Sang Musafir

Sang Musafir
Mencari Pendekar di Permukiman Padat


__ADS_3

"Baiklah, kalian berjalan di belakangku.”


MEREKA bergerak masuk ke dalam pemukiman itu.


Penduduk setempat berhenti sejenak hanya untuk melihat dua prajurit di belakang Mantingan. Dalam tatapan matanya, mereka berharap sangat banyak. Harapan pertempuran akan segera dimenangkan, harapan agar nyawa keluarga mereka tidak lagi diambil Yang Mahakuasa.


Salah seorang anak kecil dengan nekat menghentikan gerak dua prajurit di belakang Mantingan.


"Prajurit yang gagah berani, kapankah perang selesai? Dan manakah ayahku yang bernama Jaka itu? Kata ibu, ayah sedang berperang. Kapankah dirinya kembali?”


Darma dan Putu memandanginya dengan tatapan iba. Putu bergerak mengelus pelan kepala anak itu dan kemudian berkata, “Ayahmu sangat berjasa dan lihai sekali di medan tempur. Kau harus bangga padanya. Jika nantinya perang ini dimenangkan, maka itu juga berkat ayahmu.”


“Lalu di manakah dia, wahai prajurit yang gagah berani?”


Darma tersenyum dan dia menjawab, “Adik kecil, ayahmu sedang duduk tenang bersama kawan-kawannya.”


Mantingan sabar menunggu. Biarlah anak kecil itu bertanya sepuas hati dan dijawab oleh Darma serta putu. Tetapi tidak baik jika anak kecil itu tahu kenyataan bahwa hanya sedikit penduduk pria yang selamat dalam pertempuran.


Ayahnya adalah salah satu dari mereka yang tidak selamat. Sebab jika dirinya selamat, ia sudah kembali ke pelukan keluarganya.


Anak itu bertanya banyak sekali. Dua prajurit itu tidak merasa keberatan menjawab sama sekali. Dia menanyakan apakah ayahnya sehat, apakah ayahnya memiliki luka lecet, apakah ayahnya lapar—karena biasanya ayahnya selalu merasa lapar, apakah pedang ayahnya sudah diasah, berapakah banyak musuh yang telah ayahnya kalahkan, apakah ayahnya mencari istri baru, apakah ayahnya mencari anak baru, sampai apakah ayahnya berniat pergi meninggalkannya.


Setelah pertanyaan itu dijawab semua, si anak terlihat puas.


“Kalau begitu, sampaikan salamku pada ayah, bilang jika tidak kembali, ibu bisa mencari suami baru lagi.”


“Ya. Sana lanjut main!”


“Aku pergi dulu, jangan lupa sampaikan salamku!” Anak itu berlari menjauh sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Melihat hal itu, hati Mantingan rasanya teriris juga. Bagaimana jika suatu hari nanti anak itu mengetahui bahwa ayahnya telah mati dalam gelanggang pertempuran?


Dan bagaimanakah jika anak itu tidak memahami bahwa ayahnya mati sebagai pahlawan yang membela kota menggunakan nyawanya?


Mereka melanjutkan perjalanannya, memilih untuk melupakan anak itu. Darma dan Putu tidak mengetahui tujuan Mantingan sebenarnya, mereka ingin sekali bertanya, akan tetapi mengurungkan niatnya. Apa pun yang Mantingan lakukan, mereka percaya bahwa itu pasti bermanfaat bagi keselamatan kota.


Memang yang Mantingan lakukan ini berharga demi keselamatan kota, tetapi bukan hanya kota ini. Ia hendak mencari pendekar-pendekar untuk dimintai bantuannya pergi dan melindungi kota-kota lain di sekitar. Mantingan akan menjanjikan seribu Lontar Sihir pada setiap pendekarnya sebagai bekal.


Agak jauh mereka berjalan, Mantingan akhirnya merasakan sendiri bagaimana hawa pekat yang biasa dikeluarkan pendekar.


Namun kali ini Mantingan mengernyitkan dahi, yang ia rasakan saat ini adalah hawa yang sengaja dikeluarkan oleh pendekar. Seolah-olah menuntun orang yang bisa merasakan hawa itu kepadanya.


Mantingan berbalik pada dua prajurit di belakangnya. “Kalian bisa menunggu di sini atau mengikutiku lebih jauh lagi. Jika kalian memang mau ikut lebih jauh, maka nyawa kalian bisa saja menjadi taruhannya.”


