
Mantingan berusaha tersenyum hangat meski tangisnya semakin berkecamuk tiada keruan. Setelah Bidadari Sungai Utara pergi, ke manakah dirinya akan menyajikan senyum?
“Sekarang engkau pulanglah dengan selamat. Menikahlah dengan kekasihmu. Bangun sebuah keluarga yang betapa pun sederhananya tetap membahagiakan.”
Sekali lagi Mantingan mempererat pelukannya. Setelah Bidadari Sungai Utara pergi, di manakah tempat yang kiranya pantas disebut sebagai rumah?
Mantingan membuat sekumpulan angin, kembali Bidadari Sungai Utara melayang. Pemuda itu membersihkan noda darah dari jubahnya menggunakan tenaga dalam sebelum melepaskannya. Jubah kelabu pemberian Kenanga itulah yang kemudian dipasangkan pada Bidadari Sungai Utara.
Mantingan mengibaskan tangan kirinya barang satu kali. Itu sudah cukup membuat gulungan angin tersebut membawa Bidadari Sungai Utara melayang pergi darinya.
Mantingan memandang jauh ke utara. Melihati titik-titik kuning yang keremangan. Bidadari Sungai Utara akan tiba di atas geladak kapal dengan selamat, sebelum melanjutkan perjalanannya ke Champa.
***
“Apakah engkau yakin, Saudara Man?”
MANTINGAN menganggukkan kepalanya dengan sisa tenaga. “Daku akan baik-baik saja, Saudara Ikan Terbang, terima kasih.”
Ikan Terbang menarik napas dalam-dalam, memandangi pemuda malang di depannya itu dengan perasaan iba.
Ikan Terbang datang setelah Bidadari Sungai Utara mendarat di atas geladak kapalnya dalam keadaan setengah sadar. Tujuannya adalah menjemput Mantingan, karena menduga bahwa pemuda itu tidak cukup tenaga untuk kembali ke kapal. Namun, dugaannya itu nyatanya salah. Mantingan pula menolak untuk kembali ke armada.
“Kuhargai keputusanmu.” Ikan Terbang menganggukkan kepalanya, kemudian mengulurkan sebuah bundelan mepada Mantingan. “Daku membawa ini karena merasa ada sesuatu yang dapat berguna untuk menyelamatkanmu.”
Mantingan menerima dengan sebelah tangannya. “Terima kasih, Ikan Terbang. Segala jasamu tidak akan kulupakan.”
“Engkau yang justru berjasa bagi kami semua. Javadvipa berutang sangat banyak padamu, dan kuyakin tidak akan mudah untuk melupakannya.” Ikan Terbang menepuk pundak Mantingan. “Kembalilah kapanpun jika engkau bisa.”
Sekali lagi Mantingan mengangguk pelan. “Tolong sampaikan salam dan permintaan maafku kepada Ketua Rama.”
Tepat setelahnya, Ikan Terbang berkelebat pergi.
Mantingan menarik napas panjang. Agaknya ia masih belum bisa bersantai. Ada yang datang. Ia berbalik menghadap ke selatan untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
“Rara ....”
Mantingan memandang tak percaya pada sosok perempuan anggun yang bergerak menuruni langit. Sampailah perempuan itu mendarat tepat di hadapannya.
“Mantingan ... keadaanmu ....”
“Jangan hiraukan,” sergah Mantingan. “Rara, kukira engkau telah ....”
“Tidak.” Perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Daku bukan Rara.”
Senyum Mantingan mengendur ketika didengarnya perkataan itu. Meski ia telah menduga hal ini sebelumnya, mendengarnya secara langsung tetap saja mengecewakan. “Jika engkau bukan Rara, lalu siapakah engkau hingga amat sangat menyerupainya?”
Perempuan itu menghela napas panjang. “Daku disebut Perempuan Tak Bernama, sebab memanglah diriku tidak bernama.”
“Mengapakah engkau bisa amat sangat menyerupai Rara?” Mantingan bertanya dengan pertanyaan yang tajam. Penuh kekecewaan.
Dia yang tak bernama itu menghela napas panjang sebelum menjelaskan panjang lebar.
“Daku merupakan salah satu dari sedikitnya anggota khusus Penginapan Tanah. Dakulah orang yang membunuh Rara, dakulah orang yang telah amat sangat berdosa kepadamu ....”
Dia memiliki kemampuan khusus yang membuatnya dapat mengubah rupa diri. Orang-orang terdekatnya Idak mengetahui bagaimana Perempuan Tak Bernama dapat melakukan hal itu, tetapi Mantingan sebagai orang yang sama sekali tidak dekat dengannya justru mengetahuinya.
“Setiap kali ingin mengubah wujud, daku harus menjalani ritual yang bernama Sepuluh Darah Raja. Seperti namanya, ritual itu meminta tumbal berupa sepuluh orang bangsawan keturunan raja.”
“Lalu, mengapakah engkau harus berubah menjadi Rara? Mengapa harus Rara yang engkau bunuh?”
Perempuan Tak Bernama tersenyum sedih. “Dari sinilah hal itu bermula ....”
