Ataukah justru tarian itu sendiri merupakan salah satu tarian suci yang betapa pun tiada akan menjadi sempurna tanpa menyertakan om?


Tarian dimulai tepat setelah tabuhan dimainkan. Para penari berlenggak-lenggok memutari lapangan. Gelang di kaki mereka bergemerincing, menemani suara tabuhan.


Pusaran dedaunan yang semulanya mengambang lima depa dari permukaan tanah mulai buyar ke segala penjuru. Terbang berlesatan. Sebagian menuju ke gelanggang menari. Sebagian lainnya ke arah penonton.


Meskipun tampak berlesatan dengan tiada teratur sama sekali, tetapi tidak selembar daun pun menabrak tubuh penonton. Beberapa orang mencoba menangkap dedaunan yang berlesatan di sekitarnya dengan mengibaskan lengan secepat mungkin, tetapi sungguh tidak barang sehelai pun daun yang didapatkannya.


Luar biasa. Raut wajah seribu prajurit dari Koying itu menunjukkan keterkaguman yang tiada tara. Pemandangan seperti ini barang tentu merupakan hiburan tingkat tinggi bagi mereka.


Namun bagi Mantingan yang hampir tidak pernah melihat sihir seperti ini, Tarian Daun Jatuh lebih dari sekadar hiburan. Amat sangat jauh. Keterkagumannya sudah sampai pada taraf yang tak dapat terkatakan.


Tarian Daun Jatuh terus berlanjut, dengan jutaan dedaunan hijau yang mengiringi setiap gerakan dalam tarian itu. Semuanya terhanyut.


Kini barulah Mantingan mengerti mengapa lima puluh penari itu menggumamkan kata om sebelum mulai memainkan Tarian Daun Jatuh. Tarian itu benar-benar sempurna.


***


“Itu tadi amat sangat luar biasa!”

__ADS_1


MANTINGAN berseru heboh di hadapan Chitra Anggini. Jarang sekali dirinya menjadi seheboh itu.


“Kami sudah sering memainkannya.” Chitra Anggini menyunggingkan senyum tipis. “Kakak Kartika telah berjuang keras mengajari kami memainkan tarian itu.”


“Terlalu banyak yang tidak kuketahui tentang tarian kalian.” Mantingan memandang ke sekitar, saat ini dirinya dan Chitra Anggini sedang berada di tengah keramaian. Banyak prajurit yang berlalu-lalang di dekatnya.


Mereka semua memang tidak langsung kembali ke perkemahan meskipun perhelatan tarian telah usai. Masih ada acara makan malam bersama dengan membakar seluruh hewan buruan. Tengah malam nanti, akan ada pertandingan tangan kosong yang hadiahnya bukan main; langsung dijadikan kepala pasukan yang membawahi seratus prajurit.


Jadi, malam ini akan terasa panjang bagi mereka.


“Akan kujelaskan banyak hal kepadamu nanti.” Chitra Anggini tersenyum penuh arti. “Di perjalanan.”


Tetiba saja Mantingan kembali teringat akan perjalanan itu. Ia menepuk dahi. “Lebih baik jika kita bersiap malam ini pula.”


“Daku sudah siap semua,” kata Chitra Anggini mantap. “Tetapi daku justru meragukan kesiapanmu, Mantingan. Apakah dikau siap meninggalkan kerbaumu?”


Mendengar perkataan itu, Mantingan kembali tercekat.


Mantingan tetap terdiam. Berpikir tajam. Mempertimbangkan banyak hal. Namun jelas, terlalu berat baginya untuk meninggalkan Munding.


Chitra Anggini menepuk pundak Mantingan tanpa sungkan, lantas berkata, “Tinggalkan dia, demi kebaikan dikau.”


“Daku akan mencari cara.” Mantingan berjanji, ia akan mencari segala cara yang dapat memungkinkannya untuk tetap membawa Munding Caraka tanpa merusak rencana penyelamatan Tapa Balian serta Sepasang Pedang Rembulan.


Chitra Anggini hanya menggelengkan kepala. Pergi berlalu. Mantingan mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya.