Putu dan Darma segera menggeleng sambil tersenyum ngeri. “Tidak, tidak, kami akan menunggu di sini saja.”


Mantingan mengangguk pelan lalu berbalik dan berjalan menjauh, tubuhnya kemudian hilang di balik kain-kain jemuran penduduk.


“Jika kota ini berada dalam bahaya, daku pasti turun tangan dan membantu.”


Mantingan berhadapan dengan seorang pendekar di dalam satu tenda pengungsian. Tampang pendekar di depannya itu lebih buruk daripada tampang pengemis jalanan. Kumis dan rambutnya memanjang tanpa terurus. Tubuhnya kurus kering, sepertinya ia hanya mengandalkan tenaga dalam sebagai sumber makanan. Ia tidak mengenakan pakaian, hanya mengenakan ****** yang sudah dekil dan penuh tambalan.


Melihat tampangnya, orang-orang pasti berpikir bahwa pendekar itu tidak punya minat hidup. Tetapi beginilah cara pendekar menyamarkan diri.


Pendekar-pendekar seperti inilah yang biasanya adalah seorang buronan, tidak punya kemampuan untuk melawan sehingga memilih untuk menyamarkan diri saja.


Mantingan menghela napas panjang.


Pendekar di depannya ini berbicara sangat tenang selayaknya petapa, tetapi terlihat watak keras kepalanya. Jika dirinya sudah bilang tidak mau membantu kota lain, maka ia akan terus berkata seperti itu.

__ADS_1


“Bagaimana dengan 2.000 Lontar Sihir?”


Pendekar gondrong itu menggelengkan kepalanya sekali lagi. “Apalah arti 10.000 Lontar Sihir sekalipun jika nyawa melayang juga dan tak bisa menikmatinya? Mantingan, daku tidak bisa membantumu lebih jauh lagi. Kondisiku saat ini sangat tidak memungkinkan untuk keluar kota dan menarik banyak perhatian.”


“Lalu, apakah Saudara memilih untuk tetap tidak keluar kota selamanya, tua dan mati di sini?”


“Memang seperti itulah.”


“Dikau masih muda, Saudara Mahesa. Pendekar muda sepertimu jika terus-terusan berada di sini sangatlah merugi. Tidakkah dikau ingin mengembara dan melihat dataran seberang sana?”


“Dikau pasti sudah menyadari bahwa pendekar seperti aku ini adalah buronan. Saudaraku, apakah dikau tidak memikirkan bagaimana jika daku tertangkap dan terbunuh sebelum berhasil menuruti keinginanmu?”


Mantingan tersenyum tipis. “Bukankah engkau sudah memilih jalan kependekaran sebagai jalan hidupmu? Seharusnya dikau tahu, bahwa di jalan ini kematian bukan lagi jadi hal yang mengagetkan. Dikau pada akhirnya tetap akan mati jua, tetapi apakah yang dikau telah lakukan semasa hidup akan menentukan harum nama dikau.”


Pendekar itu menghela napas panjang. Ia terdiam sejenak dan mengambil waktu untuk berpikir.


Jika ditelaah lebih jauh, maka ucapan Mantingan itu ada benarnya juga. Pendekar seharusnya sudah siap akan kematian.


Tetapi kebanyakan pendekar mati konyol tanpa sempat berbuat kebaikan di muka bumi.


Pendekar di hadapan Mantingan itu sadar bahwa dirinya boleh dikata sebagai beban dunia. Dirinya hanya numpang makan, numpang minum, numpang bernapas, tanpa banyak kebaikan yang bisa ia berikan.


Hidupnya selama ini hanyalah mengemis-ngemis saja.


Tidur di jalanan, dan makan hanya jika lidahnya merindukan rasa makanan. Saat perang datang, dirinya diam-diam membantu.


Lalu setelah itu, ia kembali ke dalam kota dan berpura-pura menjadi pengemis lagi yang membutuhkan pertolongan.


Orang-orang menyinyirnya karena dianggap tidak ikut serta dalam pertempuran, tanpa mereka sadar bahwa dirinya berperan cukup besar sampai kota bisa bertahan hingga saat ini.

__ADS_1


“Man, yang dikau katakan itu ada benarnya. Tetapi, daku masih belum bisa meyakinkan dan memberanikan diri. Mohon beri aku waktu satu hari saja untuk memantapkan niat, setelah itu dikau kembali lagi ke sini.” Pendekar itu berkata tenang dan memasang senyumnya.


__ADS_2