Sang Musafir

Sang Musafir
Jatuh di Kegelapan Abadi


__ADS_3

TIDAK TERHITUNG lagi sudah berapa lama mereka berada di dalam lorong gelap nan menyesatkan itu. Belasan kali mereka berhenti untuk tidur dan berhenti untuk makan. Kegilaan jiwa hampir menyerang Bidadari Sungai Utara jika saja saat itu tidak menemukan secercah harapan.


Lorong berakhir. Benar-benar berakhir. Tetapi bukan berarti mereka telah keluar ke permukaan tanah. Mereka masuk ke terowongan yang lebih besar lagi, jauh lebih besar, kira-kira tingginya dua puluh lima depa, dengan lebar yang hampir sama dengan tingginya.


Terowongan yang mereka jelajahi ini bukanlah terowongan sempit. Di salah satu sisi terdapat jurang dalam yang tak nampak dasarnya, bisa membawa seseorang masuk ke dalam kegelapan abadi. Sedang di sisi lainnya adalah jalan bebatuan berukuran setapak. Bukan jalan yang sengaja dibuat, tetapi sebut saja itu jalan di mana kaki bisa menapak.


Hampir tidak ada cahaya di sana kecuali dua cahaya dari Lontar Sihir Cahaya yang dibawa oleh Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Cahaya terang yang mereka bawa itu memantul hampir ke seluruh terowongan, seolah mengusik kegelapan yang tenteram abadi di terowongan ini.


Kini mereka bisa mendengar suara lain selain suara langkah mereka sendiri. Dapat terdengar tetesan-tetesan air, atau jatuhnya sebongkah batu kecil ke jurang yang dalam. Bergema dan bergaung.


Mantingan berkata bahwa seharusnya mereka tidak jauh lagi dari jalan keluar, sebab sangat jarang ada terowongan sebesar ini yang letaknya terlalu dalam di tanah. Ucapan Mantingan itu sedikit melegakan pikiran Bidadari Sungai Utara yang hampir gila.


Mereka berjalan di jalan setapak itu, kini lebih berhati-hati dan tidak bisa santai. Mantingan berjalan sepuluh langkah di depan Bidadari Sungai Utara, untuk memastikan jalur yang mereka lewati aman dipijak untuk Bidadari Sungai Utara.


Sepanjang perjalanan itu, Mantingan bisa melihat kilauan permata-permata yang sangat berharga. Tapi sayangnya, Mantingan sama sekali tidak berniat merampas itu dari tempat ini. Selain itu akan membahayakan keberadaan mereka di sini, Mantingan juga merasa sikapnya akan berubah jika memiliki kekayaan besar.


Semakin lama mereka berjalan, terowongan semakin melebar, semakin dipenuhi oleh permata-permata berwarna-warni, semakin besar pula jurang di samping mereka. Mantingan memperingatkan Bidadari Sungai Utara di belakangnya untuk selalu memperhatikan langkahnya, tergelincir atau tersandung sekali saja dapat mengantar mereka ke alam baka.


Bahkan kini mereka dapat melihat keberadaan kelelawar yang menggantung di langit-langit terowongan. Tanda bahwa jalan keluar semakin dekat. Bidadari Sungai Utara girang bukan main.


“Mantingan, berjalanlah lebih cepat sedikit. Jujur aku tidak sabar.” Bidadari Sungai Utara berjalan cepat mendekati Mantingan, seolah jalan setapak itu cukup lebar untuk menyalip.

__ADS_1


“Saudari Sungai, jangan dek—”


Baru sesaat Bidadari Sungai utara berada di dekat Mantingan, jalan yang dipijak berderak seperti gigi besar yang bergesekan, sebelum runtuh sekejap mata kemudian.


Bidadari Sungai Utara membeliakkan mata. Kakinya tidak merasa menginjak sesuatupun. Jantungnya terpacu dan berdebam keras bagai gondam di dalam dada. Darahnya seakan terangkat ke atas. Berteriak kencang saat dirinya terhempas ke bawah.


Mantingan melebarkan matanya, ia sendiri juga terjatuh. Pikirannya tenang, sungguh luar biasa bisa berpikir jernih di saat-saat seperti ini. Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara yang meluncur ke bawah. Ia harus menggapainya. Sebentar lagi gadis itu tidak bisa ditangkap.


Mantingan bergerak cepat, sangat cepat, seolah tidak ada yang lebih cepat dari gerakannya. Bersyukurlah! Mantingan masih sempat menggapai tangan Bidadari Sungai Utara dengan tangan sebelah kiri, sedangkan tangan sebelah kanan mencengkeram bebatuan di atasnya, mencegah mereka jatuh ke dalam kegelapan tak berujung.


Mereka bergelantungan, saling menggamit agar tidak terjatuh. Mantingan meringis kesakitan. Segera ia gunakan tenaga dalamnya untuk mengangkat kembali Bidadari Sungai Utara ke atas, tapi itu sungguh terlambat, sungguh-sungguh terlambat.