***


KARTIKA menghela napas panjang. Meremas pundak Mantingan yang berdiri di sampingnya. Menoleh ke sebelah timur, matahari mulai timbul, menyebar semburatnya.


Memasuki terang tanah, Mantingan dan Kartika seharusnya sudah berangkat menuju Koying. Perjalanan akan memakan waktu yang sangat panjang. Barangkali satu-dua bulan jika berkelebat. Lima-enam bulan jika berjalan dengan kecepatan orang awam.

__ADS_1


Namun, perjalanan mesti tertahan. Ketika Chitra Anggini telah benar-benar siap berangkat, Mantingan justru sebaliknya. Ia enggan berangkat.


“Akan kujaga Munding-mu, sampai dikau kembali, Mantingan.” Kartika membuka suara.


Mantingan menggelengkan kepala. Tangan kayunya terus mengusap kepala Munding yang tiada dapat menenangkan diri setelah mengetahui bahwa Mantingan akan pergi meninggalkannya.


Tadi, kerbau itu meraung-raung keras dalam bentuk silumannya ketika Mantingan dan Chitra Anggini berkelebat pergi. Baru dapat berhenti ketika Mantingan berkelebat kembali. Namun hingga saat ini, kerbau itu masih jauh dari kata tenang.


“Barangkali kita tidak akan pernah bertemu lagi, Kartika.” Mantingan menjawab pelan.


Kartika kembali menghela napas panjang. Memijat kepalanya yang mulai terasa pening. Urusan ini memang tidak mudah. Tugas menyelamatkan Tapa Balian bukan tanpa pertaruhan nyawa yang besar. Betapa pun, Mantingan dan Chitra Anggini akan menyelusup ke dalam istana kerajaan terbesar di Suvarnabhumi, dengan segenap pendekar ahli dan mantra kutukan di dalamnya. Sungguh, bukan urusan mudah.


“Seharusnya dikau memahami hakikat para pengembara, Mantingan.”


Chitra Anggini yang sedari tadi hanya diam, tetiba membuka suara. Demi mendengar perkataannya, Mantingan menoleh.


“Pengembara selalu meninggalkan yang lama, menyambut yang baru. Bertemu satu pohon, lalu meninggalkannya. Bertemu sebongkah batu, lalu meninggalkannya. Sekali-duakali membangun tenda di tepi sungai, tetapi pada akhirnya ditinggalkan pula sungai itu. Kaki mereka terus melangkah, meninggalkan jejak, tetapi tidak sekalipun pengembara membawa jejaknya sendiri ikut berkelana. Dalam perjalanan, selalu ada yang ditinggalkan.


“Begitulah pula dengan Bidadari Sungai Utara, bukan? Dikau selalu memiliki pilihan untuk ikut berlayar ke Champa bersamanya. Dikau sudah pasti akan terjamin hidupnya, sebab dia adalah putri raja. Dikau akan mendapat jabatan tinggi, ratusan rumah, wilayah untuk dipimpin. Dan mungkin pula, dikau bisa mendapatkannya; dikau berkesempatan mendapatkan Bidadari Sungai Utara. Dikau bisa memulai pemberontakan, melengserkan raja, lalu menikahi Bidadari Sungai Utara. Dengan kemampuan yang dikau miliki, Funan akan urung menyerang kerajaanmu. Dikau dapat menciptakan kisah yang belum pernah ada sebelumnya. Atas nama cinta.


“Tetapi dikau menolak semua itu, sebab dikau adalah pengembara. Dikau akan terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Memilih untuk menggantungkan nasib pada ketidakpastian. Meninggalkan apa yang ada di belakang; menyambut apa yang ada di depan.


“Cinta bukanlah milik pengembara, Mantingan. Termasuk cinta kau terhadap kerbaumu. Termasuk cinta kau terhadap Bidadari Sungai Utara.”


___


catatan khusus:


Adakah dikau membaca kisah yang telah kukarang ini, wahai pujaan hatiku?


__ADS_1


__ADS_2