Saat Mantingan untuk yang pertama kalinya mengunjungi Penginapan Tanah, bakatnya sebagai pendekar terkuat beraliran hitam diketahui oleh salah satu pimpinan kelompok yang sedang melepas penat di tempat itu.
Orang itu meminta agar Mantingan terus diikuti, tetapi jangan dibunuh, sedang dirinya pergi untuk merumuskan rencana dengan pimpinan tertinggi.
“Saat itu, Penginapan Malam bergabung dengan rencana pemberontakan setelah dijanjikan sebuah wilayah untuk diperintah jikalau pemberontakan itu menemui keberhasilan. Dan engkau sebagai pewaris darah pendekar berbakat aliran hitam, terlihat seperti santapan yang sangat empuk, mengingat bahwa engkau masih belum menempuh jalan persilatan saat itu.
__ADS_1
“Setelah dilakukan perumusan rencana, maka mulailah dengan pelaksanaan rencananya. Daku diminta mengubah wujud menjadi Rara, teman seperjalananmu, demi keberhasilan rencana.
“Diriku beserta pendekar-pendekar ahli lainnya membunuh Birawa, Arkawidya, dan Rara untuk memancing kemarahanmu. Daku turut hadir dalam penyerangan itu, sebab harus kutatap wajah dan bentuk tubuh Rara. Dan itulah saat ketika diriku harus menerima tatap ketakutan dari orang tak bersalah, yang entah mengapa begitu menancap dalam benak bagiku hingga tiada terlupa sampai saat ini.
“Rencana mereka berhasil. Kemarahan membuatmu memutuskan untuk menempuh jalan persilatan. Engkau melanjutkan pengembaraanmu, tetapi kali ini dengan tujuan mencari seseorang untuk berguru.
“Penginapan Tanah sangat senang sebab mereka bisa menjalankan rencana selanjutnya, yaitu mengirimu seorang guru untuk mendidikmu menjadi pendekar aliran hitam tak terkalahkan agar bisa membantu pemberontakan. Tetapi sesuatu terjadi ....”
Tepat semalam sebelum rencana itu dilaksanakan dengan persiapan yang sudah teramat sangat matang, tiba-tiba saja Mantingan masuk ke dalam sebuah kedai di tepi jalan yang sebelumnya tidak pernah ada di sana.
Rencana berantakan ketika diketahui bahwa kedai yang Mantingan singgahi itu adalah kepunyaan Kiai Kedai, pendekar aliran merdeka yang amat sangat ditakuti pada masanya.
“Setelah engkau keluar dari kedai itu, sebenarnya beberapa pendekar diutus untuk menculik dan membawamu ke ujung timur Javadvipa yang jarang berpenghuni. Akan tetapi, Kiai Kedai membunuh pendekar-pendekar itu. Percobaan yang sama dilakukan berulang kami, tetapi selalu saja menjumpai kegagalan.”
Mantingan tertegun. Ia tidak menyadari hal itu sama sekali. Kiai Guru Kedai tentu memikirkan bahwa Mantingan akan menjadi pembunuh haus darah yang tidak satupun bisa menghalaunya jika berlatih pada orang yang salah. Nyatanya, gurunya itu telah berbuat sedemikian banyak tanpa diketahuinya.
Dengan kata lain, orang tua itu menyelamatkan jalan persilatan Mantingan.
“Meskipun selalu menemui kegagalan, Penginapan Tanah tidak akan pernah melepaskanmu dengan begitu mudahnya. Mereka sadar bahwa engkau akan menjadi musuh terbesar bagi pemberontakan di masa mendatang jikalau berada dalam asuhan Kiai Kedai. Maka mereka pun melaksanakan rencana kedua dengan penuh kerahasiaan, yaitu dengan menerjunkan diriku untuk membayang-bayangimu.”
“Tidak mungkin!” Mantingan membantah tajam. “Jika engkau benar-benar manusia, mengapa engkau bisa mendengar suara di dalam benakku? Dan bagaimana pula kita dapat bercakap-cakap meski tanpa bersuara sama sekali?!”
Sekali lagi Perempuan Tak Bernama tersenyum. “Sebab daku juga mempelajari Kitab Teratai, sama seperti dirimu. Daku bisa membaca pertanda di dalam benak seseorang, sama seperti dirimu. Bedanya, diriku telah mempelajari habis bagian terakhir dari Kitab Teratai, sehingga kutemukan sebuah ilmu bernama Membisik Sukma, yang memungkinkan diriku untuk berbicara tanpa menggerakkan mulut. Dan untuk dapat mendengar balasanmu, daku menggunakan kemampuan membaca pertanda.”
Penjelasan panjang itu dapat dimengerti oleh Mantingan. Tetapi perihal membaca pertanda, dirinya tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Perempuan Tak Bernama itu. Dengan singkat kata, dirinya tiada mampu membaca benak seseorang secara merinci.
“Ingatlah bahwa di atas langit, masih ada langit,” ucap Perempuan Tak Bernama, yang tentu telah mengetahui jalan pikir Mantingan dalam menilai dirinya.
___
catatan:
Bagi yang bertanya bagaimana nasib tangan Mantingan, maka saya beri jawaban: saya sudah menyusun hampir semuanya. Termasuk tentang perkara Perempuan Tak Bernama ini.
__ADS_1