Sebelum mereka jatuh tadi, Bidadari Sungai Utara begitu bersemangat, sehingga tanpa sadar telapak tangannya berkeringat. Itu menjadi mematikan di situasi seperti ini. Cengkeramannya pada Mantingan lepas. Tubuhnya terjun tak terkendali ke bawah. Teriakan parau mengisi jurang yang sepi dan gelap itu.


“SAUDARI!!!” Mantingan hanya bisa berteriak keras memanggil Bidadari Sungai Utara yang tubuhnya ditelan pekatnya kegelapan. Bidadari Sungai Utara benar-benar hilang dari pandangan. Hanya suara teriakannya yang saja yang masih samar-samar terdengar.


Mantingan tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir, tetapi dalam pikirannya, Bidadari Sungai Utara masih bisa diselamatkan. Pikiran tanpa dasar. Mantingan menguatkan hatinya. Tangan kanannya melepas pegangan pada batuan. Tubuhnya meluncur jatuh, sama seperti Bidadari Sungai Utara yang ditelan kegelapan. Lontar Sihir Cahaya masih dalam genggamannya.


Mantingan mempergunakan Ilmu Mata Elang dan ilmu pendengaran tajam sekaligus. Tubuhnya dicondongkan ke bawah, dengan tangan dan kaki dirapatkan. Lontar cahaya Bidadari Sungai Utara masih terlihat di dalam kegelapan, tetapi bukan dipegang oleh Bidadari Sungai Utara. Walau begitu, Mantingan samar-samar melihat keberadaan Bidadari Sungai Utara berkat sinar pantulan Lontar Sihir Cahaya itu.


Mantingan mengirim belasan serangan tapak ke belakang agar mempercepat laju tubuhnya. Bidadari Sungai Utara semakin jelas keberadaannya. Mantingan melaju semakin cepat sebelum Bidadari Sungai Utara menyentuh dasaran.

__ADS_1


“Sedikit lagi, ayo ... ayo ... ya!”


Mantingan tidak pernah begitu berharap, tetapi kini harapannya terkabul. Bidadari Sungai Utara berhasil digapainya. Gadis itu tidak sadarkan diri akibat ketakutan yang teramat sangat. Situasi memang mencekam. Mantingan harus bekerja lebih keras agar mereka dapat mendarat dengan selamat.


Tetapi, dapatkah itu terjadi? Sedangkan mereka melaju cepat ke bawah tanpa pijakan sama sekali. Bahkan Mantingan sendiri tidak tahu seberapa dalam jurang ini, dan seberapa lama mereka akan terus meluncur tak terkendali.


“Saudari Sungai, sadarlah!”


Percuma Mantingan berucap atau bahkan berteriak sekalipun, suaranya tersamarkan oleh suara riuh angin. Lagi pula, Bidadari Sungai Utara tetap akan sulit di bangunkan. Maka dengan tidak enak hati, Mantingan merangkul punggung dan kepala Bidadari Sungai Utara erat-erat, hingga dagu gadis itu bersandar di pundaknya.


Mereka masih meluncur jatuh. Semakin cepat dan semakin tidak terkendali. Mantingan menatap cemas kedalaman di bawahnya. Buruknya lagi, Bidadari Sungai Utara tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sendiri. Ini sungguh bukan hal yang mudah bagi Mantingan.


Mantingan memusatkan perhatiannya. Setidaknya saat ini, masih ada Ilmu Pengendali Angin yang mudah-mudahan membantu. Walau sebelumnya Mantingan tidak pernah menggunakan tiga jurus sekaligus dalam waktu yang bersamaan, namun ia tetap akan mencobanya.


“Bekerjalah ... berkerjalah ....” Mantingan memohon dengan penuh harap agar Ilmu Pengendali Angin bisa bekerja. Sangat jarang ia berharap sampai seperti ini.


Bukanlah perkara mudah, tetapi Ilmu Pengendali Angin berhasil bekerja! Mantingan menarik napas senang, tetapi bukan berarti lega. Meskipun dengan Ilmu Pengendali Angin sekalipun, mereka masih akan meluncur cepat hingga ke tingkat mematikan. Mantingan harus mencari cara lain.


Rasa penyesalan besar menggerayangi dirinya. Mantingan menunda-nunda untuk mempelajari ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Mantingan tidak merasa akan pergi ke suatu tempat yang sangat tinggi, sehingga ia merasa tidak perlu terburu-buru mempelajari ilmu meringankan tubuh.


Di waktu senggang, Mantingan hanya minum teh dan menikmati pemandangan. Benar-benar membuang waktu! Padahal saat itu, Mantingan bisa menikmati pemandangan, minum teh, dan membaca kitab bersamaan. Tetapi kemalasan berhasil menguasai separuh diri Mantingan. Percuma ada penyesalan itu datang sekarang. Mantingan tidak bisa memutar waktu.

__ADS_1


Kembalilah ia berpusat pikiran pada apa yang ada di depannya. Jika nanti ia diberi kesempatan hidup sekali lagi, Mantingan akan memperbaiki kesalahannya. Semoga saja.


__ADS_2